Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Pemenang Lomba


__ADS_3

Sinar mentari pagi sudah menampakkan diri dari celah-celah jendela kamar Aini, namun ia masih enggan membuka mata. Rasanya libur ini akan dihabiskannya dengan tidur sampai menjelang siang. Pagi ini dia ada kegiatan membersihkan masjid di kampungnya, tapi sampai kini ia masih betah berlama-lama di kasurnya. Mungkin efek dari tamu bulanan yang dirasakannya, jadi gadis itu malas untuk melakukan apapun selain tidur.


"Kakaaak...." teriak si bungsu tepat di telinga Aini.


"Astaghfirullah..." kata yang refleks terucap saat sang adik meneriakinya barusan. Kini dia sudah duduk dan menyandarkan diri di tempat tidurnya.


"Ishh.. adek.. nakal ya...." tangan Aini sudah ia letakkan di telinga sang adik dan menariknya pelan.


"Lepasin kak.." tepis si bungsu dan tangan Aini terjatuh seketika.


"Kakak tidur terus.. nggak capek apa? ini uda jam berapa kak? katanya kakak ada acara pagi ini.


Aini berpikir sejenak. "Ya Allah.. Kakak lupa dek," ucapnya sambil menempelkan tangan kanannya ke atas dahinya sendiri.


"Makanya adek bangunin... sekarang adek bagi duit dong, kan uda bangunin kakak.." katanya sambil menadahkan tangannya berharap sang kakak memberinya upah.


"Duit.. Duit.. Dasar bocah tengil! uda sana pergi, usirnya pada si bungsu".


Bocah itu pun berlalu pergi sambil mengerucutkan bibirnya menandakan kekesalannya.


Jam berapa ini? Astaga, uda pukul delapan lebih.. bisa terlambat aku ini. Gadis itu segera bergegas ke kamar mandi dan menyelesaikan segala ritual bersih-bersihnya dan keluar dalam keadaan segar, wangi dan sudah berpakaian rapi.


"Mau kemana kak?" tanya sang ibu saat mendapati anak gadisnya keluar dari kamar mandi dengan baju yang rapi.


"Ada kegiatan bersih-bersih masjid pagi ini bu," sahutnya dengan kedua tangannya menguncir rambut yang bergelombang itu.


"Oh.. jam berapa disuruh kumpul?" tanya ibunya kembali.


"Jam sembilan bu.."


Aini sudah meninggalkan ibu di dapur dan kembali ke kamarnya untuk segera memakai hijab.


"Kak, makan dulu.. ntar kambuh sakit maag nya."


Tangan ibu sudah hendak menyendokkan nasi ke dalam piring untuk gadis itu.


Selesai memakai hijabnya, ia pun segera duduk dan menyantap sarapannya sendiri, karena tadi semua anggota keluarga sudah sarapan saat ia masih tertidur pulas.


****


Di lain tempat


"Kamu bersihkan pojok sana ya.."


"Kamu bersihkan podium.."


"Kalian berdua bantu mengepel lantai.."


"Siapa lagi yang belum datang?" tanya pria itu kepada para remaja masjid yang lainnya.


"Aini dan Rani bang.." sahut Ivan yang baru muncul dari balik pintu masjid sebelah kanan.


"Oh.. Yaudah Van, ayoo kita angkat karpet ini" ucap pria itu menyuruh Ivan untuk membantunya mengangkat karpet yang digunakan untuk sajadah masjid.


Ya, pria itu ialah bang Baim. Selaku ketua, dia mengatur pembagian tugas untuk para anggota agar pekerjaan membersihkan masjid segera terselesaikan. Namun kini konsentrasinya terpecahkan, sebab gadis kecil pemilik hatinya belum juga datang. "Mengapa dia belum juga datang?" ucapnya lirih dan tak terdengar oleh siapapun.


"Assalamu'alaikum.." sapa Aini saat tiba di tangga masjid.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam..." jawab semua yang mendengarnya.


"Nah, itu dia," gumam bang Baim. Kini wajahnya sudah mengukir senyum yang menawan. Siapa saja yang melihat pasti terpesona dibuatnya. Pria dengan bibir bervolume serta dihiasi bulu-bulu halus diantara hidung dan bibirnya itu, semakin terlihat tampan saat tersenyum.


