
"Semua peserta harap berbaris di depan panggung," kata salah seorang anggota remaja masjid.
Ivan duduk di depan panggung sebelah kiri. "Adek-adek, yang mau daftar lomba Hafalan ayat pendek bisa baris di depan saya. Lalu untuk daftar lomba Azan bisa sama kak Vita yang ditengah dan untuk Praktek sholat jenazah bisa ke sebelah kanan sama kak Rani."
Pukul delapan pagi semua anggota remaja masjid sudah berkumpul di pekarangan masjid. Hari ini perlombaan menyambut peringatan maulid Nabi di mulai. Semua remaja masjid menggunakan baju putih dan celana/rok hitam.
Tak ketinggalan juga para peserta lomba, mereka juga sudah berkumpul di sana. Mereka semua menggunakan busana muslim.
Setelah semua peserta mendaftarkan diri, lomba segera di mulai.
Ketua remaja masjid menaiki panggung sebelum memulai acara. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. saya selaku ketua remaja masjid akan membuka acara ini dengan mengucapkan Basmalah. Bismillahirahmaanirrahiim...
Selamat berjuang adek-adek sekalian, semoga kalian bisa menampilkan yang terbaik. Ini saja dari saya, saya akhiri Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Semua peserta sudah menampilkan suara emasnya masing-masing, karena lomba hafalan ayat pendek yang pertama kali dilangsungkan.
Tibalah saatnya lomba azan. Tentu lomba ini hanya diikuti oleh peserta laki-laki ya. Satu per satu menuju ke atas panggung untuk melafalkan suara azan.
Satu sampai lima peserta masi di rasa aman dan cukup bagus. Saat peserta ke enam tampil semua bersorak seperti mengejek.
"Huuuu..."
"Turuuunnn..."
"Salah tu..."
Ternyata mungkin anak ini grogi. Jadi dia bersalahan saat melafalkan suara azan.
*Allahu Akbar... Allahu Akbar..
Allahu Akbar.. Allahu Akbar..
Asyhadu anna ilaaha illallah..
Asyhadu alla muhammadarrasulullah
Hayya lal falaah
Hayya lal sholaaahh*
Qadqaamati sholatu Qadqaamati sholah
__ADS_1
Allahu Akbar.. Allahu Akbar..
Laa ilaaha illallah..
Semua temannya menyorakinya. Anak itu langsung turun dari atas panggung dan berlari menuju jalan di depan masjid. Mungkin dia malu dan mau langsung pulang. Tapi saat semuanya tidak mempedulikannya, lain pula dengan Aini. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan anak tersebut. Dia langsung berlari mengejar anak itu.
"Dek, nama kamu siapa?" Aini menghampirinya yang duduk di pinggir jalan depan masjid.
Dia tampak menangis. "Saya Riki kak."
"Kenapa kamu nangis? Tadi penampilan kamu bagus kok," kata Aini menenangkannya.
"A.. apanya yang bagus kak? Se..semua teman-teman menyoraki ku, a.. aku kan jadi malu," sambil terisak-isak.
"Cuppp.. cuppp.. cuppp.. Riki jangan sedih.. setiap orang pasti pernah mengalami grogi seperti kamu. kakak juga dulu pernah grogi seperti itu," bujuk Aini kepada Riki dan memeluknya sambil mengingat-ingat kejadian dulu.
Flash back on
Dulu waktu Aini masi kelas 4 SD, Aini juga pernah mengikuti lomba hafalan ayat pendek. Itu pertama kalinya ia tampil di depan umum. Tentu hal yang tak mudah baginya, mengingat ia punya kepribadian yang introvert jadi sulit rasanya memberanikan diri tampil di depan umum.
Saat namanya di sebutkan oleh anggota remaja masjid pada waktu itu, keringat mulai bercucuran di sekitar pelipisnya. Kedua tangannya saling meremas dan sudah terasa basah oleh keringat. Begitu ia mulai melafalkan ayat pertama dari surat Al-Ma'un tiba-tiba ada air mengalir membasahi kakinya yang sedang berdiri di atas panggung.
