
...PAT KENAPA LAMA YAK?! RABU BARU SELESAI. PADAHAL UDAH DARI SENIN PAS TANGGAL 30 MEI...
...:(...
...MAAF BARU BISA UPDATE TEMAN-TEMAN....
BY THE WAY, HAPPY READING!
Abang pertama nya pulang dengan terpaksa, dikarenakan sang adik yang mengusirnya secara halus. Dengan mendengus kesal, dirinya keluar dari kamar itu, sedikit menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil yang tengah merajuk.
Gadis bermata merah itu hanya dapat melongo melihat abang pertama nya. Dia benar-benar dibuat heran dengan kelakuan pemuda itu, namun setidaknya ada gunanya abang pertama nya.
Walaupun dirinya sedikit kesal akan berita yang diberi padanya, dari Carlos.
Pertama, mengenai Abang kedua nya, yang 'katanya' merencanakan suatu hal jahat pada dia. Kedua, ini adalah berita menyenangkan, besok ia bisa pulang. Namun, berita ketiga, membuatnya kesal, bahwa orang tuanya pergi ke luar negeri, padahal dirinya masih sakit.
"Ih, gak enak banget sih kayak gini. Sepi~"
Handphone nya berdering, membuatnya menoleh dan mengambil nya.
"Halo?"
"Kak!" Suara ini, suara adik nya. Ada apa, adiknya menelponnya disaat seperti ini?
"Aku minta bantuan kakak, 'Shadow Legion', mereka mengibarkan bendera peperangan!"
Ah, kelompok itu sering sekali menganggu dirinya, dan juga kelompoknya. Mau mereka sebenarnya apa, dan mengapa repot-repot mau mengibarkan bendera perang. Toh, yang menang akan 'Red Blood' lagi.
Tapi itu dulu, sebelum Rissa mati, semua masih berjalan dengan baik dan lancar. Sekarang, sang adik yang memimpin setelah kejadian itu. Dan dirinya tahu, Keyla orang yang sangat tidak menyukai peperangan seperti ini.
Ia menggertakan gigi nya, mendengar nama kelompok ini, rasanya ingin menggeprek satu persatu badan mereka sampai remuk, lalu memasukkan badan mereka ke ruangan penuh api. Pasti rasanya menyenangkan.
Okay. Walaupun dirinya belum sepenuhnya pulih, dan mungkin masih belum diperbolehkan untuk pulang. Dia akan membantu adiknya, dengan caranya sendiri. Memakai Carlos, mungkin? Atau Calos? Ah, keduanya bisa.
Mereka kan liar! Ups.
"Shareloc lokasi mu sayang. Kakak, akan segera ke sana." Vina tersenyum licik, sembari memutar mutar rambutnya dengan telunjuk.
Panggilan berakhir, disusul dengan notifikasi berasal dari Keyla yang mengirimkan nya sebuah lokasi. Lebih tepatnya lokasi, yang akan menjadi pertumpahan darah.
Tangan mungilnya dengan lihai mengetik sesuatu kepada kedua abangnya. Carlos, dan Calos. Keduanya akan benar-benar menjadi pion penting untuk melawan seseorang. Kalian tahu, setidaknya kalian bisa memanfaatkan orang-orang picik seperti mereka berdua. Memanfaatkan dalam hal yang benar, ya.
Dirinya terkekeh kecil melihat ketikan yang sudah dikirimnya.
"Bang. Gue perlu bantuan kalian. Anterin gue ke suatu tempat. Please~"
Begitulah pesan yang dikirimkan. Sedikit merengek, yang penting bisa mencapai tujuan.
Tidak lebih dari semenit kedua abangnya menjawab. Hampir bersamaan, mereka sepertinya akan sedikit bergegas. Vina hanya menunggu, sembari memakan makanan yang dibawakan oleh Carlos.
__ADS_1
'Red Blood' memang banyak sekali cabang nya, seperti perusahaan saja. Tapi, Keyla membawa beberapa inti dari 'Red Blood' ke Jakarta. Bogor ke Jakarta. Memang sudah sangat besar pengikut nya, sampai terkenal di belahan-belahan bumi manapun.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Vina, tersenyum tipis. Ah, para pion sudah sampai~
Di depan pintu kedua orang itu saling melemparkan tatapan dingin.
"Ngapain Lo ke sini?" Tanya Carlos dengan sinis.
"Vina chat gue, buat anter dia ke suatu tempat. Lo ngapain?"
"Kok, sama?" Heran Carlos. Calos mengendikkan bahunya.
"Masuk!"
Mereka berdua membuka pintu, berebutan. Akhirnya Carlos mengalah, dan Calos masuk duluan darinya, dengan wajah yang ditekuk mereka masuk. Vina sudah bersiap untuk pergi.
"Oke pergi, yuk!"
"Kok? Jadinya sama siapa perginya?" Tanya Calos bingung. Vina melirik keduanya sebagai jawaban.
"Kalian berdua lah! Dah, ayo, cepet!"
Dengan berdengus kesal, mereka menuruti Vina. Vina berjalan mendahului mereka berdua, sedikit terburu-buru. Dia sadar, ini sudah sangat telat menurutnya. Panik, mungkin iya. Ini karena adiknya, adiknya ada di tengah-tengah pertarungan yang seharusnya tidak menjadi ranah Keyla.
