Transmigrasi : Aku Antagonis?!

Transmigrasi : Aku Antagonis?!
Part. 41 : Opium


__ADS_3

Pemakaman. Rasanya matanya ingin dibuat tertutup, agar tidak melihat mahluk-mahluk yang sedang berkeliaran di dalam pemakaman ini. Apakah dia harus memanggil seseorang yang bisa menutup mata nya dari hantu hantu tak kasat mata?


Vina menarik nafas dan menghembuskan nya beberapa kali, lalu mengikuti Gio dan yang lainnya, melangkah masuk. Yang akhirnya sampai ke sebuah kuburan.


"Ini kuburan Rissa." Tunjuk Gio. Amanda, Jane, dan Kevin, menahan tangisnya saat melihat lagi kuburan Rissa ini. Elin hanya diam menatap kosong pada kuburan. Semoga tidak kemasukan.


Vina berjongkok di samping kuburan. Rasanya sedikit sakit, melihat kuburan nya sendiri di depannya. Menyentuh tanah yang sedikit basah, mungkin karena hujan kemarin.


Tertera di sana, Rissa Arabella William. Meninggal pada tanggal 5 April 2022.


"Kakak." Gumam Vina. Perasaan Vina keluar, rasa nya tidak percaya. Jiwa Vina sedikit mengambil alih raga nya. Mengelus batu yang diukir nama kakak pertama nya itu.


"Masalah kita di dunia ini belum selesai."


Gio dan yang lainnya hanya menatap Vina, tatapan kerinduan terpancar dari mata Vina. Lalu tatapan itu kembali memudar. Vina berdiri dari jongkok nya, dan memandang Gio.


"Gue boleh tau, makam orang tua gue?" Tanya Vina. Vina yang asli telah merenggut raga nya, hanya sementara. Sekedar mengucapkan kerinduan pada kedua orangtuanya.


Gio yang mengerti hanya mengangguk dan memberi petunjuk kearah mana makam itu berada. Letaknya tidak terlalu jauh, dari makam milik Rissa. Vina tersenyum sendu melihat dua kuburan yang saling berdekatan itu.


"Ayah.. ibu.. Maaf belum bisa menjadi anak yang kuat, sekuat kak Rissa, dan kak Keyla. Aku juga belum bisa nyusul ke alam sana, aku masih terjebak di sini." Batinnya.


Mata Vina berkaca-kaca. Rissa kembali mengambil raga itu, setelah Vina menyelesaikan perkataannya. Vina yang kini sudah diisi Rissa berjongkok, dan mengelus dengan gemetar tanda kedua orang tua nya.


Membaca nama yang terukir disana saja dia tidak sanggup, kembali berputar di kepalanya akibat kematian ayah dan ibu nya, seperti film yang terus menerus diulang. Bibir bawahnya ia gigit, menahan tangisan yang sedari tadi akan tumpah.


"Ayah, ibu. Ternyata selama ini orang yang merawat ku dari kecil adalah penjahat nya. Raditya Rafa Callandra. Aku gak tau, kenapa dia bisa sekejam itu. Aku mau dia menderita, tapi aku gak bisa. Dia juga seorang ayah yang mempunyai anak dan istri."


Vina menyeka air matanya yang ternyata sudah mengalir. Walaupun dia hanya dapat melihat ayah dan ibunya saat masih kecil, tapi kenangan-kenangan mereka masih terasa di hati gadis itu. Indah, satu kata itu dapat mendeskripsikan kenangan itu.


"Keluarga nya pasti akan sedih jika Raditya mati di tangan anak tirinya kan. Atau aku lapor ke polisi aja? Aku butuh pertanggungjawaban dari pria tua bangka itu, ayah, ibu."


Dirinya ingin menjadi orang yang lebih baik lagi, dari yang dulu. Dia juga tak ingin lagi menjadi penjahat keji, tapi jika terpaksa maka akan dia lakukan. Mafia ini terbentuk hanya karena kakeknya ingin membantu orang-orang baik, dengan membunuh orang-orang jahat yang ada di dunia.


Dan itu turun temurun ke generasi nya sekarang. Jika tidak dihentikan sekarang, maka semuanya akan terus berjalan, dirinya masih bisa menahan kekacauan akibat kakeknya.


"Rissa, dan Vina pulang dulu ya, ayah, ibu. Aku akan berkunjung ke sini lagi. Tapi dengan keluarga yang lengkap." Vina tersenyum diantara tangisnya. Bahu nya ditepuk Gio, membuatnya mendongak, dan mendapatkan senyuman hangat dari pemuda itu.


"Calon kakak ipar, mari kita pulang." Bisik Gio, agar tidak terdengar oleh yang lainnya, hanya mereka berdua. Vina tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Sampai jumpa," pamit Vina.


...🥀🥀🥀...


"Kita langsung aja yah. Ini juga udah malem, kalian pulang juga gih." Ujar Gio pada ketiga orang yang sedari diam.


