
Aini telah mengganti seragam sekolahnya dengan kaos berlengan panjang dan celana panjang pula, karena 5 menit yang lalu dia telah pulang dari sekolah. Bukan hendak pergi, hanya saja dia memang terbiasa memakai pakaian serba panjang walau sedang di rumah. Tidak ada satupun pakaian pendeknya, karena khawatir tiba-tiba ada tamu yang datang maka ia tidak susah untuk mengganti pakaian lagi, melainkan langsung mengenakan hijabnya saja. Aini memang dari keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Maka wajar Aini memakai baju berlengan panjang dan celana panjang saat di rumah, walau bila tidak ada orang asing di rumahnya dia tidak memakai hijabnya.
Kini ia telah menyantap makan siangnya sendirian di dapur, karena ibu Ema biasa tidur siang di jam-jam Aini pulang sekolah, begitu pun kedua adiknya yang telah lebih dulu pulang dari sekolah tengah beristirahat di kamarnya.
drrttt.. drrttt...
suara getaran hp Aini yang berbunyi karena ada pesan wa yang masuk. Ia belum merubah mode getar hp nya dari sepulang sekolah tadi, karena jika di sekolah ketahuan terdengar bunyinya saat jam pelajaran, bisa di sita oleh guru. Maka Aini membuat mode getar untuk hpnya saat ke sekolah.
Pak Baim: Assalamu'alaikum, dek uda pulang sekolah belum?
Aini: Wa'alaikumsalam, uda pak.
Pak Baim: Ah, uda berapa kali abang bilang, jangan panggil pak dong, panggil abang aja.
Aini: Eh iya, maaf lupa bang.
Pak Baim: Oiya, abang ada perlu la sama adek, ntar abang ke rumah ya.
Aini: Iya bang.
Tidak ada balasan pesan lagi. Kini Aini telah selesai dengan makan siangnya. Tadi dia habis berbalas pesan wa dengan pak Baim. Sebenarnya Baim bukan orang yang sudah tua, hanya saja memang perbedaan umur yang cukup jauh antara pak Baim dan Aini yang menjadi alasan Aini memanggilnya bapak. Padahal Baim masi lajang dan bukan seperti bapak-bapak yang ada di pikiran Aini.
Baim adalah ketua remaja masjid sekitar rumah Aini. Belakangan ini memang banyak keperluan antara Baim dan Aini karena masjid akan mengadakan acara lomba untuk anak-anak sekitar kampung mereka. Aini sebagai sekertaris Baim dalam rangka mempersiapkan lomba ini tentu saja ikut sibuk dengan segala hal yang perlu di persiapkan nantinya.
10 menit kemudian...
Baim telah sampai di rumah Aini. Kini mereka tengah membicarakan masalah persiapan perlombaan di teras depan rumah Aini. Aini pun tentunya sudah mengenakan hijabnya. Mereka tampak begitu serius, namun di tengah perbincangan mereka, Aini merasa kerongkongannya kering dan butuh air untuk membasahinya. Ia pun permisi ke dapur untuk mengambil minum dan membawakan minuman pula untuk pak Baim, eh bang Baim ya maksudnya. hehehe
"Diminum dulu bang," kata Aini setelah sampai ke teras dan membawakan minuman yang berwarna kuning di nampan yang dibawanya.
__ADS_1
"Iya, makasih dek, maaf ngerepotin," jawab bang Baim sambil menyeruput sedikit minuman yang sudah ada di tangannya.
"Jadi gimana bang? minggu depan lomba nya dimulai? memakan waktu berapa hari kira-kira bang?" tanya Aini beberapa kali sebelum dijawab satu-satu sama bang Baim. Aini sudah duduk di kursi sebelah kanan bang Baim, dan disebelah kiri ada meja pembatas mereka berdua.
"Iya dek, rencananya gitu, tapi kita lihat juga ntar gimana di lapangan. Kalau sampai minggu depan anak-anak yang mendaftar ikut lomba belum di rasa cukup, mungkin kita undur dek," ujar bang Baim. Masalah berapa harinya nanti kita bicarakan lagi.
"Lomba apa saja yang mau dibuat bang?" tanya Aini lagi sambil tangannya mencatat ke buku yang telah dipersiapkannya. Karena tugas Aini kan sekertaris, jadi dia harus mencatat semua yang berkenaan dengan lomba.
