
"Maafkan Baim ya Una.. mungkin dia lagi kurang enak badan," kata Abi yang ikut membela Baim. Abi tahu dari Umi kalau Una dulunya pacar Baim dan mungkin saat ini ingin kembali, tapi Baim sudah tidak mau. Jadi Abi pikir wajar saja Baim bertingkah laku tidak sopan seperti itu, hanya untuk menghindari wanita ini. Padahal biasanya, Baim orang yang sangat menjunjung tinggi sopan santun dan tata krama, apalagi di depan orangtua.
"Iya, tidak mengapa Abi, Una bisa mengerti kok," jawabnya lirih. Saat ini hati Una rasanya perih, namun ia tahan di depan semua orang agar tidak menitikkan air mata.
"Aku harus bertahan demi bang Baim," batinnya.
"Umi, Abi, Fahri masuk ke kamar duluan ya," kata Fahri.
"Aku juga deh, makasi uda bantuin umi masak, makanannya enak," sambung Fahmi dan menoleh ke arah Una.
Una tersenyum mendengar ucapan Fahmi. "Iya, sama-sama."
"Umi sini biar Una bantu angkat piring kotornya," kata Una yang melihat umi hendak mengangkat piringnya.
"Tidak usah repot-repot nak, lebih baik kamu bersiap untuk pulang, inikan sudah malam, nggak baik lho anak perawan pulang sampai larut malam. Apa perlu umi bujuk Baim buat nganterin kamu pulang?" tanya umi pada Una.
Una segera menggeleng. "Nggak perlu mi, bang Baim juga pasti lelah, biarkan dia istirahat, Una bisa pulang sendiri naik ojol."
"Baiklah.. biar Umi antarkan kamu ke depan, ayo..!" ajak umi.
**********
"Anak-anak.. ayoo kumpul," teriak ayah Broto dari ruang tamu.
"Ada apa yah?" sahut Iva mendahului kakak dan adiknya.
"Tunggu kakak dan adik kumpul baru ayah beritahu," sambung ayah lagi.
Iva duduk di ruang tamu, di sana juga sudah ada ibu Ema yang sudah selesai mengupas bawang untuk memasak besok.
"Iya yah, ada apa?" Aini keluar dari kamar di susul si bungsu dibelakangnya.
Ayah tersenyum senang. "Hari ini ayah gajian, dan ayah juga sudah menerima gaji tambahan dari lembur ayah sebulan yang lalu."
"Terus?" sahut Aini.
"Ayah mau tanya anak-anak ayah pada mau dibelikan apa? Kalau uangnya cukup, pasti ayah belikan," jawab ayah masih tersenyum.
"Ayah.. ibu kan sudah bilang, kalau ada uang lembur, ibu mau beli panci apa tu kak namanya?" tanya Ibu yang lupa.
"Presto bu.." ujar Aini.
"Haa.. Iya itu yah," lanjut ibu.
"Bu, panci itu tidak terlalu kita butuhkan, tapi kalau ibu mau, nanti kita beli ya.. sekarang ayah mau belikan apa yang diinginkan anak-anak kita," tutur ayah yang begitu menyayangi ketiga putrinya. Ibu hanya diam saja menuruti perkataan ayah.
"Yee... jadi beli sepatu baru.."
"Assyyiiikk.. beli tas baru.."
__ADS_1
Kedua adik Aini sudah menyuarakan keinginannya, namun Aini masih bingung mau meminta apa dari ayahnya.
"Kakak mau beli apa?" tanya ayah yang melihat putri sulungnya hanya diam saja.
"Kakak nggak tahu yah, semua perlengkapan sekolah kakak masih pada bagus kok, jadi sepertinya tidak ada yang mau di beli," jawab Aini.
"Ya sudah kalau be.." Ayah hendak membalas perkataan Aini tetapi keburu anaknya itu bersuara kembali.
"Yah, Aini minta uang aja boleh?" tanyanya antusias.
Ayah mengernyit heran. "Untuk apa? Bukannya setiap hari ayah selalu memberi kamu uang saku?"
"Iya benar yah.. tapi uang ini bukan untuk kakak, tapi untuk teman kakak.. Kemarin ada teman kakak yang beberapa kali dipanggil guru karena belum membayar uang sekolah, jadi kakak berniat membantunya," jelas Aini.
"Maasyaallah.. mulia sekali hatimu nak," sahut ibu.
"Baiklah, kalau itu ayah setuju."
"Sekarang semuanya lebih baik tidur, besok kan harus bangun pagi untuk sekolah," sambung ayah.
"Iya yah.." sahut ketiga putrinya itu.
Sebelum tidur, Aini melihat handphone nya terlebih dahulu. Ia melihat ada panggilan masuk dari bang Baim namun tidak terjawab karena tadi Aini sedang di ruang tamu bersama keluarganya. Ia hanya membuat mode getar pada handphonenya, jadi tidak terdengar dari luar kamar jika ada yang menghubunginya.
Aini menghubungi kembali nomor bang Baim, ia berpikir mungkin tadi bang Baim menghubunginya karena ada suatu keperluan.
"*Assalamu'alaikum .."
"Ada apa bang tadi menelpon Aini?"
"Kangen.. eh.. enggak.. maksud abang, Umi katanya kangen"
"Oh.. ya sudah, besok Aini datang ke rumah umi"
"Iya.. di tunggu.."
"Adek lagi apa ni?"
"Lagi tidur"
"Loh, tidur kok bisa ngomong?"
"Ya habis, udah tau lagi teleponan, kok malah ditanya!"
"Eh, iya juga ya.. habis bingung mau nanya apa"
"Ya kalau sudah tidak ada yang mau ditanya lebih baik kita akhiri saja panggilan ini"
"Jangan...!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Hmm.. itu.. abang belum bisa tidur, jadi butuh teman ngobrol"
"Kan ada bang Fahri dan Fahmi, ajak saja mereka ngobrol"
"Ngobrol sama mereka nggak seru, lebih seru sama adek"
"Maksudnya?"
"Enggak jadi.. Ya sudah, kalau adek ngantuk, segera tidur"
"Ya sudah, assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam*.."
Baim tak henti-hentinya tersenyum mengingat perbincangannya tadi dengan Aini. Bisa-bisanya dia keceplosan bilang kangen kepada gadis itu. Untung saja gadis itu percaya alasan Baim kalau yang kangen itu si umi.
"Nggak habis pikir, tiap kali ngomong sama gadis itu kok bawaannya grogi terus ya," gumamnya.
Sementara di kamar Aini, ia juga masih kepikiran soal percakapannya tadi dengan bang Baim.
"Apa tadi maksud bang Baim bilang kangen? Tapi tadi dia beralasan kalau umi yang kangen. Aku sih sebenarnya tidak percaya, sejak kapan umi bilang kangen sama aku?" Aini berpikir keras memikirkan perkataan pria itu. Memang akhir-akhir ini pria itu selalu saja mengacaukan pikiran Aini. Setiap kali berada di dekatnya, jantung Aini rasanya mau copot karena degup jantungnya berdetak kencang tak karuan.
"Kangen?"
"Kangen?"
"Kangen?"
Berulang kali Aini memikirkan kata-kata itu sampai akhirnya dia lelah sendiri dan terlelap dalam tidurnya.
.
.
.
.
.
tbc
___________
vote ya jan lupa
like
__ADS_1
komen
♥️🙏😊