Flash back off
"hahaha... hahaha...," Riki tertawa terbahak-bahak saat diceritakan pengalaman Aini semasa kecil dulu.
Kini raut wajahnya yang sedih tadi hilang seketika.
Aini pun ikut tersenyum. "Jadi kamu jangan sedih ya Ki, semua orang punya pengalaman pahitnya sendiri. Rika mending walau salah masi bisa menyelesaikan bacaan azannya sampai selesai. Lah kakak, baru satu ayat udah terkencing dan nangis-nangis.
"Makasih ya kak uda menghibur Riki, kalau gitu Riki mau pulang deh sekarang," Riki beranjak dari duduknya.
"Iya dek, sama-sama.. hati-hati di jalan ya.. jangan nangis lagi lhoo..." Ledek Aini.
Sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan Aini pun langsung berlalu pergi. Sepasang mata itu milik bang Baim, ia ternyata sudah dari tadi memperhatikan Aini yang berusaha menghibur Riki. Dia semakin salut saja, untuk ukuran gadis kecil sepertinya itu hal luar biasa yang bisa dilakukannya. Ia melihat tadi Riki pulang dalam keadaan senang. Itu berarti Aini berhasil menghiburnya. Tidak disangka bahwa gadis kecil itu ternyata pandai menghibur orang lain dan memiliki empati yang tinggi. Walau terkesan cuek, ternyata aslinya Aini gadis yang perhatian terhadap sekelilingnya.
"Semakin hari semakin cinta.." gumamnya.
Aini kembali ke arena perlombaan, di sana para anggota remaja masjid tengah berkumpul untuk briefing. Berhubung sudah jam makan siang, jadi perlombaan dihentikan sejenak dan dilanjutkan kembali sehabis zuhur.
"Dari mana saja kamu Ni?" celetuk Rani saat Aini mulai ikut bergabung.
__ADS_1
"Ada urusan sebentar," jawab Aini. Rani melirik sekilas saat Aini melintasinya. Ada hal yang membuatnya kesal terhadap gadis itu.
"Semuanya sudah kumpul?" tanya bang Baim memulai pembicaraan. Semua mengangguk mengiyakan pertanyaan yang baru dilontarkan bang Baim.
"Siapa tadi yang mencatat para peserta lomba azan?" tanyanya kembali.
Vita mengangkat tangan. "Saya bang."
"Berapa peserta lagi yang belum tampil?" bang Baim bertanya untuk memperhitungkan waktu yang tersisa sampai menjelang sore nanti.
"Lima orang lagi bang," sahut Vita.
"Oke.. Lalu untuk yang mencatat peserta lomba sholat jenazah, ada berapa peserta?" lanjut bang Baim.
"Hanya ada lima belas orang bang," sahut Rani yang tadi mencatat para peserta lomba sholat jenazah.
"Berarti jumlah keseluruhan peserta lomba untuk hari ini tinggal dua puluh orang lagi. Saya rasa waktu kita masih cukup untuk menyelesaikan perlombaan hari ini sampai pukul lima sore. Baiklah, saya rasa sekian briefing kita siang ini, mari kita lanjutkan makan siang bersama. Ayoo yang laki-laki bantu ambilkan nasi kotak yang sudah disediakan di pojok kiri masjid." ajaknya sambil beranjak pergi menuju pojok masjid.
Selesai makan siang dan sholat zuhur berjamaah di masjid, perlombaan di mulai kembali. Terlebih dahulu menyelesaikan peserta lomba azan yang tersisa lima orang lagi dan dilanjutkan dengan peserta lomba sholat jenazah sampai pukul lima sore. Sehabis acara mereka semua membersihkan pekarangan masjid yang terdapat banyak sampah minuman gelas, dan menyusun kembali kursi-kursi peserta lomba tadi. Hari ini adalah hari yang melelahkan untuk mereka semua.
.
.
.
.
.
tbc
__________
vote
like
♥️
🙏😊
__ADS_1