
"Ya Sudah, ayoo kita masuk ke kamar, kakak perlu banyak istirahat," ujar ibu yang melihat Aini seperti memikirkan sesuatu.
"Iya bu.." jawabnya cepat.
Mereka kembali ke kamar, tadi ia sudah membawakan makanan untuk anak sulungnya itu, dan setelah makan Aini juga segera meminum obatnya.
"Ibu tinggal ke dapur ya, kakak istirahat aja, nanti kalau ada perlu panggil ibu," kata ibu sebelum pergi meninggalkan anaknya.
Aini menganggukkan kepalanya. Ibu juga sudah menarik selimut Aini sampai menutupi bagian perutnya. Sebenarnya Aini tak menyukai menggunakan selimut, hanya saja saat ini ia sedang sakit, jadi ia menuruti saja apa yang diperbuat oleh ibunya.
Sebelum ia terlelap dalam tidurnya, ia mengirim pesan singkat ke Sara agar menyuruhnya besok pagi datang sebelum berangkat sekolah untuk membawakan buku absensi yang ada padanya, karena mungkin esok ia belum dapat bersekolah kembali dikarenakan masi sakit, juga sembari menitipkan surat sakitnya agar guru yang hadir besok tahu bahwa Aini tidak masuk sekolah karena sedang sakit dan itu terbukti dengan adanya surat yang dititipkannya kepada Sara.
********
"Ah, kedua anak ibu sudah rapi, ayo cepat habiskan sarapan kalian, ibu mau membantu kakakmu juga untuk sarapan agar segera meminum obatnya," kata ibu yang sedang berada di dapur menyiapkan sarapan mereka.
"Sakit apa si kakak bu?" tanya ayah Broto kepada ibu.
Tadi malam ayah pulang begitu larut, karena ayah ada lembur di pabriknya. Makanya ibu belum sempat memberi tahu ayah perihal anak sulung mereka sedang sakit.
"Tekanan darahnya rendah yah," sahut ibu.
"Oh, ya sudah kalau begitu cepat antarkan sarapan untuknya, kakak kan harus segera minum obat," kata ayah lagi.
"Assalamu'alaikum.." Terdengar suara dari luar rumah.
"Sebentar ya yah, ibu tinggal dulu." Ibu membuka pintu rumah dan mendapati Sara di sana.
Sara mencium tangan ibu Ema. "Bu, saya kemari mau ambil surat Aini sekalian buku absensi."
"Oh iya nak, sebentar ya ibu ambilkan, nak Sara duduk dulu ya," sahut ibu.
"Iya bu.." jawabnya.
Ibu Ema pergi ke kamar Aini dan mengambil surat serta buku absensi yang sudah Aini letakkan di atas mejanya.
"Ini nak, surat dan bukunya," kata ibu yang sudah kembali ke depan rumah.
"Baik bu, kalau begitu Sara permisi mau berangkat ke sekolah ya bu, Assalamu'alaikum.."
"Iya nak hati-hati, Wa'alaikumsalam..." jawab ibu.
********
Di sekolah...
"Aini kemana sih? Uda jam segini kok belum dateng? Emang tu anak hobi banget dateng terlambat," gumam Alfi yang menunggu kedatangan Aini.
"Pagi semuanya...." sapa Sara pada semua teman yang sudah hadir di kelas.
"Nah itu Sara, pasti dia tau dimana Aini," batin Alfi.
"Sara, Aini kok belum dateng?" tanyanya pada Sara yang melangkah menuju bangkunya.
"Oh, iya aku lupa. Ini, buku absensi dan surat Aini," sahut Sara dan memberikan kedua benda itu.
"Loh, Aini sakit?" tanya Alfi penasaran.
"Iya.." balas Sara singkat.
"Sakit apa? terus gimana keadaannya sekarang? apa dia masuk rumah sakit?" tanya Alfi bertubi-tubi.
__ADS_1
"Santuy kali.. panik banget yang pujaan hatinya lagi sakit," sindir Sara. Sepertinya Sara memang tahu kalau Alfi menaruh hati terhadap sahabatnya itu. Karena Sara sering kali memperhatikan Alfi yang curi-curi pandang terhadap Aini di jam-jam pelajaran.
"Aini sakit?" tanya Ela yang baru saja datang dan mendengar percakapan mereka.
"Iya.." sahut Sara singkat.
"Yah, aku duduk sendiri dong hari ini," jawab Ela dengan tidak semangat.
"Kalau begitu nanti sepulang sekolah kita jenguk dia ya. Kau tahu rumahnya kan?" tanya Alfi.
"Ya tahu la, kan rumahku dekat dengan rumahnya," sahut Sara.
Ketika jam istirahat....
"Perhatian teman-teman semua.." ucap Alfi yang sudah berdiri di depan kelas.
"Nanti sepulang sekolah saya berencana menjenguk sekertaris kita yang sedang sakit, saya harap kalian juga ikut," sambungnya lagi.
"Aduh aku uda ada janji pulang sekolah.."
"Aku ikut deh.."
"Aku mau ngerjain tugas kelompok.."
Masing-masing siswa kelas 9c memberi respon yang berbeda.
"Harap tenang semuanya.. saya tidak mewajibkan kalian untuk ikut, yang bisa silahkan ikut, yang tidak bisa ya tidak mengapa, saya hanya menyampaikan maksud saya saja, nanti kalau saya pergi hanya dengan Sara dan Ela kalian pikir saya tidak becus menjadi ketua kelas karena tidak mendiskusikan masalah ini."
