Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Berkunjung ke Rumah Umi


__ADS_3

Sore ini begitu cerah, secerah hati dan pikiran seorang gadis kecil yang tengah bersiap-siap menuju rumah seorang pria yang sering mengacaukan pikirannya.


"Kak, mau kemana?" tanya Iva yang melihat kakaknya sudah rapi dengan kaos belang berwarna merah muda dan putih serta hijab yang senada dengan kaos itu dan dipadukan rok yang berwarna hitam.


"Mau ke rumah umi," sahutnya sambil memoleskan bedak bayi di wajahnya. Aini memang tidak suka berdandan, bahkan ia tak memiliki semua peralatan make up, hanya mempunyai bedak bayi sebagai andalannya jika ingin berias. Sesekali jika ada acara, baru ia memakai lipstik punya ibunya.


"Oh.. Ada perlu apa?" tanya Iva penasaran.


"Tidak ada.. hanya bersilaturahmi saja." Aini mengambil handphone di atas nakas dan pergi meninggalkan Iva di kamar.


"Bu, mana masakan yang mau di bawa ke rumah umi?" tanya Aini yang sudah berada di dapur. Ya, hari ini dia mau berkunjung ke rumah umi, seperti yang dikatakan Baim semalam, kalau umi kangen terhadapnya. Jadi ia berinisiatif datang dan membawa masakan ibu Ema sebagai buah tangannya. Dulu memang Aini sangat sering ke rumah umi, karena gadis itu merupakan murid umi yang belajar mengaji di rumahnya. Wajar saja pikirnya kalau Baim semalam bilang bahwa umi kangen dengannya, walau Aini yakini itu hanya akal-akalan Baim saja.


"Ini, uda ibu siapkan. Jangan lama-lama di sana ya kak, tahu sendiri di rumah umi kan banyak anak lelaki, tidak baik kamu berlama-lama dengan lawan jenis yang bukan muhrim dalam satu atap, walau di sana ada orangtuanya," tutur ibu mengingatkan.


"Iya bu.. Siap mengantar makanan ini kakak langsung pulang," ucapnya dengan suara rendah.


"Bukan begitu maksud ibu, tidak masalah jika kakak mengobrol dengan Umi sebentar, tapi harus ingat waktu," kata ibu lagi.


Aini mencium tangan ibu. "Ya sudah bu, kakak pergi dulu, assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam..."


*********


"Aini mana ya? kok lama sekali?" gumam Baim. Kini Baim berada di teras rumah umi. Dari tadi ia mondar-mandir tak jelas karena menunggu gadis kecil itu yang katanya akan datang sore ini.


"Im.. kamu ngapain mondar-mandir terus?" tanya umi yang melintasinya.


"Oh, Baim lupa kasih tahu umi. Nanti Aini akan datang, tapi semalam Baim bilang kalau umi kangen sama dia. Jadi kalau dia nanti bertanya, umi bilang saja kalau umi memang kangen ya?" pintanya.


"Kamu ya Im, memang paling bisa. Jadi kamu suruh umi berbohong?"


"Eh, bukan begitu mi. Baim kan malu kalau dia tanya ke umi tenyata Baim yang ketahuan bohong," jawabnya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baiklah.. umi memang sedikit kangen dengannya, karena biasanya dia selalu datang ke sini untuk mengaji, tetapi semenjak pengajian di alihkan ke masjid, ia jadi jarang ke sini, bahkan hampir tidak pernah, ujar umi.


"Tu kan, Baim nggak salah dong bilang ke dia kalau umi kangen," kata Baim cengengesan.


"Ya sudah, kalau begitu tolong bantu umi buangkan sampah ini ke depan," kata umi lagi sambil menyodorkan tempat sampah kecil di tangannya.


"Yaahhh.. umi.. masak Baim uda wangi dan ganteng gini di suruh buang sampah sih! Kan nanti berkurang kegantengan Baim," jawabnya dengan wajah cemberut.


"Nggak ada hubungannya Baim, antara buang sampah dengan berkurangnya kegantengan kamu. Kalau memang ganteng ya ganteng aja. Tukang sampah sekali pun kalau memang ganteng ya orang bisa nilai juga begitu. Kamu tu ya, semenjak kenal Aini kok jadi lebay gini," kata umi keheranan.


"Assalamu'alaikum..." Terlihat Aini membuka pagar kecil rumah umi.


"Wa'alaikumsalam.." jawab Umi dan Baim berbarengan.

__ADS_1


Umi yang tadi belum berhasil menyuruh Baim membuang sampah langsung menyerahkan tong kecil itu ke tangan Baim. Pria itu pun terkejut dengan perlakuan umi yang tiba-tiba. Tapi ia paham harus berbuat apa, jadi ia turuti saja perintah umi.


