Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Sudah Baikan?


__ADS_3

Aini yang masih syok tentu tidak menghiraukan pertanyaan Baim. Ia terus menghempaskan kakinya agar katak itu segera menjauh darinya. Tanpa ia sadari tangannya masih saja melingkar di lengan Baim dan tubuhnya juga sudah tidak berjarak dengan pria itu.


"Dek," tegur Baim sekali lagi agar Aini segera melepaskan tangannya dari lengannya. Bukan tidak senang dengan hal itu, akan tetapi Baim masih ingat kalau mereka tidak sepantasnya sedekat ini karena mereka belum memiliki hubungan yang halal.


Aini menoleh dan mendapati tangannya melingkar kuat di lengan Baim. "Astaghfirullah.. maaf bang." Seketika gadis itu langsung melepaskan tangannya.


Sesaat mata mereka beradu pandang dan lagi-lagi jantung Baim seperti orang yang baru habis lari marathon. Ia segera menundukkan pandangan, takut kalau gadis itu melihatnya bermandikan keringat di tengah hujan yang cukup lebat malam itu. "Ayo kita lanjutkan perjalanannya," ucap Baim yang menutupi kegugupannya.


Aini mengangguk pelan dan mengikuti langkah kaki Baim agar segera sampai ke rumah.


"Makasih ya bang uda anterin Aini," ucapnya saat tiba di depan pagar rumahnya.


"Sama-sama.. sudah sana masuk, itu mukenanya sedikit basah segera di ganti, biar adek tidak masuk angin," ujar Baim yang perhatian.


"Iya.. Aini masuk dulu ya. Assalamu'alaikum." Gadis itu berlalu pergi meninggalkan Baim yang masih menunggunya di depan pagar.


Saat Aini sudah tidak terlihat oleh penglihatan Baim, ia segera pergi buru-buru pergi dari sana.


*


Baim segera menuju kamar untuk mengganti bajunya yang sedikit basah di bagian lengan. Berhubung payung yang di pakainya tadi tidak terlalu besar dan ia harus berbagi dengan gadis kecilnya, jadilah bajunya sedikit basah terkena air hujan.


Satu stel pakaian rumah sudah ia bawa untuk ia ganti di kamar mandi. Sebelum mengganti baju ia berniat mandi karena ia merasa sangat gerah setelah kejadian dirinya dengan gadis kecil itu. Biar bagaimana pun dia seorang pria dewasa yang pasti merasa sensitif bila berdekatan dengan seorang wanita yang ia cintai.


Setelah hampir selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, terdengar seseorang tengah mengetuk pintu.


"Siapa di dalam? cepat dong, sudah kebelet ni!" ucap Fahmi dari luar.


"Sebentar.. sudah hampir selesai," balas Baim dari dalam. Ia buru-buru menyelesaikan kegiatan mandinya dan melilitkan handuk di pinggangnya.


"Abang mandi malam-malam dan lagi hujan begini?" tanya Fahmi yang begitu heran melihat Baim keluar dengan menggunakan handuk di pinggangnya dan membawa sepasang baju di tangannya.


"Iya, tadi basah karena kehujanan, jadi sekalian mandi aja," kilah Baim.


"Itu bawa-bawa baju kenapa tidak di pakai saat sudah selesai mandi?" tanya Fahmi lagi.


"Tapi kamu yang begitu heboh mengetuk pintu, ya jadi abang pikir pakai bajunya di kamar saja. Memangnya kenapa tidak masuk kamar mandi yang di sebelah saja sih?"

__ADS_1


"Keran airnya rusak bang, makanya Fahmi ketuk pintu ini," tunjuknya pada pintu kamar mandi yang digunakan Baim tadi.


"Sudah sana masuk, tadi katanya kebelet!" titah baim, lalu berjalan beberapa langkah meninggalkan Fahmi.


* * *


"Kakak sudah pulang?" tanya ayah Broto yang melihat anak sulungnya memasuki rumah.


"Sudah yah," sahutnya dan berjalan menuju kamar.


"Ayahmu baru akan menjemput. Kakak pulang sama siapa?" tanya Ibu gantian.