Semuanya hening...
"Oh iya satu lagi, saya harap kalian tidak keberatan kalau kita memakai uang kas untuk membeli buah atau roti untuk buah tangan kita menjenguk Aini," sambungnya lagi.
"Setuju..." jawab mereka serentak.
**********
"Sebanyak ini yang mau ikut?" tanya Sara yang melihat reman-teman sekelasnya hampir ikut semua, hanya beberapa saja yang tadi tidak bisa ikut.
Kini mereka semua sudah berkumpul di depan sekolah, dan semua siswa kelas 9c tampak antusias untuk ikut menjenguk sekertaris kelas mereka.
"Kalau sebanyak ini yang ikut, lebih baik kita menyewa angkot saja ya," saran Alfi kepada teman-temannya.
"Siska mana?" tanya Alfi yang mencari bendahara kelas mereka.
"Sepertinya tadi lagi ke mini market untuk membeli bingkisan yang mau kita bawa ke rumah Aini," jawab salah satu siswa.
"Ya sudah, kalau begitu kita tunggu dia baru kita menyewa angkot ya," sambung Alfi.
Tak lama Siska datang dan membawa sekantong plastik cukup besar di tangannya.
"Fi, aku tadi beli ini," menunjukkan plastik yang dipegangnya tadi agar dilihat oleh Alfi.
"Iya, terserah saja la apa yang mau dibawa, kalian para perempuan kan paling tahu apa yang harus dibawa untuk menjenguk orang sakit," jawab Alfi tanpa terlalu memperdulikan plastik yang dibawa Siska.
"Jadi nyewa angkot pakai uang kas juga atau uang pribadi?" tanya Siska.
"Coba tanya teman-teman yang lain, mereka setuju nggak kalau uang kas yang kita gunakan?" jawab Alfi lagi.
"Teman-teman, kita nyewa angkot pakai uang pribadi atau uang kas?" tanya Siska setengah berteriak agar semuanya mendengar.
"Uang kas..." jawab mereka serentak.
__ADS_1
"Tapi ini kan tidak semua menjenguk Aini, apa mereka yang tidak ikut akan setuju kalau kita menggunakan uang kas juga untuk menyewa angkot? karena tadi Alfi hanya memberi tahu kalau uang kas dipakai untuk membeli buah tangan," sahut Siska lagi.
"Udah, kalau lebih banyak yang setuju daripada tidak, aku rasa itu tidak jadi masalah," sambung Alfi lagi.
"Nanti aku yang menjelaskan jika yang lain pada komplain."
"Nah, itu ada angkot kosong, biar aku tanya ya tu angkot mau disewa atau tidak," kata Alfi yang melihat angkot kosong melintasi mereka.
Setelah bernegosiasi dengan supir angkot, mereka segera menuju rumah Aini.
"Assalamu'alaikum..." ucap mereka serentak stelah sampai di depan rumah Aini.
"Wa'alaikumsalam.." jawab ibu Ema dari arah dapur.
"Eh, nak Sara.. ada apa nak?" tanya Ibu yang melihat Sara lebih dulu berada di depan pintu sedang yang lainnya masi di dekat pagar.
"Ini bu, teman-teman sekelas datang mau menjenguk Aini," jawab Sara.
"Oh, ya silahkan duduk adik-adik," ucap ibu sambil melihat ke arah teman-teman anaknya itu.
"Sebentar ibu panggilan Aini ya," pamitnya kepada mereka.
Aini sudah tampak lebih membaik dari kemaren. Kini dia sudah keluar rumah dibantu ibu.
"Gimana kabarnya Aini?" tanya Alfi begitu melihat Aini duduk di kursi teras rumahnya sedang mereka semua duduk di lantai.
"Alhamdulillah sudah mulai membaik, mungkin besok sudah bisa kembali bersekolah," jawab Aini yang masih lemas.
"Sakit apa Ni?" tanya Ela, teman sebangku Aini.
"Tekanan darah rendah," sahut Ibu yang baru datang membawakan minuman gelas untuk mereka semua.
"Oh.. Anemia ya bu?" tanya Siska menyambung pembicaraan.
"Bukan nak, Anemia itu kekurangan sel darah merah, kalau tekanan darah rendah hanya disebabkan karena kurangnya cairan dalam tubuh atau bisa juga karena kelelahan. Memang anemia juga bisa menjadi penyebab tekanan darah menjadi rendah, tapi dokter kemaren bilang kalau Aini hanya mengalami tekanan darah rendah saja," jelas ibu kepada mereka.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah satu jam lamanya mereka berada di rumah Aini, karena mereka semua takut di cariin orangtua masing-masing, akhirnya mereka pamit undur diri.
"Bu, kami permisi ya, berhubung waktu sudah sore," ucap Alfi yang mewakili teman-temannya.
"Iya, terimakasih sudah mau repot-repot datang kemari menjenguk anak ibu ya," sahut ibu Ema.
"Tidak apa-apa bu, ini semua bentuk kepedulian kami terhadap sesama teman. Aini, cepat sembuh ya," sambung Alfi lagi.
"Iya, makasih ya teman-teman," balas Aini sambil melihat ke semua temannya.
Mereka satu per satu menyalami ibu Ema dan segera pulang menaiki angkot sewaan tadi. Begitulah kegiatan mereka hari ini ditutup dengan menjenguk sekertaris kelas mereka.
.
.
.
.
.
tbc
____________
__ADS_1
Tak bosan2 author ingetin
jan lupa vote, like dan komen🙏😊♥️