
"Cepat ganti bajunya kak, Baim sudah lama menunggu mu," ucap ibu yang sudah memasuki kamar anaknya.
"Ibu aja deh yang nemenin, kakak mau tidur," jawab Aini sambil melepas hijabnya.
"Ada-ada saja kamu ini, dia kan pengen ngobrol sama kakak, kok jadi ibu yang di suruh nemenin?" timpal ibu.
"Aini pusing bu, bilang aja kalau kakak mau istirahat, ntar juga dia pulang." Aini sudah duduk di tepi ranjang dan sudah mengganti seragam sekolah dengan baju santainya.
Ibu menghela nafas pelan. "Masalahnya kakak tadi terlihat baik-baik saja, bohong banget ibu kalau harus bilang kakak sakit."
"Kakak nggak bilang kalau kakak sakit bu, tapi kakak mau istirahat. Tapi terserah ibu deh mau bilang apa juga, pokoknya kakak nggak mau ketemu dia!"
"Kenapa sih? Emang kalian ada masalah apa? Ibu perhatikan bahkan belakangan ini kalian tidak pernah bertemu, lalu kenapa bisa ada masalah?" tanya Ibu penasaran.
"Hmm.. mulai deh keponya," gumam Aini.
"Nanti kalau sudah mood, baru kakak ceritain. Sekarang ibu keluar dulu dan tolong bilangin ke dia kalau Aini mau istirahat ya bu, please..." ujarnya sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Oke.. tapi nanti janji ya kalau kakak akan cerita masalah ini," pintanya pada putri sulungnya itu.
"Ibu tidak percaya kalau Baim pria yang suka buat masalah, paling juga kamu yang terlalu sensitif," lanjut ibu.
"Ihhh.. Ibu kok gitu sih! Kan yang anak ibu itu Aini, bukan dia. Tapi kenapa ibu malah belain dia!" gerutu Aini.
"Dengar ya Aini sayang, ibu tu paling tau sifat anak-anak ibu," balas ibu lembut.
"Lagian kalau memang dia salah, pasti dia kemari mau meminta maaf, lalu kenapa kakak tidak mau menemuinya? Bukannya dengan bertemu dan membicarakan suatu akar permasalahan semua akan selesai?"
Aini menggiring tubuh ibu dan menariknya pelan ke arah pintu kamar agar segera keluar. " Kakak mohon bu, bilangin ke dia kalau kakak mau istirahat ya," pintanya.
"Ya.. Ya.. Ya.. Baiklah, sudah tidur sana!" titah ibu dan sudah keluar dari kamar Aini sepenuhnya.
Ibu diam sejenak di depan kamar Aini, mencoba menyusun kata-kata agar nanti Baim tidak sakit hati saat tau Aini tidak ingin menemuinya.
"Nak Baim, kok belum diminum teh nya?" ucap ibu saat kembali duduk bersama Baim di ruang tamu.
"Iya bu." Baim yang merasa tidak enak langsung meneguk teh yang sudah dari tadi disediakan ibu Ema.
"Ibu mohon maaf ya nak, Aini katanya capek dan mau langsung istirahat, jadi tidak bisa menemui kamu.
Baim sudah menduga akan hal ini, namun hatinya masih belum bisa menerima kenyataan yang didengarnya dari mulut sang calon mertua. cih, pede banget!
"Tidak mengapa bu, saya bisa mengerti. Mungkin lain waktu saya ada kesempatan untuk berbicara dengan Aini saat dia tidak merasa capek dan lelah seperti ini," ujarnya lirih. Walau dia mengatakan demikian, namun raut wajahnya yang nampak kecewa tidak bisa ia sembunyikan.
"Maaf ya nak, ibu jadi tidak enak sama kamu, sudah menunggu lama namun yang ditunggu malah tidak ingin bertemu," ucap ibu dengan rasa bersalahnya.
__ADS_1
"Tidak masalah bu, saya juga salah karena bertamu di saat yang tidak tepat. Kalau begitu saya permisi ya bu, assalamu'alaikum."
"Iya nak, wa'alaikumsalam," balas ibu.
Ibu segera membereskan gelas dan toples berisi camilan yang disuguhkannya pada Baim tadi. Selepas itu ia kembali ke kamar Aini.
"Kak," panggil ibu dari samping ranjang anaknya. Tidak ada sahutan sama sekali. "Jadi dia tidur beneran?" gumam ibu yang tidak melihat reaksi apa-apa saat ia menepuk pelan lengan Aini.
