Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 49 : Just Want to Help


__ADS_3

Vina menatap Sena yang berada di hadapannya, dan seorang wanita di belakangnya. Vina baru saja keluar dari rumah sakit, dan tidak sengaja bertemu Sena dan ibunya saat dalam perjalanannya.


Gadis di depannya hanya membuang wajahnya tidak ingin menatap Vina, dan wanita di sampingnya tertunduk. "Sebenarnya gue gak berhak ikut campur urusan Lo, Sena."


"Tapi, ada apa ini?" Tanya Vina sedikit tidak enak. Dirinya melihat tiga buah tas besar yang satu di tenteng wanita tua itu, dan dua nya Sena yang menenteng.


Sena menghela nafas panjang. Dia ikut duduk dengan tenang, di samping ibunya. Mereka sedang duduk di kursi taman yang cukup sepi. "Gue gak tau harus apa. Tapiβ€”"


Sena memberhentikan perkataannya, karena tangan nya digenggam erat oleh sang ibu. Dirinya menoleh, dan mendapatkan gelengan dari wanita itu, seakan memberitahu dirinya agar tidak menceritakan hal pribadi mereka.


Vina yang peka terhadap perilaku sang wanita itu, langsung menginterupsi mereka. "Maaf, kalau saya ikut campur, Bu. Mungkin saya bisa membantu kalian, karena Sena adalah sahabat saya." Jelasnya.


Ibu dari Sena itu menengok pada gadis yang baru saja berbicara. Rasanya dia ingin mengeluarkan semuanya, tapi seakan tertahan dalam mulutnya, tertelan tanpa sisa. Tidak bisa dikeluarkan lagi.


Malu, rasa malu nya membuncah jika membicarakan tentang keluarga nya. "Kami tidak ingin merepotkan," jawab Ibu Sena.


Sena ingin sekali berbicara, tapi selalu ditahan ibunya. "Anda terlihat pucat, Bu. Setidaknya istirahatkan tubuh anda," ujar Vina dengan nada membujuk.


"Kami tidak ingin merepotkan Anda!" Ibu Sena sedikit menaikan suaranya. Matanya sudah berkaca-kaca, dan kembali menundukkan kepalanya.


"Tolong, saya hanya ingin membantu." Ibu Sena hendak berdiri dari duduknya, mengajak Sena untuk pergi. Vina memandang keduanya, diam, rasanya dia tidak tega untuk meninggalkan mereka.


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Sena berjalan sembari melihat ibunya, hati nya gelisah. Hari ini dia dan ibunya mendapatkan sebuah kontrakan, dan pembayaran yang berasal dari tabungan ibunya.


Lalu, bagaimana dengan sekolah nya? Seperti nya dia harus mencari pekerjaan part time. Barang-barang dirinya bereskan, ibunya juga ikut membantu, walau pandangan nya kosong.


"Bu."


Ibunya hanya berdeham menjawab panggilan sang anak. Pakaian nya dilipat dan disimpan di lemari yang sudah ada di sana.


"Aku mau cari kerja, boleh?" Tanya Sena ragu-ragu untuk membicarakan itu. Ucapannya membuat ibunya menghentikan kegiatan membersihkan lemari pakaian.


"Gak usah, biar ibu. Kamu masih tanggung jawab ibu," ujar wanita itu, tanpa menolehkan kepalanya ke anaknya. Sena menghela nafasnya.


"Bu. Gengsi ibu tolong turunkan, aku bisa ngebantu ibu, aku mau jadi anak yang berguna." Balas Sena.

__ADS_1


BRAK!


Pintu lemari pakaian ditutup keras oleh wanita itu, lalu membalikkan badannya menghadap Sena, wajahnya terlihat marah. "Sudah ibu bilang, biar ibu!" Bentaknya.


Sena menahan nafasnya ketika bentakan terjadi, dan menggigit bibir bawahnya. "I.. iya Bu."


Mungkin dengan diam-diam, dirinya bisa membantu?


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Vina turun dari motornya, setelah mengikuti Sena dan ibunya secara tersembunyi. Kontrakan yang dia ketahui adalah tempat tinggal Sena sekarang ingin sekali dia telusuri.


"Setidaknya, ini yang bisa gue bantu buat Lo, Na." Vina mencari tahu siapa pemilik kontrakan, rasa ingin membayar seluruh biaya kebutuhan mereka, meningkat.


