Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 57 : That Guy


__ADS_3

"Halo, kenapa Paul?" Vina baru saja mengangkat telepon dari Paul, masih dengan Gio dan Aiden. Rencananya dia akan kembali ke Bogor, tentunya untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai persahabatan yang dibicarakan Aiden.


"Ada sesuatu yang terjadi."


"Apa?"


"Sena.. Lo tau dia kan?"


"Iya. Kenapa dia?"


"Dia jadi korban penusukan. Nih lagi dioperasi, di lantai satu."


"Eh, loh. Dia ke rumah sakit gak ngomong, yaudah, abis ini gue ke bawah. Makasih infonya, Paul."


Vina menatap Gio dan Aiden bergantian. "Gue ke bawah bentar. Gio obatin luka Aiden, nanti sore kita langsung ke Bogor."


"Siap, bos."


Dengan langkah cepat dirinya pergi turun ke lantai bawah. Khawatir akan keadaan sahabatnya, mengapa bisa dia menjadi korban penusukan. Dan siapa pelaku nya, apa motifnya?


Tapi selama ini, Sena seperti tidak mempunyai masalah pada orang-orang. Gadis itu sangat pintar menyembunyikan luka hati nya. Terlebih keadaan kehidupannya sekarang, yang sudah diusir oleh ayah kandungnya sendiri.


"Paul, mana Sena?" Tanya Vina sesampainya di tempat Paul berada. Matanya beradu dengan Audi yang sedang menangis dalam diam. Audi bangkit dan memeluk Vina.


Vina agak terkejut, dan mencoba menenangkan Audi. Audi menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Vina, karena memang dia lebih kecil badannya dari Vina.


"Vin. Sena.. dia sakit! Itu karena gue!" Sedih Audi.


"Mental nya menurun melihat Sena menolongnya tadi, dia juga sedari tadi memberontak diberi obat penenang. Lo bisa bantuin dia? Tenangin tuh bocah," ujar Paul panjang lebar.


Vina mengangguk mengajak Audi duduk, di sebelahnya ada Krisna yang diam tidak tahu apa yang bisa dirinya perbuat.


"Kasih tau yang lain! Siapa pelaku nya," suruh Vina. Paul menggeleng.


"Pelakunya tadi langsung bunuh diri, kata orang-orang yang mengejar orang itu, dia menjatuhkan diri ke jurang, bukit belakang rumah sakit."


Vina terkekeh sinis, "Gue bukan nya gak percaya, tapi kita harus cek ke sana."

__ADS_1


Paul mengangguk paham. "Bener juga, gue minta Roby sama yang lain cek."


"Nah. Secepatnya cari, karena tangan gue udah gatal buat balas dendam!" Vina sembari mengelus punggung Audi yang sudah terdengar dengkuran halus.


"Siap. Gue pergi dulu, untuk kasih mereka perintah ketua." Paul tersenyum menggoda, lalu dengan cepat pergi dari sana. Saat melihat tatapan leser dari Vina.


"Cowok itu, bikin naik darah gue aja," batinnya. Krisna menyandarkan tubuhnya pada kursi, menatap langit-langit rumah sakit.


"Saya, seharusnya yang bisa jagain kamu. Kenapa selalu Sena yang berhasil menolong kamu. Orang tua macam apa aku ini." Krisna mengepalkan tangannya, dan memejamkan mata nya.


Vina bisa merasakan tekanan dari dalam Krisna, pasti pria itu sedang banyak pikiran. Vina berharap bisa membantu semampunya kalau begini.


...🥀🥀🥀...


Operasi Sena telah selesai setengah jam yang lalu, setelah Roby dan yang lainnya pergi. Kini telah dipindahkan ke kamar rawat, Audi tertidur di sofa, karena saat terbangun dia tidak ingin kembali ke kamarnya, sebelum Sena siuman.


"Maaf merepotkan kamu, Vin. Om juga belum minta maaf, atas semua kekacauan yang diperbuat kami," lirih Krisna. Pria itu mengusap tengkuknya, wajah nya terlihat lelah.


"Semua udah lewat, pak Krisna. Jadi mari lupakan yang lalu," jawab Gadis itu mengangguk singkat.


Di sisi lain, Roby dan dua temannya berada di bawah jurang. Tidak terlalu dalam, melihat sekeliling, mereka sudah berada di tempat yang diberitahukan. Tempat jatuhnya pelaku itu.


