Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 77 : Please, be honest


__ADS_3

...💤💤💤...


Roby memasuki club yang menjadi tempat nya untuk mengawasi seorang gadis yang menggangu kehidupan teman sang ketua. Dia memakai topeng, karena memang club disini tidak pernah tahu siapa yang mengelola, yaitu Roby yang selaku pengelola, selalu memakai topengnya saat datang. Dia duduk di salah satu sofa yang telah di pesan jauh hari, dan telah meminta bartender membuat minuman beralkohol kesukaannya.


Mata Roby memerhatikan sekitar, mencari orang tersebut. Tepat saat itu seorang gadis membawakan nya minuman pesanannya. Gadis itu, Roby sadar dia lah yang menjadi target.


"Ini minuman nya, Tuan." Gadis itu hanya bisa duduk, dan menemani nya, ya, pekerjaan gadis itu memang seperti itu, tidak lebih. Roby memandang intens pad gadis itu, membuat gadis itu merasa gelisah.


"Cantik juga. Badannya juga lumayan," puji Roby dalam hati. Sembari meminum dari gelas yang telah disiapkan, entah sudah berapa tegukan. Roby juga sudah mulai mabuk. "Kamu juga ikut minum cantik," suruh Roby, pada gadis itu.


Pemuda itu menyerahkan gelas satunya yang sudah diisi alkohol, memaksa gadis itu untuk minum alkohol yang pasti beberapa teguk saja akan membuat gadis itu mabuk. Bukan, bukan karena ada perangsang, tapi memang gadis itu lah yang lemah.


"Ta.. tapi saya cuman bekerja untuk menemani anda," tolak gadis itu. Walau ini pertama kali nya ia menolak, biasanya ia ikut minum, dan memuntahkan nya kembali.


"C'mon, biasanya pekerjaan mu seperti ini kan?" Roby mulai hilang kendali.


"Maaf, tuan. Saya tidak bisa," tolak gadis itu, juga menahan setiap pergerakan Roby.


...💤💤💤...


Roby mengusap wajah nya dengan kasar, otak dangkal nya sudah ingat. Dia menunduk, meminum kalengan beer, sembari melihat keluar rumah. Pemuda itu tengah bersandar di pagar balkon, setelah makan malam tadi.


"Gue se-brengsek itu! Tapi caranya gimana, buat jelasin semuanya, terutama ke korban itu sendiri."


"Korban apa?"


Roby tersentak kaget, dan membalikkan tubuhnya dengan cepat. Matanya membola melihat Vina yang sudah di depannya, memandang nya dengan tatapan dingin. Vina memasukkan kedua tangannya ke saku training nya, dan melangkah mendekati pemuda itu.


"Eh, n.. nggak. Lu salah denger, Vin," sanggah Roby, mulut nya terbuka untuk menjelaskan sesuatu.


Namun, Vina menyela pembicaraan pemuda itu, yang terlalu terbata-bata. "Ngomong yang bener. Gue tuh udah curiga, Rob. Semenjak Vero dateng, Lo jadi aneh. Apa yang Lo tutupin, hah?"

__ADS_1


"Oh atau Lo punya niat buat nikahin Vero, ya~" Vina menggoda pemuda itu dengan senyuman tengil. "Gue kira Lo belok, karena gak pernah tuh gue liat Lo tertarik sama cewek," ejek Vina.


Roby menelan ludah nya dengan susah payah, dan tertawa canggung. "Gue biasa aja. Mana ada gue mau nikah sama cewek kayak dia, udah jahat, terus hamil di luar nikah lagi, dan gak tau laki-laki yang ngebuat dia kayak gitu siapa. Ya iya lah, dia kan tidur sama banyak pria, mau yang tua, muda, semua nya open—"


Secara tidak sadar Roby berkata begitu, dan suara vas pecah di belakang Vina membuat keduanya menoleh, melihat siapa. Roby membulatkan matanya, menutup mulutnya rapat-rapat.


"Ah.. ma.. maaf Vin. Aku gak sengaja," kata seseorang yang baru saja memecahkan vas bunga itu. Bahkan suaranya terdengar parau, tangannya bergetar untuk membereskan pecahan kaca dari vas. Vina dengan cepat menghampiri nya dan ikut membantu.


Yang lain pun ikut membantu, karena mendengar suara pecah belah, membuat terkejut mereka yang sedang bersantai di ruang tamu. Roby terpaku di tempatnya, kakinya bagaikan dipaku ke dalam bumi. Bahkan tangan nya mengepal, dan batinnya memaki mulutnya yang sudah begitu tega berkata begitu.