Keyla masih kecil, yang tidak mengerti apa-apa menurut Rissa. Adik kecil nya, kini harus berhadapan dengan para 'hewan buas' , yang tidak akan melihat siapa lawannya. Sekali tangkap habis sudah.
"Kunci." Pinta Vina, saat Carlos dan Calos tiba.
"Tap—"
"Cepet! Gue yang tau jalannya kan, udah kasih!" Potong Vina. Lokasi yang telah Keyla kirim, adalah lokasi yang tak jauh dari 'cafe Glovic' itu. Iya, cafe yang pernah dikunjungi nya, dengan kedua sahabatnya.
Sahabat? Benar, Vina sudah menganggap Sena dan Audi sahabat. Jujur, dirinya sedih, melihat Audi yang pasti menderita dalam wujud yang tidak diinginkan nya. Semua ini karena Aiden! Dia benar-benar menyumpah serapahi Aiden sampai saat ini.
Kunci motor diberikan kepada Vina, dengan secepat kilat, Carlos naik di kursi belakang motor nya, juga Calos yang naik ke motor miliknya sendiri, sedikit cemburu, karena Vina lebih memilih duduk bersama Carlos dibandingkan dia. Ini bukan saatnya, pikirnya.
Kedua motor itu melaju kencang. Calos hanya mengikuti jalan Vina, yang entah akan kemana.
"Key! Tunggu gue!" Ujar nya dalam hati.
...🥀🥀🥀...
Para anggota Red Blood bertarung layaknya mesin pembunuh. Memang 'Red Blood' kalah dalam segi jumlah, karena sebagian besar anggotanya ada di kota Bogor. Keyla tersungkur jatuh, dengan sudut bibirnya yang berdarah.
Keyla akui, dirinya tidak terlalu suka berkelahi semacam ini. Dia lebih baik menjadi atlet olahraga, daripada bertarung melawan seseorang. Bukan, bukan karena takut, tapi memang tidak suka saja. Dirinya memang pernah belajar bela diri dari kakaknya, agar bisa menjaga dirinya.
Keyla bangkit, harap-harap sang kakak datang. Dia akan mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaga nya untuk melawan kelompok yang telah berani membunuh kakaknya. Matanya menatap sinis sang musuh.
"Martin." Desis nya.
__ADS_1
Sosok yang disebut tersenyum remeh. "Halo, adik dari pecundang," ujar nya dengan nada sarkas. Kaki pemuda itu membawa mendekat pada Keyla.
"Ah, melihat wajah yang mirip dengan nya, membuat ku ingin muntah. Kau, dan Rissa sama saja, hanya beban dari orang tua kalian. Itu penyebab orang tua kalian mati!" Suara rendah dari Martin, mampu membuat siapa saja gentar.
Namun, tidak dengan Keyla, juga Rissa. Mereka berdua sangat berani, dan akan menghadapi semua tantangan yang ada.
Keyla sadar, semua kata yang dikeluarkan dari mulut pemuda di depannya hanyalah sebuah provokasi. Membuatnya menahan amarah, dengan mengepalkan tangannya.
Sat!
Kaki nya melakukan tendangan berputar dengan kecepatan kilat. Tapi, Martin bisa menghindari serangan itu, ia turun dan melakukan tendangan ke satu kaki Keyla. Keyla membelalakkan matanya, tendangan itu membuat nya tersungkur, tapi dipatahkan dengan salto nya.
Martin sudah menduga itu, bergerak cepat mendekat pada Keyla. Tepat, saat Keyla menegakkan tubuhnya, tubuhnya terbanting lagi. Pemuda itu sama sekali tidak bisa disentuh.
Seseorang yang bersembunyi di kegelapan tersenyum tipis. "Kau melawan anggota ku yang paling kuat di antara semua nya Keyla. Dia Martin, 'pencabut nyawa' Shadow Legion." Bisiknya.
Keyla tidak putus asa. Badannya memang serasa remuk, tapi setidaknya dia dapat memukul Martin.
BUGH!
Satu pukulan kencang berasal dari Keyla. Membuat Martin terhempas ke samping. Dan tendangan, demi tendangan diberikan pada Martin.
"Lo, benar-benar bangunin harimau tidur, Key!"
...🥀🥀🥀...
"Eh! Vina! Berhenti, berhenti!" Carlos beberapa kali memukul pundak Vina, menyuruhnya berhenti. Vina mau tak mau berhenti, lokasi nya juga sudah di depan mata.
"Di depan kayak nya ada tawuran, Vin! Jangan ke arah sini deh." Calos berucap setelah ikut berhenti di samping motor Carlos.
Vina menatap ke belakang, tepatnya ke arah Carlos. "Turun!"
"Ha?" Carlos cengo.
"Turun gak!"
"Eh, i-iya." Carlos turun, Vina ikut turun lalu berlari ke arah kerumunan yang sedang berbuat keributan di sebuah jalan kosong.
"Eh loh? Kok ditinggal?" Tanya Carlos.
"Eh! Kok Vina malah ke sana?!" Calos menatap punggung Vina yang sudah menghilang di balik orang-orang itu.
"Eh, anjir. Kejar, tolil!" Umpat Carlos.
Calos dan Carlos menatap panik ke kerumunan itu. Mereka bergegas menuju ke kerumunan yang entah sedang mempertarungkan apa.
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
__ADS_1