
"Assalamu'alaikum.."
Terlihat seorang wanita masuk melewati pagar rumah Umi.
Baim terkejut melihat wanita itu. "Mau apa dia kemari?"
Wanita itu menghampiri kedua orangtua paruh baya itu dan mencium tangan mereka.
"Silahkan duduk nak.." ucap Umi sambil memberikan kursi yang baru didudukinya itu kepada wanita yang baru muncul dihadapan mereka semua.
Wanita itu duduk saat sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada Umi.
"Kamu siapa nak? Ada perlu apa kemari?" tanya Umi yang sangat penasaran dengannya.
"Saya Yuna bu.. Saya temannya bang Baim.." sahut wanita itu.
"Oh.. teman kamu Im.." kata Umi yang melirik ke arah Baim yang berada disebelah kanannya.
Baim hanya diam saja dan menatap jijik ke wanita itu.
"Bang Baim apa kabar? Uda sombong ya sekarang, nggak mau balas-balas pesan Una lagi.." Wanita itu membuka obrolan ke Baim tapi tidak ditanggapi sama sekali.
"Oh, bentar Umi tinggal ke dapur ya.. biar Umi ambilkan minum.." kata Umi lagi dan memberi kedipan mata kepada kedua anak lelakinya agar meninggalkan mereka berdua. Abi yang berada di dekat Umi sudah diberi kode duluan agar ikut masuk ke dalam rumah. "Sepertinya mereka butuh privasi," batinnya.
"Aduh.. Abi lupa ada tugas yang belum selesai di dalam, Abi masuk juga ya.." sambung Abi yang menyusul Umi.
Fahri dan Fahmi saling beratatapan. "Eh bang, kami masuk juga ya, mau mandi.. Gerah banget habis bersihin pekarangan belakang tadi," Kata Fahri yang mewakili Fahmi juga ingin segera meninggalkan mereka.
"Hei.. Mau kemana kalian? Sini temani abang.." teriak bang Baim karena mendapati kedua adik angkatnya itu berlari masuk ke dalam rumah.
Sebenarnya ia sangat malas bertemu dengan wanita ini lagi. Apalagi berada dalam posisi hanya berdua seperti ini, sungguh ia sudah tidak menginginkannya bahkan memikirkannya juga tidak akan pernah.
"Abang apa kabar?" tanya Yuna setelah beberapa saat mereka hanya diam saja. Lebih tepatnya Baim yang diam saja tidak ingin berbicara dengannya.
"Baik.." jawabnya ketus.
Yuna menghela nafas. "Abang betah tinggal di sini?"
"Kalau nggak betah ya nggak mungkin masi di sini." Lagi-lagi di sahuti dengan ketus oleh pria itu.
"Abang uda punya pacar?" tanyanya kembali, seolah ia memuntahkan apa yang ada dalam pikirannya sedari tadi atau mungkin sedari dulu saat Baim meninggalkannya.
__ADS_1
"Uda.." ucap Baim kembali ketus.
"Abang yakin uda bisa move on dari Una?" kata wanita itu dengan PD nya. Una adalah panggilan sayang Baim dulu kepadanya.
"Coba kasi saya satu alasan saja untuk tidak bisa melupakan anda!" celetuk Baim yang sudah mulai emosi.
"Ya, kita dulu kan saling sayang bang.. masak iya abang secepat itu melupakanku.." tutur wanita itu yang mulai terenyuh karena Baim bahkan tidak mau menyebut namanya lagi.
Baim tersenyum kecut. "Jangan ungkit-ungkit masa lalu.. itu semua hanya mimpi buruk bagiku!"
"Abang kok ngomongnya gitu? Maafin Una bang.. Una tahu Una salah.. tapi Una masi cinta sama abang.."
Wanita itu sudah turun dari kursi dan bersimpuh dihadapan Baim.
"Apa yang anda lakukan? Tolong berdiri dan hapus air mata anda.. Saya tidak mau orang berpikir bahwa saya menyiksa wanita seperti anda!" tegas bang Baim.
"Maaf bang.. Una janji nggak akan khianati abang lagi.. Kemaren Una khilaf karena abang terlalu sibuk dengan kuliah abang.. Tolong maafi Una bang.." pinta wanita itu sambil mengatupkan kedua tangannya.
