Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 29 : Soul Exchange


__ADS_3

Willy, adalah karakter lain dalam diri Rissa, yang terbentuk karena kebencian. Willy ada, atas kebencian pada dunia yang begitu mendalam. Willy; Alter-ego yang masih tidak diketahui kekuatan nya.


Willy singkatan dari William. Nama keluarga Rissa. Saat ini satu kekuatan nya terbuka, bahkan dengan sendirinya Rissa atau bisa disebut Vina, mengendalikan seorang manusia dari jauh sekalipun.


"AKH!" Tusukan dari pisau di tangan Gio menembus kulit dada Martin, tapi tidak tepat di jantung. Menarik kembali pisau itu.


JLEB...


Kembali menusuk di bagian bahu, dan perlakuannya membuat Carlos dan Calos menegang. Seperti nya takut akan Gio. Memang, Gio seperti orang yang tidak memiliki jiwa.


Dengan mata kosong nya, dan senyuman mengerikan merekah di bibirnya, alis nya naik sebelah. Tampak seperti iblis yang tengah senang mendapati mangsa nya tak berdaya.


Martin kembali menjerit kesakitan, kedua tangannya sibuk memegang kulitnya yang terbuka serta darah yang mulai mengalir deras. Pertarungan antara 'Red Blood' dengan 'Shadow Legion' berhenti, bukan, bukan karena Martin. Tapi 'Shadow Legion' kembali kalah.


"Martin. Harus. Mati!" Gio berusaha mengambil alih akal nya, yang telah diambil oleh seseorang yang tidak diketahui nya. Tapi dia sadar, satu-satunya orang yang bisa mengendalikan dirinya hanya 'dia'. Ya, dia yang menurutnya sudah mati, ketua nya. Rissa.


Ketua yang sangat dihormatinya, ketua yang bahkan sangat disayanginya. Membuat perjanjian dengan Willy, mahluk dalam diri Rissa. Yang dikenalnya saat pertama kali bertemu dengan sang ketua.


Tapi, kenapa bisa Willy masuk ke tubuhnya, dalam keadaan pemilik aslinya sudah mati; meninggal. Apa dia menjadi pengganti nya?


"Rissa masih hidup?" Tiba-tiba terbersit dalam benak nya, pertanyaan itu.


Gio berhasil merebut kembali akal nya, dan otomatis membuang pisau ke sembarang arah. Memegang kepalanya, yang terasa pusing.


"Gak mungkin kan," pikirnya.


Kepala nya mendongak, melihat penampakan di depannya, yang sudah kacau. Martin bahkan sudah tergeletak tak berdaya, entah mati, atau pingsan. Para anggota Shadow Legion pun sebagian besar pingsan, dan sisa nya hanya terbatuk-batuk dan menggeliat kesakitan.


"Keyla." Mata nya membulat saat memikirkan sebuah nama.


...🥀🥀🥀...


Dengan nafas terengah-engah dirinya keluar dari kamar mandi. Berjalan perlahan menyusuri lorong rumah sakit. Mata berwarna biru perlahan menjadi merah, kembali seperti semula.


Berjalan ke sebuah ruangan, ruang rawat milik adiknya. Setelah pemeriksaan dan operasi, sang adik terluka cukup parah. Dan baru saja dirinya melakukan hal yang sangat diinginkan.

__ADS_1


Membunuh Martin. Entahlah, cowok itu masih hidup atau sudah mati, yang terpenting dia bisa membalas lebih kejam. Untuk lebihnya akan diurus nanti, sekarang fokus utamanya adalah Keyla.


"Sori, Gi. Gue pake tubuh Lo buat bales kekejaman nya Martin."


Dia, Vina duduk di samping brangkar adiknya. Memegang tangan dingin Keyla, berharap bisa membuat Keyla sadar.


"Key, kalau aja gue gak terlambat, Lo pasti gak kayak gini. Berbaring di ranjang rumah sakit, kesakitan," monolog Vina.


"Rasanya aku gagal menjadi kakak bagi kamu, Key. Aku terlalu lemah!" Vina memegang erat tangan Keyla. Dia menunduk, mencium kening adiknya. Tersenyum lirih, dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu tenang aja, aku akan buat mereka mendapatkan ganjaran nya, atas apa yang terjadi pada kamu. Terutama orang yang membuat mu tertidur pulas disini!"


...🥀🥀🥀...


"Ke.. kenapa kamu menjadi seperti ini, Maya?" Tanya seorang laki-laki yang sedang terikat di sebuah kursi. Tatapan sendu pada Maya, laki-laki itu berikan. Namun Maya tetap dingin tanpa ekspresi.


