Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Dia Cemburu?


__ADS_3

"Cepat jelaskan! Jangan diam saja!" paksa Sara pada mereka.


"I.. Iya.. sabar sedikit," ucap Mia terbata-bata.


Mia menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. "Aini, sebenarnya yang mengunci kau di toilet kemarin itu kami," ucapnya dengan tertunduk.


"I.. Iya.. Maafin kami ya," timpal Nila.


Aini sedikit terkejut dengan pengakuan mereka. "Apa alasan kalian mengunciku? Bukannya kita teman sekelas, dan tidak pernah punya masalah?"


Nila menyenggol lengan Mia dan sedikit berbisik hingga tidak terdengar oleh Aini dan Sara. "Jawab!" bentak Sara karena mereka belum juga mengungkapkan alasannya.


"Mia yang suruh, dia katanya sebel sama Aini," sahut Nila.


Mereka kini bergantian menatap Mia. "Ada masalah apa kamu sama sahabatku ini?" tanya Sara tidak sabar.


Mia belum juga mau menjawab, membuat Sara sedikit geram. "Ya sudah, kita aduin saja sama guru BK, biar dia mau ngaku."


"Jangan!" cegah Mia.


"Aku sebel karena Aini bisa dekat dengan Alfi," sambung Mia.


"Jadi kau cemburu?" tanya Aini dan tak habis pikir.


Sara tertawa lepas. "Kalau suka ya bilang aja, kenapa pakai cara licik untuk menjatuhkan lawan!" tukas Sara.


"Aku tidak punya hubungan apapun dengan Alfi, kita hanya sebatas ketua dan sekertaris doang. Maaf telah membuatmu cemburu," tutur Aini.


"Astaga Aini, kenapa kau yang minta maaf. Disini kau korbannya, dan mereka yang salah. Kau terlalu baik buat orang-orang seperti mereka!" gerutu Sara.


Mia yang merasa tak enak hati karena telah mengusik Aini meski dia tak bersalah langsung meminta maaf, disusul Nila berikutnya.


"Iya, aku maafin kalian, tapi janji untuk tidak berbuat ini lagi terhadap siapapun. Kalian mengerti?" ujar Aini.


"Satu lagi, kalau kalian masih berbuat seperti ini, maka aku akan laporkan pada guru BK!" ancam Sara.


"Iya, kami janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Mia yang masih berjabat tangan dengan Aini saat meminta maaf tadi.


* * *


Umi sedikit kesal menunggu Baim yang tidak kunjung datang. "Tadi katanya cuma bentar, tapi sudah setengah jam tidak juga kembali," gumam Umi.


Baim nampak ngos-ngosan karena tadi ia berjalan cepat bahkan seperti berlari untuk segera sampai ke tempat dimana Umi berbelanja. "Mi, maaf ya lama."

__ADS_1


"Kamu dari mana saja sih Im? Umi capek ini nunggu kamu," ucap Umi saat Baim tiba di depannya.


"Iya, Baim tadi jumpa bu Ema, karena dia banyak bawa barang, jadi Baim bantu angkatin dulu sampai depan," tutur Baim.


"Pantas saja lama, ternyata jumpa calon mertua," sindir Umi.


Wajah Baim mulai memerah menahan malu. "Umi apaan sih."


"Sudah buruan angkat ni belanjaan Umi!" titahnya.


"Siap bu boss!" sahut Baim cepat.


"Tadi ngobrolin apa saja dengan calon mertua Im?" tanya Umi setelah mereka menaiki motor.


"Apa? Baim nggak dengar mi," jawab Baim sedikit berteriak.


"Ya sudah, nanti di rumah saja ceritanya kalau tidak dengar!" Kemudian diangguki oleh baim.


10 menit kemudian, Baim dan umi sudah tiba di rumah. Pasar tempat mereka berbelanja memang tidak jauh, jadi mereka cepat sampai ke rumah. Apalagi ini bukan hari libur, jadi kalau jam-jam orang sudah berangkat kerja, jalanan agak sedikit lenggang.


"Tolong ini nanti dimasukin ke kulkas ya Im, Umi mau duduk sebentar karena kaki umi sudah mulai sakit," titah Umi yang sudah duduk di teras rumahnya.


"Oke mi," sahut Baim santai.


"Ini, diminum dulu mi." Baim menyerahkan gelas di tangannya yang berisi air putih ke Umi.


"Terima kasih Im," ucap Umi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Umi kenapa? Kok matanya berkaca-kaca seperti mau nangis gitu? Baim ada buat salah ya," ucap Baim sambil berlutut di depan umi.