Bang Baim berdehemmm.. "Seperti biasa, lomba azan untuk lelaki, lomba baca surah pendek, lomba baca puisi yang bernuansa islami berkenaan dengan Nabi muhammad lebih tepatnya deh, karena ini kan lomba nya juga dibuat untuk memeriahkan acara perayaan maulid Nabi. Trus lomba peragaan busana muslim dan lomba sholat jenazah." jawab bang Baim panjang lebar.
"Oh, oke.. uda aku catat semua bang," tutur Aini.
Sambil Aini mencatat, mereka juga membahas akan mengadakan rapat remaja masjid masalah lomba ini. Perbincangan lain juga sesekali mewarnai pertemuan mereka kala itu. Sampai kemudian....
"Yaudah, abang rasa ini aja yang perlu kita bahas, nanti abang kabari lagi apa aja yang perlu dicatat lagi ya," ucap bang Baim sambil kembali menyeruput minumannya sampai tandas.
"Kalau begitu, abang pamit pulang ya dek," katanya lagi sambil beranjak berdiri dan mengenakan sandalnya sambil mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam...," sahut Aini.
*************
Di perjalanan pulang, bang Baim berjalan kaki menuju rumah ibu angkatnya sambil tersenyum senang. Karena rumahnya yang tidak begitu jauh dari rumah Aini, jadi ia berjalan kaki. Lagian ia juga tidak mempunyai kendaraan, karena ia merantau dan belum punya cukup uang untuk sekedar membeli sepeda motor. Bang Baim merantau sudah cukup lama, sekitar 7 tahun, karena ia mau menyelesaikan kuliah strata 1 nya di Universitas Islam Negeri yang ada di Medan, sementara orangtua kandungnya tinggal di kabupaten yang jauh dari Medan, makanya dia merantau. Dia tinggal dari masjid ke masjid, karena ia juga dari keluarga sederhana yang ingin menghemat biaya untuk tinggal di kampung orang. Banyak mahasiswa yang melakukan hal sama seperti bang Baim, karena berbekal kemampuan suara azan yang bagus serta pandainya ia mengaji, jadi mudah saja baginya diterima sebagai muadzin di suatu masjid. Di kampung ini, ternyata ada ibu yang berbaik hati mengajaknya tinggal di rumahnya. Ibu itu biasa dipanggil umi, dia mempunya dua anak laki-laki yang tinggal di rumahnya, jadi dia mengajak bang Baim pula untuk tinggal dengannya. Hitung-hitung sebagai teman anaknya, karena umur anaknya dengan bang Baim tidak jauh berbeda, hanya berselisih 2-3 tahun saja lebih muda dari bang baim.
Ketika sampai di halaman rumah orangtua angkatnya..
"Kenapa senyum-senyum?" tanya umi yang tengah duduk di teras rumahnya dan melihat Baim memasuki rumah dengan tersenyum.
"Eh.. e... e.. nggak kenapa-kenapa kok mi," jawab bang Baim terbata-bata.
__ADS_1
"Habis darimana rupanya?" tanya umi lagi.
"Dari rumah Aini mi..." jawab Baim malu-malu karena ditatap umi.
"Oh, pantesan senyum-senyum begitu," sambung Umi sambil menggoda bang Baim dengan mengangguk-anggukan kepalanya karena merasa paham isi hati bang Baim saat ini.
"Yaudah mi, Baim masuk dulu ya." Baim langsung lari ke kamar dan mengunci pintu kamarnya, takut bila kedua anak umi ikutan bertanya dan ingin tahu apa yang dialaminya barusan.
Didalam kamar bang Baim membaringkan badan di kasur nya yang hanya pas untuk dirinya sendiri menatap langit-langit kamarnya sambil masi tersenyum senang. Bagaimana tidak senang, dia baru saja berjumpa dengan gadis kecil pujaan hatinya, walau hanya beralasan untuk membahas masalah perlombaan, itu saja sudah cukup membuat hatinya berbunga-bunga karena bisa duduk berlama-lama dengan gadis kecil itu. Sampai akhirnya dia terlelap setelah membayangkan gadis pujaan hatinya..
.
.
.
.
.
.
.
tbc
______________
seperti biasa, jan lupa kasi vote, like dan hatinya
__ADS_1
salam sayang dari L_A
bukan Los Angeles ya, tapi tu singkatan nama saya🤭🤭