
Aini sudah mengenakan dress panjang berwarna pink sesuai permintaan Trisya yang mengatakan kalau setiap siswi yang datang ke pestanya harus menggunakan drescode berwarna pink, dipadukan dengan hijab berwarna hitam dengan rumbai dibagian bawahnya. Wajahnya juga sedikit ia poles dengan bedak andalannya, yaitu bedak baby yang sebelumnya ia telah mengoleskan foundation terlebih dahulu agar bedak itu bertahan lama. Tak lupa ia menambahkan lipbalm agar bibirnya tidak terlalu kering. Make up yang sederhana dan menampakkan wajah gadis yang masih belia, itulah Aini, tidak suka berlebihan dalam berdandan, mengingat usianya yang masih sangat muda dan juga dia tidak menyukai dandanan yang begitu mencolok.
Knop pintu terbuka, dan menampakkan Iva akan masuk ke dalam kamar mereka. "Kakak cantik banget, mau kemana?"
"Mau pergi menghadiri pesta ulang tahun teman kakak," sahutnya, lalu ia mengambil tas slempang berukuran kecil untuk meletakkan handphone dan dompetnya.
"Sama siapa kak? Bukannya biasa ibu tidak mengizinkan kakak keluar malam?"
"Sama Sara, tadi kakak sudah izin sama ibu kok, dan ibu setuju asal pulangnya tidak terlalu malam," ujar Aini dan sudah menggunakan kaos kakinya sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Pulang bawa makanan yang enak ya kak," pinta Iva yang ikut duduk di ranjang Aini.
"Ogah! Emang kakakmu ini nggak punya malu kalau pulang bawa-bawa makanan dari tempat pesta teman!"
"Iva kan nggak bilang kakak harus bawa dari tempat pesta, tapi kakak kan bisa beli makanan di pinggir jalan pas pulang nanti. Di dekat persimpangan jalan, biasa ada tukang jual martabak lho kak kalau malam begini," jelas Iva.
"Sini duitnya, nanti kakak beliin." Aini sudah mengadahkan tangan siap menerima lembaran uang dari sang adik.
"Kenapa minta sama adek? Emang adek punya duit, ya pakai duit kakak dong!"
"Ya ampun, kita sama-sama masih pelajar dek, kakak juga tidak punya uang lebih. Ini saja ongkos untuk pergi ke rumah teman kakak bakal patungan sama Sara."
Iva mengerucutkan bibirnya. "Ya sudah.. kalau begitu tidak jadi."
"Kakak.. cepat keluar.. kak Sara sudah datang!" teriak si bungsu dari ruang tamu.
Aini segera keluar kamar dan meninggalkan Iva yang wajahnya masih tampak murung di dalam kamar.
"Wow, kau cantik sekali Ni," puji Sara yang melihat sahabatnya begitu berbeda malam ini.
"Ah, biasa saja. Kau juga cantik," sahut Aini. "Ayo masuk dulu untuk berpamitan pada ayah dan ibu," ajaknya pada sahabatnya yang dari tadi duduk di teras rumahnya.
Mereka berdua memasuki rumah dan mendapati ayah, ibu dan Tia sedang menonton TV.
"Yah, bu, Aini pergi dulu ya," ucap Ia i sambil menyalami kedua orangtuanya dna diikuti oleh Sara.
"Kalian harus saling menjaga ya, jangan sampai terjadi apa-apa. Pulangnya juga jangan sampai larut malam," titah sang ayah.
"Siap Om, Sara akan menjaga Aini dengan baik," sahut Sara.
Kemudian mereka segera keluar dari gang rumah Aini karena taksi online yang mereka pesan sudah datang dan siap mengantarkan mereka menuju rumah Trisya.
* * *
"Jadi ini rumah Trisya? Besar sekali, ternyata dia benar-benar kaya," ucap Sara takjub. Mereka kini telah sampai di depan rumah Trisya setelah diantarkan taksi online tadi.
__ADS_1
"Hussh.. biasa saja, jangan kampungan sekali," tegur Aini. Sara memang orangnya suka ceplas ceplos, sampai terkadang Aini malu melihat tingkah sahabatnya itu. "Ayo kita masuk," ajaknya.
"Tunggu, aku telepon Amar dulu," cegah Sara yang melihat Aini hendak masuk melewati gerbang besar itu.
"Kalian sudah lama sampai?" Terdengar suara sapaan seseorang dari arah belakang mereka, namun Sara yang sedang sibuk menelepon Amar sepertinya tidak mendengar suara itu.
"Eh, Bagas. Tidak, kami baru saja sampai," sahut Aini.
"Kenapa tidak masuk?" Bagas memarkirkan motornya di antara banyaknya motor yang sudah terparkir di sana.
"Lagi nungguin Sara, katanya mau telepon Amar dulu," ujar Aini dan memperhatikan sekilas penampilan Bagas malam ini.
"Ayo kita masuk Ni, Amar sudah di dalam," ajak Sara tanpa menoleh ke arah Bagas.
"I.. Iya.. Ayo," jawabnya gelagapan, karena tadi Aini sempat menatap Bagas, ia takut kalau Sara melihat itu pasti akan meledeknya. "Ayo kita masuk Gas," ajaknya pada Bagas.
Sara membalikkan badan dan sedikit terkejut. "Loh, ada Bagas? Kapan datang? Perasaan dari tadi tidak ada siapa-siapa kecuali kami berdua."
