Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 52 : The First Meeting


__ADS_3

Vina tersenyum. "Ada apa, kek?" Tanya Vina, sok polos. Kakek William terpaku, menatap lurus wajah gadis di hadapannya. Tangan nya terangkat ingin memegang wajah gadis itu, gadis yang sangat mirip dengan para cucu nya.


Mulai dari mata, hidung mancungnya, rambut halus nya, dan juga bentukan keseluruhan. Kakek William menghentikan pergerakannya sendiri. "Tidak. Cucu ku gak mungkin orang ini 'kan?" Batinnya bertanya-tanya.


Gio dan Paul diam, tidak ikut campur akan pertemuan antara mereka. Sebenarnya Gio yang tak terlalu ikut campur. Paul hanya fokus untuk melepaskan diri dari orang-orang yang menangkap tangannya.


Vina menatap hangat orang yang selalu merawatnya dari kecil, bersama Keyla. Hanya saja di hati nya tersirat kesedihan, ini karena sang adik paling kecil, yaitu Clarissa Davina, tidak bisa mendapatkan kasih sayang sebenarnya dari keluarga kandung.


"Anak gadis. Apa yang kamu lakukan di gedung terbengkalai ini? Atau kamu mengenal Gio, dan Paul?" Tanya sang kakek. Wajah nya mengerut, heran dan bingung, pasalnya gadis di depannya memang terlihat familiar, tapi tidak pernah ada di kelompok Red Blood.


Vina menatap jengah sang kakek. Apakah tingkat kepekaan kakeknya telah hilang? Dan, apakah tidak merasakan apa-apa pada cucu nya ini? Ikatan batin atau apa gitu?


"Kita belum kenalan, kakek." Vina sedikit menunduk memberikan hormat, "perkenalkan, saya Clarissa Davina. Salah satu anggota kelompok Red Blood."


"Dan akan menjadi calon wakil ketua dari Red Blood," ujar seseorang dari belakang mereka. Membuat mereka terkejut, dan segera menengok ke asal suara. Ketua Red Blood yang berbicara, tapi bagaimana bisa?


Bukankah, gadis yang baru saja berbicara, masih berada di rumah sakit, kenapa bisa ada di sini sekarang? Apakah tubuhnya sudah pulih, padahal kakaknya khawatir, dan bisa-bisanya dia berlagak tidak peduli pada kesehatan nya sendiri.


"Apa maksudmu, Keyla?" Tanyanya. Vina hanya bisa menahan nafasnya, berharap Keyla tidak memberitahu apapun mengenai transmigrasi yang terjadi padanya.


Keyla mendekat mereka, jalan nya memang sedikit pelan, mungkin karena kondisinya. Tangannya merangkul Vina, dan yang dirangkul hanya bisa terdiam.


"Vina adalah orang yang ku percaya, Kek. Karena selama ini Red Blood masih belum memiliki wakil ketua," jelas Keyla. Mata nya menatap Vina, sang kakak atau sang adik ya?


Gio agak heran sebenarnya, apakah Keyla sudah mengetahui siapa Vina, makanya gadis itu sangat percaya padanya. Kakeknya malah menganggap lucu sang cucu, dia terkekeh geli. Dan melepaskan rangkulan Keyla pada gadis yang masih dia curigai.


"Cucu ku, jangan mudah percaya sama orang lain. Kakek gak mau kehilangan lagi, mulai dari ayah, ibu nya, lalu kakak mu, lalu.. ah, sudah lah. Dengerin kata kakek!"


"Aku udah besar, kek. Aku udah tau, apa yang benar dan apa yang salah, siapa yang berkhianat dan siapa yang dapat dipercaya!" Keyla menatap tajam Kakeknya. Vina membuka mulutnya, untuk berbicara.


"Jadi, untuk apa anda kemari, kakek?" Tanya Vina lebih berani. Ludah nya seketika tertelan, saat melihat kakeknya hanya menatap datar.

__ADS_1


Walaupun Kakek nya kasar, dan mendidik mereka dengan keras. Pria tua itu selalu menjadi orang tersayang mereka, Rissa, dan Keyla. Kakeknya itu menghindari pertanyaan itu.


