
"Saya gak akan segan menyiksa kamu, Kiara. Jika itu terjadi," ucap Pria itu dengan serius.
Wanita itu tersentak, dan badan nya bergetar hebat, mendengar nada berat sang suami barunya. Senyuman sendu dia berikan pada sang suami. Benar, seharusnya dari awal dia tidak usah minta pertanggungjawaban dari Prodibyo.
Hamil karena mabuk, lalu membuat rumah tangga seseorang rusak. Semua karena nya, semua karena pria brengsek di depannya! Dirinya sekarang ketakutan, betapa kejam sikap Prodibyo.
Semua gara-gara keluarga dari nya. Yang memaksa Prodibyo bertanggung jawab. Pria licik itu, menang akan segala hal, tapi dirinya berharap, pada akhirnya pria itu akan mendapatkan yang sepadan dengan kelakuannya selama ini.
"Maaf. Maaf kak Dinda, karena aku, kamu dan Sena, pergi dari rumah ini. Juga rumah tangga kamu malah hancur, itu karena aku muncul." Kiara menatap miris pada Prodibyo yang bergerak menjauhi nya, menuju kamar. Membanting pintu itu dengan keras, membuatnya memejamkan matanya kaget.
Air matanya mengalir di pipinya, menunduk dan mengepalkan tangannya dalam diam. Tangannya menghapus air matanya, berusaha teguh akan penderitaan yang dialaminya. Teguh dan kuat. Tapi pertahanan nya hancur seketika, karena memang dia merasa tidak ada yang pernah menyayangi nya selama ini.
"Salahku, pada saat itu malah minum banyak alkohol, mabuk-mabukan, dan masih banyak lagi," gumam nya. Berjalan menuju ke kamar yang berbeda dari Prodibyo. Dia tidur di ruang tamu di kamar sebelah toilet.
Ya, mereka memang menikah, mempunyai anak, dan tinggal seatap, tapi mereka sepakat agar tidak tidur dalam satu kamar. Apalagi Kiara, yang sangat tidak ingin disentuh Prodibyo.
Tapi dia sudah merasa kotor. Dia hanya berpasrah pada Tuhan, kalau dirinya tidak tahu harus melakukan apa. Tubuhnya dibaringkan di atas tempat tidur dan meringkuk. Memeluk guling, dan meremas nya.
Matanya mungkin akan membengkak pada keesokan harinya. Hidupnya yang dulu baik, sekarang sudah runyam. Umurnya yang masih terbilang muda, menikah dengan pria yang sudah berumur setengah abad.
Kalau bisa dibilang umurnya 20 tahun-an. Tidak terasa, ya. Masa bersenang-senangnya telah habis.
"Aku hanya bisa tersenyum menghadapi setiap ujian dari Mu, ya Tuhan."
Pasrah pada kehidupan nya yang sekarang, itu yang dilakukan Kiara.
...🥀🥀🥀...
Handphone nya berbunyi, menandakan seseorang menelponnya. Tangan Vina meraih, dan mengangkat telepon tersebut, setelah melihat siapa yang sedang menelepon.
__ADS_1
"Halo, Roby. Gimana pelakunya?" Vina bertanya terlebih dahulu, tidak sabar akan kabar yang akan diterimanya.
"Halo, Vin. Saya sudah menemukan pelakunya," ujar yang ada di seberang sana, Roby.
Mata Vina seketika membesar. "Dimana dia? Cepet bawa ke tempat biasa, Roby!"
"Dia.. ada. Tapi—"
"Tapi? Tapi apa, Roby?" Vina tidak sabar dengan Roby yang lama sekali berbicara nya.
"Dia pingsan, karena kekurangan darah. Seperti nya darah nya mengalir terus menerus akibat dia jatuh dari tebing yang lumayan tinggi itu."
Vina menatap wajah Sena yang masih terlelap dan menggigit bibir bawahnya. "Obati dia, gue masih perlu sama laki-laki itu. Gue butuh pengakuan dia, kenapa berani ngelakuin itu."
"Siap saya lakuin, Vin."
