Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 32 : Hate and Love


__ADS_3

Vina menatap adiknya yang kini sedang lahap memakan makanan nya. Tangan merogoh handphone nya, mengetikkan pesan pada nomor yang tidak dikenalnya.


Dirinya akan datang kapan pun itu, untuk membebaskan orang-orang yang disayanginya. Vina menghela nafas pelan setelah selesai mengirim pesan nya. Menunggu balasan dari nomor itu.


"Kak. Aku udah selesai." Kata Keyla membuyarkan lamunan Vina. Vina tersenyum dan mengelus rambut Keyla dengan sayang.


"Anak pintar." Pujinya, tanpa melunturkan senyum nya.


Keyla tersenyum senang karena dipuji. Piring yang sudah habis tidak tersisa, Vina taruh di nakas sebelah ranjang. Vina menarik kursi, mendekatkan dirinya pada Keyla.


"Key." Vina menatap Keyla dengan serius. Vina bingung harus minta bantuan siapa untuk melawan kelompok Aiden. Dia tidak mungkin sendirian.


Keyla membalas tatapan Vina, dia tahu bahwa kakak nya akan berbicara serius. "Ya?"


Vina menahan nafasnya, "Aku mau minta bantuan ke kamu."


Sebelum Vina melanjutkan perkataannya, tiba-tiba Giovani masuk ke dalam kamar. Membuat Vina dan Keyla mengalihkan pandangannya ke pintu. Vina berdengus pelan.


"Key. Lo kenal dia?" Tanya Gio mendekat ke sebelah ranjang Keyla di sisi lain. Mata datar Gio melirik kearah Vina yang hanya menatap dingin Gio.


"Dia kak—" Vina langsung memotong ucapan Keyla dengan cepat.


"Kenalin Vina, sahabat Keyla, dan pastinya sahabat Rissa juga." Ujar Vina sembari tersenyum tipis. Gio menatap nya tajam, berbeda dengan Keyla, wajahnya cemberut karena kakak nya memotong ucapan nya.


Vina memang tidak ingin identitas nya sebagai Rissa kembali terungkap. Cukup. Cukup adiknya saja yang tahu saat ini, mungkin ada beberapa orang yang sudah mengetahui siapa dirinya.


Tatapan Gio mampu membuat Vina jengah, untung saja dirinya bisa mengontrol emosi. Jadi tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk memberi Gio pelajaran, agar bisa sopan dengan orang.


"I.. iya dia sahabat gue, Yo," kata Keyla membenarkan, karena Keyla melihat Gio akan membuka mulutnya untuk berbicara.


Gio mengalihkan perhatian nya pada Keyla lagi. Mengusap rambut nya, "Lo yakin? Dia gak jahat kan, kok gue gak tau Lo punya temen, selain temen-temen kakak Lo?"


Berani sekali Gio mengusap rambut Keyla, di depan matanya. Kenapa mereka jadi sangat mesra seperti ini? Pikir Vina.


"Emang gue se-introvert itu?! Ya gak lah, kak— sahabat gue ini malah lindungin gue mulu." Keyla menatap Vina dengan hangat, Vina membalasnya.


"Bahkan dia mau ngorbanin nyawanya buat selamatin gue, Yo. Lo gak liat hari ini? Bahkan dia datang ke tempat itu buat gue." Lanjut Keyla. Gio terdiam melihat Keyla, dan kini Vina yang tidak terlihat asing.


Gio tersenyum, dia tidak pernah melihat Keyla yang sangat bersemangat dan tidak sedih lagi, sejak kematian Rissa, kakaknya. Gio ikut bahagia, jika Keyla bahagia. Tapi, apa tadi? Sahabat Rissa?


Berani sekali gadis ini menyebutkan nama ketua nya dengan entengnya. Dengan bangga mengenalkan diri sendiri sebagai sahabat, yang bahkan tidak pernah dikenalnya.

__ADS_1


Selain Amanda, Kevin, dan Jane. Hanya trio itu saja, tidak ada yang lain.


"Terima kasih." Gio menatap Vina dengan senyuman. Vina terkesiap mendengar nya.


"Untuk apa?"


"Karena udah ada di samping Keyla terus."


Vina hanya membalasnya dengan senyuman canggung, baru kali ini ada orang lain yang berterima kasih kepada nya. Karena sejak dia kecil, dia nakal, dan tidak mendengarkan ucapan kakeknya.


Kembali. Vina membuka pembicaraan saat suasana hening.


"Key. Kamu mau bantu aku?" Tanya Vina pada Keyla.


Keyla mengangguk lucu. "Tentu. Apa aja yang mau dibantu?"


Gio hanya diam tidak ikut campur. Berdiri mematung di tempatnya, tanpa duduk sama sekali.