"Ah, sudahlah. Saya pergi dulu, lagipula urusan saya untuk hari ini sudah selesai." Dia berbalik menjauh, bersama dengan para penjaga nya. Vina mengerutkan dahinya tidak suka.


"Anda menghindari pertanyaan itu rupanya."


...🥀🥀🥀...


Dalam mobil, pria itu menopang dagunya di atas tongkat yang ada digenggamannya. Menatap bangunan yang perlahan berlalu, punggungnya dia sandarkan.


"Harris. Cari tau, siapa gadis itu! Secepatnya," perintahnya, sembari memejamkan mata. Kepalanya dipenuhi wajah Vina, yang terlihat sangat mirip dengan wajah anaknya. Apakah cucu nya yang hilang adalah dia?


"Baik, tuan." Tangannya mengotak-atik Ipad yang ada digenggamannya.


"Clarissa Davina, anak dari keluarga Callandra." Satu kalimat itu membuat pria itu membuka matanya menatap laki-laki bernama, Harris.


"Oh. Saya juga dikabarkan, kalau pencarian Aiden akan lama, mereka sedang berusaha. Dia menghilang bak ditelan bumi." Jelas Harris. Kakek itu menghela nafasnya.


"Baik. Laksanakan, tuan."


"Cepat pulang, saya ingin istirahat, penyakit ini membuat saya menderita."


...🥀🥀🥀...


Vina memandang Keyla dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu berbalik menjauh dari mereka bertiga, Gio, Paul, dan Keyla. Mendekati alat yang berada di tengah-tengah gedung itu.


"Transmigration communicate. Itu yang Aiden katakan tentang ini," ujar Vina. Jari jemarinya yang lentik mengelus permukaan besi alat itu. Alat itu sangat besar.


Lebih dari tingginya dua orang dewasa, dan lebarnya bisa lebih dari tujuh meter ke samping. Besi kokoh dan berisi, banyak tombol yang menghiasi alat itu. Entah berapa bobot alat itu.


"Kakek William, menyembunyikan tujuannya untuk apa membuat alat ini. Gak mungkin hanya untuk memindahkan jiwa lain ke raga lain," sahut Gio yang ikut berpikir.

__ADS_1


"Kata gue. Kakek ngelakuin ini buat kepentingan nya sendiri, dari sifat nya udah keliatan kok," jawab Paul yang berpangku tangan. Keyla hanya diam, dan menempel dengan sang kakak.


"Kak. Kakak gak marah kan?" Cicit Keyla yang menarik ujung baju Vina. Mulutnya mengerucut imut, tapi menyebalkan di mata Vina.


"Ngapain ke sini? Bukan nya istirahat. Dan siapa yang ngasih tau kalau kami ada di sini?" Vina tidak mempedulikan Keyla yang menarik-narik ujung bajunya.


"Eng... Aku nanya ke Roby tadi. Jadi aku diam-diam ke sini, naik ojek online." Dengus Keyla. Gadis yang dipanggil kakak itu hanya menggeleng menatap kelakuan adik nya yang masih seperti anak kecil.


"Lo bukan bocah lagi. Jangan manja," ucap Vina, sembari berjalan ke monitor alat yang masih menyala, Keyla mengikutinya bagai anak itik.


Pemuda yang sedari tadi memperhatikan Keyla, hanya memandang gemas gadis itu. Rasanya ingin membawa gadis itu ke dalam suatu hubungan yang lebih serius, tapi belum ada keberanian dalam hatinya.


"Kak. Jangan marah, ya. Aku cuman penasaran kakak sama dua curut itu ngapain ke sini. Tapi, aku malah dengerin dulu omongan kalian," kata Keyla.


"Heh! Curut-curut, ndasmu! Gue manusia bukan curut," sewot Paul memelototi Keyla, yang bersembunyi di balik punggung Vina.


"Kak. Ada yang marah, tapi bukan setan."


"Wah, kurang ajar!"


"Paul. Keyla 'kan ketua kita," celetuk Gio. Pemuda itu hanya dapat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ketua Red Blood bagaikan tidak ada harga dirinya. Keyla hanya memandang kedua pemuda itu dengan tatapan marah seperti kucing.


"Kek kocheng.."


"KAK," rengek Keyla. Vina menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.


"Aduh. Tertekan aku lama-lama," gumam gadis itu dengan pelan.


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2