
Seminggu sudah berlalu, namun Aini belum juga menjawab pernyataan cinta Bagas. Ia pusing tujuh keliling, bagaimana bisa ia membalas cinta Bagas, sedangkan bang Baim juga sudah lebih dulu menyatakan hal yang sama namun Aini juga sampai detik ini belum pula membalasnya.
"Urusan hati ternyata seribet ini ya?" pikir Aini yang sedang merebahkan diri di kasur nya. "Aku harus apa ya Allah? Ada dua laki-laki baik yang sedang mendekatiku, apa aku harus menolak mereka berdua?" lanjutnya lagi.
Aini duduk untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sudah cukup lama ia berbaring di kasur nya, namun matanya tidak juga bisa ia pejamkan. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, mau pergi ke teras rumah untuk sekedar mencari angin juga rasanya tidak mungkin.
"Apa aku telepon Sara aja ya? Kali aja dia bisa kasi solusi." Aini sudah mengambil benda pipih yang ada di atas nakas, ia sudah mencari nama Sara di daftar kontak handphonenya.
"Tidak.. tidak.. jangan Sara! Aku khawatir dia bukan memberi solusi, tapi malah meledekku habis-habisan," ucap Aini lirih sambil menggelengkan kepalanya. "Tapi aku mau curhat ke siapa? Sahabatku satu-satunya 'kan hanya Sara?" pikirnya lagi.
Aini berjalan mondar-mandir mengelilingi kamarnya yang kecil sambil menggigit ujung jari telunjuknya. "Biarlah besok aku bicarakan dengan Sara, ini juga sudah malam, Sara pasti sudah tidur," gumamnya.
* * *
Keesokan paginya, Aini berniat ingin ke rumah Sara untuk curhat dengannya, namun ia tunda karena harus membantu pekerjaan ibu terlebih dahulu di rumah. Selama libur, kegiatan Aini di rumah hanya membantu ibu atau sekedar membaca novel dan berselancar di dunia maya.
"Bu, kakak pergi dulu ya," pamitnya pada ibu yang sedang menjemur pakaian.
"Mau kemana kak?" tanya Ibu.
"Ke rumah Sara bu, ada yang mau dibicarain soal pendaftaran sekolah MAN (Madrasah Aliyah Negeri/SMA)," terang Aini. Ia sedikit berbohong, padahal tujuan utamanya bertemu Sara untuk curhat masalah hati, walau ada benarnya juga perihal menanyakan Sara soal pendaftaran dan syarat masuk ke sekolah MAN. Sara memang tahu tentang sekolah MAN yang akan mereka masuki karena dulu kakaknya juga alumni dari sekolah itu.
"Cepat pulang ya kak," pinta ibu.
"Oke bu," sahut Aini. Gadis itu segera melangkah cepat menuju rumah Sara yang hanya berbeda beberapa gang saja dari rumahnya. Namun yang ada dipikirannya kali ini, ia akan melewati rumah Umi dan tidak menutup kemungkinan akan bertemu bang Baim di sana.
"Haa.. tu 'kan, benar ada bang Baim," gumam Aini saat melintasi rumah Umi. Di sana terlihat Baim sedang asyik memegang benda pipih di tangannya. "Semoga dia tidak melihatku," batin Aini. Gadis kecil itu mempercepat langkahnya bahkan setengah berlari agar tidak terlihat oleh bang Baim. Walau dia sudah melupakan kejadian yang lalu, namun dia selalu berusaha menghindar karena takut jika bang Baim menanyakan masalah perasaannya yang tidak kunjung mendapat balasan darinya.
*
"Bang, itu tadi bukannya Aini?" tanya Fahmi yang baru keluar dari dalam rumah. Tadi saat berada di ambang pintu, Fahmi sempat melihat sekilas saat Aini melintasi rumah mereka. Tapi karena gadis itu berjalan cepat dan menundukkan pandangannya, jadi ia tidak tahu pasti itu Aini atau bukan.
"Mana?" tanya bang Baim antusias.
"Itu tadi, baru saja lewat." Baim langsung berlari mendekati pagar rumah Umi untuk melihat gadis pujaannya, namun ia tidak mendapati siapapun di sana. Mungkin Aini sudah masuk ke dalam gang rumah Sara, jadi Baim tidak dapat melihatnya lagi berhubung rumah Umi berada di pinggir jalan.