"Ya sudah, lebih baik aku cari si bungsu dulu agar ikut tidur siang dengan kedua kakaknya," ucapnya lirih.
* * *
"Abang sudah pulang?" tanya Fahmi yang melihat Baim memarkirkan motornya dihalaman rumah.
"Sudah," sahutnya lesu, kemudian ikut duduk di sebelah Fahmi.
"Abang kenapa? Bukannya baru bertemu sang pujaan hati?" tanya Fahmi lagi saat melihat raut wajah pria itu nampak tidak bersemangat.
"Bertemu hanya beberapa detik saja tanpa berkata apapun. Menurutmu itu menyenangkan?" Baim malah balik bertanya.
"Kok bisa? Seperti bertemu hantu saja, hanya beberapa detik lalu hilang," ledek Fahmi, kemudian tertawa lepas.
"Ledekin aja terus, seneng banget liat abang menderita," keluh Baim.
Fahmi seketika diam dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. "Ya maaf, becanda juga!"
"Sabar bang, mungkin belum saatnya abang menjelaskan ini semua. Allah sudah mengatur keberlangsungan hidup setiap makhluknya, jadi ini juga pasti sudah rencana Dia," ucap Fami dengan bijak.
"Tumben kamu pinter," ledek Baim.
"Yak, sepele abang. Gini-gini aku juga sarjana, kalau abang lupa," jawabnya sombong.
"Iya tau.. tapi jangan sombong juga!"
"Emang abang ada masalah apa sih sama Aini?" Fahmi mulai kepo.
"Abang juga nggak tau," ucap Baim sambil mengangkat bahu.
"Terus abang mau jelasin apa kalau masalahnya saja tidak jelas?" Fahmi mulai bingung dengan permasalahan Baim.
"Ya itu, makanya abang tadi bilang kalau cewek itu susah dimengerti. Maksud abang datang tadi kan mau menanyakan hal apa yang menyebabkan Aini menjauhi abang, kalau abang punya salah sama dia ya abang mau minta maaf, tapi dia nggak mau ketemu abang."
"Rumit juga masalah abang ini, sepertinya abang perlu konsultasi pada orang yang tepat," sahut Fahmi.
"Emang siapa orang yang tepat?" tanya Baim penasaran.
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan umi bang. Kan sesama cewek pasti tau la caranya buat menaklukkan hati mereka," ucap Fahmi sambil memainkan alisnya.
"Bener juga kamu, tapi kemarin abang sudah bertanya pada umi, namun umi hanya memberi saran kalau abang harus menemui Aini dan bicara baik-baik padanya. Abang sudah melakukan itu, tapi dia malah tidak ingin ditemui, jadi abang harus apa lagi?" Baim mengacak rambutnya frustasi.
"Wah, kalau itu masalahnya ya Fahmi nyerah deh bang," katanya sambil mengangkat kedua tangan.
"Ya Allah.. aku harus bagaimana?" ucapnya lirih.
"Aha.. aku punya ide bang." Tiba-tiba Fahmi mengangkat jari telunjuknya dan berbicara sedikit lantang.
Baim mengelus dada. "Astaghfirullah.. kamu bikin kaget saja!" gerutu Baim.
"Eh maaf bang, sangking senangnya Fahmi dapat ide," sahutnya sambil nyengir kuda.
"Jadi apa idemu?" Baim begitu antusias mendengar ide Fahmi.
"Aini punya adik kan bang?" tanya Fahmi.
"Punya, terus?" tanya Baim pula.
"Abang baik-baikin aja adiknya, ya abang kasi coklat kek, permen, atau ajak jalan-jalan sesekali, pasti mereka senang. Setelah itu pasti Aini luluh dan maafin abang," tutur Fahmi.
Baim mendorong pelan dahi Fahmi dengan jari telunjuknya. "Kalau itu juga sudah abang lakuin Fahmi," ucapnya sedikit geram.
"Oh, sudah.. Jadi hasilnya gimana?"
"Ya seperti yang kamu lihat, Aini juga tidak terpengaruh. Bahkan sekarang dia tidak mau bertemu abang sama sekali."
"cup.. cup.. cup.. yang sabar ya bang. Fahmi rasa memang belum saatnya masalah abang selesai untuk sekarang ini. Mungkin Allah sedang menguji kesabaran abang."
Baim berpikir sejenak. "Ada benarnya juga ucapanmu."
.
.
.
.
.
tbc
___________
__ADS_1
Budayakan klik LIKE ya readers ku
love you allπβ₯οΈβ₯οΈππ