
Lagi, pelajaran matematika yang paling tidak disukai kebanyakan murid di kelas 9c selalu membuat suasana di kelas itu tampak sunyi senyap. Apalagi guru yang mengajar terkenal dengan tipe guru yang killer, tidak ada seorang pun yang menyukai tatapan guru itu. Semua murid terpaksa hanya menatap buku masing-masing agar terhindar dari tatapan mata bu Tuti yang killer itu.
tak.. tak.. tak..
Terdengar bunyi hentakan sepatu pantofel dari depan kelas mereka. Dari dalam kelas mereka semua dapat melihat bahwa kepala sekolah berada di ambang pintu.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
"Perhatian anak bapak sekalian, bapak ingin mengumumkan bahwa hari ini ada seminar yang diadakan di aula sekolah. Jadi hanya diperlukan dua orang saja yang mewakili masing-masing kelas untuk mengikuti seminar itu. Kira-kira dari kelas ini siapa yang bersedia?" tanya kepala sekolah.
Tidak ada satupun yang menjawab. Padahal masing-masing murid tentu ingin mengikuti seminar itu, bukan karna ingin mendapat ilmu atau mengetahui isi seminar tersebut, melainkan ingin melarikan diri dari kelas bu Tuti saat ini. Tapi mengingat bu Tuti yang berdiri sedikit dibelakang kepala sekolah, rasanya murid-murid takut untuk sekedar mengacungkan tangan.
"Tampaknya mereka semua tidak ingin mengikuti seminar pak, mereka terlalu menyukai pelajaran saya," kata bu Tuti yang memperhatikan murid-muridnya mengerjakan soal dengan khusyuk.
"Cih.. PD sekali dia.."
"Aduh.. amit-amit dah.."
"Ya tuhan, cobaan apa ini?"
"Aku pengen kabur saja.."
Semua murid berbicara dalam pikiran mereka masing-masing. Dengan bangganya bu Tuti bilang kalau mereka menyukai pelajarannya, padahal semua murid ingin menyudahi pelajaran ini dari mulai bu Tuti menginjakkan kaki pertama kali di kelas mereka.
"Kalau tidak ada yang bersedia, maka saya yang akan menunjuk dua orang sebagai wakil kelas ini," lanjut kepala sekolah.
"Ya, begitu lebih baik pak," sahut bu Tuti.
"Siapa ketua dan sekertaris kelas ini?" tanya pak kepsek lagi.
Alfi dan Aini mengacungkan tangan. "Saya pak.."
"Nah, kalian berdua saya tunjuk sebagai wakil kelas untuk mengikuti seminar di aula ya.. seminar akan di mulai selesai beli istirahat nanti," ujar pak kepsek.
"Baik pak.." sahut Alfi.
"Iya pak.. " kata Aini.
"Kalau begitu saya permisi dulu, silahkan dilanjutkan bu.." ucap pak kepsek kembali sambil memperhatikan bu Tuti yang berdiri tidak jauh dengannya.
"Iya pak, silahkan.." sahut bu Tuti.
"Untung aku tidak acungkan tangan, kirain tadi seminarnya sekarang, eh taunya habis istirahat, sama aja nggak bisa lari dari bu Tuti," batin Sara.
Sepertinya bukan Sara saja yang akan berpikir demikian, melainkan semua murid kelas 9c saat itu, tetapi sepertinya tidak untuk Aini, karena dia memang benar menyukai pelajaran itu.
*******
"Ni.. apaan tuh yang kau pegang?" tanya Sara yang berada di samping Aini. Beberapa menit yang lalu baru saja bel istirahat, seperti biasa Sara akan mengajak Aini untuk makan di kantin.
"Ini boneka.. emang nggak bisa lihat apa?" celetuk Aini.
__ADS_1
"Eh iya.. maksudku ngapain kau bawa-bawa boneka ke sekolah? Lagian seingat ku, kau kan tidak begitu menyukai boneka."
"Bukan bawa, tadi pagi ku lihat ada boneka di laci ku. Aku juga nggak tahu punya siapa," balas Aini cuek.
"Coba sini aku lihat!" pinta Sara.
"Dari penggemar rahasiamu," bacanya saat melihat tulisan kertas yang menempel pada perut boneka kecil itu.
"Ciee... Dari penggemar rahasia..." ledek Sara setelah membaca tadi.
"Apaan sih!" ketus sahabatnya itu.
"Aku heran deh Ni, kau tu banyak penggemar, tapi kok betah jadi jomblo," ucap Sara yang heran melihat prinsip sahabatnya itu.
"Emang syarat masuk syurga nggak boleh jomblo?" tanya Aini lagi dan langsung membungkam mulut Sara.
