
drrrttt... drrttt... drrttt...
Suara dering hp yang berada di meja sebelah ranjang seorang gadis kecil terdengar begitu nyaring, berkali-kali sudah hp itu tampak bergetar menandakan waktu subuh telah tiba, namun si empunya belum juga membuka mata. kebiasaan gadis itu tiap hari memang selalu membuat alarm di hpnya untuk membangunkannya di waktu subuh, karena dia susah sekali bangun pagi. Namanya Octavia Anggraini, biasa di panggil Aini. Gadis belia berusia 14 tahun dengan wajah imut yang tirus, memiliki bibir kecil dan hidung sedikit mancung serta kulit yang putih mulus membuat dirinya selalu terlihat seperti bocah kecil.
tok.. tok.. tok..
Aini.. Aini... banguuuuuunnnnn......!!!!!
Bagaikan suara petir yang menyambar, begitulah suara ibu Ema yang membangunkannya pagi itu. Gadis itu tersentak mendengar jeritan sang ibu dan dia refleks loncat dari tempat tidur dan segera berdiri untuk membukakan pintu, karena jika ia tidak segera membuka pintu kamarnya, sudah di pastikan si ibu tidak berhenti berteriak-teriak memanggil namanya.
"Anak gadis kok susah banget bangun pagi!" ujar ibu yang melihat anak gadisnya baru membuka pintu kamarnya dan terlihat pula di sana kedua adik Aini juga sudah membuka mata.
Bagaimana tidak terbangun, rumah mereka yang minimalis dengan hanya memiliki 2 kamar tidur yakni 1 untuk ayah dan ibunya, dan 1 lagi untuk Aini dan 2 adiknya. Ada pula ruang tamu merangkap ruang keluarga yang kecil dilengkapi TV 14 inch serta karpet tipis di sana, ditambah dapur yang dilengkapi meja makan kecil yang sudah dapat dipastikan teriakan ibu tadi menggema keseluruh sudut rumah.
"Ihhh.... ibu... berisik banget sih banguninnya, aku nggak tuli lho bu," jawab Aini sambil mengucek-ngucek matanya yang masih ngantuk.
"Udah, cepat mandi dan sholat subuh, habis itu bantu ibu siapkan sarapan!" perintah ibu sambil berlalu meninggalkan anak gadisnya di depan pintu kamarnya.
"Iya.. iya bu," sahut Aini lagi.
Tak butuh waktu lama, Aini sudah selesai dengan kegiatan mandi, sholat dan bahkan sudah berpakaian seragam sekolahnya. Yap, dia memang gadis yang masih sangat belia, karena saat ini dia masih duduk dibangku SMP tingkat 2. Merupakan anak sulung dari 3 bersaudara, 2 Adiknya masi duduk di bangku SD, yang 1 masih kelas 4 SD dan yang bungsu masih kelas 1 SD.
Kini, mereka tengah duduk di ruang makan, menikmati sarapan yang tersaji saat ibu dan Aini beberapa menit lalu menyajikannya di meja makan.
"Mau ayah antar sampai persimpangan atau mau jalan kaki saja nak?" tanya ayah Broto pada Aini yang tengah menyantap nasi goreng buatan ibunya.
Ayah Broto merupakan sosok ayah yang penyayang, walau suaranya sedikit ngebas dan besar membuat orang lain yang tidak mengenalnya berpikiran ayah Broto adalah orang yang kasar dan mudah marah.
Padahal walau tampang dan suara lantang kayak sekuriti tapi hatinya kayak hello kitti. hehehe
__ADS_1
"Wess, nggak usah dimanjain kali si kakak yah", sambung ibu yang dari tadi sibuk menuangkan susu untuk suami dan anak-anaknya.
Ibu Ema memang tidak suka dengan sikap ayah Broto yang terlalu memanjakan anak-anaknya, karena sedari dulu ibu Ema berasal dari keluarga yang sangat susah, bahkan pada saat sekolah dulu ia harus bersusah payah berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk sampai di sekolahnya. Bukan tidak di sayang orangtuanya, hanya saja mereka memiliki 1 sepeda yang digunakan sang kakek Aini dulu untuk bekerja, jadi ibu Ema harus berjalan agar sampai ke sekolah. Mau naik angkutan umum pun tidak punya cukup uang, karena untuk makan sehari-hari saja hanya memanfaatkan bahan yang ada di sekitar rumah, seperti merebus singkong karena mereka menanam singkong di halaman rumah, atau membuat sayur daun singkong karena hanya itu yang ada, walau tidak setiap hari. Memang cukup memprihatinkan kehidupan ibu Aini dulu.
