Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Sakit Tapi Tak Berdarah


__ADS_3

"Lihat saja bang, aku sudah mengancam gadis kecilmu itu, pasti dia tidak akan pernah lagi menganggumu," batin Yuna. Ia lalu pergi ke teras depan menyusul umi dan Abi yang tampak baru pulang kerja.


"Nak Yuna datang lagi?" tanya Abi setelah melihat Yuna keluar dari pintu rumahnya.


"Iya bi," jawabnya seraya mencium tangan Abi. Mereka lalu berbincang-bincang sampai waktu maghrib tiba.


****


Usai sholat maghrib, mereka semua sudah berkumpul di meja makan. Namun Baim belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Una, tolong panggilkan Baim ya," pinta umi kepadanya. Umi sudah mengambilkan makanan untuk Abi dan kedua anak umi juga sudah berada di sana.


Yuna dengan senang hati mengangguk. "Baik mi."


Ia bergegas menuju kamar Baim.


Sudah dua kali ia mengetuk pintu itu, namun tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya ia mencoba membuka knop pintu itu, ternyata Baim sedang mengganti bajunya sehabis pulang dari masjid tadi.


Yuna berteriak histeris saat melihat Baim bertelanjang dada.


Baim juga terkejut mendengar jeritan Yuna. "Astaghfirullah," ucapnya, lalu ia sembunyi di balik pintu dan segera menguncinya.


Yuna masi mematung di depan pintu kamar Baim. Rasanya apa yang ia lihat tadi benar-benar penampakan yang luar biasa. Tubuh tegap lelaki itu membuat jantungnya berdegup kencang.


"Mau apa kamu ke sini!" ketus Baim yang sudah membuka pintu kamarnya usai mengganti baju.


"Ma.. maaf bang. Una cuma di suruh Umi memanggil abang agar segera makan malam bersama," ucapnya terbata-bata karena tersadar dari lamunannya.


"Lain kali jangan pernah kamu buka pintu kamar orang sembarangan! Untung saya cuma membuka baju, jika saya tidak memakai busana sama sekali, bukan cuma kamu yang mendapat dosa, tapi saya juga, kerena tidak bisa menutup aurat saya di depan wanita yang tidak sepantasnya!" lanjut Baim dengan kesalnya.


Yuna tertunduk malu. "Iya maaf bang." Baim berlalu begitu saja tanpa mendengar jawaban Yuna terlebih dahulu.


"Lagi-lagi aku dicuekin," batin Yuna. Ia pun segera menyusul Baim yang sudah lebih dulu sampai ke meja makan.


"Lama sekali kamu Im, Abi sudah hampir selesai makan," tutur Abi sambil mengunyah makanannya yang tinggal sedikit lagi.


"Iya bi, tadi Baim sakit perut, jadi pulang dari masjid Baim buru-buru ke kamar mandi dulu, makanya lama." Baim sudah duduk dan mengambil nasi beserta lauk yang ia letakkan di atas piringnya untuk segera ia santap.


Yuna sudah menyusul Baim dan duduk di sebelahnya. Baim seketika menghentikan tangannya yang hampir memasukkan sesendok nasi ke mulutnya. Bahkan ia mengangkat piring dan gelasnya lalu beranjak pergi dari sana.


"Kamu mau kemana Im?" tanya Umi.

__ADS_1


"Mau ke ruang tamu mi," jawabnya singkat.


"Kenapa tidak makan disini saja?" Umi sebenarnya tahu kenapa sikap Baim seperti ini, tapi ia mencoba menahan Baim agar tidak menyakiti perasaan Yuna.


"Baim mau makan sambil menonton televisi saja mi, sudah lama Baim tidak melihat berita di televisi," tutur Baim.


"Ya sudah.. jangan lupa ntar piring dan gelasnya di bawa ke dapur, agar tidak banyak semut di ruang tamu," perintah umi dan membiarkan Baim pergi.


"Oke mi.." sahutnya.


*****


"Ihhh.. itu punya adik kak....!" teriak Si bungsu meminta ikannya yang diambil Iva dari piring nya.


"Minta dikit aja pelit amat sih!" celetuk Iva.


Aini hanya menggelengkan kepala melihat kedua adiknya itu. Mereka memang paling sering bertengkar untuk hak-hak kecil. "Iva.. kembalikan ikan goreng si bungsu!" titah Aini.


"Tapi kak, Iva pingin yang digoreng, yang lainnya sudah diberi sambal semua sama ibu," rengek Iva.


"Iva.. kembalikan ikan adikmu!" kata ibu menengahi.


"Iya bu.." Iva kesal, karena semua membela si bungsu. Tapi ia juga merasa bersalah, karena memang ingin mengganggu adiknya saja.


Si bungsu menahan tawa melihat Iva di tegur Ibu dan kakaknya. "Rasain!" batinnya.


"Kak Iva, jangan suka gangguin adik ya," kata ayah yang dari tadi hanya diam saja. "Adik juga jangan pelit sama kakaknya, cuma karena ikan goreng saja jadi ribut begini di meja makan," sambung ayah.


"Ayah memang sosok yang luar biasa, selalu bisa memberi keputusan yang adil buat dua orang yang lagi berseteru," gumam Aini.


* *


Kini, Aini tengah merebahkan diri di kasur nya. Usai sholat isya tadi, ia merasa sangat mengantuk, namun matanya enggan terpejam. Pikirannya masih terpaut pada perkataan seorang wanita yang tidak dikenalnya, namun mengaku sebagai kekasih dari pria yang saat ini sedang dekat dengannya.


Aini mencoba melupakan semua perasaannya dengan membaca novel. Ternyata soal hati memang serumit ini, apapun yang dilakukannya tidak bisa menghilangkan beban pikirannya.


Kedua adik Aini nampak memasuki kamar setelah usai mengerjakan tugas sekolah mereka bersama ibu di ruang tamu tadi.


"Kakak belum jadi tidur? Bukannya tadi katanya sudah mengantuk?" tanya Iva saat melihat kakaknya memegang buku di tempat tidur.


"Iya dek, ngantuk nya ilang setelah berwudhu tadi," sahut Aini sedikit berbohong. Pasalnya ia memang mengantuk, tapi tidak bisa tidur juga.

__ADS_1


"Ohh..." balas Iva.


"Kak, bacain dongeng dong," pinta si bungsu.


"Ya sudah, sini bukunya biar kakak bacain," balas Aini.


Kedua adiknya sudah merebahkan tubuh mereka di kasur masing-masing. Iva tidur diatas dan Tia di bawah, karena tempat tidur mereka berbentuk tingkat untuk menghemat tempat, mengingat kamar mereka yang berukuran tidak terlalu besar.


Baru setengah dari buku cerita yang ia bacakan, namun kedua adiknya sudah tertidur pulas. Aini lalu menutup buku dan menyimpannya di rak buku. Ia juga memejamkan matanya, berharap bisa segera masuk ke alam mimpi. Namun tiap kali matanya terpejam, ingatannya kembali pada perkataan wanita yang menelponnya itu.


"Ya Allah.. apa yang harus ku lakukan? Perasaan ini menyiksaku," ucapnya lirih.


"Apa ini yang dinamakan cinta? Terasa sakit tapi tak berdarah."


.


.


.


.


.


tbc


____________


ayo.. kasi saran aini harus bagaimana??


🤔🤔🤔


vote


like


komen


♥️♥️


thank you😊🙏

__ADS_1


__ADS_2