Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Rapat 2


__ADS_3

"Maaf dek, ada kucing nyebrang tiba-tiba," balas supir angkot. Aini dan Sara ber Oh ria mendengar jawaban supir angkot itu.


"Ni... cerita la..." bujuk Sara menyambung pertanyaannya tadi ke Aini.


"Hmmm... bukan masalah yang terlalu penting.. cuma lagi kesel aja," sahut Aini yang udah mulai melunak dengan bujuk rayu Sara.


"Kesel ama siapa? bukan sama aku dong? secara aku kan orangnya ngangenin, nggak ngeselin," canda Sara mencoba menghibur Aini.


Aini mulai tersenyum. "Kau ingat bang Baim yang aku ceritain tempo hari?"


"Oh, jadi dia yang bikin sahabat aku ini kesel? awas ntar ketemu tak sentil dahinya," tawa Sara.


"Coba aja kalu berani.. emang kamu nggak takut nyentil orang yang lebih tua?" Aini sedikit membela bang Baim karena takut Sara melakukan apa yang dikatakannya, padahal tidak mungkin juga Sara melakukan itu. Secara Sara juga nggak kenal siapa bang Baim, mana mungkin bila bertemu dia nekat menyentil dahi nya. Hahaha


"Ciahhh... katanya kesel... tapi dibela juga," cibirnya kemudian.


"Emang dia berbuat apa sama mu? Kok jadi kesel gini?"


Aini menarik nafas dan membuangnya kasar. "Semalam dia kirim pesan katanya mau antar aku ke sekolah, tapi aku udah setengah jam nunggu di persimpangan dia nggak datang-datang, dari pada aku telat ya aku pergi aja naik angkot, tapi kan kesel uda nunggu lama."


"Ohhh... Itu masalahnya... kalau jadi kau ya aku juga kesel.. Eh, sebetulnya kau ada hubungan apa sih sama abang itu?" tanya Sara penasaran.


Belum juga Aini menjawab pertanyaan Sara lalu...


"Pinggir bang..." Aini menyuruh supir untuk berhenti karena mereka telah sampai di persimpangan jalan menuju rumah mereka.


Mereka turun dari angkot dan berjalan menuju rumah mereka yang berjarak sekitar satu kilo meter. Itu bukan perjalanan yang jauh untuk mereka karena sudah terbiasa. Lagian tidak ada juga kendaraan yang masuk ke sana, secara rumah mereka hanya gang-gang kecil walau berada di pinggir kota. Ada sih kenderaan yang masuk, namun harus dipesan secara online, ya seperti di aplikasi-aplikasi handphone pintar sekarang lah, ojek online gitu namanya..


**********


Aini tengah bersiap-siap mengenakan hijabnya. Tadi sore dia dapat pesan dari bang Baim kalau malam ini ada rapat lagi. Jadi selesai sholat isya dia segera berganti pakaian hendak menuju rumah umi.


"Kakak mau ke mana?" tanya si bungsu.


"Mau ada rapat remaja masjid dek," sembari merapikan hijabnya yang dirasa masi belum pas.


"Rapat itu apa kak? Kayak pintu itu ya, tertutup rapat?" tanya si bungsu dengan polosnya.


Aini menghampiri adik bungsunya dan mencubit gemas pipinya. "Bukan rapat yang keg gitu dek... rapat kakak ini maksudnya berdiskusi/berbincang-bincang membicarakan lomba yang mau diadakan beberapa hari lagi itu lhoo... adek ntar mau ikut lomba apa?"

__ADS_1


"Ohhh.. Itu ya kak.. adek mau ikut lomba busana muslim sama apa ya...?" si bungsu tampak berpikir keras.


"Ikut lomba baca ayat pendek aja dek," Aini memberi saran.


"Suratnya gampang kok, yang sering adek hapalin," sambungnya lagi.


"Ya.. terserah kakak aja deh.. adek ikut-ikut aja.. tapi ntar menangin adek ya kak? kakak kan panitianya.." sambil memainkan alisnya beberapa kali untuk merayu kakaknya.


"Ya ampuunn.." batinnya. Aini tak habis pikir dengan si bungsu, apa segini rusaknya citra orang-orang di negerinya, sampai anak sekecil adek nya itu tahu kalau banyak kecurangan-kecurangan yang sering dilakukan oleh orang-orang yang yang berkuasa untuk memenangkan yang seharusnya tidak menang dengan adanya orang dalam atau bermain suap. Aini memijit pelipisnya seakan pusing dengan pertanyaan adek nya tadi.


"Nggak bisa gitu la dek.. kalau memang adek layak untuk jadi juara, tanpa kakak bantu juga pasti menang.. tapi kalau adek nggak pantas, kakak ya nggak bisa bantu," tutur Aini.


"Gitu ya kak.. tapi di sekolah adek, ada murid yang nakal, eh dia dapat rangking di atas adek, karena mamanya sering bawain bekal untuk bu guru," si bungsu mulai sok tahu.


