Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Modus


__ADS_3

Sara menghabiskan banyak makanan untuk melampiaskan emosinya. Rasanya ia begitu kesal akan kejadian yang baru dialaminya. Kesal terhadap Mia dan Nila yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Hanya karena cemburu melihat Aini bisa dekat dengan cowok yang di idamkan mereka, membuat mereka melakukan hal konyol dengan mengunci sahabatnya di toilet sekolah.


"Pelan-pelan makannya Ra, ntar keselek baru tau!" tegur Aini saat melihat Sara begitu lahapnya menghabiskan makanan dihadapannya.


"Aku masi kesal Ni, biar aku melampiaskannya dengan begini!" ketus Sara.


"Lah, aku yang jadi korban kenapa kau yang kesal?" celetuk Aini.


"Iya kau kan sahabat aku, jadi aku pasti bisa merasakan apa yang kau rasakan," ucap Sara dengan mulut yang dipenuhi makanan.


"Beruntungnya aku punya sahabat sepertimu," balas Aini dengan memeluk Sara dari samping.


uhukk.. uhukk.. uhukk.. Lepaskan tanganmu! Aku jadi susah bernafas!" perintah Sara.


Aini melepaskan pelukannya dan memberikan gelas minuman Sara kepadanya. "Maaf Ra, sangking terharunya aku. Ini diminum dulu."


"Terharu sih terharu... Tapi jangan sampai terlalu kencang dong meluknya, hampir mati aku!" ucap Sara yang sudah selesai minum.


"Ya maaf.." sahut Aini dengan wajah memelas.


* * *


Hiruk pikuk terjadi di kelas 9c saat ini. Guru yang seharusnya mengajar di jam terakhir ini tidak juga menampakkan diri. Semua murid sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tak terkecuali Aini dan Sara, mereka juga sibuk membicarakan banyak hal. Dari mulai rencana mereka saat tamat nanti akan menyambung ke sekolah mana sampai bercerita kisah Sara dan Amar.


"Ni, menurutmu kalau aku nanti tidak satu sekolah lagi dengan Amar, apa aku harus putus dengannya?" tanya Sara di tengah perbincangan mereka.


"Ya terserah dirimu!" sahut Aini.


"Eh tapi, putus aja deh!" lanjutnya lagi.


"Ihhh... kok gitu sih! Aku kan nggak mau putus!" kesal Sara.


"Jadi kenapa kau tanya pendapatku, kalau kau punya pendapat sendiri! Dasar begok!" Aini mendorong dahi Sara pelan.


Sara tertawa pelan. "Eh Ni, aku mau bicara sesuatu sama mu."


"Lucu sekali kau ini! Dari tadi juga kita sudah berbicara panjang lebar."


"Maksudku, ini hal penting dan tidak baik di dengar orang lain," sambung Sara.


"Perihal apa rupanya?" tanya Aini penasaran.


Sara mendekatkan mulutnya ke telinga Aini. "Kayaknya Bagas suka deh sama mu," bisik Sara.


"Ya ampun, hanya begitu saja kau bilang tidak perlu diketahui orang lain? Itu sangat tidak penting bagiku!" ketus Aini.


"Kau mau kalau sampai ada fans Bagas yang mendengar maka kau akan di kunci lagi di toilet seperti kemarin?"


"Nggak mau la," sahut Aini cepat.


"Makanya aku berbisik, aku tidak ingin ada yang menyakitimu lagi," ucap Sara.


"Iya deh iya.. makasih ya uda perhatikan sahabatmu ini. Tapi kau tau dari mana kalau Bagas suka sama Ku?"


"Dari tatapan matanya aku bisa lihat itu," ucap Sara dengan menunjuk kedua matanya.


"Ah, sok tahu!" timpal Aini.


"Ya sudah kalau tidak percaya." Sara pergi dari bangku sebelah Aini dan menuju bangkunya untuk segera menyusun peralatan belajarnya karena bel pulang sekolah sudah berbunyi.


* * *


Kini Aini, Sara dan Bagas telah sampai di rumah Ela. Hari ini mereka akan mengerjakan tugas kelompok yang ditugaskan guru. Sebenarnya kelompok ini mereka sendiri yang memilih tiap anggotanya, hanya saja guru meminta agar mereka mengikutsertakan salah satu siswa laki-laki dari tiap kelompok yang dibentuk. Tadinya mereka akan memilih Alfi, namun mengingat Mia yang cemburu akan kedekatan Alfi dan Aini, jadilah mereka memilih Bagas. Bukan karena tidak ada siswa laki-laki lain di kelas mereka, hanya saja Aini yang memintanya, karena Aini hanya merasa dekat dengan kedua siswa tersebut, jadi dia tidak ingin satu kelompok dengan siswa lain karena merasa tidak nyaman dengan orang baru.


