Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Tak Sudi Lagi


__ADS_3

"Kak.. bangun kak.. uda sore, kakak belum sholat ashar," ucap Iva sambil menepuk pelan pipi kakaknya itu.


Aini menggeliat. "Iya dek." Ia mulai membuka matanya tetapi terasa sangat berat seakan ada beban yang menghalangi kelopak matanya untuk terbuka lebar.


"Mata kakak kenapa bengkak seperti itu?" tanya Iva yang keheranan. Pasalnya sebelum Aini tidur tadi, Iva sempat melihat kakaknya baik-baik saja, tapi mengapa setelah ia pulang bermain sebentar, kakaknya berubah seperi itu.


Aini diam sejenak, memikirkan kejadian yang dialaminya tadi sebelum ia tertidur pulas. "Ah, aku lupa mencuci muka dulu sebelum tidur, jadi mataku bengkak seperti ini," batinnya.


"Tidak apa, tadi kakak menonton film yang sedih, jadi kakak menangis dan langsung tidur, jadi mata kakak bengkak begini," tuturnya memberi alasan pada Iva.


"Lebay deh kakak, nonton film kok sampai nangis-nangis bombay begitu," ledek Iva.


"Biarin! weekk..." Aini menjulurkan lidahnya.


"Kakak cepat ke dapur gih! Ibu dari tadi ngomel terus karena tidak ada yang bantuin masak," adu Iva.


Aini menggelengkan kepalanya. "Ya adikla yang membantu ibu kalau kakak tidak ada."


"Adik mau main dulu kak.. lagian tangan Iva panas kalau di suruh ibu petik cabai, Iva jadi malas," ucapnya dengan memelas.


"Alasan saja kamu! Uda pinggir sana, kakak mau ke ke kamar mandi mengambil wudhu terus sholat," kata Aini yang hendak menuruni ranjang nya tetapi terhalang Iva di sampingnya.


"Iya.. Iya.. aku juga mau main lagi. Da.. Da.. " kata Iva sambil melambaikan tangan.


**********


"Kak, nanti belikan ibu kelapa parut ya di warung depan," pinta ibu saat melihat Aini memasuki kamar mandi yang ada di dapur.


"Iya bu," sahutnya tanpa menoleh ke arah ibu.


"Untung ibu tidak melihat mataku, kalau tidak, bisa panjang ceritanya," batinnya.


Aini segera membersihkan diri di kamar mandi lalu melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik. Selepas itu ia pergi ke warung untuk membeli pesanan ibu.


Sekantong plastik kecil kelapa parut sudah berada di tangan Aini setelah ia membelinya di warung yang tak jauh dari rumah umi. Ia melihat kanan dan kiri berharap tidak bertemu dengan pria yang sudah memiliki kekasih itu.


Tiinn.. tiinn..

__ADS_1


Terlihat seorang pria mengendarai motor dan membunyikan klaksonnya saat berpapasan dengan Aini. Gadis itu tidak menoleh sama sekali, selain karena memang ingin menjauhi bang Baim, Aini juga malu jika terlihat matanya membengkak karena habis menangisi pria yang bukan siapa-siapa nya itu.


**


Bang Baim memarkirkan motornya di halaman rumah umi. Ia bertanya-tanya dalam pikirannya, mengapa gadis kecilnya tidak mau menatapnya? apa dia tidak tahu kalau Baim membunyikan klakson untuk sekedar menegurnya?


Pria itu segera memasuki rumah untuk mengambil handphonenya yang tadi di charge karena ingin menghubungi gadis kecil itu.


"Im.. kamu sudah pulang?" Terlihat umi sedang menata makanan di atas meja.


"Sudah mi.. baru saja." Baim langsung menuju kamarnya, karena tadi ia lihat Yuna masih ada di sana bersama umi.


