
"ARGHHHH!" Pemuda itu berteriak kesal di dalam kamarnya, meremas rambut hitam nya. Gusar, karena selama ini dia ditipu oleh tingkah sok polos, Veronica.
Meninju dinding kamarnya berkali-kali, membiarkan tangannya terluka dan berdarah. Dinding itu dianggapnya seperti wajah wanita, yang selama ini ia cintai, tapi ternyata seperti itu wujud aslinya.
"Gue bodoh!! Vina, gue bodoh!" Umpatnya pada diri sendiri. Avrenzo merasa sangat bodoh.
Seperginya, Veronica yang telah menyelesaikan ucapan-ucapannya, Avrenzo menggenggam angin dengan erat, otot-otot tubuhnya berkedut. Kilatan cahaya dimatanya meredup.
Satu-satunya harapan sedari dulu, sekarang hilang, dulu Vina, sekarang Veronica. Dia adalah laki-laki terbodoh menyia-nyiakan kesempatan untuk membahagiakan Vina.
Lebih memilih orang lain, dari pada pacarnya sendiri.
Setia darimana?! "Gue gak pantas, gue gak pantas jadi pacar Lo, Vin."
Penyesalan yang datang terlambat. Semua sudah berakhir, nasi sudah menjadi bubur. Itu pilihannya, jadi, pasrah lah yang bisa dilakukan.
"I hate myself too."
Kata-kata itu terngiang di kepala pemuda itu, satu kalimat itu juga pantas untuk dirinya. Benci, sangat benci pada dirinya sendiri.
Begitu banyak kesalahannya, dan tidak pernah disadari, masih merasa dirinya paling benar, percaya pada orang yang salah.
STUPID!
...π€π€π€...
Sang pemeran utama melirik dari manik matanya, Keyla yang tertidur pulas di samping nya. Dengan dirinya yang fokus menyetir mobil, kembali ke rumah sakit.
"Kamu begitu lelah, kakek terlalu memaksa kamu untuk menggantikannya. Melimpahi semua padamu, mulai dari Red Blood, dan juga perusahaan terbesar ketiga itu."
Vina tersenyum menatap wajah adiknya yang sedikit menyernyit, dan kembali seperti semula.
"Adikku. Kamu terlalu kecil, untuk tahu dunia yang kejam. Tapi itu kah yang membuat kamu menjadi lebih kuat lagi. Mungkin Tuhan memberikan ku kesempatan hidup lagi, agar aku bisa menjaga mu terus."
"Tentu, kesempatan untuk merubah diri sendiri menjadi lebih baik."
Monolog itu terhenti, saat mobil memasuki area parkir rumah sakit. Dengan cepat dia memarkirnya dengan rapi, mengikuti mobil Gio.
"Key. Wake up, kita udah nyampe." Gadis itu membangunkan sang adik, dan Keyla merasa terganggu.
Lenguhan dari bibir terdengar, mata itu mengerjap pelan. Dan membetulkan posisi duduknya. "Oh.. udah nyampe kak. Maaf ketiduran," ucap nya dengan suara sedikit serak.
"Gak papa. Ayo masuk, kita harus bertemu Aiden."
...π€π€π€...
Aiden masih terikat. Wajahnya sudah mulai mengurus, kulit nya yang terkena ikatan sudah terluka, akibat gesekan. Wajahnya sudah pucat. Ia belum diberi makan, sejak diikat.
__ADS_1
Jahat kali.
"Heh.. kok nih anak kayak hidup segan, mati tak mau??"
Gio menyengir, "gue gak kasih makan."
Vina menatap pemuda itu, "kasih makan. Kita masih perluin dia."
Pemuda itu berlari keluar, untuk mendapati makanan. Sisanya menunggu, tak begitu lama Gio kembali dengan sebuah bungkusan makanan. Pintu di kunci, tidak dibiarkan Aiden keluar, setelah dibuka ikatannya, Aiden makan dengan lahap.
"Lo gak takut, makanannya gue racunin?" Tanya Gio dengan polos. Paul memukul kepala Gio, membuat pemuda itu mendelik.
"Lama-lama otak gue bergeser dah," gerutunya.
"Makan yang banyak. Ditinggal dulu bentar," ujar Vina. Yang lain hanya mengikuti, bagai anak itik, mengikuti induknya. Paul memantau perkembangan kondisi ketiga pasien.
Ya, mereka adalah Raditya, Maya dan, Audi. Dari handphone yang terhubung ke kamera pemantau di tempat yang tersembunyi. "Guys! Ini, Raditya. Dia mau ngapain?!"
Yang sedari tadi mereka berjalan, pada akhirnya menengok. Dan mengerubungi Paul. Terlihat dari layar handphone itu, tubuh Raditya. Dan pria itu mengambil lampu meja, lalu membenturkan nya dengan keras.
"Kita ke lantai itu!"
......βοΈβοΈβοΈ......
Audi berjalan di taman, sendirian. Mendekati air mancur yang menghiasi taman, berada di tengah-tengah. Memainkan airnya dengan tangan. Tersenyum sendu, sesekali bersenandung.
