
Vina menatap perempuan yang sedari tadi hanya menunduk, mengangkat dagu Elin dengan jari-jari nya. Saat terangkat, rupanya perempuan itu menatapnya dengan tajam, dan wajahnya sembab.
Vina menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan. Melepaskan tangannya, dan berjalan ke arah Gio yang sudah duduk di salah satu kursi. Gadis itu duduk di meja, menghadap Elin, yang sedari tadi menatapnya datar.
"Jadi, gimana? Kita apain dia, wakil ketua?" Gio bertanya sembari menaik turun kan alisnya.
Membuat Vina mendelik, dan berpangku tangan, "Udah gue bilang. Gue bukan wakil, gue juga belum sah jadi wakil. Keyla seenaknya aja sih."
Gio terkikik. Kembali memandang perempuan yang terikat tali itu. "Gue serius. Dia kita apain?"
"Apa yang mau kalian perbuat ke gue?! Lepasin gue, Lo juga Gio, dan Lo, ntah siapa Lo, lepasin!" Teriaknya, untung saja tidak sampai ke luar.
Vina tidak memberikan respon pada teriakan itu. "Yo, tadi Aiden bilang, Elin sahabat gu— sahabat nya Rissa. Itu bener?"
Gio menopang dagunya dengan satu tangannya. "Ya bener. Sahabat masa kecil, gak terlalu dekat kayak Aiden sih, tapi sesekali gitu jalan bareng."
Vina mengangguk dan mulut nya membentuk huruf 'o'. "Ada catatan informasi tentang dia?"
Gio berdiri, dan berjalan ke arah lemari, membuka salah satu laci. Dan memberikan berkas-berkas pada Vina. Vina membaca satu persatu catatan yang tertera.
"Elina Jovita Finley," ucap Vina membacakan nama panjang Elin. Membuat perempuan yang menatap dirinya semakin menusuk.
"Mon maap. Itu mata atau pisau? Tajem amat mbak tatapannya," celetuk Vina. Gio menggigit bibir bawahnya, menahan tawa.
"Umur nya 19 tahun. Masih muda yah, mbak-nya. Riwayat hidup, aduh panjang, males baca." Vina menggaruk keningnya, sembari mengerutkan hidungnya.
Gio tertawa. "Lo mirip kayak Rissa, ya. Rissa juga males baca panjang gitu, tapi entah tiba-tiba udah selesai aja bacanya."
Vina terkekeh. Padahal dia dan Rissa adalah orang yang sama, semua nya sama seperti Rissa. Tapi kenapa mereka tidak menyadari itu?
Vina kembali menatap sendu Elin, memegang kepalanya. Meletakkan berkas-berkas yang tadi dibaca di meja, kaki nya melangkah mendekati Elin.
"Gio. Buka talinya," pinta Vina pada Gio. Membuat Gio membulatkan matanya.
"Loh, kenapa? Biasanya langsung disat set sat set. Kita udah cape-cape nangkap dia, supaya buat Aiden buka mulut. Kok dilepas?" Protes Gio. Vina menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Mungkin kalau gue jadi Rissa, pasti udah bunuh. Tapi ini beda cerita, dia sama sekali gak tau tentang ini. Menurut gue Rissa juga sama sama gue, dia hanya membunuh orang yang benar-benar mengganggu kehidupan nya," jelas Vina. Elin tidak lagi menatap Vina dengan tajam.
"Kenapa gak asing?" Elin memandang wajah Vina yang sangat mirip dengan seseorang. "Ini kesempatan buat gue kabur." Batin Elin. Gio membuka tali yang mengikat Elin, tidak tahu sejak kapan tali itu mengikat perempuan di depannya. Tangan nya bukan hanya memerah, tapi juga terluka.
Elin dengan cepat lari ke pintu saat tali terlepas. Bahu Vina pun ia tabrak. Vina sedikit tergeser, dan Gio marah akan apa yang terjadi. Elin membuka pintu itu, tapi tidak bisa, terkunci.
Vina mengusap bahu nya singkat, dan berbalik menghadap Elin yang sekarang menatap mereka berdua dengan panik. Gio ditahan agar tidak melakukan hal di luar batas.
"Elin, mari berteman baik." Vina tersenyum, membuat pemuda dan perempuan itu tertegun.
"Lah ini ngapa jadi gini, kok bisa-bisanya wakil ketua mau ajak berteman orang yang menjadi musuhnya?" Batin Gio terdiam. Vina berjalan ke pintu, dan membuka kunci pintu kamar itu.
"Berteman sebagai Vina dan Elin, bukan Rissa dan Elin, ya." Vina membuka pintu, dan menarik tangan Elin mengikuti dia. Ketiga orang yang duduk di sofa hanya memandang dalam diam.
