
Senjata paling ampuh di muka bumi ini ialah DOA. Tidak ada yang bisa menandingi kehebatannya. Bahkan takdir yang sudah Allah tentukan dapat berubah dengan adanya doa. Jika saat ini doamu belum terkabul jangan salahkan Tuhan, tapi coba instropeksi diri mungkin ada yang salah dari caramu beribadah kepada Tuhan, sebab Tuhan sudah berjanji akan mengabulkan setiap doa hamba-Nya. (Lisda_A)
》》》》》》》》☆☆☆☆☆《《《《《《《《《
Medan, Juli 2010
Hari ini adalah hari pertama Aini resmi menjadi siswi di sekolah MAN bersama dengan Sara. Di sekolah ini babak baru akan di mulai. Pagi ini sangat ramai, tidak seperti di sekolah Aini sebelumnya. Tentu ini hal yang lumrah, mengingat sekolahnya yang sekarang memiliki jumlah murid dua kali lipat lebih banyak dari yang sebelumnya. Pagi ini juga bukan hanya terlihat murid yang memenuhi lingkungan sekolah, tetapi para orangtua juga ikut andil di dalamnya. Hari pertama ini sepertinya membuat orangtua juga ingin mengetahui lingkungan sekolah baru buat anak-anak mereka yang akan menimba ilmu di tempat ini beberapa tahun ke depan, terkhusus murid kelas sepuluh.
"Aini masuk dulu ya yah," pamit Aini pada Ayah yang mengantarnya pagi ini. Ayah Broto sangat senang karena Aini bisa lulus di sekolah yang cukup populer di kota ini. Rasanya lelah ia bekerja selama ini untuk menyekolahkan anaknya terbayar sudah dengan hanya melihat sang anak bisa melanjutkan pendidikannya di sekolah keagamaan dengan harapan anaknya senantiasa menjadi pribadi yang bertaqwa.
"Iya nak, belajar yang bagus," ucap ayah dengan petuah.
"Siap ayah!" tegas Aini, lalu ia segera masuk ke dalam sekolah menuju lapangan.
Seperti biasa di setiap tahun ajaran baru, maka sekolah-sekolah akan mengadakan yang namanya MPLS bagi setiap murid baru di hari pertama mereka berada di lingkungan sekolah. Masa pengenalan lingkungan sekolah, begitulah kepanjangannya. Hari dimana para murid akan di bimbing oleh kakak senior atau biasa di sebut kakak osis untuk lebih mengenal lingkungan sekolah yang baru.
"Ramai sekali," gumam Aini. "Gimana aku bisa mencari Sara diantara kerumunan orang seperti itu," batinnya. Gadis itu terus melangkahkan kaki menuju lapangan yang sudah dipenuhi murid baru di sana, berharap bisa bertemu Sara karena dia satu-satunya orang yang saat ini ia kenal di sekolah barunya.
"Aini..." sapa seseorang dibelakang Aini sambil menepuk bahunya. Aini menoleh ke belakang, ia berharap itu Sara, namun ternyata tak sesuai dengan harapannya.
"Fani? Ini benar Fani 'kan?" tanya Aini kaget. Ia tidak menyangka akan bertemu teman semasa SD nya di sekolah ini.
"Iya, ini Fani, masak kau lupa!" sahutnya.
"Tidak menyangka kita bertemu kembali, bagaimana kabar mu?" tanya Aini sambil mengajak Fani berjalan menuju lapangan.
"Alhamdulillah seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja," sahut Fani. "Eh, kenalin ini teman aku di SMP dulu, namanya Rika."
"Hai, aku Aini," ucapnya memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangan kanannya ke arah Rika.
Rika membalas uluran tangan Aini. "Aku Rika."
"Kau sendiri saja Ni?" tanya Fani. Sekarang mereka sudah ikut berbaris di lapangan dengan murid baru lainnya.
__ADS_1
"Tidak, aku bersama Sara. Tapi dari tadi aku belum bertemu dengannya," jawab Aini. Fani tentu mengenal Sara, karena mereka dulu sekolah di SD yang sama, bahkan Fani itu kawan akrab Sara sewaktu SD.
"Sara sekolah di sini juga?" tanya Fani antusias. Aini hanya mengangguk sekilas sambil melihat ke sembarang arah mencari keberadaan Sara diantara kerumunan murid lainnya. "Senang sekali bisa bertemu kalian lagi," lanjut Fani dengan tersenyum simpul.
Aini menarik sedikit ujung bibirnya hingga membentuk sedikit lengkungan. "Iya, aku pun demikian," sahutnya.
Sembari Aini mencari-cari keberadaan Sara, dari arah depan terdengar suara kakak osis sedang memberi arahan. Mereka akan membacakan pembagian kelas untuk siswa baru yang saat ini sedang berkumpul di lapangan.
