Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Menghindari


__ADS_3

Allahu Akbar.. Allahu Akbar..


Aini terjaga dari tidurnya saat suara azan subuh berkumandang. Padahal baru satu jam yang lalu matanya bisa terpejam. Entah karena ia memang sudah bisa bangun pagi sendiri tanpa jeritan sang ibu atau karena suara orang yang tengah mengumandangkan azan subuh ini.


Ya, suara itu ialah suara seorang pria yang mampu menggetarkan jiwanya. Pria asing yang datang tiba-tiba, pria yang menjadi ketua remaja masjid di kampungnya serta pria yang mampu membuatnya deg-degan sekaligus membuatnya hampir tak tidur semalaman.


"Allahu Akbar.. Allahu Akbar.." Aini bangun dan menjawab suara azan itu. Ia meregangkan otot-otot badannya lalu turun dari ranjang nya. Gadis kecil itu segera beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.


"Maasyaallah.. Kakak kesambet apa?" ucap ibu saat mendapati Aini bangun sepagi ini.


"Kesambet apaan sih bu!" sahutnya sedikit kesal.


"Kakak semalam nggak salah minum obat kan? Kok tumben bisa bangun sendiri tanpa ibu mengeluarkan suara merdu ini?" tanya Ibu lagi.


"Tuh kan.. ibu suka gini deh! Kakak bangun sendiri salah, terus bangun mesti di teriakin ibu dulu juga salah! Jadi kakak harus gimana bu?" balasnya frustasi.


"Eh, bukan gitu maksud ibu.. cuma heran aja kamu kok bisa bangun sendiri gini?" tanya Ibu yang masih keheranan. Pasalnya Aini sangat susah bangun pagi, dan selalu dibangunkan ibu dulu baru bisa bangun.


"Yaudah sih bu.. bersyukur aja kalau anaknya udah berubah!" celetuk Aini.


Ibu mengerutkan dahi. "Wah.. betul juga ni.. kayaknya ibu perlu ngadain acara syukuran deh untuk merayakan keberhasilan kakak bisa bangun sepagi ini."


Aini menggelengkan kepala. "Ibunya ini ada-ada saja," pikirnya.


"Terserah ibu deh!" sahutnya malas. Lalu ia segera masuk ke kamar mandi dan menguncinya.


Ibu yang sudah lebih dulu berwudhu hendak pergi ke kamar untuk melaksanakan sholat subuh. "Kak, ntar jangan lupa bangunin adik-adik ya," teriak ibu dari depan pintu kamar mandi sebelum ia benar-benar pergi dari tempat itu.


"Hmmm..." sahut Aini dari dalam.


* *


Aini tampak murung di sekolah. Matanya juga terlihat kurang bersahabat pagi ini, seperti mata panda yang terlihat hitam di bagian bawah matanya itu. Berulang kali ia juga menguap, karena memang hampir tidak tidur semalaman. Satu jam untuk waktu tidurnya semalam, pasti sangat-sangat kurang dari waktu istirahat yang diperlukan tubuhnya.


"Aini sudah datang?" tanya Alfi yang baru mendudukkan diri di bangkunya yang berjarak dua bangku disebelah kanan Aini.


"Kelihatannya gimana? aku kan udah duduk disini, ya berarti udah datang la!" ketusnya.


"Wihhh.. galak banget sih! Aku kan cuma nanya," balas Alfi yang nampak terkejut dengan celetukan Aini barusan.


"Apaan sih galak? Galak itu kan nama burung," candanya.


"Hadehhh.. sempat-sempatnya dia bercanda, nggak tau aku uda kesal dengar jawaban dia tadi," batin Alfi.


"Itu burung gagak Aini," sahutnya kemudian.


"Eh iya ya.. tumben pintar," ledek Aini.


"Ya pintar la, secara aku yang juara kelas ini," ucap Alfi bangga.


"Iya tau.. tau.. jangan sombong! Diatas langit masi ada langit lhoo," balas Aini mengingatkan.

__ADS_1


"Yaelah.. bercanda kali!" balas Alfi pula.


"Hei.. lagi pada ngomongin apa sih? Seru banget kayaknya," ujar Sara yang tiba-tiba nongol di depan pintu.


"Ini ra, ngomongin Aini kok tumben cepat datang," sahut Alfi.


"Oh.. itu.." jawab Sara sambil melangkahkan kaki menuju bangkunya. "Kesambet kali dia," lanjutnya.


Alfi tampak tertawa. "Kesambet setan apa dia rupanya ra?"


"Setan penunggu sekolah mungkin, makanya dia bisa cepat sampai di sekolah," lanjut Sara.


