
"Baik anak-anak, buka halaman 50, kerjakan soal 1-20 ya, ibu tinggal sebentar.. jangan ada yang berisik, dan ketua ikut ibu ke kantor!" titah bu Yani selaku guru biologi ."
"Iya bu..." jawab murid serentak.
Saat mereka sibuk mengerjakan tugas yang diberikan bu Yani, tiba-tiba Ela menyenggol siku Aini pelan.
"Stttt.. Aini... lihat tu.." katanya.
"Apaan?" jawab Aini tanpa menoleh ke Ela sedikit pun.
"Si Alfi itu lhoo... kayaknya dari tadi lihatin kau terus.." sambung Ela dengan terus menggerakkan pena nya ke buku tulis.
"Biarin sih.. punya mata juga.. bebas-bebas aja kan mau lihatin siapa," sambil melihat ke arah Alfi karena Aini penasaran juga. Ternyata yang di lihat malah sibuk mengerjakan tugas yang sama.
"Mungkin dia nggak lihatin aku, tapi lagi malas aja ngerjain tugas, makanya matanya lihat sana sini. Tu lihat, sekarang dia lagi ngerjain tugas, nggak da tuh lihat-lihat ke sini," kata Aini lirih agar tak terdengar teman lainnya.
"Iihhh... beneran lhoo.. tadi aku perhatiin dia lama menatap ke arahmu. Mungkin dia....."
Belum sempat Ela melanjutkan kalimatnya, ketua kelas sudah menghentikannya.
"Ehmm.. ehmm.. perhatian kawan-kawan semua.. ada hal penting yang mau saya sampaikan," Ucap ketua kelas bernama Agung itu.
"Berhubung hari ini guru mengadakan rapat mengenai ujian semester yang akan berlangsung beberapa hari ke depan, maka kita sudah diperbolehkan pulang sekarang juga," sambungnya.
"Yeee...."
"Assseeeekkkk..."
"Tau aja aku nggak siap tugas bu Tuti..."
"Jalan-jalan yookk..."
Semua murid bersorak riang gembira setelah mendapat pengumuman dari ketua kelas, tapi Aini tampak biasa saja. Bahkan wajahnya terlihat murung dan sedikit ditekuk.
"Ni.." Sara menepuk pundak Aini dari belakang.
"Hmm.." sahut Aini yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
"Kau kenapa? Cerita la kalau ada masalah," tutur Sara. Ia melihat Aini dari tadi pagi tampak murung, namun baru ini dia beranikan diri untuk bertanya.
"Nggak apa-apa.. kurang enak badan aja," sahut Aini lagi. Sara diam sambil memikirkan cara agar Aini nantinya mau bercerita masalahnya. Namun saat ini dia biarkan saja berpura-pura mempercayai Aini yang katanya kurang enak badan. Padahal Sara tahu betul pasti ada sesuatu yang terjadi pada Aini.
"Kau nyari apa sih?" ucap Sara kesal.
__ADS_1
Ya, kini mereka telah sampai di mini market depan sekolah, karena semalam Aini meminta Sara untuk menemaninya ke sini. Tapi Aini hanya muter-muter nggak jelas mau membeli barang apa.
"Heii... kita sudah tiga kali muter-muter di lorong yang sama.. sebenarnya kau mau cari apa?" gerutu Sara karena tak kunjung di jawab Aini.
"E.. anu.. ee..." jawab Aini dengan terbata-bata.
"Adikku yang bungsu besok ulang tahun, aku mau mencarikan kado untuknya," lanjut Aini.
Sara ber Oh ria. "Bilang dong dari tadi, kalo gini kan aku bisa bantu cariin kado yang pas juga, nggak harus muter-muter di lorong yang sama berkali-kali."
"Ya maaf.. Aku lagi nggak fokus tadi," ujar Aini kemudian berjalan ke rak mainan anak-anak.
Sebenarnya dia lagi kesal terhadap suatu hal, namun masih enggan membicarakannya dengan Sara.
"Menurutmu, aku belikan kado apa ya Ra?" tanyanya pada Sara di sebelahnya.
"Adik mu kan masi kecil, aku rasa boneka barbie cocok deh, atau mainan alat-alat masak, siapa tahu adik mu hobi main masak-masakan," tutur Sara.