Selang beberapa waktu, akhirnya nama Aini di panggil oleh kakak osis dan setelahnya nama Rika. Akhirnya Aini berjalan berdampingan dengan Rika memasuki kelas yang telah ditetapkan oleh kakak osis tadi.
Di dalam kelas, ternyata tempat duduk sudah dipenuhi dengan siswa/siswi yang mendudukinya, hanya tinggal dua kursi dan meja yang bersebelahan saja yang tersisa di bagian paling depan. Tentu itu menjadi tempat duduk Aini dan Rika yang memang terakhir masuk ke dalam kelas. Aini dan Rika saling mengobrol sambil menunggu kakak osis datang ke kelas mereka. Keakraban diantara mereka pun terjadi, walau ini kali pertama mereka bertemu.
*
Kantin, di sini mereka berada saat ini. Usai melakukan perkenalan dengan teman sekelas mereka tadi dengan kakak osis, bel istirahat pun berbunyi. Sebelumnya Aini sudah mendapat pesan dari Sara kalau mereka akan bertemu di kantin, makanya mereka berkumpul di tempat ini sekarang.
Sara yang sudah lebih dulu di sana tampak duduk bersebelahan dengan Fani, karena tadi Rika juga sudah mengirim pesan dengan Fani agar dia juga ke kantin saat istirahat.
"Kau tadi baris dimana sih?" tanya Aini di sela-sela ngobrolnya Sara dan Fani yang sedang melepas rindu.
"Pantas saja kau lupa denganku!" ledek Aini dengan berpura-pura kesal.
"Mana mungkin aku lupa, aku juga sudah lihat ke sana kemari tapi tidak melihat kau," jelas Sara.
"Eh, tunggu.. tunggu..! Tadi kau bilang kakak osis ganteng? Bukannya yang paling ganteng di matamu hanya Amar?" ledek Aini lagi.
"Iya sih, tapi dulu! Sekarang sudah tidak lagi!"
Aini mengernyit heran. "Mengapa?" Kau lagi ribut sama Amar?" tanya Aini.
"Bukan ribut lagi, tapi PUTUS!" tegas Sara di ujung kalimatnya. Fani dan Rika hanya menyimak saja percakapan kedua orang yang duduk berseberangan itu, karena mereka memang tidak tahu menahu masalah Sara dengan pacarnya.
Aini terlonjak kaget. "Apa? Putus?"
__ADS_1
Sara hanya mengangguk pelan sambil satu tangannya mengaduk-aduk minuman di hadapannya. "Kau dengan Bagas bagaimana? Kalian baik-baik saja 'kan? Aku harap hubungan kalian selalu baik, kali aja kalian jodoh sampai pelaminan."
"Baru juga masuk Aliyah, sudah mikirin kawin!" celetuk Fani. "Kau dari dulu emang nggak berubah ya Ra, kalau berkicau tidak dipikir dulu!" lanjut Fani dengan memukul lengan Sara pelan.
"Enak saja kalau bicara! Emang aku burung, bisa berkicau!" sangkal Sara dan gantian memukul lengan Fani. Aini dan Rika yang melihatnya hanya tersenyum kecil.
"Apa sebab kalian putus?" selidik Aini.
"Kesal aku tuh Sama Amar, sibuk main futsal terus. Aku jadi diangguri, jarang di telepon, bahkan hanya sekedar bertanya kabar saja sudah hampir tidak pernah," terang Sara.
Aini ber Oh ria mendengar penjelasan Sara. "Sudah berapa lama hubungan kalian?" Kali ini Fani ikut bertanya pada Sara.
"Kurang lebih dua tahun 'lah," sahut Sara.
"Wow, lama juga ya," sambung Rika.
"Asal kalian tahu, Sara dan pacarnya itu orang yang paling bucin satu sekolahan," ledek Aini.
"Aduh," teriak Aini saat Sara menendang kakinya dari kolong meja. Sepertinya Sara tidak terima di ledek Aini begitu.
"Sudah cukup kalian menjatuhkan ku hari ini! Lebih baik aku pergi saja!" ancam Sara.
Lagi, Aini dan dua teman lainnya tertawa melihat acting Sara yang berpura-pura ngambek. "Jangan pergi kawan!" cegah Aini yang ikut melakukan acting.
"Tolong jangan tahan aku! Biarkan aku pergi dari sini!" lanjut Sara.
"Baiklah jika kau memaksa, tapi bayar dulu es mangga yang sudah kau minum!" sindir Aini masih dengan aktingnya. Fani dan Rika yang menyaksikan drama singkat mereka tak hentinya tertawa, bahkan Fani heran sejak kapan Aini jadi pribadi yang suka bercanda seperti Sara, karena dari dulu Aini terkenal sangat pendiam.
.
.
.
__ADS_1
.
.