"Kok cepet banget? Kita gak mau gitu jalan-jalan dulu bentar?" Tanya Kevin.


"Kata nya mau menghabiskan waktu bersama." Sindir Jane. Vina menatap kikuk pada mereka, entah sindiran itu diberikan padanya atau tidak, dia tidak mau percaya diri.


"Udahlah. Kita pulang aja," kata Amanda datar. Perempuan itu mengunyah permen karet di mulutnya, dan memutar bola matanya malas. Apalagi dia sangat risih dengan keberadaan Vina, dia familiar ke seseorang, tapi dia juga tidak suka pada Vina, dirinya juga tidak tahu.


Elin hanya menjilat bibirnya yang kering. "Gue gimana?"


Gio dan ketiga orang itu mengangkat sebelah alisnya. "Lo ngomong sama kita?" Tanya Jane dengan wajah songongnya.


"I.. iyalah."


"Ya udah si, pulang aja sono. Kenapa masih di sini? Mau ditangkap kita lagi?" Sentak Kevin.


"Gak mau lah! Ta.. tapi naek apa?" Elin menunduk, menggenggam celananya.


Vina mengode Gio, dan Gio mengerti maksudnya gadis itu. "Ya udah, biar gue tau rumah Lo di mana. Kalau semisalnya ada hal yang menyangkut Lo lagi, kita kan bisa sergap."


"Bercanda elah," lanjutnya, setelah mendapatkan tatapan maut dari Vina.


"Makasih."


...🥀🥀🥀...


Hampir tengah malam, Gio dan Vina sampai di rumah sakit tempat Keyla di rawat. Vina menunggu di luar, dengan handphone di tangannya, takut akan mengganggu tidur adiknya. Gio? tentu saja dia langsung ke markas terlebih dahulu


Vina berjalan ke arah ruangan Paul. Dia masih belum punya nomor dokter muda itu, agar bisa menghubungi nya mengenai informasi-informasi penting padanya.


Vina mengetuk pintu ruangan itu. "Masuk," kata seseorang yang ada di dalam, tentu saja Paul.


Paul mendongak menatap siapa yang datang. "Oh, Vina. Ada apa ke sini?"


"Gue cuman mau pengen nanya ruang rawat Raditya, Maya, sama Audi. Boleh gue minta? Gue mau liat keadaan mereka." Vina memang ingin langsung ke kamar rawat mereka.

__ADS_1


"Tidak mau duduk dulu?" Tanya Paul sembari tersenyum. Vina menggeleng cepat.


"Oke oke. Gue tulis dulu ruang rawat nya." Paul merobek selembar kertas dari notebook nya, dan menulis nama dan juga nomor ruang rawat masing-masing.


"Mereka di rawat di lantai empat." Vina mengambil selembar kertas yang diberikan Paul, dan membawa nya pergi.


"Makasih ya, Paul."


Paul mengangguk, dan membetulkan posisi kacamata nya. "Sama-sama, wakil ketua."


Vina hanya berdecih pelan mendengar itu, apa-apaan dengan itu, padahal dia tidak mau ikut lagi.


...🥀🥀🥀...


Kamar Lavender nomor 107. Tempat Raditya di rawat, kini Vina berada di depan pintu, melihat ke dalam dari jendela pintu. Raditya duduk dengan kedua lutut dipeluk, juga tatapan kosong menatap jendela luar.


Vina masuk tanpa ketukan pada pintu. Tapi Raditya sama sekali tidak menyadari keberadaan gadis itu, Vina menutup pintu kamar perlahan, dan melangkah mendekati pria paruh baya itu.


"Bapak Raditya yang terhormat." Panggil Vina dengan formal. Dia masih bisa menghargai nya, sebatas ini saja.


Raditya menoleh pelan pada Vina, dan membulatkan matanya. "Vina? Vina sayang?"


Raditya turun dari ranjang dan berjalan mendekati Vina. Mata Raditya berkaca-kaca, "Vina sayang, kamu udah maafin papa kan? Papa minta maaf."


Vina mengangkat satu tangan nya, menahan Raditya agar tidak selangkah pun mendekati nya. "Bapak Raditya yang terhormat, saya kesini cuman mau meminta pertanggungjawaban dari kelakuan anda."


Raditya menautkan alisnya, dan terkekeh. "Pertanggungjawaban ya. Kalau ini bisa membuat kamu bisa memaafkan papa, maka papa akan lakukan itu."


Vina terdiam. "Anda tau kan, kenapa anda diminta bertanggung jawab, walaupun kejadian itu sudah bertahun-tahun lamanya?"


"Karena membunuh," jawab Raditya dengan tertawa. Vina sedikit bergidik, mental pria di depannya memang sudah benar-benar rusak.


"Tapi ternyata itu menyenangkan." Raditya memiringkan kepalanya dan mendekati Vina dengan perlahan.


"Rasanya kecanduan, Vina sayang."


...🥀🥀🥀...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2