"Kamu catat yang ini ya Gas, Sara halaman berikutnya dan Ela dua halaman lainnya. Aku akan menempelkan gambar-gambar ini nantinya," ucap Aini saat membagikan tugas untuk menyelesaikan tugas mereka.


"Semuanya di catat ya Ni?" tanya Sara yang belum paham.


"Tidak Ra.. yang penting saja, nanti juga akan disertakan gambar, jadi berikan penjelasan sedikit saja," jelas Aini.


"Oh begitu.. Kau enak kali cuma nempel gambar-gambar doang? Kalau gitu, aku saja yang di kasi tugas itu!" Sara protes karena dia malas menulis tugas dengan tangan. Guru yang memberikan tugas memang melarang tugasnya untuk diketik, karena pasti bisa saja murid akan mengcopy-paste dari internet.

__ADS_1


"Aku setuju kalau kau mau melakukan tugas ini. Tapi aku pastikan dulu, kau hapal tidak urutan yang harus ditulis dan ditempel nanti?" tanya Aini.


Sara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kenapa diam saja?" tanya Aini lagi.


"Baiklah, aku akan mengerjakan tulisan ini saja," ucap Sara yang memang tidak tahu menahu urutan tugas-tugas itu.


Ela dan Bagas menggelengkan kepala mereka melihat perdebatan kedua sahabat itu. "Sudah jangan berdebat, ayo kita mulai agar cepat selesai!" timpal Ela.


Mereka bertiga sudah mengerjakan tugas mereka masing-masing dan Aini juga sudah mengumpulkan semua gambar yang nantinya akan ditempel di kertas tugas itu.


"Sudah sore sekali, aku harus segera pulang," gumam Aini. Gadis itu belum mengabari orangtuanya kalau hari ini dia pulang terlambat dikarenakan tugas yang memang baru diberikan guru tadi pagi langsung mereka siapkan agar punya banyak waktu luang mengerjakannya.


"Ra, kita pulang yuk," ajak Aini pada sahabatnya itu.


"Bukannya ini belum selesai?" tanya Sara yang melihat tugas itu belum sepenuhnya ditempelkan gambar.


"Udah ini mudah, nanti biar aku saja yang melanjutkannya di rumah," sahut Aini.


"Kalian mau pulang sekarang?" tanya Bagas yang mendengar percakapan mereka dan diangguki oleh keduanya.


"Aku juga deh, ini memang sudah sore," lanjut siswa berkacamata itu.


"Kalau begitu kami permisi ya Ela," ucap Aini sambil mengemas kertas-kertas yang berserakan di lantai rumah Ela.


"Buru-buru sekali kalian, ibuku belum pulang dari kerjanya," balas Ela.


"Tidak apa, kami titip salam saja sama ibu mu ya," tutur Sara.


Tak lama mereka sudah berada di depan pasar rumah Ela untuk menunggu angkutan umum yang lewat di sana.


"Rumah kalian ke arah timur ya?" tanya Bagas saat mereka bertiga sedang menunggu angkot.


"Iya," sahut Sara.


"Kalau gitu kita bareng ya, aku juga ke sana, tapi nanti di perempatan dekat mini market di ujung sana aku turun untuk menyambung angkot yang lain, sebab dari sini tidak ada angkot yang langsung menuju rumahku," jelas Bagas panjang lebar.


"Oh iya, aku boleh minta nomor mu," ucapnya lagi dan melihat ke arah Aini.


"Untuk keperluan tugas kita, nanti kalau ada perlu aku atau kamu bisa saling bertukar informasi," kilah Bagas. Padahal ia punya maksud tertentu untuk itu.


"Aini saja yang kau minta nomornya Gas?" sindir Sara.


Bagas berpikir sejenak. "Iya kalian berdua lah, kita kan satu kelompok," kilahnya lagi. Niat hati hanya ingin meminta nomor Aini, namun Sara sepertinya tau gerak-gerik Bagas yang mencari alasan agar dapat nomor handphone Aini saja.


