Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Kejadian Silam


__ADS_3

Haii... haii.. readers..


jangan lupa dukungannya ya


beri vote, like, β™₯️ dan komen tiap bab


biar rame gituπŸ˜πŸ™πŸ™


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


"Ibu... tolong... tolong bu...," teriakan Aini membangunkan ibu Ema yang berada di kamar tepat sebelah kamar anaknya tersebut.


"Yah, bangun yah, si kakak mimpi lagi tu..," kata ibu membangunkan ayah, namun ayah tak kunjung membuka mata.


Ibu pun langsung bergegas ke kamar anaknya.


"Aini... bangun sayang.. ini ibu.." katanya yang sudah duduk di pinggir ranjang Aini sambil mengelus kepala Aini.


Aini langsung terbangun dan memeluk ibu sangat erat. Sekan takut pergi jauh meninggalkannya.


Aini sudah beberapa kali mengalami mimpi buruk itu lagi.


Flash back on


Dahulu Aini memang pernah mengalami kejadian itu.


Tepatnya waktu Aini duduk dibangku kelas 4 dan Iva masih berumur lima tahun. Kala itu, Aini dan Iva sedang ikut ibu berbelanja di pasar, setelah semua belanjaan dirasa sudah lengkap, ibu mengajak kedua anaknya untuk menunggu angkot di pinggir pasar, tapi setelah beberapa saat ibu ingat, ternyata masih ada yang belum ia beli. Ia pun kasian kalau harus mengajak anaknya kembali ke dalam pasar, karena mereka pasti lelah berjalan mengikuti kemana pun ibu pergi, akhirnya ibu menyuruh Aini dan Iva menunggu di pinggir pasar dekat toko baju yang terlihat tutup. Aini dan Iva pun menunggu ibu.


Saat Aini melihat-lihat ke sembarang arah, ternyata Iva sudah pergi mengikuti ibu, dan saat Aini hendak mengejarnya, tangannya tiba-tiba ditarik paksa oleh seorang lelaki bertubuh besar, berkulit hitam dan menyeramkan. Aini langsung berteriak minta tolong. Iva yang belum jauh dari tempat itu menoleh ke belakang, dilihatnya sang kakak di bawa oleh om-om yang menyeramkan dimatanya. Ia segera berlari menuju tempat ibu membeli barang karena memang tidak jauh dari tempatnya menunggu tadi dan mengatakan bahwa sang kakak mau di culik. Ibu lari sekencangnya tanpa memperdulikan Iva, untuk segera menyelamatkan Aini.


"Tolong.. pak.. bu.. anak saya mau diculik," katanya kepada pedagang yang ada didekatnya dan tangannya menunjuk ke arah Aini yang diseret-seret pria itu.

__ADS_1


Semua pedagang berlarian mengejar Aini dan pria itu, karena merasa diketahui massa, pria itu menjatuhkan tubuh Aini sembarangan dan dia lari agar tidak tertangkap massa.


Untung di persimpangan jalan ada polisi sedang menertibkan lalu lintas. Polisi yang melihat pria itu berlari dikejar massa pun segera menangkapnya dan mendapati laporan dari orang yang mengejarnya bahwa dia mencoba menculik seorang anak membuat polisi tersebut membawanya ke kantor polisi terdekat. Entah bagaimana kelanjutan kisah si penculik tadi, ibu Ema tidak mau ambil pusing, ia lebih peduli terhadap nasib anaknya yang kala itu tengah tak sadarkan diri.


Ibu yang panik melihat keadaan Aini juga masi ingat bahwa Iva ditinggalkannya begitu saja di tempatnya tadi membeli barang. Untung saja Iva tidak apa-apa, karena saat ibu melihat ke belakang, Iva sudah berlari menuju ke arahnya. Ibu langsung menaiki betor (becak bermotor) yang berada tak jauh dari mereka untuk mengantarkannya pulang dengan kedua anaknya.


Semenjak kejadian itu, ibu Ema jadi over protektif terhadap anak-anaknya. Contohnya ya seperti kemaren, Aini yang pulang sekolah terlambat langsung diinterogasi habis-habisan.