Umi menggelengkan kepala. "Kamu tidak pernah salah Im, Umi hanya terharu saja dengan perlakuan kamu. Walaupun anak perempuan Umi satu-satunya tidak ada di sini, tapi kamu bisa menggantikan posisi itu. Disaat Umi mengharapkan bisa berbelanja bareng anak perempuan Umi, tapi karena dia tidak ada jadilah kamu yang menggantikan. Di saat Umi mengharapkannya lagi untuk lebih memperhatikan kesehatan Umi dibandingkan anak lelaki, kamu juga bisa menggantikannya. Beruntungnya Omak mu punya anak seperti kamu. Anak lelaki Umi saja tidak sebaik dan seperhatian kamu Im." Butiran bening tidak mampu lagi bertahan di pelupuk mata Umi hingga kini jatuh membasahi pipinya yang sudah tak selembut dulu.


"Umi jangan bicara seperti itu, Baim jadi ikut sedih. Umi juga sudah Baim anggap seperti orangtua Baim sendiri, jadi jangan pernah menganggap Baim seperti orang lain. Kalau Baim salah, marahin saja Baim, kalau Baim benar jangan terlalu membanggakan Baim."


"Ah, sudah.. sudah.. kenapa kita jadi bersedih-sedih seperti ini. Ayo sini duduk," titah Umi menunjuk ke salah satu kursi di sebelahnya.


"Tadi kamu ngobrolin apa saja dengan calon mertua? Pasti seru, makanya lama!" goda Umi dan sekarang sudah mulai tersenyum.


Baim sudah mendudukkan diri di kursi sebelah Umi. "Tadi ibu Ema bercerita tentang Aini mi," sahutnya.


"Kenapa Aini?" tanya Umi heran.


"Jadi ternyata Yuna menelponnya dan mengatakan kalau Baim ini pacarnya!" ucap Baim dengan kesal.

__ADS_1


"Kapan dia menelpon Aini? Apa saat dia bertamu disini?"


"Iya mi, saat di sini. Lebih parahnya lagi, dia menelpon pakai handphone Baim!" ucap Baim semakin kesal.


Umi sedikit terkejut. "Kok bisa? Padahal setiap dia ke sini kan selalu Umi pantau, tapi kenapa bisa Umi kecolongan seperti ini?"


"Ya Baim juga tidak tahu mi, yang Baim tidak habis pikir, kapan dia bisa ambil handphone Baim? Kalau Baim tidak salah ingat, Baim kan selalu meletakkan handphone di kamar kalau tidak membawanya," ujar Baim sambil terus berpikir.


"Umi juga tidak pernah melihat Yuna masuk ke kamar kamu Im," balas Umi.


"Astaghfirullah, Umi ingat sekarang," sambungnya lagi.


"Ingat apa mi?" tanya Baim penasaran.


"Hari tu pernah Yuna mau pinjam charger, lalu Umi beritahu dia kalau charger ada di dekat ruang sholat, dan kalau Umi tidak salah, disitu kamu juga sedang mengisi baterai handphonemu dan meninggalkannya untuk pergi mengajar privat kan?" tanya Umi memastikan.


"Iya mi, Baim juga ingat. Memang Baim saat itu meninggalkan handphone di dekat ruang sholat. Pantas saja dia bisa menelpon Aini. Tapi, dari mana dia bisa tau nomor Aini ya? Baim tidak membuat nama itu di kontak Baim," ucapnya lagi.


"Ya, namanya juga penasaran, bisa saja dia melihat satu per satu kontak yang ada di handphone kamu, dan menemukan nama yang menurutnya asing dan perlu untuk di ketahuinya lebih lanjut."


"Iya juga sih mi, memang Baim membuat nama Aini lain dari nama-nama kontak yang lain," balasnya sambil mengangguk.


Umi menepuk pelan pundak Baim."Ya sudah, yang terjadi jangan di sesali. Lebih baik kamu cari cara lagi agar Aini bisa memaafkanmu. Bukannya dengan dia mendiamkanmu begini itu artinya dia cemburu? Berarti dia juga ada rasa sama kamu."


Baim mengernyit. "Jadi menurut Umi dia cemburu?" tanya Baim memastikan.


"Ya kamu pikir saja sendiri." Umi sudah bangkit hendak masuk ke dalam rumah.


.


.


.


.


.


tbc


______________


Tak bosan2 nya saya ingetin untuk Like, Subscribe dan klik gambar lonceng.

__ADS_1


Halu ni author, emangnya chanel youtube apa!😄😄🙏


__ADS_2