Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 54 : Crazy


__ADS_3

PLAK!


Tamparan di dapatkan oleh gadis, ehβ€” wanita(?) yang ada di depannya. Pemuda itu menggeram marah, niat pergi ke bar untuk menghilangkan pikiran nya tentang Vina.


Ini malah jadi melihat orang yang menjadi pacarnya memakai pakaian yang kurang bahan, bahkan seseorang di hadapannya seperti tidak melakukan apa-apa. Wajah itu, wajah innocent itu kembali dipakai gadis itu.


"Apa yang Lo perbuat, Vero!" Bentak pemuda itu. Saat itu dia langsung menarik Vero keluar dari bar, agar bisa berbicara empat mata. Mata Vero berkaca-kaca, memegangi pipinya yang sakit karena tamparan.


"Enzo, jahat~ kok aku ditampar?" Tanya Vero dengan wajah sok imut nya. Pemuda itu semakin dibuat naik pitam akan kelakuan gadis di depannya.


"Lo itu menjijikkan, Vero! Lo udah dibayar berapa sama om-om itu?! Sampe mau ngelayanin dia, sebegitu nya. Bilang, Lo butuh berapa?!" Enzo, Avrenzo, pemuda itu tidak habis pikir dengan perbuatan Vero.


Apa selama ini pekerjaan Vero seperti ini? Melayani orang? Pekerjaan menjijikkan!


"Mana harga diri Lo sebagai cewek, Veronica!"


Mata Vero mengerjap pelan, lalu raut wajahnya berubah dengan cepat. Yang tadinya masih sok imut, sekarang memasang wajah julid.


"Gue udah terbiasa kayak gini, Zo. Gak ada yang peduli juga kok, gue sendiri gak peduli, yang penting dapet duit buat kebutuhan gue," ujar Vero, sembari melihat kutek merah yang ada di tangannya.


"Gue sendirian juga disini. Orang tua gue ninggalin gue gitu aja di jalanan, seorang anak kecil hidup di dunia yang keras. Gue juga sama sekali gak bisa ingat, siapa orang tua gue sebenarnya."


"Lo, gue liat-liat juga udah gak peduliin gue. Jadi buat apalagi, hidup dengan benar, kalau akhirnya gak ada yang anggap."


"Jadi, kalau Lo benci gue, silahkan. Because, i hate myself too."


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Vina dan yang lain pergi dari sana, lain kali mereka harus membawa Aiden, agar tahu cara menggunakan alat Transmigration communicate itu. Vina menggenggam erat secarik kertas berisikan arti kode.


"Tapi, menurut kalian, ini ada hubungannya sama Aiden gak? Atau, masih ada anggota Shadow Legion yang hidup, dan teror kita?" Tanya Paul sembari berjalan ke arah mobilnya.


Keyla berjalan kearah mobil satunya yang bersebelahan dengan Gio sembari menarik Vina. "Kata gue sih bisa jadi," pungkas Keyla.

__ADS_1


"Gue bakal cari nama-nama setiap anggota Shadow Legion. Gue bisa tau, siapa aja yang masih hidup," kata Gio. Tangannya mengeluarkan kunci mobil dan menyerahkan pada Paul.


"Kita ke rumah sakit lagi, Lo harus istirahat, Key," final Vina. Lalu Paul mengendarai mobil milik Gio, dan Vina mengendarai mobil satu nya, Keyla hanya duduk di samping.


"Syap 'ndoro."


Vina menyernyit, "idih."


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Seorang wanita menghampiri pria yang sedang duduk di ruang makan, menikmati kopi, sembari membaca surat kabar. Wanita itu menghela nafasnya, melihat sang suami yang tenang saja.


"Mas. Kamu sungguh berani, memerangi keluarga Callandra dan William, walaupun dengan diam-diam. Kamu gak takut?" Tanya wanita itu, sembari ikut duduk di kursi makan itu.


Cangkir kopi yang berada di tangannya ditaruh di piring kecil atas meja itu. Lalu, memandang sang istri, dan terkekeh kecil. "Sungguh? Apakah kamu takut mereka? Mereka bahkan gak tau, kalau kita yang melakukan nya."


"Mengambil data rahasia orang, untuk menjatuhkan mereka. Itu maksud kamu 'kan, aku gak tau jalan pikiran kamu, mas. Kalau sampai terjadi apa-apa, yang diluar kemampuan ku, aku gak ikut-ikutan!"