"Tidak ada siapa-siapa di sini," batin Baim. Ia kembali ke tempat duduknya tadi. Di sana Fahmi sudah membawa dua gelas teh hangat untuk mereka nikmati. "Kamu bohong ya?" tukas Baim saat melihat Fahmi duduk santai di tempatnya.
"Astaghfirullah.. untungnya apa coba kalau Fahmi bohong?" bantah Fahmi.
"Buktinya abang lihat tidak ada siapa-siapa tuh!" terang Baim.
"Tapi tadi Fahmi beneran lihat cewek mirip Aini melintasi rumah kita bang," ucap Fahmi meyakinkan. "Mungkin gadis yang lewat tadi sudah masuk ke dalam gang di depan jalan sana, jadi abang tidak bisa melihatnya," lanjut Fahmi.
"Bisa jadi sih, karena rumah temannya Aini memang di gang depan sana," sahut Baim. Baim mengangguk-anggukan kepalanya. "Nanti aku tunggu saja dia, semoga bisa ketemu," batin Baim.
* *
__ADS_1
Hanya lima menit waktu yang Aini butuhkan untuk sampai ke rumah Sara. Apalagi tadi ia berjalan setengah berlari, tentu saja membuatnya cepat sampai.
"Assalamu'alaikum.." ucap Aini sambil mengetuk pintu rumahnya Sara.
"Wa'alaikumsalam.." sahut Sara sambil membuka pintu. "Eh, Aini, tumben main ke sini?" tanya Sara setelah melihat Aini berdiri di depan pintu rumahnya.
"Jadi aku nggak boleh main ke sini?" sindir Aini.
"Ya ampun, boleh banget dong. Ayo masuk," ajak Sara.
"Sendiri aja di rumah?" tanya Aini saat melihat rumah Sara begitu sepi.
"Iya, seperti biasa. Bapak dan Mamak ku 'kan kerja," jawab Sara datar. "Kita ngobrol di kamar aja yuk, aku juga tadi belum selesai menyusun pakaian ke lemari." Aini mengangguk dan mengikuti Sara menuju kamarnya.
"Jadi hal apa yang menyebabkan sahabatku datang kemari sepagi ini?" tanya Sara penasaran, karena biasa Aini kalau datang akan mengabari dulu lewat telepon dan datangnya selalu sore hari.
"Hmmm..." Aini mendudukkan diri di tepi kasur Sara yang dipenuhi banyak pakaian di sana. Sepertinya benar kalau Sara sedang ingin memasukkan pakaian itu ke dalam lemarinya. "Aku..." Aini tampak ragu mengatakan isi hatinya.
"Kenapa?" tanya Sara sambil mengambil beberapa pakaian yang hendak di susunnya.
"Aku mau tanya soal pendaftaran di sekolah MAN, apa saja syaratnya?" pertanyaan itu malah lebih dulu keluar begitu saja dari mulut Aini, padahal ia tadinya tidak ingin mengatakan itu.
"Yakin soal pendaftaran, bukan yang lain?" tanya Sara sambil memainkan alisnya menggoda Aini.
"Kau jadi 'kan daftar di sana juga?" tanya Aini mengalihkan pembicaraan. Sekarang wajah Aini nampak gugup, karena Sara sepertinya tahu tujuan Aini ke rumahnya.
"IInsyaallah jadi," sahut Sara. "Eh, aku ambil minum dulu ya. Kau mau minum apa?"
"Tidak repot..! Kau ini, seperti sama orang lain saja! Tunggu di sini, akan ku ambilkan minuman dan camilan." Sara sudah pergi ke dapur setelah menyelesaikan pekerjaan sebelumnya. Aini mengelilingi kamar Sara yang penuh dengan poster artis korea. Ada juga poto mereka yang terletak di atas meja belajar Sara. Tepatnya poto mereka berempat yang seminggu lalu sempat di cetak saat mereka pergi ngemall bareng Amar dan Bagas.
"Aku bingung harus mulai dari mana Ra," ucapnya lirih. Aini sedang memegang bingkai poto yang terdapat gambar mereka berempat di sana, ia berbicara sendiri pada poto itu seakan ia sedang curhat dengan Sara yang ada di dalam poto.