"Terus aja bully aku sampai kalian puas!" gerutu Aini.


"Yah.. gitu aja marah.." ledek Alfi dengan tampang mengejeknya.


"Ciee... marah.." timpal Sara.


Aini melengos. "Terserah."


Mereka mengakhiri percakapan itu karena guru tampak sudah memasuki kelas.


* * *


Aini sudah melangkahkan kaki menuruni tangga setelah bel pulang sekolah sudah berbunyi lima menit yang lalu. Sara juga sudah mengikutinya dari belakang. Mereka masih tidak membicarakan apapun sampai di depan gerbang sekolah.


bughhhh...


Tubuh Aini terdorong sedikit ke belakang karena ada seseorang yang menabraknya dari arah depan. Aini pikir dia akan jatuh ke tanah, tapi ternyata ada seseorang yang menahan tubuhnya.


Aini berdiri dan menjauhkan tubuhnya dari siswa itu. "Eh, nggak apa-apa, makasih ya."


"Sama-sama, lain kali kalau jalan jangan melamun, jadi nggak tahu kalau ada yang lewat dari arah depan kan," kata Bagas yang memperhatikan Aini dari tadi jalan sambil melamun. Ya, siswa itu ialah Bagas, siswa yang waktu kelas 7 pernah mengalami kejadian lucu di toilet siswa.


"Kau nggak apa-apa Ni?" tanya Sara. Ia baru sadar kalau sahabatnya itu hampir jatuh, karena ia memang sedikit jauh di belakang Aini.


"Nggak apa, untung ada Bagas," jawab Aini sambil melihat kearah siswa itu.


"Makasih ya gas, uda tolongin sahabatku," tutur Sara.


"It's oke," sahutnya.


"Kalau gitu aku duluan ya".


"Iya.." jawab Aini dan Sara bersamaan.


* *


"Assalamu'alaikum.." ucap seorang pria di depan rumah Aini.


Aini yang baru saja pulang dari sekolahnya masih berada di kamar dan akan mengganti seragam nya. Ia mendengar suara pria yang mengucap salam, dengan berat hati ia segera merebahkan diri di tempat tidur, agar nanti saat ibu memanggilnya ia akan berpura-pura tidur.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam.." sahut ibu saat mendengar salam yang kedua kali diucapkan dari arah luar.


"Oh, nak Baim.. kirain ibu tadi siapa."


"Iya bu.. maaf mengganggu waktu istirahatnya," tutur Baim.


"Tidak apa-apa.. Ayo duduk dulu, biar ibu panggilan Aini," sambung ibu.


"Tidak bu, Baim ke sini hanya mengantarkan makanan ini.." Baim menyerahkan rantang yang berisi makanan kepada ibu Ema.


"Apa ini?" tanya Ibu.


"Ini masakan umi, katanya di suruh antar ke rumah ibu."


"Terima kasih lho nak Baim," kata ibu sambil menerima rantangnya itu. "Tunggu sebentar ya, biar ibu pindahkan makanannya."


"Iya bu.." balasnya.


Ibu Ema masuk ke dalam dan ingin memanggil Aini. Ia tahu betul kalau Baim pasti ingin bertemu dengan gadis itu.


"Aini.." panggil ibu dari depan kamar Aini dan mengetuk pintu itu. Tidak ada sahutan dari dalam sama sekali.


Ibu membuka pintu itu dan ternyata ketiga putrinya tertidur pulas di sana. Lebih tepatnya hanya dua saja yang benar-benar tidur, karena Aini sudah jelas berpura-pura tidur untuk menghindari bang Baim yang datang ke rumahnya.


"Ya ampun.. anak-anakku pada tidur semua," batin ibu. Ibu segera ke dapur untuk meletakkan makanan yang dibawa tadi lalu mencuci rantangnya tersebut.


"Maaf ya menunggu lama nak, ini rantangnya. Tapi tidak ada isinya ya," ujar ibu setelah kembali ke depan teras yang ada Baim di sana.


"Tidak mengapa bu," jawab Baim lembut.


"Maaf juga ya Aini tidak bisa menemui kamu, karena dia lagi tidur di kamarnya," tutur ibu merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa bu, saya hanya mengantar makanan dari Umi saja," sahutnya. Padahal dari raut wajahnya tampak ia merasa kecewa.


"Sayang sekali dia lagi tidur, padahal aku sangat ingin bertemu dengannya," batinnya.


.


.


.


.


.


tbc


___________


like

__ADS_1


vote


♥️♥️🙏😊


__ADS_2