
Mata nya terpaku, "Sena. Kenapa Lo tau, tentang gue, sejauh itu?" Pertanyaan To the point keluar dari mulutnya, membuat orang yang ditatap nya menegang.
Tubuh nya perlahan berbalik, menatapnya dengan sendu. Langkahnya membawa dirinya mendekat pada gadis yang terduduk di ranjang rumah sakit itu. Duduk di sisi ranjang.
"Sebenarnya, gue udah tau lama tentang novel itu."
Deg!
Mata gadis itu membulat, "n- novel?"
"Iya, Vin. Novel online yang dibuat Sasya. Maaf." Gadis itu menunduk, dan meremas tangan nya. Mata nya menoleh, dengan tubuh yang gelisah. Menggigit bibir bawahnya.
"Maaf? Untuk apa?" Nada Vina berubah menjadi datar, wajah tidak menunjukkan kesan tertarik pada topik. Hembusan nafasnya memberat.
"Maaf karena, gue juga terlibat, saat pengetikan novel itu. Dari awal. Tapi gue sama sekali gak tau, kalau novel itu direvisi semua. Yang gue tau, gue yang buat karakter seorang Clarissa menjadi menderita." Mata Sena bergetar, menatap lurus pada temannya, yang kini memegang kepalanya.
Vina menunduk, "gue pusing. Cerita Lo bertele-tele!"
Sena menghela nafasnya, "awalnya, Sasya memang hobi menulis novel kayak gini. Gue dukung. Bahkan bantu dia. Gue ikutin novel itu sampe selesai, namun gak lama ending dari novel itu, Sasya merevisi semua isi novel, yang udah kita buat berdua, sebelum dia meninggal. Semua itu, juga gue baca. Seru. Tapiβ"
Vina menatap penasaran dengan kelanjutan cerita Sena. Sena kembali melanjutkan ceritanya.
"Tapi, setelah gue pindah dan ketemu Lo. Gue nyadar. Kalau Sasya, buat cerita itu, bukan hanya sebuah cerita. Tapi, kisah seseorang. Kisah hidup." Sena memegang tangan Vina dengan sebelah tangannya.
"Kisah hidup seorang Clarissa Davina Callandra, yang ada di hadapan gue sekarang. Telah dipermainkan oleh nya." Mata nya mengilat tajam, berdesis pelan.
"Gue tau, dia bukanlah Sasya yang gue kenal. Tapi, dia adalah Audi, Sasya yang sebenarnya terjebak di dalam sana. Mata gak pernah bohong, Vin." Jelas Sena.
Vina kini bimbang, siapa yang harus dirinya percayai. Semua nya patut dicurigai. Mulai dari Audi atau bisa dipanggil Sasya, yang membuat semua isi novel. Maya, ibunya yang kini dalam tubuhnya adalah Aiden, seorang Ketua mafia. Dan, kini gadis yang menatapnya, yang tahu mengenai siapa pastinya Sasya.
"Jadi, inti nya. Audi bukan Sasya?" Tanya Vina.
Sena mengangguk, "dia bukan Sasya."
"Sasya itu, udah mati!"
...π₯π₯π₯...
Ruangan kamar itu hening, setelah beberapa saat gadis berponi itu meninggalkannya, karena sudah malam. Akhirnya setelah pembicaraan panjang mereka, gadis itu, Sena pulang.
Vina memegang keningnya, memperbaiki posisi tidur nya. Memejamkan matanya, sambil berpikir keras.
Vina terkekeh miris. "Bisa gila lama-lama gue, kalo kayak gini terus." Lalu, mengusak rambutnya frustasi.
BRAK!
Pintu kamarnya dibuka secara kasar, dan kedua orang berbeda jenis kelamin datang menghampiri nya. Mereka adalah orang tua nya, yang terlihat panik mendekati nya.
"Sayang. Kenapa kamu langganan masuk rumah sakit? Gak ada yang sakit 'kan, sayang?" Tanya sang wanita, wajah nya khawatir. Vina menatap datar pada keduanya.
"Bemuka dua." Desisnya dalam hati.
__ADS_1
"Papa urus admistrasi dulu ya. Kamu ditemenin sama mama kamu dulu," ujar papa nya. Lalu pergi dari kamar dengan sedikit buru-buru. Meninggalkan keduanya dalam keheningan.
"Aiden." Panggil gadis bermata merah itu, yang dipanggil menoleh padanya. Sebelah alisnya naik, seperti bertanya, mengapa dirinya dipanggil.
Vina berdengus. "Bagaimana bisa, kau kabur dengan Audi?"
Aiden tersenyum samar. "Ternyata kau penasaran? Ceritanya singkat, mereka datang, kami pergi. Tamat!"
Vina menggeram, wajahnya memerah menahan marah, dan kepalanya seperti menimbulkan asap. "Mereka? Siapa?"
"Entahlah, cowok dan cewek. Tapi, seperti nya mereka sempat bertengkar, makanya kami punya waktu untuk kabur." Jelas nya dengan santai.
Lalu duduk dengan gaya songongnya. Untung saja, saat ini Maya berpakaian bebas, dengan celana jeans, juga kaos polos dilapisi blazer hitam nya.
Mata Vina menyipit melihat sesuatu di leher wanita itu, lalu pura-pura batuk dan menyeringai. Sembari menangkup wajah nya sendiri dengan kedua tangannya. "Hei, Aiden. Gimana? Enak jadi wanita seutuhnya?"
