
...Kata orang, ingatan dan kenangan buruk akan selalu teringat. Sekarang terjadi pada ku....
...π€π€π€...
Gadis berkepang, dengan rambut yang dominan hitam sedikit pirang berjalan memasuki sebuah rumah. Mata nya melihat sekeliling, sepi. Ia mencari keberadaan kedua orang tua nya, yang tidak terlihat di mana pun.
Samar-samar pendengarannya menangkap suara dari ruang makan, langkahnya membawa dirinya mendekat ke asal suara. Orang tuanya, sedang berdebat. Saat itu dirinya langsung bersembunyi.
"Apa kamu bilang?! Kamu kenal keluarga Vina? Tapi kenapa?" Tanya wanita paruh baya yang ada berdiri tidak jauh dari tempatnya bersembunyi.
Laki-laki itu berdesis, "Vina gak boleh tau, Maya. Aku ngelakuin ini, supaya dia gak kembali ke keluarga nya! Aku udah sayang banget sama dia, dia gak boleh keluar dari keluarga ini!"
"Raditya, jangan begitu! Aku juga sayang Vina sudah seperti anak kandung! Tapi aku sadar, kasian keluarga nya yang mencarinya." Wanita itu, Maya menyorot tajam pada laki-laki paruh baya berdiri di depannya. Mata nya berkaca-kaca.
Gadis yang tengah bersembunyi itu menutup mulutnya dengan tangan nya, kaget akan kenyataan yang rupanya ia bukan anak kandung dari kedua orang tua nya sekarang. Ia berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.
Raditya yang mengarah ke arah tempat persembunyian nya, tersentak saat melihat nya. Melihat sang suami yang berdiri mematung menatap seseorang di belakang nya, Maya membalik badannya. Matanya membulat, saat anak yang dibicarakan ada di sana menatap kecewa pada mereka.
"Pah. Mah. Bener? Kalau aku bukan anak kalian? Jawab, pah mah. Kalau bener, di mana orang tua ku yang sebenarnya?" Desak gadis berkepang itu. Mata nya yang berkaca-kaca, meneteskan air, mengalir jatuh ke pipinya.
Melihat kedua orang tuanya diam, tidak menjawab. Gadis itu meremas rok seragam sekolahnya, "kalau mamah sama papa gak mau bilang. Aku cari tau sendiri!"
Ia berbalik, dan dengan langkah cepat menjauh dari tempat itu. Orang tua nya tersadar, dan mengejar nya berniat untuk menahannya. Tidak sempat, gadis itu telah masuk ke dalam mobil nya.
Orang tua nya mengetuk kaca jendela mobil sedan yang dipakai oleh Vina berkali-kali, tapi tidak ada sahutan atau respon dari sang anak. Mobil itu melaju menjauh dari rumah. Orang tua nya panik.
"Ayo kita kejar." Raditya menarik pelan tangan Maya, masuk ke mobil yang terparkir tepat di belakang mobil sedan Vina. Dengan laju, mengejar kendaraan Vina yang semakin menjauh.
__ADS_1
Di mobil yang sedang di kejar, gadis itu menangis, menggenggam erat setir mobil, matanya yang basah, tangannya yang mengelap air mata nya. Bibirnya bergetar.
"Kenapa.. kenapa papa sama mama, gak pernah kasih tau aku. Kalau aku bukan anak kandung mereka," teriak nya dalam hati. Perasaan nya tercampur. Kesal, sedih, dan juga kecewa. Teriakkan kesal ia lontarkan, untung saja di dalam mobilnya.
Mata nya tidak fokus, membuatnya sedikit oleng. Matanya menangkap seseorang yang akan menyebrang, tidak, dia tidak mengerem, namun membanting setiran nya.
Ban dengan aspal berdecit menimbulkan bekas pada aspal, orang yang tadi akan menyebrang hanya khayalan nya saja. Dirinya lelah, pikir nya ini adalah akhir hidupnya, selain diri nya yang kecewa akan orang tua nya, dia juga tersiksa karena kedua abangnya yang selalu menyalahkan nya.
Mobil nya oleng, setir nya tidak bisa dikendalikan, kendaraannya menabrak pohon dengan cukup parah. Tidak ada korban jiwa lain. Selain dirinya. Kecelakaan itu, membuatnya koma, entah sejak kapan.
