
"Pada tegang banget tu muka, lagi ngomongin apaan sih!" Fahri datang dari dalam dan ikut duduk di sebelah Baim.
"Ini, bang Baim lagi galau," sahut Fahmi pada abangnya itu.
Fahri yang memang tau kalau Baim lagi ada masalah sama gadis kecilnya hanya mengangguk saja. "Belum kelar-kelar bang? Perasaan masalahnya sudah dari minggu lalu," ujarnya.
"Nih makan dulu, mau cerita juga butuh tenaga." Umi datang dengan membawa teh dan camilan.
"Umi tau aja kalau Fahmi lagi lapar," sahut Fahmi si bungsu keluarga ini.
"Bukan buat kamu sendiri Fahmi, tapi buat bersama!" Umi sudah melebarkan kedua matanya ke arah Fahmi.
Fahmi mengacungkan kedua jarinya. Peace mi.. peace.."
" Peace.. peace.. peace.. pipis maksudnya? Sana gih ke kamar mandi!" titah umi.
Fahri menggelengkan kepalanya, sedang Baim dan Fahmi menepuk dahi mereka masing-masing. "Umi.. umi.. ada-ada saja!" ucap salah seorang diantara mereka.
Umi mengernyit heran. "Pada kenapa kalian? Emang ada yang salah dari kata-kata umi?"
"Enggak.. Enggak.. Umi nggak pernah salah," sambung Fahri.
Baim dan Fahmi hanya tersenyum kecil melihat umi yang kebingungan. Umi yang tidak mengerti ucapannya tadi salah tidak mau ambil pusing, dia menarik salah satu kursi dan duduk diantara tiga pria itu.
"Tadi lagi pada ngobrolin apa? Bagi-bagi cerita dong, umi kepo nih!" tutur umi setelah duduk sempurna di kursinya.
"Ah, umi mau tau saja urusan anak muda," celetuk Baim.
"Ssstt.." tegur Fahmi sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kita kan memang perlu saran umi untuk masalah abang, kalau abang lupa!" bisiknya pada telinga Baim.
Baim menganggukkan kepala, membenarkan perkataan Fahmi barusan.
"Jadi gini mi ceritanya..." sambung Fahmi.
"Biar abang yang cerita, ini kan masalah abang!" Baim menutup mulut Fahmi dengan jari telunjuknya.
"Eh, iya.. lupa bang!" ucap Fahmi sambil menampakkan deretan giginya.
"Mi, tadi Baim sudah ke rumah Aini," ucap Baim terjeda.
"Terus?" timpal umi.
"Terus Aininya tidak mau bertemu Baim. Jadi menurut umi Baim harus apa?" ucapnya memelas.
Umi tersenyum menahan tawa. Rasanya lucu juga melihat seorang pria yang lagi galau karena sang pujaan hati sedang merajuk. "Sabar ya Im." Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut umi.
"Umi kok malah senyum-senyum sih! Baim minta saran umi, buka senyuman umi," ucap Baim kesal.
"Iya.. Umi tau.. ini umi juga lagi mikirin solusinya. Cuma umi nggak tahan liat ekspresi wajah lugu kamu, seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh mamanya saja!" lanjut Umi.
__ADS_1
"Baim benar-benar frustasi mi, tidak pernah ada wanita yang membuat Baim seperti ini. Bahkan Yuna yang begitu Baim cinta dulu tidak pernah membuat Baim segalau ini."
"Hebat juga ya gadis kecil itu. Mampu mengaduk-aduk hati bang Baim sampai ***** seperti adonan kue," sahut Fahri.
"Kamu belum ngerasain gimana jatuh cinta. Makanya jangan fokus kerja mulu, cari istri sana! Umur udah tua gini!" ketus Baim.
"Selow bang, ada masanya itu. Fahri rela abang dulu yang melamar Aini, baru Fahri menyusul. Diantara kita bertiga kan emang abang yang paling tua!" sambung Fahri dan melirik ke arah Fahmi dan Baim bergantian.
"Sudah.. sudah.. kok pada ngomongin tua. Di sini umi sama Abi yang paling tua!" lerai umi pada ketiga anaknya itu.
"Gini Im, coba kamu cari tahu dari ibunya, perihal apa yang menyebabkan Aini bersikap demikian. Biasanya seorang anak akan menceritakan segala hal kepada ibunya," sambung Umi memberi solusi.