Ada nomor telepon yang tercantum ditempelan kertas di pintu salah satu kamar. Mungkin ini adalah nomor telepon pemilik kontrakan, lalu menelpon nya setelah menuliskan nomornya.


"Dengan pemilik kontrakan di jalan Anggrek 6?"


"Iya, dengan saya. Ada apa? Apakah anda ingin menempati satu kamar?"


"Oh, maaf, bukan itu yang saya ingin bicarakan. Saya hanya ingin bicara empat mata dengan anda."


"Ya. Itu saya," jawab nya. "Saya ingin bertanya, orang yang baru saja masuk ke kontrakan sebelah sana. Mereka keluarga saya," lanjut Vina.


"Lalu?"


"Apapun kebutuhan mereka tolong penuhi, saya akan kirim setiap bulan uangnya."


Mereka berdua yang mendengarnya membelalakkan matanya. "Seorang anak dan ibunya, saya hanya ingin membantu mereka."


"Tenang, uang nya ada lebih untuk kalian juga."


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Seorang pemuda menutup helm nya setelah target keluar dari suatu tempat, mulai mengejarnya. Gadis yang dijadikan target terlihat terganggu oleh pengendara itu.


BRRMM!

__ADS_1


Gadis yang baru saja keluar dari tempat kontrak-kontrakan itu menekan pedal gas hingga kecepatan semakin bertambah, dirinya menghitung-hitung bagaimana caranya agar bisa membuat orang yang mengejarnya terkecoh.


"Kayak nya dia orang yang sama, dengan orang yang ngejar gue," gumam gadis itu. Ya, gadis itu adalah Vina, dirinya melihat jalan perempatan beberapa puluh meter di depan.


Melihat pengendara yang masih mengejarnya, dia semakin mengencangkan gas motor nya. Dan, pada lalu mengerem dengan kasar saat di perempatan itu, membuat pengendara yang mengejarnya tak terkendali dan melaju lurus ke depan.


"Gue harus inget. B 3890 GAL, motor dengan banyak stiker. Hari ini, gue sibuk jadi gue cuman tandai Lo." Vina membelokkan stang motor nya dan pergi menjauh dari pengendara yang mengejarnya.


Pengendara itu hanya bisa menunduk meminta maaf karena hampir membuat kecelakaan. Tapi helm yang menutupi wajahnya masih berada di tempatnya.


Sembari mengendarai motor nya Vina menelpon Gio. "Halo, Yo. Gimana?"


"Gue liat, di markas nya Shadow Legion yang kita bantai, ada orang berkumpul di sana. Lo cepetan ke sini, Vin." Jelas Gio panjang lebar.


"Tungguin gue. Kita barengan liat, dan interogasi mereka. Kenapa ada di dalam markas itu." Jawab Vina dengan nada serius nya.


"Ya! Cepetan," ucap Gio. Vina hanya terkekeh dan melanjutkan perjalanannya.


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Vina menghampiri kedua pemuda yang sedang bersembunyi sembari melihat-lihat beberapa orang. Dan menepuk pundak keduanya, membuat mereka berjengit kaget.


"Vina. Jangan kagetin kita dong!" Sungut Gio.


"Tau nih, udah jantungan gue dibuat," sahut Paul yang berada di samping Gio, dan mengusap dadanya.


Vina memandang mereka, dan mereka tahu tatapan itu. Mereka tidak boleh menganggap itu hanya bercanda, kali ini dirinya serius. Vina memandang pintu masuk gedung itu sedikit terbuka.


Melihat sekeliling, berjaga-jaga, takut akan ada seseorang, yaitu musuh nya, datang dari belakang. "Gue mau liat siapa yang ada di dalam. Kalian juga, tolong jagain gue pas liat ke dalam."


"Siap, delapan enam," sahut Paul. Mereka berjalan dengan perlahan, dan tanpa suara. Vina mengintip ke dalam, ada seseorang yang ada di dalam. Satu orang membelakangi nya, dan sisanya, entahlah .


Orang yang membelakangi nya memakai topi, dan satu tangannya menggenggam erat tongkat yang selalu bersamanya.


Dan tiba-tiba orang itu berbalik, dan hendak berjalan. Vina membelalakkan matanya, kaget, siapa sebenarnya orang itu.


"Kakek!"

__ADS_1


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


BERSAMBUNG...


__ADS_2