Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Se.2_ #94. Mafia In The Morning (END)


__ADS_3

".. dilaporkan oleh beberapa saksi mata, bahwa ada tiga orang ditemukan meninggal dunia di sekitar jembatan. Dan teridentifikasi mereka adalah ketua mafia yang paling dicari oleh polisi dan tentara diberbagai negara. Dengan tubuh pertama berinisial X, tubuh kedua berinisial F, dan yang terakhir berinisial YR. untuk lebih je—"


Siaran berita itu dimatikan olehnya. Tersenyum senang, akhirnya semua telah selesai. Bahagia menatap seseorang yang tertidur di samping brankarnya.


Elusan diberikan dengan lembut, membuat seorang gadis yang tertidur itu terganggu, dan membuka perlahan mata lentiknya. Dan bangun menatapnya. Senyuman merekah diwajahnya.


"Kakak!" Pelukan tak terelakkan. Erat tak ingin dipisahkan. "Syukurlah kakak udah bangun!"


"Key, udahan dong pelukannya. Kakak sesak nih, kakak juga baru bangun~" Seraya melepaskan rangkulan Keyla. Melihat itu wajah Keyla cemberut.


"Kakak gak kangen aku ya? Ya iyalah, aku aja gak pernah dikabarin," rajuk Keyla, mengalihkan pandangannya dari Vina yang terkekeh.


"Adik kakak merajuk, ya."


"Anda pikir?"


"Aish.. Udah udah. Kalian itu udah besar masih aja berantem," ujar seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Kakek." Vina tersenyum menatap kakeknya, melihat adik dan kakeknya baik-baik saja membuatnya lega.


Keyla memajukan bibir bawahnya, "kakak sih, gitu ke Key."


Tawa memenuhi ruangan dari Michael dan Vina. Membuat Keyla melipat kedua tangannya di depan dada. Vina terdiam saat mengingat sesuatu.


"Oh iya, Key, kakek. Gimana sama Roby, Gio, sama markas?"


Keyla yang mendengar nama Gio merasa sakit di hatinya. Michael mengambil alih menjawab, "Roby.. sama markas baik-baik aja, anak buah kakek udah menyelesaikan tugasnya dengan baik."


Vina mengangguk mengerti, "lalu, Gio? Dia.. Kan—"


"Dia koma. Tembakan itu melesat ke jantungnya. Masih untung tidak tembus, hanya menggores sedikit. Tapi itu hampir membuatnya meninggal," jelas Michael sembari menatap Keyla akan reaksinya.


Vina terenyuh mendengar itu, menatap Keyla yang sudah meneteskan airmata tanpa suara. Tangan nya yang ter-infus naik dan mengusap rambut Keyla dengan hati-hati.


"Kita berharap yang terbaik untuk Gio, ya, Key. Jangan putus asa."


Keyla mengangguk dalam kesedihannya. Dirinya senang kakaknya telah siuman, tapi disaat yang bersamaan dia sedih, orang yang mencintainya sekaligus dicintainya dalam kondisi buruk.


...🥀🥀🥀...


Vina duduk di atas brankarnya sendiri, kakek dan Keyla berjalan mengunjungi kamar Gio. Dia menghela napasnya.


"Gio.. Lo udah melakukan misi mu dengan baik. Maka sekarang sadar lah, dan bahagia lah dengan Keyla."


Vina berdiam diri, menatap berita pada handphone nya, tapi ketukan ada pintu mengalihkan perhatian dirinya.


"Masuk." Lalu pintu itu terbuka, menampakkan wajah seseorang yang sungguh dirinya kenal.


"Elina?"


"Iya, ini gue." Orang itu, Elina bergerak duduk di samping Vina. Mereka saling bersitatap.


"Apa tujuan Lo ke sini? Lo buntutin gue?"

__ADS_1


Elina menggeleng. "Gue gak bermaksud buat Lo risih. Tapi ada banyak pertanyaan yang buat gue bingung, dan gue yakin cuman Lo yang bisa jawab ini, Vin."


Vina merubah reaksi wajahnya menjadi serius. "Lo pikir gue Mbah Google, segala tau jawaban dari pertanyaan Lo?"


"Lo nyebelin!"


Vina terkekeh, dan membetulkan posisi nya, dengan reflek Elina tentu membantu Vina. "Gue cuman sakit biasa, bukan lumpuh kali."


"Elina.. Sabar ini ujian, jangan kotorin tangan Lo buat bunuh orang aneh ini!"


"Jadi apa yang mulai tanyain?"


Elina memulai sesi pertanyaannya. "Apa hubungan Lo sama Rissa William?"


"Gue kira, Lo bakal tanyain hal penting."


"Kalau itu gak penting buat Lo, tapi buat gue penting. Rissa sahabat gue! Setiap gue liat Lo, pas gue diculik kalian, gue bisa liat Rissa dimata Lo. Jadi sebenarnya siapa Lo?!"


"Kalau gue tanya balik, kenapa persahabatan kalian bertiga pecah.. bakal Lo jawab, apa nggak?"


"Bertiga? Bahkan Lo tau hal itu!"


