
Gio mengambil gelas dan air minum, bersandar pada meja dapur, sembari meminum dan lalu mengusap kasar wajahnya. Dia menatap lantai dengan kosong, jantung nya bergemuruh.
Mengingat setiap pertanyaan yang setiap hari ia dengar dari Vina, saat masih dirawat.
"Dokter ngabarin gak, tentang penyakitnya gue itu apa?"
Atau pertanyaan lain, yang ujung-ujungnya pasti mengenai sakit nya. Padahal dirinya hanya mau, Vina memfokuskan pada hidup nya saja, jangan selalu memikirkan hal yang mampu membuat kepala nya pening.
"Apa yang harus gue lakuin. Lambat laun, mereka juga pasti tau apa yang gue tutupin, dan gue gak mau mereka sampai benci, apalagi gak percaya lagi sama gue," gumam Gio dengan gelisah.
Ia berjalan mondar-mandir di dalam dapur, berpangku tangan dan berpikir. Dia berjongkok resah. "Kak Vina, apapun yang terjadi ini semua demi kebaikan Lo. Gue sebagai pengawal kalian, cukup untuk membuat kalian merasa terlindungi."
Gio berdiri dan membuat jus kesukaannya, agar saat kembali orang-orang yang berada di ruang tamu tidak merasa curiga atau semacamnya. Jus alpukat memang terbaik menyegarkan dahaga.
Lalu berjalan kembali ke ruang tamu, semua mata tertuju pada nya, yang ditatap hanya memasang wajah innocent.
"Kenapa?" Tanya Gio.
...🥀🥀🥀...
Aku melihatnya, dan lalu melihat Keyla, kelihatan nya Gio memang benar-benar menutup suatu hal yang pastinya dari kamu tidak ada satupun yang mengetahui nya.
Apa itu soal apa penyakit ku? Jangan-jangan separah itu, sampai Gio tidak mau membicarakan nya. Aku refleks menutup mulut ku. Ya, mereka malah beralih menatap aneh diriku, yang tiba-tiba seperti orang kaget.
"Kakak, mikirin apa?" Tanya Keyla pada ku, tatapan menyelidik yang dia berikan, membuat ku teringat kalau jangan ada yang ku lamunkan lagi, apalagi sembunyikan darinya.
"Gue lagi makan cemilan, kenapa memang?"
"Gue kira lu kenapa," balas Sena yang tadi juga menatap aneh diriku. Aku hanya tertawa kecil, dan melanjutkan kegiatan kami yang sempat terhenti.
Oh iya, ngomong-ngomong orang yang tergeletak tak berdaya di lantai itu pingsan. Ya, dia pantas sih mendapatkan nya, apalagi perbuatannya selama ini. Perbuatannya pada Vina. Aku hanya ingin semua kembali normal, kembali damai. Apa tidak bisa?
...🥀🥀🥀...
Malam ini, mereka pulang, hanya Gio, Keyla, Roby, Sena, Audi, dan aku di sini. Anak-anak Red Blood memutuskan pulang saja, sebenarnya aku sih yang tidak ingin terlalu banyak orang di sini. Oh ya, dan pemuda itu, Carlos. Dia dibawa juga oleh yang lain, entahlah mereka akan berbuat apa pada nya.
__ADS_1
Gio, dan Keyla mengantarkan mereka ke depan. Tapi ku penasaran, kenapa mereka lama sekali?
"Sen, Audi, Roby. Gue keluar bentar ya," ujar ku, lalu langsung keluar. Dan menemukan mereka yang sepertinya sedang terlihat berbincang serius di depan sana.
Aku mendekat untuk bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Eits, jangan bilang aku ini orangnya kepo-an ya!
"Gio, lu tadi kenapa?"
"Kenapa apanya?" Tanya Gio, wajahnya menatap arah lain, tapi tanpa mimik wajah yang meyakinkan.