"Sama bang Baim bu," ucap gadis itu dan sudah membuka knop pintu kamarnya. Ibu dan ayah saling beradu pandang dan menampakkan lengkungan di bibir mereka.


Aini mengernyit heran. "Kenapa ayah dan ibu tersenyum?" batinnya. Ia tidak begitu mempedulikan kedua orangtuanya itu dan segera masuk ke dalam kamar.


Sementara di ruang tamu, ayah dan ibu melanjutkan kegiatan mengobrol mereka membahas anak sulungnya tadi.


"Si kakak sudah baikan ya yah sama Baim?" tanya Ibu penasaran.


Ayah mengangkat kedua bahunya. "Mana ayah tahu. Kemarin kami sempat bertemu di mini market, tapi ayah tidak lihat kalau si kakak sempat bertegur sapa dengan Baim atau tidak."


"Syukurlah kalau mereka sudah baikan. Bukannya itu berarti Aini sudah memaafkan Baim," jelas ayah.


"Iya yah, semoga saja begitu."


Tidak ada seorang pun yang tahu kalau di dalam kado Aini tempo hari Baim melampirkan sepucuk surat dan sepasang kalung hati. Jadi ibu tentu tidak tahu jika Aini memaafkan baim sebab isi dari surat itu yang menjelaskan tentang semuanya.


* * *


Baim sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang hanya mampu menampung tubuhnya itu. Pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian tadi saat ia mengantar gadis kecil itu ke rumahnya.


"Dek.. Dek.. cepat lah adek tamat sekolah, sudah nggak sabar abang pengen melamar adek," gumamnya.


"Melamar siapa Im?" tanya Umi yang sudah berdiri di depan pintu kamar Baim. Tadi Umi sudah mengetuk pintu, namun karena hujan masih sangat lebat di luar, jadi mungkin Baim tidak mendengarnya atau karena dia yang begitu sibuk memikirkan gadis kecilnya.


Baim membalikkan badan, karena tadi dia tidur ke arah dinding dan membelakangi pintu. "Umi, sejak kapan umi disitu?"

__ADS_1


"Baru saja, Umi ketuk pintu berkali-kali tapi kamu tidak menjawabnya. Akhirnya Umi membuka pintunya saja, takutnya terjadi sesuatu sama kamu," jelas Umi.


"Kamu kenapa lama sekali pulang dari masjid?" tanya Umi lagi.


Baim tersenyum. "Iya, tadi habis mengantar Aini pulang mi."


"Kalian sudah baikan?" tanya Umi begitu penasaran. Baim hanya menganggukkan kepala dan Umi paham akan hal itu.


Umi duduk di kursi sebelah ranjang Baim. "Apa yang kamu katakan padanya sehingga dia memaafkanmu?"


"Ya Baim katakan saja semuanya, kalau Yuna memang mantan Baim tetapi mengaku-ngaku masih menjadi pacar Baim. Lalu Baim meminta maaf atas segalanya," jelas Baim.


"Bukannya kamu bilang kalau dia tidak ingin bertemu denganmu sama sekali? Lalu bagaimana kamu menjelaskannya?"


"Kemarin kan sudah Baim katakan kalau Baim memberi kado Aini dan meletakkan sepucuk surat di dalamnya. Jadi di dalam surat itu Baim jelaskan semuanya mi."


"Ya ampun Im.. Kenapa tidak dari dulu saja kamu buat seperti ini? Jadi kamu kan tidak perlu merasakan galau berkepanjangan," ucap Umi yang tak habis pikir.


"Bukan tidak ingin mi, tapi Baim mencari momen yang tepat. Tidak mungkin Baim memberikan kado di hari yang tidak spesial kan mi? Lagi pula seperti yang Baim pernah katakan, kalau baim ingin memberinya ruang agar tidak merasa tertekan dengan masalah yang ada," jelas Baim lagi. Umi hanya mengangguk dan merasa bersyukur karena anak angkatnya itu sudah kembali ceria.


.


.


.


.


.


tbc


____________


Bantu dukung karyaku ya readers


Like dan Vote kalian sangat membantu🙏😊

__ADS_1


Hari ini lagi nggak sibuk, jadi bisa up sampai dua episode😁😁


__ADS_2