Sejak hari itu pula Aini jadi sering memimpikannya. Membuatnya tidak bisa melupakan kejadian pahit yang hampir menimpanya.


Flash back off


"Tenang nak.. Ibu di sini... kamu mimpi itu lagi hmm??" tanya Ibu sambil mengangkat wajah Aini untuk menatapnya.


"Iya bu.. Aini takut.. " katanya lirih.


"Nggak usah takut, itukan udah berlalu.. lagian itu semua cuma mimpi.. sekarang ayoo istighfar.." lanjut ibu menenangkan.


"Gimana? sudah sedikit tenang?" tanya Ibu lagi.


"Udah bu.." jawabnya.


Ibu mengambil minum yang ada di atas nakas. "Ini diminum dulu nak." Aini pun meminumnya.


"Yaudah, sekarang tidur lagi ya.. ini masih pukul dua dini hari," pinta ibu agar Aini bisa terlelap kembali.


Aini menganggukinya. Saat dirasa Aini sudah memejamkan mata dan mulai tertidur, ibu segera pergi dan kembali ke kamarnya.


**********


Di rumah umi...

__ADS_1


Bang Baim tengah mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat malam. Hal ini biasa dilakukannya saat dirinya terbangun tengah malam.


Tadi ia merasa sangat gelisah, entah apa penyebabnya, sampai ia terjaga dari tidurnya.


Akhirnya ia memutuskan untuk berwudhu dan segera sholat malam.


"Ya Allah Ya Rabbi.. Engkau pemilik hati dan pikiranku. Aku serahkan semuanya kepada-Mu, Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku sehingga kegelisahan melandaku, tenangkanlah hati dan pikiranku ini, juga jagalah dia si gadis kecil yang selalu bersemayam di hati ini. Engkau Maha tahu isi hatiku, perkenankan lah doaku ini, walhamdulillahi rabbil'alamin."


Begitulah sepenggal doa saat bang Baim bermunajat kepada sang Pencipta. Setelah itu ia kembali membaringkan diri di kasur nya yang kecil itu. Ia menatap langit-langit kamar sambil melantunkan ayat-ayat suci alquran yang di hafalnya, mungkin dengan begitu hati dan pikirannya akan tenang dan ia dapat terlelap kembali sampai menjelang subuh tiba.


Tapi di sela-sela kegiatannya, ia terbayang si gadis kecilnya. Sudah beberapa hari ia tidak bertemu dengannya, karena bang Baim sibuk mengurus administrasi di kampusnya menjelang wisuda strata 1 nya beberapa hari lagi.


Bang Baim memang cukup lama menyelesaikan gelar strata 1 nya. Bukan karena ia bodoh atau malas. Hanya saja ia memiliki kendala pada keuangannya. Ia yang berjuang sendiri mencari biaya kuliah terkadang harus berhenti 1 semester atau bahkan 1 tahun mengumpulkan uang yang cukup untuk membayar uang kuliahnya. Itu makanya ia membutuhkan waktu sekitar 6 tahun setengah untuk mencapai gelar itu. Padahal untuk kurun waktu yang dapat ditempuh dalam menyelesaikan strata 1 normalnya hanya butuh 4 tahun saja. Tapi itu semua tidak menyulutkan semangatnya menuntut ilmu. Bang Baim memang seorang yang gigih dalam menggapai cita-citanya.


"Aku mau mengajaknya ke acara wisudaku.. Tapi mana mungkin gadis itu mau, dan pasti orangtuanya juga tidak akan mengizinkannya," batinnya.


"Biarlah dia tidak bisa menjadi pendamping wisuda ku saat ini, asal dia bisa jadi pendampingku di pelaminan kelak," katanya lirih sambil terkekeh geli mengingat kembali perkataannya.


"Tapi kalaupun itu terjadi pasti masih sangat lama, karena sekarang saja dia baru akan naik ke kelas SMP tingkat 3, harus berapa tahun lagi aku menunggunya?" tanyanya pada diri sendiri.


.


.


.


.


.


tbc

__ADS_1


_____________


__ADS_2