Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Aku Cinta Kamu, sungguhan?


__ADS_3

Mereka berempat sudah masuk ke dalam tempat kecil untuk melakukan poto box yang dimaksud Sara. Tempat itu memang sangat kecil, namun masih muat untuk ukuran mereka berempat. Mereka sudah berpose dengan beragam gaya, dari mulai tersenyum manis, memasang wajah jelek, sampai wajah menahan b*ker juga sudah mereka lakukan. Hal itu mengundang gelak tawa saat mereka melihat ekspresi wajah mereka sendiri di layar tempat poto itu.


"Hasilnya pasti lucu-lucu deh," ucap Sara saat sudah keluar dari tempat poto box itu.


"Iya ya, seru juga. Baru tahu ada tempat poto beginian," timpal Aini.


"Makanya, jadi cewek jangan di rumah terus, jadi nggak tahu apa-apa saat di luar! Seperti katak dalam tempurung," ledek Sara.


"Iya deh iya.. yang anak gaol itu.. biasa hang out, aku ini apa lah, hanya anak seorang buruh," jawab Aini berpura-pura sedih.


"Ih, kok jadi bawa-bawa kerjaan orang tua sih. Aku kan cuma bercanda," sahut Sara yang tak enak hati.


"Biasa aja kali, aku juga bercanda!" sambung Aini.


Mereka berempat sedang menunggu hasil cetak poto yang tadi mereka buat. Tak butuh lama, hasilnya sudah selesai di cetak oleh pegawai yang bertugas mencetak poto dari setiap pengunjung studio poto tersebut.


"Ini dek, potonya," kata mbak-mbak pegawai studio.


"Tu kan, lucu banget poto kita. Lihat Ni, wajahmu mirip kucing keselek duri," ledek Sara saat melihat wajah Aini di poto mereka berempat. Amar dan Bagas ikut tertawa, entah karena memang lucu melihat wajah Aini atau karena mereka lucu melihat wajah mereka sendiri.


"Ini mbak, uangnya," ucap Bagas yang sudah mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah dan menyerahkan kepada pegawai studio itu.


"Tunggu ya dek, kembaliannya." Pegawai itu nampak sibuk mengambil pecahan uang di dalam laci di hadapannya.


"Eh, kok Bagas yang bayar. Kamu gimana sih yank, gantiin uang Bagas tu. Kan kita yang poto, kenapa dia yang bayar?" titah Sara pada kekasihnya.


Amar mengeluarkan dompet dari sakunya hendak mengganti uang Bagas. "Tidak perlu di ganti, lagian kalian tadi sudah membayar makanan untuk kita, jadi gantian aku yang bayar potonya," jelas Bagas yang menghentikan Amar untuk mengeluarkan selembar uang dari dompetnya.


"Ya sudah deh, kalau Bagas maksa, kami tidak menolak," terang Sara.


Aini memutar bola matanya malas. "Bilang saja kalau kau juga senang Bagas melakukan ini!" batin Aini.


"Eh, ini yang poto kita berempat ada tiga lembar. Aku bagiin satu-satu buat kita ya," ucap Sara setelah masalah uang tadi selesai. "Kamu yank, nggak dapat poto yang berempat ini nggak apa ya, cuma ada tiga, jadi pas untuk aku, Aini dan Bagas. Kamu simpan poto kita yang berdua saja ya," jelas Sara pada Amar dan sudah diangguki oleh pacarnya itu.


"Yank, aku ke toilet bentar ya," ucap Amar yang tiba-tiba ingin mengeluarkan zat sisa dalam dirinya.


"Iya, cepat ya. Awas kalau lama kayak tadi!" ancam Sara. Amar langsung pergi mencari toilet terdekat dari studio poto karena mereka belum pergi dari sana.


"Aku juga deh," timpal Bagas. Aini dan Sara mengangguk serentak.


"Ni, aku mau tanya sesuatu deh," ucap Sara dan sudah mengajak Aini untuk duduk di kursi depan studio.

__ADS_1


"Apa?" jawab Aini.


"Kau nggak ada perasaan sedikitpun sama Bagas?" tanya Sara.


Dari sekian lama Aini berteman dengan Sara, baru kali ini dia tampak serius dimata Aini. "Emangnya kenapa?"


"Tidak apa. Kalau seandainya Bagas menyukaimu bagaimana?" tanyanya lagi. Sara sepertinya bisa membaca situasi kalau Bagas sudah lama memendam perasaan dengan Aini.


Aini semakin heran di buat Sara. Kenapa Sara menanyakan hal itu, padahal Aini pernah bilang kalau ia tidak ingin pacaran. "Kalau dia suka ya alhamdulillah, itu artinya aku tidak membuat kesalahan yang menyakiti hatinya."


"Apa maksudmu alhamdulillah? Apa kau akan menerimanya jadi pacar mu?"


"Siapa bilang aku menerimanya? Aku hanya bersyukur jika aku di sukai seseorang, berarti selama ini aku sudah jadi teman yang baik yang tidak pernah menyakiti hati orang lain. Kau juga menyukaiku sebagai teman 'kan?" jelas Aini.


Sara pusing sendiri mendengar penjelasan Aini. Entah Aini yang tak paham arah pembicaraan Sara, atau Sara yang terlalu oon menanggapi jawaban Aini. "Oke, sekarang aku tanya lagi. Kalau Bagas bilang dia mau jadi pacar mu apa kau mau?"


Aini diam, entah apa yang ada dalam pikirannya. "Apa kau akan menolak cowok sebaik Bagas?" Sara tidak hentinya bertanya pada Aini.


"Tapi aku tidak ingin pacaran!" tegas Aini.