Aini mengecek harga boneka barbie kemudian alat-alat masak yang dikatakan Sara tadi. Ternyata dia memilih boneka barbie. Alasannya karena boneka itu lebih murah, dan pas dengan isi kantong Aini, sedangkan alat-alat masak lebih mahal dari itu. Wajar saja Aini pilih-pilih barang murah yang mau dibelinya, karena uang saku yang diberikan orangtuanya hanya pas untuk ongkos dan sekali makan di kantin saja. Namun uang sakunya diberikan sebulan sekali setiap gajian ayah, makanya pas baru dapat uang dia bisa sedikit boros. hehehe
"Jadi boneka ni yang di pilih?" Sara sudah memegang alat-alat masakan yang baru saja diletakkan Aini di rak.
"Iya, ini aja deh, lebih murah," kata Aini sambil nyengir kuda.
"Kau ngapain pegang mainan itu?" Aini bertanya sambil mulutnya maju seakan menunjuk barang yang dipegang Sara.
"Ihhh... perhatian banget sih sama adek aku.. makin sayang deh sama Sara..." ucap lebay Aini sambil memeluk Sara dari samping.
Sara menepis tangan Aini yang memeluknya. " Ihhh.. jauh-jauh sana gi, ntar dikira lesbi lagi kita sama penjaga mini market ini."
Aini pun melepaskan pelukannya tanpa bersuara. Sejenak kekesalannya berkurang setelah bersama Sara. Mereka pun segera menuju kasir untuk membayar barang yang mereka ambil tadi.
**********
"Aduuhh.... bodoh banget sih... kenapa juga siap subuh tadi aku tidur lagi... kan jadi telat...," bang Baim mengacak rambutnya frustasi.
Ternyata semalam bang Baim mengirim pesan kepada Aini untuk menunggunya di persimpangan karena ia mau mengantar Aini ke sekolah. Bukan tidak mau menjemputnya di rumah, hanya sudah pernah bang Baim utarakan niatnya itu tetapi Aini menolaknya. Kali ini ia beralasan mau pergi juga ke tempat yang tidak jauh dari sekolah Aini, jadi karena searah bisa sekalian mengantarkan Aini.
Tadi malam Aini tidak membalas pesannya, mungkin karena sudah tidur.Ternyata saat bangun pagi bang Baim melihat handphone nya ada balasan dari Aini kalau ia mau diantar bang Baim.
Bang Baim tentu sangat senang, tapi karena semalam ia mengerjakan revisi skripsinya, akhirnya dia tidur sampai larut malam. Jadi selesai subuh ia niat tidur sebentar menunggu pagi mau mengantar Aini tapi malah kesiangan.
"Bilang apa aku sama Aini ya? Nanti kalau dia marah gimana? Apa aku datang aja ke rumahnya lalu minta maaf?" bang Baim bertanya-tanya dalam pikirannya.
__ADS_1
Tuuuttttt.... tuuuttt.. tuuuuttttt...
Suara sambungan telepon bang Baim yang kini tengah menghubungi Aini namun tak kunjung di angkat. Dia mencoba berkali-kali tapi tidak di angkat juga.
"Tuh kan, pasti dia marah deh," gumamnya.
Di dalam angkot
"Ni, kayaknya handphone mu getar tu," kata Sara yang mendengar suara getaran handphone.
Aini melihat sekilas handphone nya lalu menon-aktifkannya. Itu memang telepon dari bang Baim, dan Aini masih kesal terhadapnya, makanya ia tidak mengangkat teleponnya.
"Dari siapa? Kok nggak diangkat?" tanya Sara menyelidik.
"Ntah, nggak kenal, cuma iseng kali," jawab Aini sekenanya.
"Ni, kau nggak da yang mau diceritain sama aku?" Sara kini duduk berhadapan dengan Aini di dalam angkot dan hanya ada mereka berdua, eh bertiga sama supir angkot.
Aini diam dan berpikir sejenak, apa ia harus bercerita sama Sara atau tidak. Karena ini hanya masalah sepele, namun mengapa Aini tampak kesal tak berkesudahan. Aini pun tak kunjung membalas pertanyaan yang dilontarkan Sara.
ciiittttttt......
Suara rem angkot yang mendadak itu membuat Aini dan Sara sangat terkejut, bahkan Aini sampai mengelus dada dan beristighfar.
"Astaghfirullah... ada apa sih?"
.
.
.
.
.
.
tbc
__________
ada apa hayooo???ππ
__ADS_1
masi kurang greget nggak sih cerita nya?
komen ya readersππ