"Ya nggak gitu juga Ni.. emang kamu mau mati muda?" balasnya tak mau kalah.
"Ya umur kan nggak ada yang tahu Ra.. bisa aja kita yang muda di panggil duluan sama Allah dari pada orangtua kita. Jadi lebih baik kita persiapkan diri dengan perbanyak amal, bukan perbanyak pacar!"
Sara mengerucutkan bibirnya. "Iya deh bu ustadzah.. ampuni Sara yang banyak dosa ini."
"Heii.. minta ampun sama Allah.. Bukan sama aku!" Aini menyentil dahi Sara pelan. Sara mengusap dahinya sambil menggerutu.
"Ya sudah, sini duduk! aku bawa bekal, jadi kita nggak usah ke kantin. Lagian habis ini aku mau ke aula mengikuti seminar yang dibilang kepsek tadi," kata Aini sambil membuka bekal nya.
"Oke deh.."
*****
Usai menghabiskan bekal makanannya tadi bersama Sara, Alfi datang dan mengajak Aini untuk pergi bersama menuju aula. Karena memang mereka berdua yang mewakili kelas untuk mengikuti seminar itu. Sepertinya Alfi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kapan lagi ia bisa jalan berdua bahkan duduk bersebelahan dengan Aini dalam waktu yang cukup lama.
"Kau tidak duduk dengan para siswa yang lain saja?" tanya Aini karena risih harus duduk bersebelahan dengan Alfi.
"Tidak, aku tidak begitu akrab dengan siswa-siswa itu. Lagian yang lain juga banyak yang duduk bersebelahan antara siswa dengan siswi," balas Alfi memberi alasan yang logis.
"Oh, ya sudah.." Aini sudah menduduki kursi barisan nomor tiga dari depan agar tidak terlalu jauh dari pembicara seminar dan bisa fokus melihat layar yang ditampilkan nantinya. Alfi juga sudah duduk disebelah kanan Aini.
"Ni.. Kau tadi dapat boneka ya?" tanya Alfi disela-sela berlangsungnya seminar.
"Iya.. kok tahu?" jawab gadis itu tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
Alfi sedikit gugup. "Hmm.. Itu.. Aku tadi tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Sara."
Aini ber Oh ria. " Emang boneka dari siapa?" tanya Alfi pura-pura penasaran.
"Nggak tahu, cuma tertulis penggemar rahasia dikertasnya," sahut Aini cuek.
"Kau suka boneka?" tanya Alfi lagi.
"Enggak terlalu."
"Kenapa sih nanya terus?" Aini heran dengan sikap Alfi yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa, hanya ingin tahu saja," balasnya. Kini wajah Alfi tampak murung, sebab boneka tersebut adalah pemberiannya. Tapi ternyata tidak begitu disukai oleh Aini.
"Kalau tidak suka boneka, lalu kau sukanya apa?" Alfi begitu penasaran dengan kesukaan gadis pujaannya ini.
"Ssttt.. jangan berisik.. dengarkan pembicaranya menyampaikan materi!" ketus Aini.
"Ya ampuunn.. Jadi cewek kok galak amat sih!" batin Alfi. Mereka pun mendengarkan seminar sampai selesai dan mencatat poin-poin penting di dalamnya.
"Ini, diminum dulu.." kata Alfi yang menyerahkan botol minuman ke tangan Aini. Lima menit yang lalu seminar telah usai, kini mereka menunggu pembagian sertifikat, jadi masih duduk di kursi mereka tadi.
"Untukmu saja, aku juga ada," tolak Aini.
Alfi menghela nafas. "Iya, aku tahu.. tapi ini sudah ku bukakan untukmu, sini botol minuman yang belum di buka!"
Aini malas berdebat, akhirnya dia menerima botol minuman yang sudah dibuka dan menyerahkan botol minuman yang masih disegel ke tangan Alfi.
"Ni.. aku boleh tanya sesuatu?" kata Alfi memberanikan diri.
"Hmm.." jawab gadis itu sambil meneguk minumannya.
"Aini sudah punya pacar?" tanyanya sedikit ragu.
"Belum dan sepertinya tidak akan mau." Aini mulai berdiri untuk mengambil sertifikat yang sudah mulai dibagikan.
"Kenapa?" Alfi semakin penasaran.
"Tidak apa-apa, hanya mau fokus belajar aja dulu," jawab gadis itu singkat.
"Huhhh.. Sepertinya memang tidak ada kesempatan bagiku," batin Alfi.
.
.
.
.
.
tbc
____________
pantengin terus ya
habis ini ada badai besar
😱😱
Visual alfi
__ADS_1