"Tolong bantu aku, untuk mengeluarkan orang tua ku."


...🥀🥀🥀...


Aiden menyeringai melihat balasan Vina di handphonenya. Kira-kira kapan tepatnya dirinya membuat Vina datang ke gedung ini. Dia benar-benar sudah merencanakan semuanya sampai matang.


"Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Aiden dengan nada angkuh. Salah satu dari mereka menjawab.


"Mereka sudah diperiksa, Bos. Terutama Martin, dia sudah sadar, Bos." Lapor nya.


Aiden mengangguk singkat. "Baiklah. Tunjukkan kamar Martin, saya ingin bertemu dengan nya."


Aiden berjalan di sepanjang lorong agak gelap, didampingi oleh kedua anggota nya. Sisa anggota Shadow Legion telah diperintahkan untuk melakukan tugas masing-masing.


Lalu tibalah di sebuah pintu kamar berwarna coklat kehitaman. Kenop diputar, dan Aiden dipersilahkan masuk, setelah kedua anggota memberi hormat. Dengan sedikit membetulkan letak kerah kemeja hitam nya, berjalan mendekati Martin yang terbaring lemah.


Bahunya dililit dengan perban. Sekitaran perut juga sudah diperban. Luka-luka di wajahnya sudah diobati dengan alkohol, juga ditutupi plester. Ada beberapa lebam yang hanya dioles salep.


Martin menatap ke segala arah, asalkan tidak menatap Aiden. "Benar, Bos sudah kembali menjadi laki-laki sekarang."


"Oh, tentu! Saya gak mungkin menjadi wanita tua terus-terusan." Aiden duduk di sudut tempat tidur Martin.


"Kenapa kamu kalah, Martin?" Tanya Aiden. Martin menelan air liur nya sendiri dengan bersusah payah, tangan Martin kini berkeringat dingin.

__ADS_1


"Ada seorang cewek dan dua cowok tiba-tiba datang menghalangi ku." Jelas Martin. Tangannya menggenggam erat selimut yang menutupi badannya.


"Lalu kau kalah? Kamu kalah dengan tiga bocah ingusan?! Kau bahkan lebih kuat dari mereka, bodoh!" Aiden meninggikan suara, dan mengepalkan tangan nya membuat urat-urat di lengan terlihat.


"Ma.. maaf." Martin tertunduk.


"Kau harapan satu-satunya saya. Kemana julukan kau? Si malaikat pencabut nyawa?!"


Martin selalu merasa tertekan dengan adanya Aiden yang selalu bergantung pada nya. Dari awal seharusnya ia tidak menyetujui perjanjian mengenai menjadi pengikut Shadow Legion.


Tapi karena Aiden lah yang menyelamatkan nyawa nya dari kejaran orang-orang penagih hutang orang tua nya. Padahal dia hanya seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa. Kata mereka, dia akan menjadi umpan agar orang tua nya keluar, dan akan menebus Martin.


Saat itulah ia merasa harus membalas budi Aiden. Aiden hanya memberinya satu syarat, yaitu menjadi pengikut Shadow Legion. Dari situ Martin dilatih, oleh pelatih profesional. Untuk menjadi tameng paling depan kelompok Aiden.


"Ah. Kalau saya tau kau tak berguna seperti ini, saya buang kau dari awal!" Aiden beranjak pergi, kepalanya akan meledak kalau marah terus. Badan Martin bergetar hebat, bibir nya memucat.


Martin mengeraskan rahangnya. "Aiden. Gue benci Lo!"


...🥀🥀🥀...


Sena sampai di rumah sakit, tempat Vina di rawat. Berjalan ke arah kamar Vina. Kamar itu kosong!


Sena panik, langsung merogoh kantong nya untuk mengambil handphone nya. Menelpon Vina. Deringan pertama, kedua, dan ketiga tidak dijawab. Deringan keempat akhirnya dijawab.


"Vin! Where are you?!"


"Sena? Lo kenapa kok panik gitu?"


"Kok Lo gak ada di kamar?" Sena menggigit bibir bawahnya. Berjalan mondar-mandir di dalam kamar rawat Vina.


"Oh, gue. Gue lagi nyamperin temen gue. Dia dirawat di rumah sakit ini juga."


Sena terdiam, dan menyernyitkan dahinya. "Dimana Lo?"


"Nih gue kirim nomor kamarnya."


"Cepet!"


Panggilan terputus, Sena berdecih pelan. Sena segera pergi ke kamar yang Vina kirim lewat pesan. Jarak nya tidak jauh dari kamar Vina.


Yang sekarang dipikirkan Sena adalah apakah dokter maupun suster tidak ada yang mencari keberadaan Vina? Pasalnya Vina kan hilang dari kamar rawatnya. Random sekali pikiran Sena ini.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...


__ADS_2