
tok.. tok.. tok...
"Aini... Aini... bangun nak.. Ada yang nyariin tu di depan," panggil ibu Ema dengan nada yang lembut.
Ibu Ema memang suka berubah-ubah sesuai moodnya, kadang bisa mengeluarkan suara layaknya petir menyambar, kadang juga bisa selembut sutra. hahaha
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, namun Aini masi terlelap dalam tidurnya. Tadi pagi sehabis sholat subuh ia tidur lagi, karena tadi malam habis mengerjakan laporan-laporan untuk kegiatan lomba membuatnya masih mengantuk. Hari ini hari minggu, makanya ia bisa melanjutkan tidurnya kembali selesai subuh.
"Huuaaa...ppp," Aini menguap sambil menutup mulutnya. Dikuceknya kedua bola mata indahnya agar tersadar dari tidurnya. Suara ibu Ema membangunkannya membuat ia menyudahi tidurnya di pagi ini.
"Iya bu.. bentar..," sahutnya dari dalam kamar.
"Cepat keluar... temanmu menunggu di depan!" perintah ibu lalu meninggalkan kamar Aini.
Tak lama Aini keluar kamar menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur. Memang cuma ada satu kamar mandi di rumah ini. Namanya saja rumah mereka rumah sederhana, jadi jangan harap di dalam kamar tidur terdapat kamar mandi pula. Setelah selesai dengan acara bersih-bersihnya di kamar mandi, Aini kembali ke kamar untuk memakai hijabnya, lalu ia bergegas keluar menemui teman yang dikatakan ibu Ema tadi.
"Sstttt... sssttt.. cewek...." siulan Aini menggoda temannya yang datang pagi-pagi ini.
"Ihhh... lama banget sih keluarnya!"gerutu Sara.
Ternyata yang datang pagi-pagi ke rumah Aini ialah Sara.
"Tumben pagi-pagi ke sini.." celetuk Aini sambil duduk di kursi teras rumahnya.
"Aku mau pinjam buku, boleh nggak?" tanyanya.
"Nggak boleh tu..", canda Aini.
"Ishh... peliiitt.." ucap Sara dengan kesalnya.
Aini tertawa. "Bercanda kali... mau pinjam buku apa sih? ini kan hari libur, masi bahas buku pelajaran aja," sahutnya lagi.
"Kau lupa atau gimana Aini? Besok tu pelajaran Agama, dan kelompokku presentasi untuk membahas shalat jenazah, aku kan nggak punya bukunya, makanya aku mau pinjam," jawab sara dengan sewot.
__ADS_1
"Seloowwww kali... mana ku tahu kalau besok giliran kelompokmu," jawab Aini santai.
Aini berjalan masuk ke dalam rumah menuju kamarnya dan mengambil buku yang dimaksud Sara.
"Ini, bukunya..." kata Aini yang sudah berada di samping Sara kembali.
"Makasih Ni...." senyum sumringah Sara menerima bukunya.
"Eiittttsss... nggak gratis lhoo.. perjam goceng ya.. atau boleh juga kalau mau traktir makam mie ayam sepuasnya," kata Aini yang membayangkan nikmatnya semangkuk mie ayam di kantinnya. Padahal niatnya hanya bercanda, tapi dia malah ngiler sendiri membayangkan makanan favoritnya itu.
"Iya.. Iya.. ntar aku traktirin kau makan mie ayam sepuasnya, bila perlu tukang mie ayamnya ku suruh dateng ke sini untuk masak di rumah mu," balas Sara sewot sambil memonyongkan bibirnya.
Lagi Aini tertawa. "Sa ae lu Ra," sambil tangannya memukul pelan lengan Sara.
Ibu Ema datang membawakan teh hangat dan camilan untuk Aini dan Sara lalu pamit ke dapur kembali.
Mereka berdua menikmati makanan dan minuman itu sambil bercerita tentang Sara dan Amar. Ternyata Sara sudah ada kemajuan. Dia bilang kemarin habis berbalas pesan dengan Amar lewat wa. Amar ternyata orangnya mengasyikkan, membuat Sara senang saat berbalas pesan dengannya. Sara juga bilang kalau Amar sepertinya memberi kode bahwa ia ingin lebih dekat dengan Sara. Karena Amar menanyakan Sara sudah memiliki pacar atau belum. Dari pertanyaan itu Sara simpulkan bahwa Amar takut mengganggu Sara jika memang dia sudah punya pacar, dan pasti Amar tidak memiliki kesempatan untuk mendekatinya.
"Ah, gila aja aku.. mau di taruh dimana muka ku kalau aku yang nembak duluan. Gengsi dong.." cibir Sara.
"Aku pikir kau tidak tahu malu orangnya.." ejek Aini.
"Enak saja mengejekku seperti itu!" gerutu Sara.
"ulu.. ulu.. maaf ya.. aku salah.." memasang wajah imutnya sambil Aini mencubit gemas pipi Sara yang sedang cemberut itu.
Sara pun tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Ni, kita ikut ekskul paskibra yookk.." ajak Sara tiba-tiba."
"Malas ah.. capek.. mesti panas-panasan, ntar aku jadi item gimana?" balas Aini.
"Eiittsss.. tunggu dulu.. tunggu dulu.. kalau aku tidak salah, bukannya kau nggak suka dari dulu ikut-ikutan ekskul apalagi paskibra yang hanya baris berbaris itu," lanjut Aini sambil mengingat-ingat perkataan Sara saat kelas 7 dulu.
__ADS_1
Karena dulu sewaktu MPLS, para senior memperkenalkan berbagai macam ekskul di sekolah mereka dan saat Aini mengajak Sara untuk mengikuti salah satunya Sara malah jawab "Aku nggak hobi ikut-ikut begituan." Tapi sekarang Sara mengapa berubah pikiran? dia kesambet setan apa coba?
Sara diam sejenak seperti memikirkan sesuatu kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"I.. Itu... aku... hmm... aku lagi pengen nyari kesibukan lain aja Ni.. malas pulang cepat ke rumah, nggak da siapa-siapa."
Iya, kedua orangtua Sara memang sibuk bekerja dan pulang pada malam hari, jadi dia lebih sering sendiri di rumah. Sara punya seorang kakak, tetapi jarang sekali pulang ke rumah karena sering menginap di kos temannya dekat kampus.
Aini sedikit curiga dengan jawaban Sara. "Seperti ada yang disembunyikan."
Tak berapa lama Sara tersadar bahwa ia harus segera kembali karena orangtuanya mau pergi bersama dengannya untuk suatu urusan. Berhubung ini hari libur, jadi orangtuanya juga ada di rumah. Ia pun berpamitan dengan Aini hendak segera pulang, namun terhenti saat Aini memegang lengannya..
.
.
.
.
.
tbc
______
ramekan ya readers.. ππ
vote jan lupa
like dan hatinya juga
maaf ya banyak nuntutnya ni authorπππ€
__ADS_1