...π₯π₯π₯...
Ingatan ini, termasuk hal penting. Pertanyaan yang ada dalam benak sang pemeran utama, akhirnya terjawab. Tentang siapa, atau apa yang membuat nya masuk ke rumah sakit.
Ingatan dan juga kenangan yang ada di kepalanya bercampur aduk. Ingatan miliknya, dan juga ingatan Vina. Ingatan buruk itu terus mengalir. Benar kata orang, jika ingatan atau kenangan buruk, akan selalu teringat.
Apa ini? Semuanya serasa sakit, badannya pegal. Matanya bergerak, berusaha membuka matanya yang terpejam. Jari-jari tangannya bergerak. Mata nya perlahan terbuka, ia sadar. Kini mata nya menatap sekitar.
"Vina! Lo udah sadar! Ada yang sakit?" Tanya seseorang, mata Vina bergulir, menatap sosok itu yang berdiri. Pemuda itu, menatapnya cemas dan khawatir, dapat dirinya rasakan, jika kepala nya diusap lembut. Ia menikmatinya.
"Edward, gue dimana?" Tanya nya, suaranya sedikit serak. Matanya teralih dengan orang yang sedang tertidur di sofa.
"Lo di rumah sakit, Vin. Lo gak ada sakit kan?" Pemuda itu masih bertanya. Dibalas gelengan, dan senyuman tipis dari Vina. Pemuda itu menghela nafas lega.
Vina perlahan mendudukkan dirinya, dibantu Edward dengan hati-hati, "Gue udah berapa lama disini?"
"Satu hari."
__ADS_1
Vina mengalihkan pandangannya, "tapi, gimana caranya gue disini?"
"Lo gak ingat? Saat itu, Lo ada di rumah orang tergeletak pingsan. Rumah itu kosong, selain Lo, sama satu laki-laki yang juga pingsan." Edward mendudukkan dirinya kembali.
"Gue pas itu, tanya ke Sena, mengenai Lo yang gak keliatan satu harian kemarin itu. Sena juga gak tau, dan keliatan dia buru-buru, gue curiga. Memang sebenarnya gue gak boleh ikutin orang. Tapi, kata hati gue yang nyuruh gue untuk ikutin cewek bar-bar itu."
Mata hitam kecoklatan milik pemuda itu bertabrakan dengan mata merah milik gadis nya. Gadis nya? Iya, ia sudah menganggap Vina menjadi gadis nya. Tangannya perlahan menyentuh tangan dingin Vina.
"Dan kata hati gue bener, Sena ngebawa gue ke tempat Lo. Orang yang gue sayangin dalam bahaya, walaupun telat, gue senang, bisa nyelamatin Lo. Gue sama Sena memang gak liat secara pasti, siapa yang berani ngelakuin ini. Tapi, kita berusaha. Siapa tau, pak tua yang pingsan itu, punya CCTV di rumah nya." Jelas Edward panjang lebar.
Vina melirik tangannya yang kini saling bertautan dengan tangan besar Edward. Ia mendengar, namun tak menggubris. Hanya lengkungan ke atas di ujung bibir nya, namun tidak terlihat Edward. Senyuman itu sangat tipis.
"Thank you, Ward. Gue bisa ngerasain kalau Lo tulus. But, gue masih trauma mengenai suatu hubungan."
"Dan juga, kayak nya, kejawab juga pertanyaan gue siapa yang membuat gue kecelakaan dan berakhir di rumah sakit." Batinnya.
...π₯π₯π₯...
Seorang laki-laki paruh baya berjalan mondar-mandir, dengan gelisah. Tangan nya mengusap tengkuknya, dan tangan satunya berpangku pada pinggangnya. Mata nya menatap sebuah figura foto.
"Vina. Untung kamu gak ingat akan hal dulu. Kecelakaan itu, membuat kamu, gak mengingat hal itu." Laki-laki itu mendudukkan diri, di kursi kebesaran nya. Di meja ada nama miliknya.
Raditya, laki-laki itu, menggulir laptop nya. Mencari tahu segala sesuatu, yang dapat dibuat menjadi senjata atau tameng.
"Aku juga harus menceritakan semua nya nanti pada Vina. Aku takut, kalau dia tau dari yang lain, dia pasti marah dan kecewa pada aku."
...π₯π₯π₯...
__ADS_1
BERSAMBUNG...