Aini sedikit bingung mau jawab apa. "Hussshh.. Nggak bole nuduh orang sembarangan, mungkin bukan karena mamanya bawain bekal bu guru, tapi karena walau pun nakal kawan adek itu memang lebih pintar dari adek."


Sebelum adek nya menjawab lagi, Aini segera pamit dan beralasan sudah terlambat. Dia takut adek nya akan bertanya macam-macam lagi dan berpikir bahwa semua di dunia ini bisa di rekayasa sesuka hati kita asal ada yang membantu.


**********


"Aini mana?" tanya bang Baim kepada anggota lain yang sudah berkumpul di rumah umi.


"Nggak tahu bang.." salah seorang menyahutinya.


"Assalamu'alaikum..."


Semua mata tertuju pada si pengucap salam, sampai ia merasa risih karenanya. Aini baru saja tiba di rumah umi. Ini disebabkan si bungsu yang mengajaknya bercerita tadi, jadi dia benar-benar terlambat seperti yang diucapkannya pada si bungsu saat hendak buru-buru pergi.


Bang Baim sekilas memperhatikan Aini yang baru saja memasuki rumah umi. Hatinya sedikit berdesir dan lega karena pikirannya tadi salah."Ya sudah, berhubung yang kita tunggu sudah datang, mari kita mulai rapat ini dengan mengucap basmalah."


"Bismillahirahmaanirrahiim....."


Satu jam sudah rapat berjalan. Semua usul dari para anggota sudah diterima dan didiskusikan dengan baik. Tinggal merangkum isi rapat saja. Sepanjang jalannya rapat, bang Baim sesekali curi-curi pandang tanpa sepengetahuan Aini. Tidak sepasang dua pasang mata yang memperhatikan tingkah laku bang Baim, tetapi mereka tidak ambil pusing. Namun ternyata ada sepasang mata wanita yang kurang senang melihat pemandangan itu. Ia menatap sinis ke arah Aini.


"Baik.. perhatian semuanya.. kita sudah sampai pada kesimpulan rapat malam ini. Jadi lomba akan di adakan dua hari lagi. Untuk masalah juri saya sudah menghubungi orang yang berkompeten, dan salah satunya saya juga bisa merangkap jadi juri untuk menghemat biaya. Lomba diadakan selama dua hari. Hari pertama kita akan mulai dengan lomba Hapalan ayat pendek dilanjut azan dan praktek shalat jenazah. Hari kedua lomba baca puisi dan peragaan busana muslim. Masalah panggung juga sudah saya bayar DP nya, kemudian untuk hadiah berupa piala kita sepakat Ari dan Ivan yang membelinya." ujar bang Baim panjang lebar.


"Apa ada lagi yang mau ditanyakan?" tanyanya kemudian.


Hening beberapa saat.....

__ADS_1


"Karena tidak ada lagi mau di tanyakan, kita akhiri rapat dengan mengucap hamdalah.. akhir kata Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


Satu per satu anggota pulang meninggalkan rumah umi, saat Aini hendak beranjak dari tempat duduknya tiba-tiba terdengar suara bang Baim menghentikan niatnya.


"Aini, jangan pulang dulu, ada yang mau abang bilang," katanya.


Saat ini hanya ada bang Baim, Aini, Vita si bendahara dan dua anak laki-laki umi. Tak lama Vita juga pamit pulang setelah menyerahkan laporan keuangan terakhir yang ia catat. Kedua anak laki-laki umi yang paham akan tatapan bang Baim yang tajam ke arah mereka segera masuk ke kamar masing-masing.


Tinggallah Aini dan bang Baim di ruang tamu.


"Dek, abang minta maaf ya soal tadi pagi.." ucap bang Baim memecah keheningan.


"Iya, nggak usah dibahas," ketus Aini.


"Jangan marah ya dek, abang ketiduran siap subuh tadi. Adek nggak telat sampai ke sekolah kan?" tanyanya sambil menatap sendu ke arah Aini.


"Nggak!! Ada lagi yang mau dibicarakan?" tanya Aini dengan nada sedikit kesal.


"Ehmm.. ee.. Nggak ada sih.. tapi adek uda maafin abang kan?" bang Baim harap-harap cemas menunggu jawaban Aini.


Aini mengangguk pelan. "Udah." Kalau begitu saya pamit, Assalamu'alaikum.


Aini berdiri dan melangkahkan kaki ke luar rumah umi dan itu tak luput dari tatapan mata bang Baim sampai Aini hilang dari pandangannya.


Bang Baim membuang napas kasar. "Sepertinya dia masih marah. Baiklah, nanti aku cari cara lagi untuk membuatnya memaafkan ku."


.


.


.


.


.


tbc


_________

__ADS_1


vote, like dan berikan hati kalian


komen yang panjang juga ya readers....🙏😘😘


__ADS_2