Tidak ada tanda-tanda dari tubuh pelaku. Jurang ini tidak bisa membuat orang mati, jadi kemungkinan dia kabur. Dan orang-orang yang mengejar takut jurang, jadi hanya membiarkan.


Pihak berwajib juga mencari keberadaan orang itu. Namun, belum ditemukan, sedangkan, yang sedang dicari, masih di tengah hutan, mencoba bersembunyi.


"Kenapa bisa! Lo terlalu gegabah!" Bentak orang di seberang sana. Membuat nya terhenyak akan bentakan itu, dirinya sedikit berjalan terseok-seok. Akibat jatuh ke jurang membuat tubuh nya sakit.


Earpod yang terpasang di telinganya dicopot, telinganya panas mendengar ocehan bos nya. Tubuhnya sudah sakit, kaki nya pincang, sekarang kepala nya berdengung.


Pria itu menggeram kesal, menonjok pohon di sampingnya. "Akh! Gila, kalau gak karena duit, gue gak mau. Tapi, Sasya.. dia udah operasi plastik kah?"


Pria itu bertanya-tanya, tubuhnya merosot, dan terduduk bersandar pada pohon.


"Kendra. Lo harus nyari tau, kenapa Sasya berubah. Kalau gak karena bos, gue mana tau Audi itu Sasya." Monolog nya pada diri sendiri. Mencoba mengatur nafasnya, pria yang misterius, bernama Kendra ini menatap langit-langit.


Cahaya memantul dari netra mata coklat nya. "Sakit. Tapi pembunuh bayaran kayak gue, bisa sakit ya."

__ADS_1


Kendra terkekeh melihat dirinya yang miris, tangan nya masih terbalut sarung tangan, mengelus kakinya sebelah kanan, dan mengusap dahinya yang berdarah. Mungkin terluka akibat terjatuh.


"Sakit~"


Tempat dimana orang yang menelponnya berada. Pria terlihat berumur 20an tahun menendang tubuh para pengawal yang ada di depannya.


BUAGH!


Tendangan berputar membuat pipi kanan orang yang di depannya, membuat orang yang di depannya terjungkal. Pria itu melampiaskan amarahnya pada orang ini.


Setelah menelepon orang suruhan nya tadi, yang ternyata gagal dalam misi pembunuhan itu. Dirinya sangat marah. "GAGAL! GAGAL!"


Salah satu pengawal nya lah yang menjadi tempat pelampiasan nya. Kini telah terbaring pasrah di lantai, wajah babak belur, dan darah mengucur. Yang lain tidak ada yang berani menolong. Hanya menunggu giliran tempat pelampiasan.


"Tenang Bos Leonard. Calm down, biar saya yang turun tangan."


Dengan nafas tersengal, pria yang dipanggil Leonard itu berhenti memukul. Tubuhnya berbalik, menghadap orang yang baru saja berani berbicara padanya.


Tubuhnya yang kekar, dengan tato di sekujur kulit nya. Keringatnya bercucuran menambah tingkat damage berkali-kali lipat. Wajahnya yang tampan, dan dengan ada sedikit rambut di sekitar pipi.


"Tito. Badan mu kecil, emang bisa membunuh satu gadis itu? Kendra saja tidak bisa," balas Leonard dengan tatapan menajam mengarah pada pemuda berbadan lebih kecil darinya.


"Kecil-kecil gini saya cabe rawit, bos. Serahkan pada saya, percayakan kepada saya," katanya dengan percaya diri. Memang dia bertubuh mungil, tapi, dia adalah tangan kanan Leonard yang paling bisa diandalkan.


"Tito. Yang ini, saya percayakan padamu." Setelah berkata begitu, Leonard berbalik dan berjalan pergi.


"Yang lain, bersihkan semua," lanjutnya. Dan menghilang di balik pintu kamarnya, untuk membersihkan tubuhnya dari darah, dan keringat yang mengotori tubuh.


"Terima kasih, Bos Leonard. Sudah mempercayai saya," gumam nya. Tito berjalan keluar, dan meninggalkan mansion Leonard.


"Bos Leonard Manantha Jeiro. Saya Tito Petta Vilanova, bersumpah, untuk pulang dengan hasil yang membanggakan."


Tito berteriak keras di dalam mobil Jeep-nya yang kedap suara.


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2