
Hari ini Aini akan pergi ke sekolahnya untuk mengambil Rapor dan SKHU (surat keterangan hasil ujian) sementara untuk bisa mendaftar ke sekolah tujuannya nanti. Walau sudah dinyatakan lulus dari sekolah, ia masih menggunakan seragam MTs untuk mengambil rapor karena itu atas perintah kepala sekolah.
"Kak, cepat sedikit, Sara sudah menunggu di depan," ucap ibu saat memasuki kamar anaknya. Di sana Aini terlihat tengah merapikan hijabnya yang sudah rapi.
"Sudah rapi lho kak, kenapa dari tadi tidak selesai juga?" tanya Ibu yang tak habis pikir dengan tingkah anaknya. Tidak biasanya dia bersikap berlebihan dalam berdandan. Biasa juga hijabnya tidak terlihat begitu rapi tapi dia tidak mempedulikannya. Tapi kenapa kali ini dia seperti ingin terlihat sempurna?
"Sebentar lagi bu, yang ini masih suka terlipat kalau tidak dibenarkan," sahut Aini yang sedang meniup hijabnya dengan bibir bawahnya sedikit maju.
"Sudah, buruan ke depan, kasihan Sara sudah menunggu lama," tegur ibu.
Hari ini memang Aini akan pergi ke sekolah bareng Sara, karena mereka pergi tidak di jam sekolah seperti biasa, melainkan jam sembilan pagi. Sebenarnya bebas saja mau datang jam berapa, selama kantor guru masih buka, mereka masih bisa mengambil rapor. Namun mengingat setelah mengambil rapor mereka akan segera mendaftar ke sekolah MAN, jadi mereka datang pagi agar waktunya masih luang untuk mengurus semua berkas pendaftaran.
"Iya bu.. Iya.. ini sudah selesai," ujar Aini sambil menyemprotkan parfum ke seluruh seragam sekolahnya.
Ibu terbatuk saat tak sengaja menghirup parfum Aini yang begitu menyengat. "Kakak pakai parfum kok banyak banget sih, ibu sampai sesak napas menghirupnya. Ingat, tidak baik tebar pesona dengan sengaja memberikan wewangian agar tercium oleh lelaki, itu di ibaratkan seperti pezi*a lho kak," tegur ibu kembali.
"Astaghfirullah.. tidak seperti itu bu, kakak nanti akan pulang lama karena mau daftar ke sekolah MAN bareng Sara, jadi biar parfum nya tahan lama, kakak semprot sedikit banyak," kilah Aini. Padahal ia takut kalau nanti bertemu Bagas ia merasa bau keringat yang membuatnya tidak pede. Entahlah, semenjak menjalin kasih dengan Bagas, Aini semakin hari semakin aneh saja. Tidak biasanya ia suka berdandan, tapi kini ia sedikit-sedikit mau terlihat cantik, kemudian yang tadinya jarang pakai parfum sekarang malah terlalu banyak memakainya.
"Ibu hanya memperingatkan, boleh saja memakai parfum asal tidak mencolok wanginya agar terhindar dari fitnah.
"Iya bu, kalau begitu Aini pergi dulu," ucapnya yang hendak keluar dari kamar agar segera menemui Sara di teras depan dan diikuti ibu dibelakangnya.
"Ayo Ra, kita berangkat," ajak Aini saat telah selesai memakai sepatunya.
"Oh, sudah selesai? Huhh..! Lama sekali!" oceh Sara.
Aini mencium tangan ibu untuk segera pamit pergi ke sekolah. "Kakak berangkat ya bu, assalamu'alaikum.." ucapnya, kemudian Sara juga melakukan hal yang sama.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan," sahut ibu.
* *
"Gimana kabar kau dan Bagas?" tanya Sara saat mereka sudah menaiki angkot.
"Ya, begitu 'lah, sejauh ini sih baik-baik saja," sahut Aini.
"Jadi, gimana rasanya sudah punya pacar? Menyenangkan bukan?" tanya Sara lagi.
Aini meniup kembali hijabnya dengan memajukan bibir bawahnya karena tadi terkena angin, jadi hijabnya sedikit berubah bentuk. "Biasa aja tuh," celetuk Aini.
__ADS_1
"Itu karena kau tidak pacaran di sekolah seperti yang aku lakukan dengan Amar. Kau sih, jadian pas sudah tamat sekolah, ya mana ada enak-enaknya!" ledek Sara.
"Ya bagus dong, kalau aku sepertimu maka pasti aku tidak akan fokus dalam belajar. Bisa-bisa nilaiku jelek!"
"Belagu banget yang punya nilai bagus!" cibir Sara.
"Bukan belagu atau tidaknya, tapi ini fakta. Dulu waktu SD kau juga pintar, kenapa sekarang nilaimu banyak yang kurang bagus?" sindir Aini.
"Ah sudah, tidak perlu di bahas. Ayo cepat turun, kita sudah sampai," elak Sara agar terhindar dari pertanyaan Aini yang malah menyudutkannya.