Vina menghembuskan napas berat. Menatap Elina tepat di manik matanya. "Gue Rissa. Puas Lo?"


"Lo Rissa? Mana mungkin?! Muka Lo aja beda. Gue liat dengan mata kepala gue sendiri Rissa udah meninggal! Sahabat gue ninggalin gue!" Dia menahan tangis, dengan mata memerah.


"Gue, Aiden, sama Rissa memang sahabat. Tapi ini salah gue buat kita bertiga malah pecah. Pengakuan gue yang buat semua salah paham."


"M.. Maksud Lo?"


"Gue yang buat Aiden sakit dengan segala dendamnya. Dan sekarang gue gak bisa minta maaf ke mereka berdua. Rissa meninggal, Aiden menghilang gitu aja sampai sekarang."


"Lalu, apa hubungan Lo sama Rissa, sama apa yang gue ceritain? Lo juga pasti tau dimana Aiden 'kan?"


Vina mendengar itu dengan jelas. Ingatan dimana perdebatan besar terjadi antara mereka. Dan akhirnya mereka memilih jalan masing-masing. Vina tersenyum segaris.


"Elin.. Lo mau ketemu Aiden? Dia pasti senang, kalau Lo datang." Elina mendongak saat Vina membuka mulutnya berbicara tentang Aiden.


...🥀🥀🥀...


"Elin?" Saat mata mereka saling bertabrakan.


"Aiden?!" Dengan riuh Elina memanggil.


Mereka berlari untuk saling mendekat, lalu saling memeluk. Menghilangkan kerinduan dihati mereka, keluh kesah dan derita telah hilang terbawa hangatnya pelukan. Perlahan pelukan itu terlepas.


"Aiden.. Lo hilang dan sekarang ada di sini?!"


Aiden terkekeh menggaruk tengkuknya, "iya.. gue kerja di sini sekarang. Di Red Blood."


Aiden menatap Vina yang mendekat. "Rissa yang mengizinkan."


"Ri.. Rissa?"

__ADS_1


Aiden mengangguk semangat sembari menunjuk pada Vina. "Rissa, atau bisa dipanggil Vina."


"Lo bercanda 'kan?" Elina menggeleng sembari tertawa gila. Mengusak rambutnya ke belakang dengan kasar, tak habis pikir.


"Lo gila, ya? Malah ketawa." Vina menatap geli pada mereka berdua, pastinya Elina sangat terkejut.


"Gue kan udah bilang, gue itu Rissa. Gak percaya," kekeh Vina. Elina menatap kaku pada Vina.


"Gi.. Gimana bisa?"


BRUK..


"Loh, heh?! Elin! Malah pingsan anaknya!!"


...🥀🥀🥀...


Vina dan Keyla diajak kakeknya ke sebuah ruangan di bawah tanah tempat rumah sakit itu. Vina masih memakai baju pasiennya tapi sudah membuka infus nya. Dibantu Keyla, berjalan mendekati sebuah mesin yang tampak familiar.


Vina dan Keyla menatap Michael dengan bingung.


"Mesin ini bukanya—"


"Betul. Ini adalah Transmigration communicate." Perkataan Keyla dipotong oleh Michael. Keyla dan Vina ingat ini adalah alat yang dibuat Aiden atas perintah Michael.


"Kapan kakek memindahkan alat ini?" Tanya Vina mengelus mesin itu, ada sedikit debu, dapat diperkirakan kalau mesin itu sudah cukup lama berada di bawah sini.


"Bukan itu yang terpenting." Michael berbalik menatap kedua cucu nya. "Yang terpenting adalah.. bahwa para elite global ingin bekerjasama dengan kita, karena mereka tertarik akan alat ini stelah kakek perkenalkan alat ini pada mereka."


"Kakek mau berbuat hal jahat lagi?!"


Michael menggeleng tak setuju saat Vina berkata seperti itu.


"Nope. Kakek hanya ingin memberikan pelajaran pada orang-orang yang akan menjadi salah satu dari Transmigration communicate ini."


"Pelajaran apa yang kakek maksud?" Keyla maju menatap datar kakeknya.


"Pelajaran hidup yang bisa didapatkan dari sebuah kehidupan novel," sembari mengatakan itu Michael menatap Vina. Dalam hatinya, ia tahu Vina mengerti hal ini.


"Seperti ku, kakek maksud?"


Michael tersenyum tenang, dan mengangguk.


"Lalu kakek sudah dapat orang yang akan dihadapkan pada alat ini?"


"Kak?" Keyla menyernyit heran pada Vina, membuat Vina memandang adiknya.


"Untuk kali ini, percaya sama kakek tak apa, Key." Mendengar perkataan kakaknya, Keyla menghela napasnya, lalu berjalan mengikuti Vina yang berdekatan dengan Michael.


Kakek itu mengambil sebuah data, dan diletakkan pada meja depan Vina dan Keyla. Mereka berdua membukanya perlahan.


"Rasha Aileen Theodora."


...THE END...

__ADS_1


Ini adalah episode terakhir. Tapi bisa ditunggu untuk episode bonchap nya ya! Arigatou, dan sampai jumpa!!


__ADS_2