"Maaf, aku gak sengaja. Biar aku aja yang bersihin." Vero terisak dengan suara kecil, dia tidak ingin terlalu merepotkan orang yang sangat baik pada nya. Hati nya sakit, mendengar setiap kata-perkata dari pemuda di depan Vina itu.


Memang benar dia hamil di luar nikah, dan tidak tahu siapa jelasnya orang yang melakukan hal itu, tapi dia tidak semurah itu, menyerahkan diri pada pria asing. Dia hanya menemani minum, bukan sampai masuk ke kamar.


"Vin.. kayaknya aku pulang aja ke apartemen, lagipula aku udah lama gak beresin kamar ku disitu, aku nggak mau repotin kamu sama yang lain kalau nginep disini terus." Vas sudah selesai dibersihkan, dan Vero tiba-tiba membuka pembicaraan saat hening melanda mereka.


"Ini semua karena Roby," geram Vina dalam hatinya, tatapan dari manik mata Vina berbenturan dengan milik Roby, yang otomatis membuat pemuda itu tertunduk menyesal.


Vina memandang Vero, dia tahu, tahu, bahwa perempuan di depannya berbohong. Dia pernah meminta tolong pada Keyla untuk mencari tahu apa yang membuat Vero jadi seperti ini.


Vero menggeleng dan tersenyum manis. "Aku dah gak papa kok. Lagipula aku bisa jaga diri."


Membuat Vina tertawa remeh. "Ver, Lo gak ingat yang terjadi di pertemuan pertama kita setelah lama gak ketemu? Lo gak bisa jaga diri Lo!"


"Tolong, dengerin gue kali ini, Veronica."


Roby mengangkat kepalanya melihat reaksi Vero, berharap Vero masih berada di rumah ini, agar dia bisa membenarkan hubungan mereka. Dia juga harus meminta maaf, dan mencoba jujur serta bertanggung jawab.


"Dan Lo, Roby." Membuat Roby terkesiap.


"Ikut gue ke ruang gue. Jangan bantah, kalo gak nyawa taruhan nya," dingin Vina. Dirinya melangkah melewati teman-temannya dan Keyla yang memandang nya dengan tatapan bertanya-tanya.

__ADS_1


Roby mengekor dari belakang nya seperti, anak itik yang mengikuti sang induk. Dia sangat tahu, bahwa Vin pasti marah padanya, bukan itu saja, yang dihadapi itu bukan Vina saja, tapi Rissa.


Dia tahu betapa baiknya ketua nya ini pada nya. Saat dirinya akan dibawa ke tempat perbudakan manusia, Roby berhasil diselamatkan, dan membuat Roby mengabdi pada keluarga William, terutama Rissa.


Mereka sampai di ruang khusus milik Vina di rumah Callandra itu. Vina belum mengeluarkan satupun kata dari bibirnya, mata nya melihat keluar jendela, yang masih belum ditutup tirai, memandang bulan di atas langit.


"Roby.. Lo inget kan, apa yang selalu gue bilang ke Lo dari dulu?" Tanya Vina yang membuat kepala Roby yang sedari tadi menatap lantai, mendongak menatap ketua Red Blood itu, entah ketua apa wakil sekarang ini.


"Ingat, Ris." Jawab nya.


"Lalu, apa kesimpulan nya?" Vina menoleh pada Roby, dan ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya, karena Roby terdiam.


"Jangan menjadi seorang yang brengsek hanya untuk menutupi suatu kesalahan yang seharusnya memang diketahui semua orang."


"Maka, jujurlah! Apa yang Lo lakuin adalah kesalahan besar, yang seharusnya lo ungkapin. Karena itu hanya ngebuat seseorang menderita!"


"Tapi gue gak cinta dia, Vin," lirih Roby. Perkataan lirih itu, membuat Vina melangkah menuju Roby.


PLAKK!


"Itu buat Lo sadar kalau bukan Lo yang paling menderita di sini!"


PLAK!


"Itu buat Lo yang gak mau bertanggung jawab."


GREP!


Kerah baju Roby Vina tarik mendekat, Roby sama sekali tidak bisa menyanggah itu, karena semua benar.


"Gue gak mau, satu orangpun anggota atau alpha Red Blood jadi orang yang sampah kayak gitu!"

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...


__ADS_2