
sorry ya agak telat UP episode ini
banyak tugas yang harus di selesaikan
yang masi setia menunggu
jan lupa vote
like, ♥️ dan komennya🙏😊
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Pagi itu Aini tampak terburu-buru memakai seragam sekolah dan hijabnya. Itu semua karena dia bangun kesiangan. kemana ibu Ema? bukannya suara ibu yang cetar membahana badai itu selalu bisa membangunkan Aini? Tapi kenapa gadis itu bisa kesiangan juga?
"E.. e.. e.... mau kemana kak?" tanya Ibu Ema yang melihat anak gadisnya setengah berlari menuju pintu utama.
"Mau ke sekolah la bu.. kakak uda telat ni.." sahutnya sambil membuka kunci pintu itu.
"Nggak sarapan dulu?" jawab ibu sambil memakaikan baju seragam si bungsu.
Aini sudah duduk di depan pintu sambil memakai sepatunya. "Nggak sempat bu.. hari ini kan hari pertama sekolah di tahun ajaran baru, jadi harus cepat datang biar bisa pilih bangku."
"Oh.." kata ibu lagi. Kini ibu tengah menguncir rambut si bungsu.
"Ibu kenapa nggak bangunin kakak sih tadi? Kan jadi telat ni.."
"Ibu tadi lagi buatin bekal buat si bungsu, karena hari ini dia pulang lebih lama dari biasanya. Jadi ibu bawain bekal biar dia nggak laper ntar di sekolah. Makanya ibu nggak sempat teriak-teriak bangunin kakak. Lagian biasa kakak kan buat alarm sendiri di handphone, trus kenapa masi bisa telat?" kata ibu dan kembali bertanya.
"Yaudah deh bu, lama kalau kakak jawab lagi pertanyaan ibu."
"Assalamu'alaikum..," ucapnya sambil mencium tangan sang ibu dan setengah berlari agar segera sampai ke persimpangan.
**********
Di sekolah..
Menghela nafas.. untung tu angkot ngebut.. jadi cepat sampai deh ke sekolah," ujar Aini setelah turun dari angkot. Aku harus buru-buru cari kelas ni.. jangan sampai nggak dapat bangku lagi kayak tahun lalu.
Aini berlari menuju papan mading untuk melihat di kelas mana ia ditempatkan. Usai melihat pengumuman di mading tadi, ternyata Aini masi di tempatkan di kelas C. Jadi karena sekarang tahun ajaran baru, berarti Aini berada di kelas 9c. Gadis itu langsung menuju kelas 9c yang berada di lantai 2 seperti kelas 8c. Hanya bedanya kalau kelas 8c dulu tangganya berada di sebelah kiri kantor guru, sedangkan kelas 9c berada di sebelah kanan kantor guru.
"Kelas A.. berarti di ujung sana kelas 9c," batin Aini yang melihat papan yang bertuliskan huruf A di atas kelas, yang tepat di depan tangga.
Gadis itu segera berlari menuju kelasnya yang berada di paling pojok kanan dari tangga.
bughh..
"Aww .. sakit.." gumam Aini.
Dia baru saja terjatuh karena menabrak orang yang hendak keluar dari kelas yang ditujunya.
"Eh, sorry... sini aku bantu," kata siswa itu sambil mengulurkan tangannya.
"Nggak usah, aku bisa sendiri.." jawabnya, kemudian gadis itu berdiri lalu pergi memilih bangku di dalam kelasnya.
Alfi mengernyit heran. "Aneh.. mau di bantu kok nggak mau."
Ya, siswa yang bertabrakan dengan Aini itu ya si Alfi, teman sekelasnya dulu di 8c, dan sekarang mereka sekelas lagi.
"Aini.. sini.." panggil Sara dari arah bangku paling belakang di barisan nomor 2.
Gadis itu menggeleng. "Aku di sini aja".
Aini memilih bangku no 2 dari depan meja guru. Ia meletakkan tas nya dan menghampiri Sara yang duduk dibelakang.
__ADS_1
"Kok duduk dibelakang sih? Yuk pindah di depan sama ku," kata Aini mengajak Sara pindah dari bangkunya.
Sara menghela nafas. "Enggak deh, aku males duduk di depan, sering di perhatiin guru, aku kan jadi susah mau bales pesan Amar nantinya."
"Ihhh... dasar bucin ya.." kata Aini sambil menoyor kepala sahabatnya itu.
"Jadi kita duduk terpisah lagi ni?" tanyanya lagi dan kini sudah duduk disebelah Sara.
Menganggukkan kepala. "Iya, nggak apa-apa kan Ni?"
"Aku sih yes!" jawab Aini menirukan gaya para juri di ajang pencarian bakat dalam bidang menyanyi di televisi.
"Isshh.. najis.. gaya kau tu, kurangi dikit.." cibir Sara.
Aini tertawa.. "Gaya mu itu kurangi dikit, ngapain coba ngomong mulutnya di maju-majuin ke depan gitu? Mau nyaingin hidung pinokio tu bibir biar jadi panjang?"
"Hussshh... enak aja.."
"Eh Ni, nggak nyangka kita masi bisa sekelas ya? aku bersyukur banget, dari kelas 7 kita tak terpisahkan," kata Sara sambil memeluk Aini dari samping.
"Ra.. lepas! Apaan sih peluk-peluk, ntar dikira kita lesbi lagi," ketus Aini.
"Peluk dikit aja kan nggak apa-apa.. habisnya kalau mau peluk Amar kan belum boleh.." kata Sara yang sudah melepas pelukannya.
"Tu kan.. mulai lagi bucinnya.. dikit-dikit Amar.. dikit-dikit Amar.. udah ah, aku balik ke bangku ku dulu," jawab Aini sambil menuju bangkunya di depan.