"Mulai apa Ni?" tanya Sara yang tiba-tiba sudah berada di belakang Aini.
Aini terlonjak kaget. "Sejak kapan kau di sini?"
"Sejak kau pegang poto itu," tunjuk Sara dengan bibirnya, lalu ia meletakkan minuman dan camilan di atas meja di depan Aini. "Sudah di minum dulu. Itu aku buatkan es kesukaanmu."
"Iya," sahut Aini, kemudian ia mengambil gelas yang berisi es jeruk dan duduk di kursi dekat meja belajar Sara.
"Kau mau ngomongin apa? Aku tahu kau ke sini bukan ingin menanyakan soal pendaftaran sekolah 'kan?" tukas Sara.
Aini yang sedang meminum es nya langsung tersedak. "Sara sepertinya sangat tahu isi hatiku," batin Aini.
"Astaga Aini, hanya minum es jeruk buatan ku saja kau bisa tersedak. Apa es itu begitu enak hingga kau ingin segera menghabiskannya?" sindir Sara.
"Bukan, es mu ini terlalu asam. Sepertinya kurang gula," kilah Aini. Padahal es itu rasanya sudah pas, namun Aini mencari alasan agar Sara tidak curiga.
__ADS_1
"Baiklah, sini biar aku tambahkan gula." Sara hendak mengambil gelas dari tangan Aini namun dicegah oleh gadis itu.
"Tidak perlu ditambahkan, aku juga tidak terlalu suka yang manis," tolak Aini.
"Aneh sekali, tadi katanya kurang gula, sekarang katanya tidak suka manis," gerutu Sara saat melihat tingkah sahabatnya yang menyebalkan di matanya.
"Sudah, cepat ceritakan masalahmu. Aku tahu kau kemari ingin curhat 'kan?" tukas Sara.
Aini menelan salivanya pelan. Ia begitu gugup saat Sara benar-benar tahu isi hatinya. "Aku.."
"Ya aku...?" ulang Sara mengikuti ucapan Aini.
"Aku mau ke kamar mandi," kilah Aini. Ia benar-benar belum siap menceritakan segalanya kepada Sara, walau dia satu-satunya sahabat Aini. Akhirnya dia memutuskan ke kamar mandi untuk mengurangi kegugupannya.
Sara menepuk dahinya pelan. "Astaga, hanya ingin ke kamar mandi! Itu kamar mandi ada di dapur sebelah kanan," jelas Sara. Saat Aini pergi ke kamar mandi, Sara berpikir keras, hal apa yang kira-kira ingin dibicarakan Aini.
"Oh, aku ingat!" ucap Sara sambil memetikkan jari. "Seminggu yang lalu Bagas sempat bilang kalau dia sudah nembak Aini namun belum di jawab oleh gadis itu. Pasti Aini mau bahas ini samaku," pikir Sara.
Aini sudah selesai dari kamar mandi dan kembali mendudukkan diri di tepi tempat tidur Sara. "Ra.." sapanya saat melihat Sara sibuk dengan handphonenya.
"Uda selesai? Jadi, kau mau ngomong apa?" tanya Sara yang pura-pura tidak tahu.
"Aku bingung harus mulai dari mana," sahut Aini.
"Kau bingung harus jawab YES or NO untuk Bagas?" Akhirnya Sara mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya. Ia lelah harus bertele-tele menunggu Aini mengungkapkan isi hatinya. Jadi ia langsung to the point saja.
Aini diam dan tak menjawab pertanyaan Sara. "Benar 'kan tebakanku?" lanjut Sara.
"Jadi menurutmu aku harus gimana?" Akhirnya Aini memberanikan diri untuk mulai mengungkapkan isi hatinya.
"Seperti yang pernah aku bilang, coba aja dulu. Kau tidak akan tahu bila tidak mencobanya," sahut Sara.
"Jadi aku terima saja cintanya Bagas, begitu?" tanya Aini dan diangguki oleh Sara yang sedang memegang buku novel di tangannya.
.
.
.
.
.
tbc
____________
__ADS_1
hayo mana vote nya?
jan baca mulu, kasi vote jg dong🤭🤭