"Aini.. sini.. tolong bantu mengelap kaca jendela yang kotor.." ujar pria itu yang kini telah menghampiri gadis kecilnya. Dia tidak mau dianggap tidak profesional jika dia tidak memberikan tugas kepada Aini. Walau dalam hatinya berkata bahwa gadis itu tidak perlu mengerjakan apa pun, dengan kehadirannya saja sudah menambah semangat bang Baim mengerjakan semuanya tanpa bantuan orang lain. idihh.. lebay!!


**********


Malam harinya


"Masuk kita pada acara yang ditunggu-tunggu..


ceramah oleh al-ustad dengan tema Mendidik Anak Zaman Now dari Tauladan Nabi Muhammad SAW"


Ya, malam ini adalah malam diadakannya perayaan peringatan maulid nabi. Serangkaian tertib acara sudah dibacakan oleh protokol/mc yang bertugas. Sekarang sudah masuk ke acara inti, yakni ceramah keagamaan oleh al-ustadz yang didatangkan dari luar kota.


Usai sang ustadz memberikan petuah-petuahnya dan di akhiri doa, inilah hal yang paling mendebarkan bagi para peserta lomba. Karena ini saatnya mengumumkan siapa saja yang menjadi pemenang lomba dari tiap-tiap kategori.


Microphone sudah diambil alih oleh ketua remaja masjid, siapa lagi kalau bukan bang Baim.


"Perhatian semuanya.. harap adik-adik tenang dan dengarkan pengumuman ini baik-baik, untuk pengumuman pemenang lomba akan abang sampaikan bila semuanya bisa duduk dengan rapi dan tidak mengeluarkan suara. Nanti siapa yang namanya disebutkan harap segera naik ke atas panggung untuk mengambil hadiah dan poto bersama," tutur bang Baim panjang lebar


Baik.. langsung saja


Untuk kategori lomba hafalan ayat pendek


Juara 1 jatuh kepada NPP 05 atas nama Eka


cepat segera naik, karena waktu kita tidak banyak


........


........


Juara 3 jatuh kepada NPP 85 atas nama Nana


"selamat buat para pemenang silahkan berikan hadiahnya," kata bang Baim pada Aini yang ditunjuk untuk menyerahkan hadiah.


Sepertinya ini memang sudah diatur sedemikian rupa oleh bang Baim. Dari sekian banyak anggota remaja masjid, mengapa pula Aini yang harus membantunya menyerahkan hadiah. Ah, bang Baim memang paling jago soal itu. Wajar saja, dia kan ketuanya, siapa yang berani bantah coba?


"Yahhh.... adek nggak menang..." kata si bungsu yang menunggu pengumuman pemenang lomba hafalan ayat pendek. Dia sangat berharap bisa menang walau cuma juara terakhir.


"Maaf, ada yang tertinggal, masih ada satu juara lagi, untuk juara favorit para juri dalam kategori lomba hafalan ayat pendek ini jatuh kepada NPP 51 atas nama Tia...." kata bang Baim lagi yang tadi lupa menyebutkan juara favorit.


Tia berhenti di depan gerbang masjid. Tadi dia sudah beranjak pulang saat namanya tidak disebutkan sebagai pemenang lomba itu. "Untuk apalagi menunggu pengumuman yang lainnya, aku juga hanya mengikuti lomba hafalan ayat pendek saja, dan ternyata aku tidak menang," pikir si bungsu.


Tapi ketika hampir keluar dari gerbang masjid, dia mendengar namanya disebutkan, seketika dia berlari ke atas panggung dan mengambil hadiahnya. Betapa senangnya ia ternyata harapannya tidak sia-sia..


Padahal waktu itu kakaknya tidak sedikitpun mau membantunya untuk memenangkan perlombaan ini, itu artinya ia mempunyai kemampuan sendiri untuk bisa mendapatkan juara tanpa bantuan kakaknya. Walau sebenarnya itu bukan juara yang sesungguhnya. Juara favorit dipilih juri berdasarkan peserta yang dilihat unik dalam mengikuti lomba. Mungkin Tia tidak seberuntung para juara yang mendapat piala, tapi dia sudah cukup senang karena dapat hadiah berupa bingkisan yang dia tidak tahu apa isinya. Pokoknya dia pulang membawa hadiah, itu sudah mengukir senyumnya malam ini.