"Obatin tangan Lo, dan anggap rumah sendiri." Si pemeran utama perempuan itu memberikan kotak P3K pada Elin. Dan berjalan menjauhi perempuan yang tengah menatap bingung ia, dan melakukan seperti apa yang dipinta Vina.
"Urusan Aiden, urusan Aiden. Gue gak akan buat nyawa orang melayang gitu aja, apalagi Aiden udah lukain gue, juga Keyla." Gumam Vina.
Vina duduk dengan santai di antara mereka berempat. Tatapan berbeda-beda didapat olehnya.
"Thanks," ucap perempuan itu, memberikan kembali kotak itu pada Vina. Vina mengangguk, dan mempersilahkan duduk Elin.
"Lo kenapa tau nama panggilan kita bertiga?" Tanya Amanda dengan dingin, penasaran. Panggilan itu hanya dibuat oleh Rissa, seumur hidupnya tidak ada yang tahu akan hal itu.
Vina tersenyum miring dan mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa lagi emangnya? Kalian pasti bisa tebak sendiri kan?"
Elin hanya diam tidak ikut dalam obrolan, menurut nya Red Blood sekarang terlihat asing. Terutama Gio, satu-satunya yang dia kenal. Rissa juga sebenarnya, tapi dia sudah pergi, meninggal dunia. Elin hanya tersenyum sendu, miris.
"Anggep aja, gue sebagai Rissa." Vina sebenarnya tidak bisa menghentikan kebiasaan nya sehari-hari sebagai Rissa. "Karena semua yang Rissa tau, gue juga tau." Lanjutnya.
Tidak semua sih. Tetap saja, dia Rissa sebenarnya, jadi buat apa untuk ditutup-tutupi. Vina berdiri dari tempat duduknya sebelum mereka membuka mulut untuk berbicara apapun lagi.
"Gio, gue mau ke tempat pemakaman, tolong anterin gue. Gue mau ketemu Rissa," kata Vina, Elin mendongak menatap Vina.
"Gue ikut." Elin membuka suaranya sembari menahan lengan Vina. Takut sebenarnya jika tetap berada di sini.
__ADS_1
"Semua ikut," final Vina. Vina dengan lembut melepaskan tangannya Elin yang menahannya dari lengan nya.
Vina memasukkan kedua tangannya ke saku. Mengambil handphone nya, sudah beberapa kali itu berbunyi. Carlos dan Calos lagi.
"Vin, Lo di mana? Jangan buat gue khawatir!" Pesan dari Calos, dan masih ada 19 pesan yang tidak dibaca olehnya. Ayolah, jangan cari masalah, Vina risih karena pesan-pesan beruntun dari kedua abangnya ini.
"Vin, Lo dimana? Jangan jadi anak berandalan! Abang gak suka!" Pesan Carlos membuat menyernyit. Siapa dia mengatur-atur kehidupan nya. Mereka hanya abang tiri, dan tidak ada lagi sangkut pautnya dengannya sekarang.
Mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah, pantas saja Calos berani mencintainya, pasti pemuda itu tahu duluan mengenai hal ini. Vina jadi teringat, bagaimana nasib ketiga orang itu.
Saat ini ada dua mobil yang dipakai, mobil Gio dan mobil Kevin. Mobil Gio diisi oleh, Gio, Vina, dan juga Elin. Di mobil Kevin, ada Kevin, Amanda, dan juga Jane. Mobil mewah itu membelah jalanan Bogor.
"Gio. Gimana dengan keadaan tiga orang yang gue bilang?" Tanya Vina. Gio melirik nya dan kembali menatap jalanan.
"Kata Paul, mereka di rawat dulu di tiga kamar berbeda. Psikis masing-masing dari mereka menurun dengan berbeda-beda. Dan yang paling menurun adalah Raditya," jelas Gio. Informasi ini didapatkan nya dari Paul, saat sebelum mereka pergi ke tempat Aiden.
Vina mengangguk singkat, dan melihat ke belakang. Elin telah tertidur, kedua pergelangan tangan nya yang terluka di terbalut kain kasa, dan perban. Vina kembali menghadap ke depan.
"Elin mungkin tau, apa yang sebenarnya terjadi antara Aiden dan Rissa." Batin Vina. "Yo, kalau Elin dan Aiden benar-benar sahabat Rissa, kenapa mereka seperti menjadi musuh?"
Gio mengendikkan bahunya. "Mana gue tau, Rissa selalu tertutup kalau ada masalah. Masalah tertentu aja sih," jawab Gio.
"Vin, tolong apapun itu yang Lo tau tentang Rissa. Gue harap Lo bagi ke kita ya, supaya kita tau, kesakitan apa yang Rissa pendam."
Vina terdiam. "Maksud Lo?"
"Lo Rissa kan sebenarnya?"
Entah itu pertanyaan atau bukan, membuat Vina menutup mulutnya, dan tubuhnya menegang.
"Karena semua tentang Rissa, apapun ada juga di Lo."
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
__ADS_1