
Gadis itu masih berada di hadapan wanita tua itu. Saling menatap tajam. Hanya suara angin yang berhembus. Seorang lelaki berusaha bangkit dari lantai.
Gadis itu, dengan mata yang awalnya berwarna merah, perlahan berubah membiru. Warna biru pekat, yang memancarkan kebencian. Menatap wanita di depannya, dengan perasaan bercampur aduk.
Dilain sisi, wanita di hadapannya adalah mama nya. Namun, di sisi lain juga, jiwa yang ada di dalam tubuh mama nya adalah musuhnya. Tidak. Tidak mungkin dia mampu melukai mama nya, walaupun bukan mama sebenarnya.
"Hanya itu? Untuk balas dendam, sampai berbuat seperti ini?"
"Ch! Kelompok saya hampir di ambang kehancuran karena Anda! Dan Anda biasa aja?" Maya menyambar kerah seragam Vina.
"Bukan nya Lo ketua kelompok Shadow Legion? Lalu, kenapa gak bisa bales dendam sendiri? Malah orang lain yang balesin?" Tanya Vina. Vina sengaja memancing amarah lelaki— wanita? Di hadapannya ini.
"Karena dia punya dendam yang sama ke keluarga William!" Seru nya, menggenggam erat kerah seragam itu.
"Memakai seorang perempuan, untuk membalas dendam? Pengecut!" Vina berdecih. Mata Maya memerah, dengan gerakan cepat, dirinya membanting Vina.
BRAK...
Vina terbanting ke arah dinding di belakangnya, dekat pintu. Gadis itu meringis, perlahan bangkit sembari memegang dinding. Seseorang baru saja masuk dan terbelalak melihat orang-orang dalam rumah itu, matanya menangkap lelaki yang berdiri, sedikit menunduk.
"Paman!" Pekik nya. Matanya menangkap sosok lain, wanita tua yang pernah menemuinya. "Kau?!"
"Oh. Hai Sasya." Sapa nya sembari tersenyum. Namun, senyuman itu bukan lah hal yang bagus, senyuman mengerikan membuat gadis berkacamata yang baru saja datang bergidik. Dengan cepat langkahnya mendekati lelaki yang meringis. Memapahnya.
Vina bisa merasakan, walaupun Sasya di bawah pengaruh wanita tua di depannya. Sasya tetap memiliki hati nurani.
BRUK..
Baiklah, gadis itu mengambil kembali perkataanya. Sasya berubah. Paman nya yang tadi dipapah, di dorong dengan keras, dan membuat Krisna tersungkur. Kepalanya menjadi pusing melihat hal itu.
"Ini paman, Sya! Ini paman!" Teriak Krisna. Sesekali dirinya meringis. Mata Sasya menatapnya kosong, dan datar. Vina terdiam, menoleh pada Maya yang tertawa.
"Saya sudah bilang. Dia sudah dibawah pengaruh saya! Kalian terlambat!"
"Sena, gak berhasil?" Batin Vina. Vina menggertak, mengambil langkah cepat, dan menahan tangan Sasya yang ingin memukul Krisna menggunakan asbak rokok yang ada di meja ruang tamu.
"Lo harus sadar! Audi, ataupun Sasya, Lo bukan orang jahat! Lo bukan boneka orang itu! Sadar!" Teriakkan nya sia-sia. Mata Sasya menatapnya. Lalu menyeringai.
"Lo gak ngerti gue, Rissa." Gumam nya.
Dari belakang Vina, Maya mengambil ancang-ancang untuk memukul nya. Vina menangkap kaki Maya yang sudah melayang. Kedua tangannya sibuk menahan. Vina menghempaskan kaki itu, dan melakukan gerakan tendangan berputar.
Tendangan itu hampir mencapai wajah Maya, namun tidak sampai.
"Gue gak bisa nyakitin mama!"
__ADS_1
Ceroboh. Dirinya selalu ceroboh jika sudah urusan orang yang disayanginya. Entah saat menolong adik nya, dan saat seperti ini. Pupil matanya menangkap sosok lain di dalam mata Maya. Mamanya. Terperangkap di dalam sana.