"Sini masuk Ni.." ucap Umi yang melihat Aini berjalan menuju teras rumahnya.


Aini tersenyum melihat Baim yang melintasinya membawa tong sampah kecil di tangannya. "Iya mi."


"Bentar ya dek," ucap Baim lirih saat berpapasan dengan Aini dan hanya diangguki gadis kecil itu.


"Aini, ayo duduk, umi buatkan minum dulu ya," kata umi yang mempersilahkan gadis itu duduk di kursi terasnya.


"Iya mi.. tidak perlu repot-repot. Aini ke sini hanya sebentar dan ini..," Aini menyerahkan buah tangannya yang sudah di bawanya dari rumah tadi.


Umi menyahutinya. "Apa ini?"


"Itu masakan ibu. Tadi ibu menyuruh Aini membawa gule daun ubi(singkong) untuk umi," jelasnya.


"Alhamdulillah.. terima kasih nak.. tahu aja kalau ini kesukaan si Baim," ucap Umi lirih dan hampir tak terdengar.


Aini yang mendengar samar-samar kembali bertanya. "Umi bilang apa?"


"Tidak.. umi hanya bilang akan masuk ke dalam untuk membuat minum," balas umi sambil tersenyum.


"Baiklah, kamu tunggu di sini dulu, sebentar lagi Baim pasti datang, tadi umi suruh dia buang sampah di pembuangan yang ada di depan."


"Iya mi.." Umi pun pergi meninggalkan Aini sendiri di teras depan karena ia mau membuatkan minuman untuk tamu sekaligus muridnya itu.


Tak lama Baim sudah terlihat membuka pagar rumah Umi. "Maaf menunggu lama ya dek."


"Bawa apa tadi dek?" tanya pria itu basa-basi.


"Gule daun ubi," ucapnya sambil melihat ke sembarang arah.


"Tau aja makanan kesukaan calonnya," sahut Baim asal.


"Apa?" Aini takut salah dengar, jadi ia bertanya kembali perihal ucapan Baim barusan.


"Emangnya apa?" tanya Baim kembali. Ia tidak sadar mengucapkan apa barusan.


"Calon apa maksudnya?" ucap Aini memperjelas maksud pertanyaannya.


"Aduh.. mati aku.. mau jawab apaan nih?" gumam Baim.


"Eee.. itu.. maksudnya..."


"Diminum dulu Aini, ini Umi buatkan es jeruk kesukaanmu." Umi baru saja tiba dari dapur membawakan segelas minuman kesukaan gadis itu.


Baim menghela nafas pelan. "Hussshh.. selamat... umi memang selalu ada di saat yang tepat," batinnya.

__ADS_1


"Iya, terimakasih mi.." sahut Aini.


"Ngobrolnya sama Baim dulu ya Aini, umi belum siap masak, nanti gosong pula kalo umi tinggal," pamit umi ingin masuk.


"Umi lagi masak? Biar Aini bantu ya," pintanya.


"Eh.. tidak usah.. sudah hampir selesai," tolak umi.


"Kamu sama Baim aja dulu disini, lagian Baim lagi nggak sibuk, jadi bisa menemanimu mengobrol sambil menunggu umi selesai masak."


"Baiklah kalau umi menolak," jawabnya datar.


"Kalau begitu, lanjutkan obrolan kalian, umi masuk dulu ya."


Selepas kepergian umi, dua orang yang sedang duduk di teras itu mendadak bisu. Tidak ada terdengar sepatah katapun dari mulut mereka, bahkan suara nyamuk atau sekedar dentingan jam dinding juga tidak ada. Sepi.. Hening...


"Adek naik apa kemari?" Akhirnya Baim memecah keheningan diantara mereka.


"Ya jalan kaki la, biasa kan juga begitu, emangnya pernah Aini naik kendaraan selain angkot?" jawabnya sedikit kesal.


"Tu kan, salah lagi aku.. selalu begitu.. padahal niatnya basa-basi biar nggak canggung, eh malah kena semprot. Untung sayang," batin pria itu.


"Eh, iya.. maksud abang siapa tau adek naik sepeda, atau naik motor. Kan di rumah juga ada kendaraan itu," sahut Baim.


"Kalau naik kendaraan sudah pasti di bawa masuk ke halaman rumah bang, ini kan tidak ada," celetuknya lagi.


"Hmm.. salah aja aku terus," batinnya.


"Dek, bapak mu tukang jual mie level ya?"


"Enggak kok," jawab Aini polos. Padahal maksud Baim pengen ngegombal, tapi si dia malah nggak peka.


.


.


.


.


.


tbc


__________


susah ya kalo cewe yang gak peka?😄

__ADS_1


mana vote nya??


eh.. mana suaranya...☝️☝️😄


__ADS_2