Tapi, dirinya tidak tahu, jikalau setiap pergerakannya dipantau. Jarak pantauan yang tidak terbilang biasa. Sewaktu-waktu pasti ada seseorang yang menyamar.
"Dia.. pembuat novel itu?" Tanya seseorang yang mengintai, pada earpod, yang terpasang di telinganya.
"Iya, itu dia. Sasya. Pemilik Akun ajaib," jawab dari seberang. Yang dijawab senyuman puas dari orang ini, walaupun tak terlihat.
"Gotcha. Kita mendapatkan nya, setelah bertahun-tahun gak bertemu. Walaupun beda wajah, tapi tetap cantik ya, Sasya."
"Kita bertemu lagi, sayang."
...π₯π₯π₯...
TAK!
Minuman kaleng diletakkan di sebelahnya. Minuman kaleng beralkohol itu diraih oleh orang di sampingnya. Meminumnya hanya beberapa teguk.
"Ward. Perasaan Lo gak berani berani sih buat jujur ke Vina?" Anwar kembali memainkan laptopnya, dengan Edward yang fokus pada ketikan pada komputer gaming milik Anwar.
"Jujur? Buat apa?" Edward melotot menatap Anwar. Tapi, Anwar memang benar, dirinya terlalu pengecut, karena takut akan tolakan yang bahkan belum terjadi.
"Hubungan Lo, sama Vina, mau kayak gini aja? Hubungan yang gak jelas, cuman temenan? Minimal PDKT lah!"
__ADS_1
Edward terdiam. Tangannya yang ada di mouse berhenti bergerak. "Nanti Vina diembat orang, Lo nangesss," lanjut Anwar, dengan nada ejekannya.
"Tapi Lo tau? Vina itu single, jadi Lo masih bisa deketin."
"Diem, ah! Gak usah pikirin Vina. Gak nyaman." Edward mencoba mengalihkan pembicaraan. Kursor kembali berjalan, Edward hanya menggigit kuku nya. Kebiasaan, jika orang cemas, maka akan seperti itu.
"Gue sih kapal Lo. Dukung selalu dah," ucap Anwar.
"Gak perlu. Gue cuma mau ketenangan."
...π₯π₯π₯...
Sena berjalan kaki, datang menuju rumah sakit tempat Audi di rawat. Menangkap siluet, yang dicari. Benar, Audi tengah duduk sendirian di tengah-tengah.
Hendak mendekati gadis itu, namun, tatapannya melihat ada seseorang yang sepertinya mencurigakan. Penglihatan yang sembunyi-sembunyi, sesekali melirik ke arah kolam.
Arah kolam? Tapi, apa maksudnya ke arah kolam, sepertinya tidak ada yang menarik. Selain Audi yang sedang duduk, di sana. Apa, orang itu mengincar 'sahabat' nya itu?
Tapi, apa hubungannya dengan Audi. Bisa aja, orang itu hanya melihat. Tapi detik selanjutnya, bisa membuat nya tercengang. Tindakan gegabah orang itu adalah, mengambil sebuah pisau di balik saku.
Mendekati Audi. Kalau benar ditusuk, dia akan melindunginya, lagi. Sena sedikit berlari.
Sat!
Crat!
Sena, terkena tusukan itu. Wajah itu perlahan memucat. Audi yang dilindungi, mendongakan kepalanya. Dan membulat melihat siapa yang menolong nya.
"S.. Sena!" Teriaknya. "TOLONG! TOLONG! ADA PENUSUKAN." Masih dengan panik, Audi berteriak.
Orang yang menusuk orang yang salah menegang. Melihat sekitar yang kini sudah menatap nyalang, dan bersiap mengejarnya. Untung dirinya sedari tadi memakai penutup wajah.
"Gawat.. salah orang," dengus nya. Lalu berlari dengan kencang, sesaat para warga sekitar mengejarnya. Kepala Sena dipangku Audi, dengan tangan yang masih mencoba menutupi luka.
"Sena! Jangan! Jangan tutup mata kamu. Tetap bangun, jangan tinggalin aku~"
Dua penjaga yang baru saja datang, langsung menghampiri Audi. "Nona, ada apa?"
"Kalian kemana aja? Bukannya paman udah bilang ke kalian, buat jaga. Tapi gak becus, malah kabur-kaburan!" Bentak Audi, air mata nya mengalir. Tangannya bergetar, menekan luka Sena.
Salah satu penjaga masuk, untuk memanggil dokter. Satunya lagi, hanya menunduk, memang kesalahan dia juga.
"Sena~ Maafin aku.. Maaf selalu ngerepotin kamu. Aku.. aku terlalu bodoh, dan terlalu egois! Aku hanya pembawa kesialan ke hidup kamu!"
Sena dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Dan tersenyum, "gak. Aku udah dititipin sama keluarga kamu, untuk jagain kamu selalu."
Tangan yang telah dipenuhi darah, terangkat, seperti mencoba memegang wajah nya. "Kamu juga gak egois kok. Lagipula, aku juga memang mau selalu ada, buat kamu. Jadi jangan anggap diri kamu merasa bersalah."
__ADS_1
"I'm selfish!"
BERSAMBUNG...