BUGH...
Kepala belakang nya dipukul dengan kencang, pelakunya Sasya. Vina memegang kepala belakang nya. Lutut nya beradu dengan lantai, matanya memburam. Tersenyum sendu. Penglihatan nya menggelap. Terakhir yang di dengar adalah suara cowok. Suara yang dirinya kenal.
...💤💤💤...
Anak kecil yang saat itu menunggu di rumah. Melihat ke luar rumah, cuacanya sedang tidak bagus, hujan deras membasahi. Melirik dengan gelisah ke arah jam, dan juga makanan dan juga minuman yang ia, juga Keyla, dan juga nenek nya sajikan di meja makan.
Anak kecil satu nya hanya duduk diam di atas kursi, sembari menggoyangkan kedua kaki nya yang tidak menapak ke lantai. Karena badannya yang masih kecil. Menggenggam sisi kursi, menoleh pada nenek nya yang duduk di sampingnya.
"Nek. Apa ayah dan ibu masih lama pulangnya? Kata nya kita akan makan malam bersama, setelah ayah dan ibu pulang dari luar." Ujar nya dengan wajah cemberutnya.
Neneknya tersenyum dan mengelus rambut sang cucu, "Keyla. kamu sabar ya. Mungkin Ayah sama ibu kejebak macet di jalan."
Anak perempuan itu hanya mengangguk, sambil tersenyum sendu. Anak kecil yang berponi itu menatap sang adik, dan sang nenek. Mengelus tangan adiknya menenangkan nya. Sang nenek hanya tersenyum melihat interaksi kakak beradik ini.
Sudah lebih dari satu jam dari waktu yang dijanjikan oleh kedua orangtuanya, kedua anak perempuan itu kini duduk di ruang tamu, bersama nenek nya. Sang kakek datang menemani mereka, duduk bersama-sama. Berusaha menenangkan kedua cucu nya mulai merengek.
"Ayah sama ibu bohong. Kok gak dateng-dateng, padahal udah dari tadi nunggunya." Rengek anak berponi itu, mata merah nya berkaca-kaca, air mata nya menggenang.
Nenek nya dan juga kakek nya saling bertatapan. Kakeknya membetulkan posisi kacamatanya, "cucu ku yang tersayang. Sebentar lagi ayah dan ibu kalian datang kok, tunggu ya. Jangan ngambek dong."
"Halo?"
"Halo. Dengan ibu Ziudith William?" Tanya suara seseorang dari seberang telepon.
"Iya benar, itu saya. Ada apa ya?"
"Kami dari rumah sakit Mardhika, pak. Ingin memberitahu, bahwa anak anda kecelakaan. Ada seseorang mengantarkan mereka, namun dirinya kembali setelah nya." Jelas orang seberang. Mata sang nenek membelalak, terkejut dengan info itu.
"A.. apa?! Anak saya kecelakaan?!"
"Saya harap anda secepatnya ke sini. Terima kasih bu." Telepon itu ditutup. Nenek itu masih mematung mendengar informasi itu, menbuat kakek dan kedua cucu nya mendekati nya.
"Ada apa, Ziu? Siapa yang menelepon, malam-malam begini?" Tanya kakek itu. Sang cucu menggoyangkan kaki neneknya.
"An.. anak kita, sama menantu kita, Mich. Mereka.. mereka kecelakaan!" Dengan bergetar, ia memberitahu hal mencengangkan itu. "Di rumah sakit Mardhika." Lanjutnya dengan terbata-bata.
Dirinya limbung, tangan kanannya memegang nakas tempat telepon itu, dan tangan kirinya memegang dadanya. Nafasnya tercekat. Matanya menggelap, dan jatuh.
"Ziudith!!" Teriak suaminya. Menahan tubuh istrinya.
"Nenek!!" Teriak kedua cucunya. Mereka mengeluarkan air mata, tangan kecil mereka menggoyangkan tubuh wanita itu, yang sudah terbujur kaku. Dengan bibir yang memucat, tangan nya yang keriput bahkan tidak memiliki detak nadi lagi.
