Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Nikah Muda?


__ADS_3

Libur telah tiba.. Libur telah tiba.. hore.. hore.. hore..


Itu sebait lirik lagu yang dinyanyikan Aini di hari libur nya ini. Tak banyak yang dilakukannya hari ini, hanya menemani ibu ke pasar dan membantunya memasak, tak lupa ia mencuci sepatunya yang sudah sangat bau seperti bau terasi.


"Ah.. lelah juga berjalan mengelilingi pasar bersama ibu tadi.." kata Aini yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Kak, ajarin aku PR yang ini dong." Si bungsu menyodorkan buku PR nya.


"Isshh.. ntar malem aja lah dek, kakak capek ni.. mau istirahat dulu.." tolaknya kepada si bungsu.


Tia menarik bukunya kembali. "Ya uda deh, minta ajarin kak Iva aja," katanya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Bagus deh.. pergi sana.. hushh.. hushh.. " usirnya, seperti mengusir kucing.


"Emangnya adek kucing apa, pake di usir-usir segala.. awas ntar adek bilangin ibu baru tahu!" Dia pergi meninggalkan Aini sendiri di kamar dan mencari Iva untuk membantunya mengerjakan PR.


Ting.. ting..


Dering hp Aini yang berada di atas nakas membuatnya bangun dan membatalkan acara tidurnya lagi. "Siapa sih?" gumamnya.


Gadis itu langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan masuk.


Bang Baim: Assalamu'alaikum dek


Aini: Wa'alaikumsalam


Baim: Lagi apa dek?


Aini: Lagi teleponan sama abang la.. gimana sih


Baim: Oh iya juga ya.. uda makan siang belum?


Aini: kalau belum emang napa?


Baim: Kalo belum ya biar abang belikkan nasi padang


Aini: Eh, nggak usah.. uda makan kok


Baim: Tunggu ntar lagi abang datang


Aini: Beneran nggak perlu bang, Aini uda makan


Baim: Oke.. Assalamu'alaikum...


"Aduh.. mati aku.. Nggak bisa di ajak bercanda ni orang," gumam Aini.


Usai menelpon Aini, pria itu segera pergi membeli nasi padang. Sebenarnya ia tadi ingin tidur juga, tapi karena pikirannya lagi kacau karena kedatangan Yuna, membuatnya teringat gadis kecil ini. Mungkin dengan menelpon gadis kecilnya, ia bisa lebih tenang. Ternyata benar, setelah ia menelponnya hatinya serasa berbunga-bunga. Apalagi ia sekarang akan ke rumah gadis itu untuk membawakan makanan, yang sebenarnya itu hanya akal-akalan dia saja untuk mencari alasan bisa bertemu gadis kecilnya. Padahal gadis itu tadi menolak, tapi ia tidak menghiraukannya.


Lima belas menit kemudian Baim telah sampai di depan rumah Aini. Kini dia mengucap salam sambil mengetuk pintu rumahnya yang nampak tertutup.


"Iya.. sebentar.." sahut Iva yang mendengar ada orang mengetuk pintu.


"Eh.. ada bapak.. mau cari kak Aini ya?" tanyanya setelah membuka pintu dan mendapati Baim berdiri di balik pintu itu.


"Iya dek, kak Aini nya ada kan?" Baim bertanya seolah tidak tahu, padahal jelas-jelas Aini di rumah karena ia baru menelponnya beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


"Ada.. bentar ya pak.. biar Iva panggilkan.."


"Iya dek.." Baim kemudian duduk di teras rumah gadis kecil itu sambil menunggunya keluar.


Aini sudah keluar kamar dan menenemui Baim di teras rumahnya.


"Ada apa bang?"


"Eh, ini dek abang bawain nasi padangnya.." ucap Baim sambil memberikan sebungkus nasi padang.


"Aduh.. kan tadi Aini bilang nggak usah.. kok malah jadi di beliin sih?"


"Nggak baik lho dek nolak rezeki.." kata Baim membujuk Aini.


"Ya uda.. Aini terima.. makasi ya bang"


"Dari pada ntar lama, mending diterima aja," batin Aini.


"Hmm.. adek nggak niat makan nasi sekarang ya?" tanya Baim ragu-ragu.


"Kenapa rupanya bang?" balas Aini keheranan.