* *
Aini dan Sara telah menyelesaikan segala administrasi sekolah terkait pengambilan rapor dan SKHU. Kini mereka tengah berjalan ke halte bus untuk menaiki angkot yang menuju ke arah sekolah MAN. Mereka tidak hanya berdua, melainkan juga dengan Bagas.
"Amar mana? kok dari tadi tidak kelihatan?" tanya Bagas.
"Au ah, kesel aku tuh!" Ketus Sara.
"Kau kenapa Ra?" tanya Aini yang memang tidak tahu perihal apa yang menyebabkan sahabatnya itu kesal. "Amar tidak mengambil rapor hari ini? Apa itu yang membuatmu kesal?" tukas Aini.
"Bukan itu masalahnya," ucap Sara yang mulai terbuka.
Sara menghela nafas kasar. "Amar tidak mendaftar ke sekolah yang sama dengan kita," sahut Sara.
"Lalu?" lanjut Aini.
"Dia mau daftar di sekolah SMK, tapi aku kurang tau sih mau ambil jurusan apa, terkait komputer gitu 'lah pokoknya," jawab Sara malas.
"Ya udah sih, nggak perlu terlalu dipikirin. Semua orang punya impian yang berbeda di masa depan. Mungkin Amar juga punya impiannya sendiri dengan memilih sekolah SMK. Jangan dipaksakan, hasilnya malah tidak baik nantinya," terang Aini yang mencoba menenangkan Sara.
"Iya, aku tau. Tapi tetap aja kesal! Ntar dia pasti jumpa sama cewek-cewek cantik di sekolah barunya, terus lupa deh sama aku!" tukas Sara.
"Jangan mikir yang macam-macam, jodoh sudah Allah yang menentukan. Kita hanya menunggu saatnya tiba apakah kita memang berjodoh dengan pasangan kita sekarang atau tidak." Bagas juga mencoba memberi penjelasan.
"Kalian ini sangat cocok! Sama-sama bisa menenangkan orang di saat gundah gulana," ledek Sara. Aini dan Bagas hanya tertawa kecil menanggapi perkataan Sara.
* *
Aini begitu terkejut saat sampai di depan gerbang sekolah MAN. "Ramai banget yang mau daftar?"
__ADS_1
"Baru tau ya! Aku sih uda tau dari kakak ku. Sekolah MAN ini memang paling populer untuk ukuran sekolah keagamaan. Bahkan banyak juga siswa-siswa dari luar kota yang mau daftar ke sini," ujar Sara.
"Iya, betul itu. Bahkan dari ribuan orang yang mendaftar, paling yang diterima hanya 300 sampai 400 an saja," timpal Bagas. Ia tahu betul karena rumahnya memang tidak jauh dari sekolah MAN, jadi informasi itu dia sering dengar dari tetangganya yang mendaftarkan anak-anak mereka di sekolah tersebut.
"Ya sudah, buruan kita masuk. Ntar kita nggak kebagian formulir!" ajak Aini yang sudah tidak sabar ingin segera mendaftar.
Mereka bertiga segera menuju tempat pendaftaran dan mengisi formulir di meja yang telah disediakan.
"Astaga.. pulpenku tertinggal," ucap Aini saat memeriksa tasnya. Dia teringat saat mengambil rapor di sekolahnya, ada yang meminjam pulpennya untuk menandatangani berkas yang diberikan bu guru dan dia pergi begitu saja saat Sara tadi memanggilnya.
"Pakai punyaku saja." Bagas menyerahkan pulpen miliknya ke tangan Aini. Ia yang duduk berseberangan dengan bangku Aini dan Sara tentu melihat kegelisahan Aini sedari tadi. Ternyata pacarnya itu tidak memiliki alat tulis untuk mengisi formulir.
"Tidak usah, biar aku bergantian dengan Sara saja," tolak Aini. Padahal Bagas sekarang sudah menjadi pacarnya, namun ia masih saja merasa sungkan menerima bantuan dari laki-laki yang dekat dengannya.
"Ah sayang, seperti dengan siapa saja. Aku pasti memberikan semua yang ku punya untukmu. Kalau saja kamu minta nyawaku, pasti akan ku beri," gombal Bagas.
"Apaan sih, jangan ngomong gitu, aku nggak suka. Kita ini lagi berada di lingkungan sekolah, jadi bicaralah yang sewajarnya layaknya seorang siswa pada umumnya!" Ketus Aini. Aini memang tidak terbiasa dengan situasi seperti ini, setelah sekian lama jadian dengan Bagas, memang baru kali ini mereka bertatap muka kembali. Selama ini mereka hanya berhubungan via telepon saja karena sekolah telah meliburkan mereka setelah usai menjalani ujian akhir sekolah.
"Kau ini lucu sekali, pacar ngomong sayang kok dibilang nggak suka!" celetuk Sara yang mendengar percakapan Aini dan Bagas.
"Segera siapkan formulirmu! Biar aku gantian memakai pulpennya!" titah Aini yang tidak menggubris ucapan Sara.
.
.
.
.
.
tbc
______________
maaf baru sempat up
sinyalnya lemot belakangan ini, kegnya faktor corona dehðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1