Baim mengacak rambutnya frustas. "Itu bukan alasan untuk anda tega bermain gila dengan lelaki lain.. anda pikir hanya anda wanita di dunia ini? Saya juga bisa mencari wanita yang lebih baik seribu kali lipat dari anda"
"Abang salah paham.. Una nggak ada hubungan apapun sama pria itu.. Una hanya makan siang bersamanya kala itu.." katanya coba menjelaskan kejadian silam.
"Hanya makan siang anda bilang? Lalu apa maksud anda menyuapi pria itu? Apa anda akan bilang bahwa pria itu lagi nggak enak badan jadi perlu di suapi?" cibir Baim dengan nada yang sudah naik satu oktaf.
"Apa? anda tidak bisa jawab kan?"
"Lebih baik anda pergi dari sini sekarang juga! Saya sudah muak liat muka anda!"
Bang Baim sudah beranjak dari kursinya dan hendak pergi meninggalkan wanita itu. Tapi tangannya tiba-tiba ditarik oleh Yuna yang masi bersimpuh di hadapannya.
"Bang.. Tolong maafin Una.." pintanya dengan wajah yang memelas.
Baim menghempaskan tangan Una dari tangannya. "Jangan sentuh saya, baiklah saya sudah memaafkan anda, sekarang anda bisa pergi dari sini!"
Baim sudah pergi meninggalkan Yuna yang masi terisak-isak di teras depan.
Baim merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap ke arah langit-langit kamar. Pikirannya melayang-layang mengingat kembali kejadian silam yang sudah dikuburnya dalam-dalam.
Beberapa tahun yang lalu, Baim mempunyai seorang kekasih bernama Yuna. Baim biasa memanggilnya dek Una. Awal hubungan mereka baik-baik saja. Una begitu perhatian, sering membawakan makanan untuknya, mereka sering bertukar kabar lewat telpon dan hari-hari mereka penuh cinta. Sampai suatu ketika setahun yang lalu, Baim disibukkan dengan kuliahnya yang sudah semester akhir. Dia begitu sibuk menyusun skripsinya. Memang ia akui bahwa ia bahkan tidak mempunya waktu untuk berbagi kabar dengan kekasihnya itu. Semua itu ia lakukan agar ia bisa fokus dalam menyelesaikan skripsinya dan bisa segera wisuda karena ia sudah cukup lama menempuh pendidikannya itu. Semua teman seangkatannya sudah lulus dan sudah bekerja. Tapi ia masih berada di tahap penyusunan skripsi.
Sampai hari dimana ia ingin membeli makanan dari salah satu rumah makan padang, dan ia dapati Una tengah berduaan dengan pria asing. Mereka terlihat begitu mesra, saling suap-suapan dan dibarengi dengan canda dan tawa. Semua yang melihat kemesraan mereka pasti merasakan hal yang sama dengan bang Baim kala itu. Perasaan kesal, marah, bahkan jijik yang ia rasakan menjadi satu. Una sangat terkejut saat dipergoki Baim dan mencoba menjelaskan semuanya. Tapi Baim malah mengatakan hubungan mereka berakhir saat itu juga. Tak lama dari kejadian itu, Baim pergi hijrah dari kampungnya ke kampung yang sama dengan Aini si gadis kecil yang telah mencuri hatinya itu.
__ADS_1
******
"Ini.. diminum dulu nak.." Umi mencoba mengingat nama wanita tadi.
Yuna yang paham tentang ekspresi Umi yang terlihat lupa akan namanya itu pun langsung menyebutkan namanya.
"Yuna bu.. makasi teh nya."
"Nak Baim nya kemana? kok kamu ditinggal sendiri?" Umi coba mencari-cari disekitar teras dan pekarangan rumahnya namun Baim tak terlihat sama sekali.
"Bang Baim sudah masuk bu.. katanya ngantuk.." ucap Yuna mencoba menutupi kejadian yang sebenarnya.
"Baik bu.. Kalau begitu saya permisi dulu.. ada urusan yang harus saya kerjakan.." Yuna pamit dan mencium kedua tangan Umi.
"Loh, kok buru-buru nak? Nggak ikut makan siang disini dulu?" tanya Umi sebelum Yuna pergi.
"Nggak bu.. lain waktu mungkin saya mampir lagi."
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam.." jawab Umi dan menyaksikan kepergian wanita itu.
"Ada apa dengannya dan Baim? kenapa dia terlihat seperti baru menangis?" tanya Umi dalam benaknya.
.
.
.
.
.
tbc
_________
vote.. vote.. vote..
Like.. Like.. Likeπͺπͺππ
__ADS_1
Ini dia si Yuna