Pria itu tertawa, dan menautkan tangannya, menyandarkan tubuhnya pada kursi. Memiringkan kepalanya sambil berkata, "siapa yang menyuruh mu untuk ikut? Kalau aku bisa berhasil mendapatkan uang dari berita itu, jika berita itu viral, maka itu semua untuk diriku."


"Omong kosong, menurut ku, semua yang kamu bicarakan hanya omong kosong! Jadi berhenti bicara," gumam pria itu. Melanjutkan kegiatannya yang tadi.


"Acara televisi ku pasti akan seru, apalagi banyak hacker handal yang bisa ku pekerjakan untuk mencari informasi." Dengan tersenyum sendiri, seperti orang gila.


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


Raditya meratapi nasibnya yang malang. Tangannya menggenggam erat lampu meja dari tempatnya, menghempaskan nya pada dinding. Mengambil satu pecahan dari lampu itu.


"Sudah banyak kesalahan yang saya perbuat, pada kamu William. Sahabat macam apa saya, yang rela membunuh sahabat nya sendiri, hanya untuk mendapatkan anak nya, dan juga membalas dendam."


Pecahan itu digenggam dan menyebabkan luka di tangannya, darah mulai mengalir keluar dari luka yang semakin terbuka lebar. Raditya bahkan tidak merasakan sakit akan itu.


Mata nya memandang langit luar, dari jendela, dengan tatapan kosong dari nya. Pria itu sudah gila, psikis nya sudah susah untuk disembuhkan. Rasa bersalah, dan rasa egois selalu menekannya, dan akibatnya semakin dalam kegilaannya terhadap 'Vina'.

__ADS_1


"Vin. Maafin papa, papa gak bisa ngomong yang sesungguhnya, padahal papa sudah merencanakan untuk memberitahukan semuanya. Dan, kemarin udah dikasih kesempatan untuk jujur, malah papa pakai untuk menakuti mu."


Air mengalir deras dari matanya, kakinya berjalan, dan walaupun tanpa sengaja menginjak serpihan kaca dari lampu meja itu, dia sama sekali tidak merasakan apa-apa.


"Sakit ini, tidak apa-apanya dibandingkan kamu, Vin. Sakit hati kamu, melebihi sakit yang papa perbuat ke diri papa sendiri," monolog Raditya.


PUK!


Pecahan itu diarahkan ke nadi di tangannya. Satu senti lagi, pecahan itu akan melukai nadi nya, tapi tangannya dipukul dengan keras, membuat pecahan jatuh ke lantai tidak sempat melukai nadi.


"Pak Raditya! Anda jangan gila! Anda mau mati," ujar seseorang yang baru saja masuk. Raditya menatap orang itu, dengan bola mata bergetar.


Dilihatnya, orang itu datang dengan tiga orang lagi dibelakangnya.


"Vi.. Vina, anak papa~"


Gadis yang tadinya khawatir perlahan menghilang, mendengar panggilan itu. "Maaf, anda seharusnya sadar, anda salah, tapi malah ingin kabur dari masalah itu," decak kesal keluar dari mulutnya.


Baru saja dirinya datang ke kamar ini, untuk melihat perkembangan dari pria di depannya, bukan nya membaik, malah bertambah buruk rupanya. Paul mengusap wajahnya kasar.


Dokter muda itu berjalan mendekati sang pasien yang terdiam kaku, dengan telapak tangan kanannya masih mengalir darah dari luka pecahan itu.


"Anda harus saya obati. Jadi mohon kerja sama nya, pak Raditya."


Raditya dibawa ke ranjang kamar, dan mendudukkan nya disana. Seperti anak kecil yang ketahuan berbohong, matanya berkaca-kaca, dan tangannya saling bertautan. Baju nya kotor akan darah dari telapak.


Paul membersihkan darah-darah itu, juga mengobati luka yang ada di tangan juga kakinya. Keyla menatap tajam pada Raditya, oh, inikah pria yang mengambil kakaknya dari nya? Teganya.


"Maaf. Saya gak akan ulangi lagi," sungut Raditya, sembari memanyunkan bibirnya.


Bukannya menggemaskan, malah terlihat aneh dan menjijikan. Apalagi dia seorang pria, dan sudah tua. Kenapa masih bertingkah seperti itu?!


"Nama nya juga kesehatan mentalnya, jadi gitu." Paul tersenyum maklum, sembari menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


...πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€...


BERSAMBUNG...


__ADS_2