Berbeda dengan pemikiran ibu, sang ayah malah merasa senang memanjakan anak-anaknya, karena dia tau betul gimana susahnya kehidupannya dulu, jadi sekarang ia berusaha keras untuk membahagiakan anak-anaknya, agar tak merasakan kehidupannya yang susah dulu.
"Aini jalan aja yah," ucap Aini sambil beranjak berdiri hendak menyalami kedua orangtuanya. "Kasihan ayah harus bolak balik kalau harus mengantarkan Aini dulu ke persimpangan," sambungnya lagi.
"Mending ayah antar adik-adik aja ke sekolah yah," ucapnya, kemudian berjalan sambil mengucap salam dan mencium kedua tangan orangtuanya karena dia sudah hendak berangkat ke sekolah menaiki angkutan umum di persimpangan jalan dekat rumahnya.
Sesampainya di persimpangan, gadis kecil itu melihat ayah dan kedua adiknya melintasi jalan tersebut karena ayahnya hendak mengantar kedua adiknya ke sekolah sebelum berangkat ke pabrik tempat ayahnya bekerja. Ayah Aini seorang buruh pabrik yang sudah bekerja lebih dari 15 tahun karena saat sebelum menikah dengan ibunya Aini, ayah Broto sudah menjadi buruh pabrik.
Angkot (sebutan utk angkutan umum di kota Medan), sudah berhenti di depan Aini, gadis itu segera menaikinya dan angkot pun melaju cepat menuju sekolahnya.
* * * * *
Seorang Pria nampak sibuk membawa banyak buku di tangannya. Hari ini dia akan bertemu dengan dosennya untuk melakukan bimbingan skripsi. Baim, begitulah orang memanggilnya. Pria bernama lengkap Ahmad Ibrahim Nadhif yang akrab di sapa Baim merupakan pria berusia 25 tahun dengan wajah manly nya serta rahangnya yang terlihat tegas. Dihiasi bulu-bulu halus di sekitar hidung dan bibir serta sedikit rambut halus di dagunya.
"Dari mana saja kamu Ibrahim?" tanya pak dosen saat melihat Baim baru memasuki ruangannya. Padahal baru satu menit saja ia terlambat, tapi dosen tersebut nampak tidak memakluminya.
Baim menghampiri dosen yang duduk di bangku depan kelas mahasiswa itu. "Maaf pak, saya terlambat," ucapnya saat telah sampai di hadapan dosen itu.
"Lain kali jangan di ulangi! Sekarang silahkan duduk!" perintah dosen itu.
Baim menghela nafas pelan. "Untung ini dosen tidak merajuk, kalau dia merajuk bisa gagal bimbingan hari ini," batin Baim.
Baim memang sudah cukup lama memimpikan untuk segera menyelesaikan tugas skripsinya agar segera pula wisuda. Bukan untuk menyelesaikan pendidikan di strata 2, namun kini dia masih kuliah untuk menyelesaikan strata 1 nya. Dengan umurnya yang terbilang dewasa, dia cukup lama menyelesaikan pendidikan itu bukan karena dia bodoh atau malas. Namun dia hanya pria sederhana yang merantau dan mencari biaya sendiri untuk kuliahnya. Jadi dia lama menyelesaikan pendidikannya karena terkadang harus berhenti satu semester untuk mengumpulkan uang untuk membayar uang kuliahnya sendiri. Dia melakukan pekerjaan apapun asal itu halal, dari mulai berjualan baju-baju, menjadi pelayan kafe, sampai ikut bisnis multi level pernah ia jalani. Itulah sebabnya sampai di umurnya yang sekarang dia belum juga menyelesaikan pendidikan strata 1 nya.
.
__ADS_1
.
.
.
tbc
____________
Tolong di bantu yaakkk..
sim salabim jadi apa..
prokk.. prokk.. prokk..
Hehhe.. becanda ya guys
jan lupa vote, klik like dan hati ya
bantu juga kritik dan sarannya
Visual Baim
Visual Aini
__ADS_1
Visualnya hanya menurut pemikiran author aja ya. Kalau kalian ingin membayangkan yang lain silahkan saja 😊