"Mau modus ya si Bagas biar bisa dapetin nomor Aini," batin Sara.


"Sini handphonemu, biar aku masukin nomor kita berdua," ucapnya pada Bagas sambil menunjuk dirinya dan sahabatnya.


Bagas sudah memberikan handphonenya pada Sara dan nomor kedua siswi itu langsung di masukkan Sara ke daftar kontak nya Bagas.


* * *


Aini begitu sibuk mengerjakan tugas kelompok yang akan disiapkannya di rumah malam ini. Tadi sore saat pulang dari rumah Ela, dia langsung mandi dan beristirahat sejenak hingga menjelang maghrib.


tring.. tring..


Terdengar dering handphone Aini menandakan ada pesan masuk. Ia membiarkan begitu saja karena tugasnya sudah hampir selesai.


Belum juga Aini membalas pesan itu, handphonenya kembali berdering. Saat Aini sudah menyelesaikan tugasnya, ia segera mengambil handphone itu dan membaca pesannya.


"Bagas," bacanya dalam hati. Ya, tadi sore saat bertukar nomor dengan Bagas, memang Sara yang memberikan nomor Aini kepada siswa itu, namun Aini juga menyimpan nomornya karena ia pikir ada benarnya juga jika sewaktu-waktu ada perlu untuk mendiskusikan tugas mereka.


Bagas : Hai Aini (memasang emoji tersenyum)


Bagas : Aku ganggu ya?


Aini : Sedikit


Aini membalas pesan itu singkat karena memang merasa sedikit terganggu dengan pesan Bagas saat tadi masih mengerjakan tugas.


Bagas : Maksudnya?

__ADS_1


Siapa yang tidak bingung dengan jawaban singkat Aini itu. Tidak terkecuali Bagas, ia menyapa Aini dan menanyakan kalau dia mengganggu waktu Aini atau tidak tetapi gadis itu hanya menjawab 'sedikit'. Apa coba maksudnya?


Aini : Sedikit mengganggu maksudnya


Bagas : Oh gitu, maaf ya kalau mengganggu


Aini : Sekarang sudah tidak mengganggu


Bagas : Emangnya tadi kenapa ganggu?


Aini : Tadi lagi nyiapin tugas yang tadi sore, makanya ganggu


Bagas : Sekarang lagi apa


Aini : Lagi berbalas pesan


Bagas : hahaha


Bagas yang memang merasa lucu atas jawaban Aini hanya membalasnya dengan kata-kata yang melambangkan ia sedang tertawa. Sekaligus ia juga bingung harus menanyakan apalagi agar bisa lebih akrab dengan gadis itu.


Aini : Kok ketawa?


Bagas : Tidak apa, lucu saja. Eh, aku bole tanya sesuatu?


Aini : Apa?


Bagas: Aini sudah punya pacar?


Aini : Belum


Aini hendak menuliskan kata bahwa dia tidak akan punya pacar, namun entah mengapa dia takut nantinya tidak bisa menjaga ucapannya itu. Jadi ia hanya membalasnya dengan kata 'Belum'.


Bagas : Alhamdulillah


Aini : Apanya yang Alhamdulillah?


Bagas : Enggak, itu aku tadi baru selesai makan, jadi udah kenyang ya ucap alhamdulillah


Bagas mencari alasan agar dirinya tidak diketahui Aini kalau ia senang saat tahu Aini belum punya pacar. Ia juga berpikir akan terus mendekatkan diri dengan Aini agar nanti bisa menjadi pacarnya.


Aini : Oh


Hanya itu yang di tulisnya saat membalas pesan Bagas, ia memang tidak begitu paham dengan balasan Bagas sebelumnya karena mungkin ia sudah mengantuk.


Berbalas pesan itu berlanjut sampai Aini tertidur dengan sendirinya, karena saat dia tadi menyelesaikan tugas, ia membalas pesan Bagas dengan merebahkan tubuhnya di kasur. Tentu tidak sulit baginya saat kantuk menyerang ia pun tertidur tanpa membalas pesan berikutnya dari Bagas.


.


.


.


.


.


tbc


____________


maaf baru up


ini juga tengah malem ngetiknya


jam setengah 4 langsung di kirim


gak tau sampe di kalian jam brp


tapi episode ini sudah lebih panjang dari episode lainnya kok


Maaci yang masi setia menunggu

__ADS_1


Like, Vote, Komen jan lupa😉🙏♥️


__ADS_2