"Idihhh.. syirik aja.. Makanya jangan jomblo, biar nggak ngenes!!" sambung Sara lagi.
"Dasar Jones!!" Sara menjulurkan lidahnya tanda mengejek.
"Dasar bucin," balas Aini mengejek pula.
Begitu eterusnya beberapa kali mereka lakukan layaknya anak kecil yang ejek-ejekan tanpa mau mengalah satu sama lain sampai salah satu diantaranya merasa lelah dan berhenti dengan sendirinya.
"Bole aja.. ini juga kosong kok... Lagian Sara nggak mau duduk sini," jawab Aini sambil melirik ke belakang.
Sara yang merasa di tatap hanya menjulurkan lidahnya kembali.
Kini semua murid kelas 9c sudah menduduki bangku masing-masing. Aini melihat satu per satu wajah teman-teman sekelasnya. Tak banyak yang berubah, hanya ada beberapa orang baru saja yang belum dikenalnya.
Beberapa saat kemudian, guru yang menjabat sebagai wali kelas mereka sudah memasuki kelas.
"Anak-anak, perkenalkan nama ibu Santi, ibu yang akan menjadi guru wali kalian. Ibu harap kita bisa bekerja sama dengan baik untuk menciptakan suasana belajar di dalam kelas yang kondusif."
Hening sejenak..
"Oh iya, ibu mau kalian memperkenalkan diri kalian satu per satu. Tapi sebelumnya, ada yang bisa bantu ibu mengisi nama-nama kalian di buku absensi siswa?" tanya bu Santi kepada murid-muridnya.
"Aini bu...." teriak Sara dari belakang.
"Siapa yang bernama Aini? tanyanya kembali.
Aini berdecak kesal. "Saya bu.." katanya sambil mengangkat tangan.
"Bisa tolong bantu ibu kan? Ini buku absensinya. Ibu Santi berjalan menghampiri Aini dan memberikan buku absensi itu kepadanya."
"Baik bu.." jawabnya lirih.
"Dasar Sara bucin, awas kau ya," batinnya yang menahan kesal karena Sara menyebut namanya jadi ia ditugaskan menulis absensi siswa.
Semua murid sudah memperkenalkan diri satu per satu dan tak ketinggalan pula Aini. Gadis itu juga sudah menyelesaikan tugas dari bu Santi.
"Terima kasih nak.." ucap bu Santi saat menerima buku absensi yang diberikan Aini.
__ADS_1
"Iya bu.. sama-sama," jawabnya sambil kembali duduk ke bangkunya.
"Wah.. tulisan kamu rapi dan bagus, kalau begitu kamu ibu tunjuk jadi sekertaris kelas ya?" tanya bu Santi meminta persetujuan gadis itu.
Aini diam tak menjawab.
"Apa ada yang mau jadi sekertaris kelas ini selain Aini?" tanya bu Santi kepada para murid 9c.
"Nggak ada bu.." jawab mereka serentak
"Baiklah Aini, kamu tidak bisa menolak karena tidak ada kandidat lain. Mulai hari ini kamu jadi sekertaris kelas ya. Tolong catat daftar hadir teman-temanmu di buku absensi siswa. Kalau yang tadi buku absensinya punya ibu, jadi nanti kamu tulis lagi ya.."
"Siapa yang bersedia menjadi ketua kelas?" tanya bu Santi lagi.
"Dia aja bu.. dari dulu dia selalu jadi ketua kelas" kata seorang siswa yang duduk di barisan tengah.
Siswa itu menunjuk ke Alfi yang merupakan teman sebangkunya.
"Siapa nama kamu?" tanya bu Santi.
"Alfi bu.." jawabnya.
"Kamu bersedia jadi ketua kelas?"
"Bersedia bu.." Alfi menjawab dengan antusias. Sepertinya dia memang sangat menyukai peran sebagai ketua kelas setiap tahunnya.
"Syukurlah.. kalau begitu tinggal memilih bendahara saja.. tapi ibu lagi ada urusan di luar, jadi ibu harus segera pergi, ibu serahkan kepada kalian untuk memilih bendahara kelas ya.
"Perhatian semuanya.. kelas saya ambil alih," kata Alfi yang sudah berdiri di depan kelas menggantikan bu Santi yang tadi sudah pergi.
"Saya harap kerja samanya ya teman-teman.. Siapa yang mau menjadi bendahara kelas?" kata Alfi yang memegang spidol siap menulis nama calon kandidat bendahara.
"Siska aja Fi.." sahut Aini menanggapi pertanyaan Alfi. "Dia amanah kok orangnya, buktinya uang kas kita tahun lalu aman kan sama dia."
"Ada usul lain?" tanya Alfi kembali.
Sebenarnya Alfi setuju dengan usul Aini, tapi dia takut dianggap gegabah mengambil keputusan sepihak, jadi lebih baik dia bertanya dulu kepada teman-teman lainnya terutama teman yang baru ikut bergabung di kelas C ini.
Semuanya diam tak menjawab. Mungkin memang tidak ada yang mau repot-repot mengemban tugas sebagai perangkat kelas. Buang-buang waktu saja, pikir mereka.
"Oke.. karena tidak ada usul lain, jadi Siska tetap menjadi bendahara kelas ini."
Usai pemilihan perangkat kelas tadi semua murid berhamburan menuju kantin karena bel istirahat telah berbunyi.
"Ayoo Ni kita ke kantin.." ajak Sara kepada Aini yang masi duduk di bangkunya..
Aini diam saja karena masi kesal dengan Sara tadi.
"Ni.. ayoo.." ajaknya lagi
"Kau marah ya?"
.
.
.
.
.
tbc
__ADS_1
__________