"Ya, kalau mau dimakan sekarang, abang boleh nggak ikutan makan di sini? Soalnya di rumah semua orang pada tidur siang, jadi abang malas kalau makan sendiri." Baim mulai mencari alasan agar bisa makan berdua dengan gadis itu.


"Aduh.. gimana ya.. Sebenarnya Aini kan uda makan.." katanya, lalu ia teringat ada Iva dan Tia yang lagi mengerjakan tugas di ruang tamu.


"Oh, bentar bang tunggu sini dulu," ucapnya sambil masuk ke dalam rumah.


"Dek, uda pada makan belum? Kakak ada nasi padang ni.." tutur Aini kepada kedua adiknya yang lagi fokus pada buku pelajaran mereka.


"Ya uda, ayoo ke depan, kita makan bareng.." Aini pergi ke dapur mengambil peralatan makan dan langsung menuju teras depan.


Bang Baim sudah menunggu bersama Iva dan Tia di teras depan.


"Ini, Aini bawain piring untuk abang," kata Aini yang memberikan piring kepada pria itu.


"Makasih dek.., ayoo Iva, Tia kita makan bersama."


"Nggak apa-apa deh makan bareng adek-adeknya juga, yang penting tetap bisa lihat gadis kecilku," batin Baim sambil tersenyum.


"Bang.. ayoo dimakan.. tadi katanya mau makan, kok sekarang malah senyum-senyum," tegur Aini kepada pria itu.


"Iya.. ayoo kita makan.." sahut Baim kembali.


Siang itu mereka menikmati makan bersama. Tak jarang Baim curi-curi pandang melihat Aini yang tengah mengunyah makanannya.


Ayah dan Ibu Aini tidak terlihat siang itu. Mungkin mereka tengah tidur siang di kamarnya.


*********


"Kak, kata adek-adek tadi siang Baim datang kemari ya?" tanya Ayah Broto kepada anak sulungnya itu.


Kini mereka tengah duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Aini nampak memegang buku pelajarannya mungkin hanya untuk sekedar mengulang pelajaran.


"Iya yah.." sahutnya singkat.

__ADS_1


"Mau apa dia kemari?" tanya ayah penuh selidik.


"Mau ngantar nasi padang aja yah, kebetulan dia beli dua katanya, karena di rumah umi pada tidur, jadi dia bawa kemari biar makan bersama," jelas Aini ke ayahnya.


"Oh, jangan sering-sering.. nggak baik dilihat tetangga.. anak gadis kok sering didatangi cowok.. emang kakak mau ayah nikah kan muda?" Ayah bertanya ingin tahu jawaban Aini.


"Eh, nggak la yah, kakak juga masi SMP, masak uda di suruh nikah." Aini menepuk dahinya.


"Makanya, kalau belum siap nikah muda, jangan dekat-dekat cowok dulu," sahut ibu menimpali.


"Tu kan.. aku jadi kena semprot ni gara-gara bang Baim, " batin gadis itu.


"Iya ayah, ibu.. Aini nggak pernah dekat-dekat kok.. cuma dia aja yang cari-cari kesempatan biar bisa jumpa kakak," jawab Aini yang sepertinya memang tahu modus bang Baim terhadapnya.


"Tapi kakak suka kan?" Iva ikutan nimbrung.


"Aishh.. anak kecil tahu apa," sahut Aini.


"Ya uda, lanjutkan belajarnya di kamar sana, biar lebih fokus," kata ibu menyuruh anak-anaknya pergi.


"Iya bu..." jawab mereka bertiga, karena memang dari tadi si bungsu hanya diam saja mendengar percakapan orangtua dan kedua kakaknya.


"Kak, emang kakak mau nikah ya sama pak Baim?" tanya si bungsu setelah mereka masuk ke kamar.


"Apaan sih nikah.. nikah.. siapa yang mau nikah dek?" celetuk Aini.


"Tadi adek dengar ayah bilang kakak mau nikah," tutur Tia kembali.


"Adek setuju kalo kakak sama pak Baim, dia baik kok orangnya, terus sering kasi adek coklat, lagi."


"Dasar bocah.. baru di suap coklat doang uda langsung berpihak ke orangnya." Aini menyentil dahi si bungsu yang berada di sebelahnya.


.


.


.


.


.


tbc


___________


vote


like


komen


♥️♥️♥️


😊😊🙏

__ADS_1


__ADS_2