Aiden menatap nya dengan heran, "maksudnya?"
Vina menunjuk sesuatu di leher wanita berjiwa pria itu, "tuh, buktinya."
Aiden tersadar, langsung menutup lehernya dengan rambutnya.
"Sialan, gara-gara Raditya godain gue terus, jadi gue gak bisa marah lama-lama sama dia!" Umpat Aiden dalam hati.
...π₯π₯π₯...
Langkah kaki itu berhenti di sebuah jalan, melihat sebuah sosok perempuan yang menatapnya. Dia sadar, siapa yang menatapnya dengan tatapan mata kosong itu.
Set!
Sosok itu menghilang, saat tangan nya hampir menyentuh nya. Dirinya melihat sekeliling, benar-benar sepi. Jalanan itu kosong, hanya ada beberapa lampu jalan yang menerangi sekitar.
Tidak ada bangunan, hanyalah sebuah taman penuh pohon dan rumput. Matanya menjelajah langit. Langit malam, penuh bintang. Dengan awan yang berjalan. Angin berhembus kencang.
Sosok tadi kembali, kini di depannya.
"Sasya." Hanya itu yang dapat diucapkan dari mulutnya. Sesosok perempuan itu mendongakan kepalanya yang sebelumnya menunduk.
"Selamatkan semuanya. Hanya kamu, dan Rissa, harapan novel ini, Sena. Bantu Rissa, untuk menyelamatkan semuanya. Agar semua tidak musnah!"
WUSH!
Angin berhembus, gadis itu terbangun dengan keringat di sekujur tubuhnya. Dengan nafas terengah-engah, dan mata yang melotot. Mata nya melihat keluar jendela.
"Sya. Apa itu? Apa yang harus aku selamatkan?"
Tangan nya mengepal lemah, dan kembali membaringkan tubuhnya dengan kasar. Menaruh satu tangannya di kening.
"Jirlah!" Umpat nya. Dengan gusar, kembali tidur, karena jam masih menunjukkan dini hari.
...π₯π₯π₯...
__ADS_1
Seorang pemuda dengan tergesa-gesa keluar dari dalam sebuah bar. Tangannya memegang handphone, menekan ikon pesan. Dan mengetikkan sesuatu, pada seseorang. Lalu mengirim sebuah foto.
Dirinya tersenyum puas. "Pasti, Key bangga sama gue. Gue kayak dapetin sesuatu yang berharga bak harta karun!"
Ia masuk ke dalam mobil, dan menjalankan mobilnya. Tak lama kemudian, sebuah balasan dari sang ketua datang.
'Good. Ini bukti yang gue maksud. Foto ini bisa menjadi bukti.'
Pemuda itu menyeringai. "Veronica. Hidup Lo udah gak lama lagi!"
Di lain tempat. Gadis itu tersenyum puas, melihat sebuah foto yang telah dikirimkan oleh anak buahnya. Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan yang dengan cekatan ******* bibir seorang pria tua.
"Gadis, huh? Dia sudah seperti wanita kurang belaian."
Menyandarkan tubuhnya pada sofa, dan menumpu kakinya. Menangkup sebelah wajahnya dengan tangan kirinya, masih dengan menatap foto itu.
"Kakak, akan berterima kasih padaku!"
...π₯π₯π₯...
Seorang wanita keluar dari rumah nya, lalu pergi dengan mobil nya. Menjauh dari rumah itu ke suatu tempat. Dan tindakan itu dengan tidak sengaja di lihat suaminya.
"Maya. Apa yang kau lakukan?" Ujarnya. Perasaan nya memang merasa aneh terhadap sang istri, seperti ada yang disembunyikan.
"Apa selain aku, kau juga punya rahasia, Maya?" Tubuh nya berbalik dan merebahkan tubuhnya kembali. Mencoba menidurkan badannya.
Wanita yang sedang dicurigai, sampai di sebuah bangunan terbengkalai. Senyuman mengerikan nya ditampilkan. Dirinya masuk ke dalam bangunan itu.
"Ketua kalian datang!" Teriak nya di dalam bangunan terbengkalai tersebut. Orang-orang itu keluar dari tempat persembunyiannya.
"Ketua Shadow Legion. Anda kembali." Orang-orang tersebut menunduk hormat. Wanita itu, Maya tersenyum tipis. Dan berjalan ke tempat duduk kebangsaan nya.
"Bagaimana, ketua cadangan Shadow Legion? Martin?" Tanya nya, tangannya mengambil soda yang tersedia, membukanya, dan meminumnya.
"Pendapatan hari ini, seperti biasa. Semua sesuai dengan keinginan anda!"
Krek!
Kaleng soda yang berada di tangan wanita itu diremasnya, lalu dengan kasar dilempar ke kepala pemuda yang baru saja menjelaskan itu.
"Bukan itu, Bodoh! Perempuan itu!"
Martin menunduk, meremas celana jeans nya. Menyembunyikan wajahnya yang menahan marah. Mengontrol emosi nya.
"Perempuan itu, sudah kami buang, ke tempat yang jauh. Setelah dipastikan mati, ketua."
Tawa wanita itu menggelegar di dalam bangunan terbengkalai itu. Kepalanya mendongak, tangannya mengusap air di ujung matanya, setelah tertawa puas, akan pekerjaan anak buahnya.
"Kali ini, gak ada yang bisa mengacaukan eksperimen kita!"
...π₯π₯π₯...
__ADS_1
BERSAMBUNG...