Telepon dimatikan, Vina menghela nafas panjang. Melihat wajah kedua temannya, Sena dan Audi, yang terlihat lelah. Krisna tidak terlihat dari tadi, Vina memilih keluar dari kamar, untuk mencari angin. Ternyata di luar sedang hujan melebat.
Tangan nya menjulur, mata nya menatapi air yang menetes ke tangannya, mengalir turun ke tanah. Wajah datar da dingin yang terpasang di wajah Vina tak hilang.
"Ayah. Bunda. Aku udah tau siapa yang ngebuat kalian mati, tapi kenapa aku gak bisa balas semua nya?"
"Kak. Kita dalam satu tubuh, dan pastinya masih ada perasaan ku yang tersisa di dalam tubuh ini. Walaupun aku mati dan pada akhirnya akan menghilang, tapi sedikit dari perasaanku masih melekat pada hatiku."
Benar juga. Benar apa yang barusan dikatakan Vina asli, semua melekat dalam satu tubuh. Dia dan adiknya. Vina memejamkan matanya mulai terbiasa menikmati suara tetesan air hujan. Tangannya yang basah dia turunkan.
"Iya. Aku tau alasan kenapa aku gak bisa membalas, itu karena kalian mengajarkan kami, anak-anak kalian, tentang arti memaafkan. Tuhan meminta kami memaafkan orang itu."
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
Audi menyernyit ketika ada pergerakan di samping nya. Tubuhnya dengan perlahan ditegakkan, sembari mengucek matanya yang agak sembab karena sedari tadi menangis.
Mata nya membulat, menatap Sena, yang kini sudah tersenyum tipis dengan bibir nya yang pucat. "Sena. Kamu siuman! Aku panggil dokter dulu, ya!"
Sena hanya diam, dan membiarkan Audi keluar dari kamar nya. "Benar kah? Dia rela melakukan itu semua hanya karena ingin balas dendam?" Batinnya.
Masih tidak percaya akan pembicaraan bayangan hitam itu. Membunuh agar bisa novel nya menjadi nyata. Sena tertawa tak percaya saat mendengar itu. Seperti nya dia ikut gila.
"Oh, sial. Gue harus tenangin diri dulu," kata Sena, sembari membetulkan posisi tidur nya. Tangan nya menggenggam erat selimut yang menutupi badannya, sedikit meringis karena lukanya seperti nya masih belum kering.
Tak lama setelahnya, Audi kembali bersama Paul. Dokter muda itu mendekati ranjang Sena, mengecek detak jantung, dan infus, dan yang lainnya. Belum pulih benar, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya, yang sempat kritis.
Paul menghembuskan nafas lega. Lalu tersenyum menatap Audi. "Sahabat kamu sudah lebih baik. Kamu juga istirahat ya, tuh liat Sena nya aja udah tidur lagi," tunjuk Paul.
Memang, setelah diperiksa, Sena diberikan minuman, dan setelah tertidur lagi. Mungkin lelah sekali dirinya itu. Terlihat dari mata yang mulai menghitam seperti mata panda.
Audi mengerucutkan bibirnya menatap Sena yang sudah kembali tidur, sebenarnya dia khawatir kalau Sena akan susah bangun lagi, tapi dia juga butuh istirahat. Paul gemas menatap Audi yang menurut nya sangat lucu.
"Iya deh, Dokter. Aku tidur dulu, tapi di sofa ya, biar bisa jagain Sena."
Paul tersenyum, dan mengangguk mengerti. "Saya siapkan tempat tidur, ya. Untuk kamu bisa tidur di sini, kalau di sofa ntar badan kamu sakit."
"Iya, makasih dokter." Audi tersenyum imut. Membuat wajah Paul seketika memerah, dan keluar dengan keadaan jantung yang berdebar kencang. Tangan meremat jas Dokter nya saat merasakan itu.
"Ya ampun. Temennya ketua sangat imut," gumam Paul.
Audi Mendudukkan dirinya di Sofa, matanya masih setia melihat Sena. "Terima kasih Tuhan. Engkau mendengarkan apa yang aku do'akan pada Mu. Aku bersyukur, masih bisa melihat sahabatku lagi."
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
BERSAMBUNG...