Kini di ruangan, hanya ada mereka berdua, dan satu meja di antara mereka. Seperti akan mengintrogasi seseorang.


"Maya, kamu jadi orang yang berbeda! Sangat beda. Padahal sebelumnya kamu masih menghargai ku, sebagai suami." Lanjutnya.


BRAK!


"Raditya, anda tahu, di hadapan mu bukan Maya!" Jawab Maya. Laki-laki di hadapannya menatap kaget dan heran.


"Maksudnya?! Gak mungkin kan," gumam Raditya diakhir kalimat.


"Saya Aiden, yang terjebak dalam tubuh wanita tua ini, Raditya. Dan, gak ada yang gak mungkin, Radit."


Raditya menjadi awas, tubuhnya menegak, dia yakin orang di depannya benar-benar istrinya, orang yang dirinya cintai. Tidak mungkin, tidak mungkin istri nya ternyata bukan istrinya.


Maya, Aiden? Maksudnya apa semua ini, dia benar-benar tidak mengerti. Tangan yang diikat ke belakang, berusaha memberontak tali ikatan.


"Kalau anda Aiden, lalu di mana istri saya?" Tajam, itu yang bisa mendeskripsikan pandangan dan nada bicara Raditya.


"Ada kok, tenang aja. Ada di sini." Aiden menunjukkan dada nya dan kening secara bersamaan. Raditya bingung, apa yang dimaksud wanita ini.

__ADS_1


"Jiwa nya masih ada di tempat nya, hanya saja saya tidak mengizinkan jiwa nya keluar." Jawab Aiden dengan santai. Menyandarkan diri nya pada sandaran kursi. "Lagipula, gak ada gunanya dia keluar, beban aja."


"Sialan! Apa saya, anda permainkan?! Jangan pernah bilang, istri saya beban! Jangan mentang-mentang anda wanita, saya jadi gak berani." Sentak Raditya. Dirinya sudah benar-benar panas, karena istrinya dihujat.


"Uuu... Atut. Mungkin anda akan kalah, jika melawan saya." Maya atau Aiden ini meremehkan Raditya. Tubuhnya bangkit berdiri, lalu mendekat ke arah tempat duduk Raditya.


SAT!


Kursi yang diduduki Raditya ditendang, sampai tersungkur jatuh. Menimbulkan suara nyaring di dalam ruangan mereka. Raditya meringis, merasakan sakit dan pusing akibat benturan.


"Anda tau, saya itu hanya ingin menolong Vina. Menolong Vina dari laki-laki atau bahkan perempuan yang seperti anda, pengecut!"


"Akh!" Tidak ada rasa belas kasihan di dirinya.


Pintu diketuk oleh seseorang dari luar. Maya berjalan mendekati sumber suara ketukan pintu. Dan membukanya.


"Lapor bos. Semua alat sudah diuji coba dan sekarang bisa dipakai." Maya tersenyum puas.


"Jagain laki-laki itu. Saya mau mencoba alat-alat kalian!" Maya berjalan keluar dari ruangan, ke arah lain lorong gedung.


"Took a long time to make this. So let's try it ourselves, will it work?" Maya membuka salah satu ruangan. Ruangan tersebut sangat besar, dengan hiasan hiasan dinding layaknya workshop. Dan sebuah alat besar, berdiri kokoh di tengah-tengah.


"Jadi ini? 'Transmigration communicate'?" Tanya Maya, di samping alat tersebut sudah ada peti, seperti peti mati. Maya alias Aiden tidak sabar menggunakan alat itu, ke tubuhnya sendiri.


"Betul, bos. Banyak sekali sponsor untuk alat ini, dan tadi kita sudah uji coba. Berhasil!"


"So, tunggu apa lagi? Ayo lakukan, pada ku." Maya berjalan ke satu sisi lain dari alat tersebut.


Alat itu sangat besar. Bentukannya seperti ada leser yang masuk ke sebuah tabung muat satu orang. Leser ada di kedua sisi, di sisi kanan, dan kiri. Tabung akan ditutup, saat orang yang akan memindahkan tubuhnya akan dileser menggunakan alat ini.


Transmigration communicate, alat yang sudah diuji coba. Akan langsung mau dicoba oleh Aiden. Alat mulai dinyalakan. Setiap tombol dan yang lain ditekan dan ada dinaikan seiring berjalannya waktu.


SRING!


Leser menyinari kedua sisi. Sisi Maya, dan sisi peti mati itu.

__ADS_1


"ARGHHHH!!"


BERSAMBUNG...


__ADS_2