"Pacaran itu menyenangkan, ada yang sering nanyain kabar, perhatiin kita, kawan curhat, kawan hang out, dan lain-lain deh," terang Sara menggoyahkan keyakinan Aini.


"Tapi.." belum lagi Aini melanjutkan kalimatnya, Amar dan Bagas sudah datang menghampiri mereka.


"Pikirkan kata-kata ku," bisik Sara sambil menepuk pundak Aini dan berlalu pergi bersama Amar. Aini masih terduduk diam di kursi itu. Bagas yang melihatnya segera menghampirinya lebih dekat.


"Aini, ayo kita pulang. Apa kamu masih ingin di sini?" tegur Bagas yang melihat Aini melamun.


"Hmm.. iya ayo!" sahut Aini. Sara dan Amar sudah cukup jauh beberapa langkah di depan Aini. Gadis itu hendak berjalan cepat untuk mengejar ketertinggalannya, namun di hentikan oleh suara Bagas.


"Aini, aku mau bicarain sesuatu. Bisa ikut aku?" pintanya.


Aini langsung menghentikan langkahnya. "Ya udah, bicara aja di sini. Dari tadi kita juga sudah ngobrol."


"Aku mau ngomong, tapi tidak di sini. Ayo ikut aku," ajaknya dan sudah berjalan mendahului Aini. Tanpa banyak bertanya Aini mengikuti langkah Bagas kemana pun ia pergi.


Di Taman


Ya, mereka kini sedang berada di taman yang berada tepat di sebelah mall yang mereka kunjungi. Tadi saat di toilet, Bagas sudah menyuruh Amar untuk mengajak Sara ke halte bis lebih dulu untuk menunggu Aini dan dirinya, karena akan ada hal penting yang ingin dibicarakannya dengan gadis di sebelahnya ini.


"Mau ngomong apa? Aku nggak punya banyak waktu. Nanti ibu di rumah khawatirin aku karena yang ibu tahu kalau aku hari ini pulang cepat, tapi ini bahkan sudah cukup lama dari jam pulang sekolah," tutur Aini setelah dia mendudukkan diri di kursi taman.

__ADS_1


"Ya ampun ini anak, nggak ada sabar-sabarnya dikit aja ya, nggak tau apa dia kalau aku uda nervous setengah mati mau ucapin kata-kata ini dari tadi!" gumam Bagas.


"Iya.. aku mau bilang sesuatu yang penting sama kamu," ucap Bagas dan ikut duduk di sebelah Aini.


"Ya bilang aja sih! Dari tadi aku uda pasang telingaku baik-baik untuk dengerin setiap huruf yang nantinya keluar dari mulut kamu, tapi kamu nggak ngomong juga!" ketus Aini. Entah apa yang merasukinya, hingga dia jadi ketus sama Bagas begitu.


"Aku mau bilang kalau aku..


....


...


ci.. cinta.. sama kamu.." Bagas menghela napas setelah berhasil mengucapkan kata keramat itu. Apapun yang akan dikatakan Aini nantinya, ia berusaha siap untuk menerimanya.


"Astaga, apa ini? mengapa bisa kebetulan sekali Bagas mengatakan ini setelah Sara tadi juga membicarakannya padaku?" batin Aini. "Bukannya waktu di pesta Trisya dia bilang kalau itu hanya untuk mengikuti aturan permainan? Jadi sekarang ini apa? Apa yang tempo hari itu sebenarnya sungguhan?" Aini berdialog dengan pikirannya sendiri tanpa menjawab perkataan Bagas.


"Aini.. hei.." tegur Bagas sambil melambaikan tangan di depan wajah Aini. Bagas khawatir jika Aini nantinya malah jadi pusing untuk menjawab pernyataan cintanya.


"Emm..?" sahut Aini setelah sadar dari lamunannya.


"Tidak perlu menjawab sekarang, aku tahu ini tidak mudah. Jadi pikirkan dulu baik-baik sebelum kau menjawabnya. Apapun jawabanmu, tidak mengubah perasaanku terhadapmu." Bagas berusaha menenangkan Aini yang terlihat syok. Ia tahu jika ini yang pertama buat Aini, tentu tidak mudah menerima teman dekat laki-laki yang dari dulu Aini tidak pernah memilikinya.


"Tidak.. tunggu dulu! Bukannya waktu di pesta Trisya kamu bilang.." Aini mencoba mengungkapkan Apa yang ada dipikirannya.


Bagas menyela perkataan Aini yang belum sempat ia selesaikan. "Aku bohong! Iya, waktu itu aku terpaksa bohong karena aku takut kamu jadi menjauh dari aku kalau aku ungkapin yang sebenarnya."


"Aini.. Aku cinta kamu.. sungguh, ini bukan mainan atau lelucon, aku serius dengan kata-kata ku," lanjut Bagas.


Aini membuang napas kasar. "Maaf, aku tidak bisa menjawab. Aku butuh waktu!" Aini langsung berlari meninggalkan Bagas yang masih duduk di taman. Ia bingung, di satu sisi dia selama ini merasa nyaman berteman dengan Bagas, sedangkan di sisi lain dia tidak ingin ada hubungan yang namanya pacaran dalam hidupnya. Tapi Sara bilang kalau pacaran itu menyenangkan, sedangkan ibu bilang kalau pacaran itu lebih banyak hal negatif dari pada positifnya. Ia terus berlari sampai ia melihat Sara duduk di halte bis dengan Amar dan segera menghampiri mereka.


.


.


.


.


.


tbc

__ADS_1


____________


Like, Vote, Komen cem biasa ya😉♥️🙏


__ADS_2