__ADS_1
"Jangan pergi!!"
...💤💤💤...
"Kak, kenapa kakak tega bully orang?" Tanya seorang anak kecil. Mata nya berwarna ungu pekat, rambut dikuncir dua, dengan kulit putih bersih.
"Aku punya alasan." Jawab singkat anak di sebelahnya. Anak dengan ikat kuda dan berponi. Mata merah menyala itu, menatap datar ke pepohonan. Warna kulit nya kuning langsat. Badannya sedikit berisi, bisa dibilang sempurna.
"Alasan apa sih kak?! Bully orang tuh jahat tau!" Gadis yang dikuncir dua berdiri dengan kasar, tangan nya mengepal kuat.
"Kamu sendiri, kenapa ikut kakak Bully orang?" Tanya gadis bermata merah itu. Saudari nya terkejut melihat sang kakak yang berubah, matanya yang biasanya merah, berubah menjadi biru pekat.
"Kak Rissa. Mata kakak kenapa?" Tangan bergetar, menyentuh pelipis kakaknya. Tangan nya ditepis.
"Panggil aku Willy, saat berubah seperti ini." Tatapan datar dilemparkan pada anak perempuan yang berdiri.
"Kenapa bisa?! Kembalikan kakak ku!"
"Kakak mu sedang lelah, biarkan dirinya beristirahat dulu." Ujarnya. Gadis berponi itu membetulkan rambutnya. "Tenanglah."
"Lalu, kenapa kamu ada di dalam tubuh kakak ku?" Anak itu kembali duduk, setelah berusaha menenangkan diri.
"Kebencian. Kebencian terhadap dunia ini, adalah awal mula aku terlahir dalam tubuh kakak mu. Menjadi dua jiwa, dalam satu tubuh. Kakak mu sangat membenci dunia ini, yang rela membuat kedua orang tua nya mati." Gadis berponi itu, menoleh pada anak kecil di sebelahnya, mata anak itu berkaca-kaca, menahan tangisnya.
"Tapi, kamu, Keyla. Adalah alasan satu-satunya Rissa, mengontrol diri nya, agar tidak berubah seutuhnya menjadi penjahat."
...💤💤💤...
"Kakek! Udah aku bilang, kalau aku gak mau nerusin kelompok kejam kakek itu!" Ujar gadis bermata merah itu. Mata nya menyorot tajam pada seorang kakek tua yang tengah duduk di kursi kebesaran nya.
"Rissa. Kamu adalah anak sulung, dari anak saya. Jadi, semua ini kakek turunkan ke kamu. Termasuk kelompok mafia milik kakek, 'Red Blood'." Kakek itu mengusap kumis nya yang sudah memutih itu. Kepalanya yang masih dihiasi rambut-rambut halus, dengan putih yang dominan.
"Tapi aku gak mau! Jangan paksa aku!" Bentak Rissa. Dirinya baru saja pulang dari sekolah, terlihat ia masih memakai seragam putih biru nya.
"Kamu harus mau, Rissa! Ini juga kemauan dari almarhum ayah kamu!" Sang kakek berdiri dan mendekati Rissa. Menggeram marah.
"Ayah gak mungkin mau anaknya masuk ke mafia! Mafia adalah penjahat kejam, yang tidak memiliki hati! Dan ayah, ibu juga, bahkan aku juga gak mau hal itu terjadi pada ku! Lebih baik, kakek bubarin aja mafia itu!"
"Jangan sekali-kali kamu melawan kakek! Kelompok yang kakek buat, dan kakek turunkan pada ayah mu, bukan lah kelompok penjahat! Kelompok ini bisa menjaga mu, bahkan adikmu!" Lelaki tua itu menegakkan tubuhnya, mengusap wajahnya sendiri.
"Jadi, kakek mohon. Hanya kamu satu-satunya yang bisa kakek pinta, untuk menjadi ketua dari 'Red Blood'."
...🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG...
__ADS_1