Aini yang melihat adiknya naik ke atas panggung langsung memberikan bingkisan itu kepadanya.


"Selamat ya dek, kamu bisa menang juga tanpa bantuan kakak."


Si bungsu tersenyum senang dan langsung turun dari panggung menuju rumah untuk memberitahu ayah dan ibunya segera sebelum mereka tidur. Karena memang acara maulid ini diadakan selepas sholat isya, dan pengumuman lomba juga merupakan acara yang terakhir, pastilah sekarang sudah larut malam. Ia buru-buru pulang sebelum kedua orangtuanya tidur.


Bang Baim mengumumkan pemenang lomba yang lainnya sampai semuanya selesai dan mendapatkan hadiah yang telah disediakan.

__ADS_1


"Terima kasih adik-adik sekalian sudah ikut berpartisipasi meramaikan acara peringatan maulid Nabi ini. Saya harap untuk yang menang jangan berbangga diri, dan untuk yang belum menang terus tingkatkan kemampuan kalian untuk lebih baik lagi. Mungkin tahun depan akan kita adakan lagi perlombaan seperti ini, jadi persiapkan diri kalian mulai hari ini." Akhir kata Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..


Semua orang telah kembali ke rumah masing-masing, tetapi seperti biasa, para remaja masjid masi harus membereskan semuanya.


"Dek, duduk aja kalau capek," kata bang Baim yang melihat Aini sudah kelelahan karena tadi berdiri cukup lama untuk menyerahkan hadiah kepada para pemenang. Bang Baim memberikan minuman gelas kepadanya.


"Iya bang makasi," Aini mengambil minuman gelas itu dan meminumnya sambil duduk di kursi yang ada dibelakangnya.


"Sepertinya adek uda ngantuk, kalau gitu pulang aja duluan.." ujar pria itu kepada gadis kecilnya.


"Belum kok bang, lagian nggak enak sama yang lain," sahut Aini sambil menunduk dan menggenggam minuman gelas ditangannya. Ia tak berani menatap mata pria yang ada dihadapannya, ntah takut dosa atau takut ketahuan terpesona oleh ketampanan pria itu.


"Udah nggak apa-apa kalau mau pulang duluan, nanti abang yang bilang ke mereka kalau ada yang nanyain adek. Lagian kan abang ketuanya, ya abang berhak dong memberi wewenang," ucapnya sambil meyakinkan Aini.


"Beneran nggak apa-apa ni bang?" tanya gadis kecil itu kembali. Karena memang ia sudah sangat mengantuk dan ingin segera merebahkan dirinya dikasurnya yang empuk itu.


"Iya.. nggak apa-apa.. abang yang bertanggung jawab kalau ada yang ngomongin kamu ntar." Sepertinya bang Baim tahu betul isi hati Aini. Pasti gadis kecil itu takut menjadi buah bibir para anggota remaja masjid jika ketahuan ia pulang duluan dari mereka. Irii aja bisanya mereka


"Yaudah kalau abang maksa, Aini pulang ya bang.."


Aini sudah berjalan menuju gerbang masjid. Tapi tiba-tiba..


"Enak la yang bisa pulang duluan.. mentang-mentang orang tersayang si ketua ya gitu.. di istimewakan.." ucap salah seorang gadis yang menatap sinis ke arah Aini.


"Ngomong apa kamu Rani, jangan sembarangan kalau bicara.. saya memang menyuruhnya pulang, tapi bukan tanpa sebab. Aini tadi kan sudah cukup lelah membantu saya menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba. Jadi wajar dong dia bisa pulang duluan," ujar bang Baim saat mendengar gadis kecilnya di sindir oleh Rani.


"Aini.. sudah jangan didengar.. cepat pulang dan segera istirahat.. atau perlu abang anterin?" bisiknya di dekat telinga Aini.


Gadis itu refleks menjauhkan diri darinya dan hendak berlalu pergi. "Nggak usah bang, Aini bisa pulang sendiri."


Rani menatap jijik ke arah Aini dan bang Baim yang berada di dekat gerbang. "Awas kau Aini!"


.


.


.


.


.


tbc


___________


bisa follow ig aku ya


@lisda.anggraini


votenya jan lupa ya zeyeng


like


komen


♥️🙏😊

__ADS_1


__ADS_2