"Makanya, kalau lagi teleponan jangan serius kali. Aku tegur saja kau tidak mendengar," sahut Bagas.
"Ya maaf.. aku kan lagi telepon sama ayang beb, jadi serasa dunia milik berdua, yang lain ngontrak!" balas Sara.
Aini memutar bola matanya malas. "Sudah, ayo kita masuk," ajak Aini. Mereka bertiga memasuki gerbang besar itu dan menuju halaman luas di samping rumah Trisya. Terlihat lampu-lampu taman menghiasi pesta itu, hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja serta kursi yang sudah berjajar di dekat tembok pembatas rumah dengan taman. Biar bagaimana pun, mereka ini bersekolah di tempat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, jadi mereka tahu betul kalau tamu yang hadir nantinya akan makan dengan duduk, seperti yang diajarkan guru sesuai dengan sunnah nabi.
"Ni, kau tunggu di sini dulu ya, aku mau cari Amar," ucap Sara yang hendak pergi meninggalkan Aini bersama Bagas.
"Kau ini, seperti anak kecil saja. Aku hanya sebentar, nanti aku akan kembali ke sini."
"Aku takut, di sini tidak ada yang aku kenal. Lihat sekeliling kita, hanya ada anak unggulan yang banyak di sini, sementara teman sekelas kita tidak kelihatan," jelas Aini.
"Astaga Aini... Lihat tu.." ucap Sara dan tangannya sudah mengapit kedua pipi Aini dan menggerakannya ke arah Bagas. "Ada Bagas di sebelahmu, kalau kau lupa!"
"Aku tidak mau hanya berdua dengannya," bisik Aini pada Sara.
"Kau tidak berdua, lihat di sini sangat ramai!" ketus Sara. Aini melihat sekelilingnya, memang sangat ramai, namun rasanya ia masih tak enak hati jika hanya mengobrol berdua dengan Bagas. "Sudah, kalian di sini dulu, aku akan mencari Amar. Bagas, tolong jagain sahabat ku ini ya, jangan sampai lecet sedikit pun!"
Aini memukul pelan lengan Sara. "Emang aku barang antik yang nggak boleh lecet!"
"Iya, anggap saja begitu. Aku kan sudah janji terhadap ayahmu kalau aku akan menjaga mu, jadi karena sekarang aku akan pergi, tugas ku beralih ke Bagas sementara untuk menjaga mu."
"Baiklah, tunggu di sini ya." Sara sudah pergi meninggalkan Aini dan Bagas. Sementara Bagas sedari tadi hanya diam saja, membuat Aini juga enggan untuk memulai pembicaraan.
"Kamu.."
"Gas.."
__ADS_1
Bagas dan Aini akhirnya memulai obrolan dengan bersamaan.
"Mau ngomong apa?" Aini membuka suara kembali.
"Kamu mau aku ambilkan minum?" tanya Bagas sedikit ragu.
"Boleh," sahut Aini.
"Oke, tunggu disini. Aku segera kembali." Bagas sudah melangkahkan kaki menuju meja yang di penuhi makanan dan minuman yang berwarna warni di sana. Aini akhirnya berjalan mendekati kursi yang berjajar di dekat tembok rumah. Ia duduk sendiri menunggu Bagas membawakan minuman.
"Ini, minuman manis untuk gadis yang manis pula," seseorang menyodorkan minuman berwarna merah ke hadapan Aini, namun itu bukan Bagas.
Aini mendongakkan kepala untuk melihat siapa yang memberi minuman itu. "Hairul," batinnya. Ya, Hairul itu seorang siswa yang dulu pernah menyatakan perasaannya terhadap Aini namun di tolak oleh gadis itu.
"Tidak, terima kasih," tolak Aini. Gadis kecil itu sudah tidak mau berurusan lagi dengan siswa seperti Hairul.
"Kenapa? aku kan hanya menawarkan minum, tenang saja, ini hanya pemberian dari seorang teman," ucap Hairul. Ia ingat betul bahwa dulu Aini menolak pemberiannya saat dia menyatakan perasaan dihadapan gadis itu, jadi sekarang dia beralasan sebagai teman agar Aini mau menerima pemberiannya.
"Ayo, terimalah," pintanya lagi.
"Tidak perlu, aku sudah mengambilkan minuman buat Aini." Bagas datang dan membawa dua minuman di tangannya.
"Aku yang lebih dulu menawarkan minuman ini kepadanya," bantah Hairul.
"Kalau begitu, kita tanya saja pada Aini, minuman siapa yang akan diterimanya," ucap Bagas dengan penuh keyakinan bahwa Aini akan menerima minuman yang dibawakannya.
Aini menatap dua siswa yang saling berseteru dihadapannya. Sebenarnya ia tidak ingin menyakiti salah satu dari mereka, namun ia harus memilih.
"Maaf Hairul, aku memang sedang menunggu Bagas yang tadi ingin mengambilkan minuman untukku. Jadi aku akan terima minuman ini," Aini mengambil salah satu gelas dari tangan Bagas. Bagas yang merasa menang, menatap remeh ke arah Hairul.
"Sial!" gumam Hairul dan melangkah pergi meninggalkan Aini dan Bagas.
"Kamu baik-baik saja? Apa dia menyakitimu?" tanya Bagas setelah kepergian Hairul.
.
.
.
.
.
tbc
__ADS_1
___________
Beri vote yg banyak biar author makin semangat buat lanjutin ceritanya😊😊