"C'mon, Yo. Gue tau Lo nutupin sesuatu. Dan ini pasti tentang, kakak 'kan? Gue pengen Lo kasih tau gue, apa yang terjadi di dalam sana, pas Lo ketemu sama dokter itu!"
Tentang ku? Aku juga mau dengar, penasaran akan apa yang terjadi, aku menetap di sana, tempat persembunyian ku. Hening?
"Gue gak nutupin sesuatu tentang itu, Key!"
Aku sedikit mengintip dari dinding. Gio membentak Keyla, dan seperti Keyla tak terima. Kalau aku disana aku akan menyerang Gio.
GREP!
"Gio, ini perintah, dari ketua mu!" Wajah Keyla berubah 180 derajat dari biasanya, wajah nya terlihat kesal, marah, dan tegas bercampur aduk.
Gio membulatkan matanya, dan menelan ludah. Tangannya memegang tangan Keyla yang menggenggam erat kerah nya. Dia melepaskan nya perlahan dan menunduk.
"Gue gak tau ini seburuk apa, tapi menurut gue ini sangat buruk. Vina, emm maksudnya, Rissa, dia.."
Keyla tak sabaran, aku juga sebenarnya ingin tahu secepatnya.
"Cepat, ngomong, Yo!" Keyla mengerutkan keningnya.
"Gangguan disosiatif dan Depersonalisasi," jawab Gio, menatap Keyla dengan sendu.
Keyla terdiam, dan tentu aku juga. Aku tau apa yang baru saja diucapkan Gio. Aku punya gangguan seperti itu? Aku tertawa miris, memegang dada ku, ngilu, kenapa tiba-tiba aku merasakan rasa seperti saat di tembak dengan timah panas itu.
Setidaknya aku sudah tahu, apa yang terjadi padaku, yang kadang berpikir siapa aku dan dimana seharusnya aku berada. Aku pergi dari tempat persembunyian ku.
__ADS_1
...🥀🥀🥀...
Keyla menggertakkan gigi nya, dan mengepal erat tangan. "Kenapa Lo baru bilang sekarang?! Jawab, Yo! Kenapa baru sekarang bilang ini. Separah itu gue gak tau apa-apa?! Pantesan aja gue selalu liat kakak gue selalu melamun, dan gak tau dirinya siapa seharusnya."
Keyla memukul-mukul Gio, dengan tenaganya yang lemah. Gio diam, tanpa bisa membantah, dan melawan gadisnya, tunggu gadis nya? Dia hanya bisa menghayal.
"Maaf, Key. Gue takut, kalo bilang ini kalian bisa kepikiran terus, dan malah buat pikiran kalian malah gak fokus," jelas Gio.
"Itu bukan alasan, Gio!"
"Aku tau! Aku salah!" Gio mengusak rambut nya kasar, dan mundur dan kembali maju dengan gelisah. "Gue cuman gak mau Lo banyak pikiran," lanjutnya.
"Oke, kalau Lo takut gue banyak pikiran, tapi gue sebagai adiknya berhak tau."
"Dan sekarang Lo tau."
Keyla berjongkok. Mereka terdiam, dan Keyla terduduk di tanah depan taman halaman depan. "Apa dokter ada bilang apa yang harus dilakukan untuk hilangin itu?"
Gio memandang ke bawah, melihat Keyla. "Gue lupa nanya," balas Gio sembari menggaruk pipinya.
"Aish. Sial, kenapa bisa-bisanya Lo ceroboh."
"Maaf."
"Maaf lagi, maaf lagi."
"Maaf."
"Ah, udahlah. Gue mau ke dalam, udah malam, dan cuaca makin dingin. Mending Lo juga ke dalam," kata Keyla, lalu berdiri membersihkan celananya dari tanah, dan melangkah masuk.
"Good night, Key," gumam Gio, menyusul Keyla masuk ke dalam rumah.
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
__ADS_1