Baim menggeser tombol hijau saat didapati nama gadis kecil pada layar handphonenya. Dua kali sudah Baim melakukan panggilan itu, namun tidak diangkat. Saat panggilan ketiga, panggilannya ditolak.


"Ada apa ya? Nggak biasanya Aini menolak panggilanku," batinnya.


Baim mencoba melakukan panggilan keempat tapi ternyata nomornya malah tidak aktif. "Hmm.. mungkin dia sedang sibuk, jadi tidak mau diganggu," pikirnya lagi.


Di rumah Aini


"Kakak tolong peras sekalian ya kelapanya, ibu perlu santannya untuk memasak," titah ibu. Ibu Ema tampak sibuk dengan alat penggiling bumbu di tangannya, hingga sampai sekarang ia tak sadar kalau kedua mata anak sulungnya itu membengkak.


"Iya bu.." jawab Aini sambil mengambil mangkuk untuk tempat santannya nanti. Aini mulai memeras kelapa itu hingga menghasilkan santan seperti yang di pinta ibunya.


"Ini bu santannya." Aini hendak memberikan mangkuk yang berisi santan kepada ibu namun lebih dulu ibu menyuruhnya untuk meletakkan saja di atas meja.


"Sudah tidak ada lagi yang perlu kakak bantu kan bu? kakak mau ke kamar dulu ya," ucapnya.


"Iya.. Sudah.." jawab ibu.


"Oh ibu lupa, tolong bangunkan si bungsu lalu suruh dia mandi ya," sambung ibu lagi.


Aini menganggukkan kepala. "Iya bu." Ia pun segera menuju kamarnya. Saat sampai di kamar, ia mendengar dering handphonenya yang berada di atas nakas. Tertera nama bang Baim di sana, ia langsung menggeser tombol merah untuk mengakhiri panggilan itu. Setelah itu ia memeriksa handphonenya dan ternyata sudah ada dua kali panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, siapa lagi kalau bukan bang Baim.


"Pasti dia akan menelpon kembali," gumamnya. Aini pun sengaja menon-aktifkan handphone itu agar Baim tidak terus-terusan menghubunginya.


"Dek.. bangun.. Sudah sore, ayo mandi!" Aini membangunkan si bungsu yang tertidur di kamar mereka. Tidak ada sahutan dari si bungsu, bahkan ia seperti tidak mendengar sesuatu.

__ADS_1


Aini menjepit hidung adiknya dengan kedua jarinya. "Dek.. bangun!"


Si bungsu gelagapan karena sulit bernafas. "Kakak.. mengganggu saja!"


"Sudah sore.. cepat bangun dan mandi! Adik mau kalau ibu nanti ngomel nggak berhenti-berhenti?" tanya Aini.


"Nggak mau kak," jawab si bungsu lirih. Si bungsu langsung bergegas ke kamar mandi. Ibunya memang sering mengomel jika perintahnya tidak segera dituruti. Namun bukan itu yang menjadi masalah, akan tetapi omelan ibu yang tadinya membahas satu persoalan akan merembet ke masalah-masalah lain dan menjadi tak berujung sampai ibu lelah sendiri jika sudah memulai aksinya.


Sementara itu, Baim yang baru saja meletakkan handphonenya di atas nakas segera ke luar kamar karena hendak mandi pula. Lagi, ia melihat wanita yang pernah membuat hatinya terluka begitu dalam.


"Apa dia tidak punya malu hingga terus menerus datang kemari? Apa sebenarnya yang diharapkannya dariku, apa dia ingin kembali? cihh, jangan harap!" batin Baim.


Yuna tersenyum saat kedua bola matanya bertatapan dengan kedua bola mata Baim. Namun Baim tak menghiraukannya dan berlalu pergi ke kamar mandi.


"Apa sehina itu aku di matamu bang? Hingga melihatku saja rasanya dirimu sudah tak sudi lagi?" Yuna bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


.


.


.


.


.


tbc


_________


jan cuma di baca doang


di like juga dong


votenya mana


♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2