"Benar juga kata umi. Kemudian Baim nampak berpikir sejenak. Tapi mi, kalau dilihat dari wajah ibunya, sepertinya Aini belum menceritakan apapun kepadanya, karena tadi saat Baim datang dan disambut ibunya, beliau nampak biasa saja dan tidak menampakkan ada sesuatu antara Baim dan anaknya."
"Hmmm... kalau gitu coba kamu cari tahu pada adik-adiknya saja," lanjut Umi lagi.
"Mana mungkin adiknya yang kecil itu tau masalah kakaknya mi, sedangkan Aini saja masih terbilang kecil, apalagi adiknya yang masih bocah? mana tahu apa-apa persoalan orang besar," timpal Fahmi.
"Benar tu mi," sambung Fahri sambil mengunyah camilan di hadapannya.
"Benar juga kalian bilang. Kamu sih Im, suka sama anak kecil, kan jadi ribet persoalannya. Kalau sama-sama dewasa kan tidak akan segalau ini kamunya," tutur Umi.
"Ini masalah hati mi. Mana mungkin bisa dipaksakan akan berlabuh kepada siapa, bahkan di berita juga pernah Baim lihat kalau anak muda menikahi nenek-nenek seperti umi," bantah Baim pada pernyataan umi tadi.
"Ah, susah deh ngomong sama orang yang lagi jadi bucin," sahut Umi sok gaul.
"Ciah, sejak kapan Umiku jadi tahu bahasa anak muda," ledek Fahmi.
"Tadi ngaku udah tua, sekarang bilang pengen muda lagi!" celetuk Fahri.
Diengah perbincangan mereka, ada seorang wanita yang terlihat melintasi pagar rumah Umi.
"Assalamu'alaikum," terlihat wanita itu memasuki halaman rumah umi.
"Ini dia biang masalahnya," batin Baim.
"Masih punya muka dia ya bang," bisik Fahmi.
"Baim masuk ke dalam ya mi, mau mandi." Baim sudah beranjak pergi sebelum Yuna benar-benar sampai dihadapan mereka. Siapa lagi wanita yang jadi biang masalah Baim kalau bukan Yuna.
"Apa kabar mi?" tanya Yuna saat tiba dihadapan umi, sedang Baim sudah menghilang dibalik pintu.
"Alhamdulillah sehat.. kamu apa kabar," tanya balik Umi.
Yuna mencium pnggung tangan umi. "Baik juga mi."
"Duduk dulu sini," tunjuk umi pada kursi yang diduduki baim tadi.
"Iya mi, bang Baim tadi kemana?" tanyanya sambil melirik ke arah pintu.
"Mau mandi katanya," sahut Fahmi. Lalu ia juga bangkit dan hendak pergi dari sana.
__ADS_1
"Mau kemana Fahmi?" tanya Fahri.
"Mau mandi juga deh, gerah gini," ucapnya sambil mengibaskan sedikit bajunya.
"Tunggu, aku ikut deh," sambung Fahri.
"Idih, abang mau mandi bareng aku? Ogah ya!" ketus Fahmi.
"Siapa yang bilang mau mandi bareng kamu? Amit-amit dah!" ujar Fahri sambil bergidik ngeri.
"Terus mau apa tadi bilang ikut-ikut," ucap Fahmi lagi.
"Ya abang mau ikut ke dalam. Kan nggak lucu abang laki-laki sendiri di sini," ucapnya sambil melihat umi dan Yuna.
Mereka berdua sudah sepenuhnya masuk dan mendapati Baim duduk di meja makan.
"Abang belum jadi mandi?" tanya Fahmi yang lebih dulu sampai di ruang makan.
"Belum, sebenarnya juga nggak mau mandi, cuma malas aja ketemu dia," sahut Baim sambil memainkan benda pipih di tangannya.
Sementara di teras depan umi terlihat mengobrol dengan Yuna. Dia juga membawakan buah tangan buat umi. Umi yang merasa tidak punya masalah dengan Yuna menyambutnya dengan baik. Mungkin itu alasan Yuna masih berani menampakkan dirinya di sini, karena masih ada yang menerimanya dengan baik, atau mungkin dia punya misi tertentu dengan cara mendekatkan diri ke umi.
.
.
.
.
.
tbc
___________
Maaf lama update hari ni, author lagi sakit.
doakan cepat sembuh ya😊
Yang minta Baim segera baikan sama Aini sabar ya. Belum saatnya.
Maklumi aja, namanya bocah😄😄
LIKE nya jan lupa
beri vote juga napa
komen dong
🙏😊
__ADS_1