
Rindu...
Sebuah kata yang mudah terucap
namun berat terasa
Rindu...
Sebuah rasa yang belum tersalurkan
sebab adanya keterbatasan
Rindu...
Akankah menggilai setiap insan yang terserang olehnya?
Akankah membutuhkan syarat untuk menyembuhkannya?
Jika iya, maka pertemuan akan menjadi solusi terbaik bagi setiap insan yang merasa
Seminggu sudah berlalu sejak Aini masuk ke sekolah baru, namun hanya sekali saja Baim melihatnya ikut serta dalam pengajian rutin yang diadakan sehabis maghrib di masjid kampung mereka.
Hari ini ingin rasanya Baim menemui gadis kecil itu untuk mengobati rasa rindu yang membuncah, meluapkan segenap emosi diri yang tertahan akan rasa itu, walau hanya melihat wajah manis gadis kecil pujaannya.
"Kenapa sih bang? Kayak setrikaan aja, mondar mandir nggak berhenti-berhenti!" tegur Fahmi saat melihat Baim berjalan bolak-balik di depan kamarnya.
"Sudah pergi sana! Mengganggu saja!" ketus Baim.
"Selow aja kali! Ini juga mau pergi...." Fahmi berjalan menuju dapur meninggalkan Baim sendirian di depan kamarnya.
Baim berhenti sejenak. "Aku harus cari alasan apa ya, biar bisa ke rumah Aini?" gumamnya.
"Astaga, gara-gara Aini rupanya!" batin Fahmi dari balik tembok. Ternyata ia tidak benar-benar pergi, masih mengintip Baim dari pembatas ruang tengah sebelum menuju dapur.
"Aku beli buah aja kali ya, terus bawa ke rumahnya."
"Eh, tidak ... tidak ..., emangnya ada yang sakit, pakek bawa buah-buahan segala!"
"Lebih baik aku bawa masakan umi...."
Baim berpikir kembali tentang ide sebelumnya. "Bosan juga kalau alasan itu-itu terus, jadi apa dong ya?"
Baim begitu frustrasi memikirkan alasan apa yang cocok agar ia dapat menemui gadis kecilnya. Ia akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar dan berencana menghubungi gadis itu via handphone.
Baru saja akan menekan tombol hijau untuk menghubungi gadis itu, tiba-tiba benda pipih di tangannya sudah berdering hebat. Baim sampai terkejut dibuatnya.
"Astaghfirullah, bikin terkejut saja!" batin Baim.
"Gadis Kecil," ucapnya saat melihat layar handphone itu tertera nama gadis pujaannya. Baim segera menjawab panggilan itu.
Aini : Assalamu'alaikum....
Baim : Wa'alaikumsalam, ada apa dek? Tumben telepon abang?
__ADS_1
Aini : Hmm.. ada perlu sedikit...
Baim : Bilang aja, nggak usah sungkan
Aini : Aini, ada tugas. Terus perlu laptop untuk mengerjakannya, apa abang punya laptop?
Baim.: Oh, laptop. Ada... kapan mau di pakai?
Aini : Kalau bisa sekarang, tapi...
Baim : Tapi apa?
Aini : Tapi sekalian ajarin, kan nggak pande cara pakainya
Baim : Oh itu, iya gampang. Abang siap ngajarin adek sampe tua
Aini : Maksudnya?
Baim : Eh, enggak. Cuma bercanda. Ya sudah, ini abang segera ke rumah adek ya
Aini : Oke, di tunggu
Baim : Baiklah, Assalamu'alaikum..
Aini : Wa'alaikumsalam
Bak peribahasa, pucuk di cinta ulam tiba, begitulah yang ada dalam benak Baim saat ini. Seharian memikirkan cara untuk bertemu gadis itu, tapi dengan sendirinya gadis kecilnya yang memintanya untuk datang ke rumahnya. Sungguh hal yang tidak terduga.
*
"Wa'alaikumsalam. Masuk bang," sahut Aini yang terlihat keluar dari pintu rumahnya.
Baim tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera masuk ke dalam rumah Aini yang minimalis itu. Jantungnya sekarang berdegup kencang, bahkan ia sendiri susah mengatur nafas seperti habis lari maraton. Padahal hanya melihat wajah gadis itu, tapi dia merasa amat senang sebab rindunya kini bisa terobati.
"Bentar ya, bang. Aini ambilkan minum dulu," pamit Aini pada pria itu.
Baim masih tak bergeming, bahkan kepalanya pun terasa berat ia gerakkan hanya untuk menyahuti perkataan Aini. Baim benar-benar gila dibuat gadis kecil itu, atau dia memang pria yang lebay saat merasa jatuh cinta. Entahlah .....
"Diminum dulu, bang." Aini sudah kembali dari dapur dengan membawa dua gelas teh untuknya dan Baim, tidak lupa roti kering juga terdapat di dalam nampan yang di bawanya.
"Nanti saja, dek. Lebih baik kita fokus pada tugas adek dulu," sahut Baim.
"Baiklah ...," balas Aini.
"Jadi, tugas apa yang adek mau kerjakan?" tanya Baim sembari membuka laptop yang sudah dikeluarkannya dari dalam tas.
"Ini, bang. Kata bu guru, di suruh ketik dengan rata kiri-kanan, ukuran huruf 12 dan bla bla bla ...." Aini panjang lebar menjelaskan tugasnya kepada Baim, walau pria itu sendiri lebih fokus melihat wajah Aini dari pada mendengar ucapannya.
"Bang? bisa kita mulai?" tanya Aini saat melihat Baim tak merespon ucapannya.
"Ehmm.. iya, bisa. Tunggu sebentar." Baim segera membuka aplikasi pengolah kata yang ada di laptop nya dan memberikan benda itu ke tangan Aini. "Ini, dek. Tinggal adek ketik saja tugasnya. Nanti stelah selesai baru kita atur margin, font size dan yang lainnya.
Aini mulai mengetik tugasnya, sedangkan Baim memperhatikan dari sampingnya. Ibu Ema tidak terlihat di rumah saat itu, mungkin sedang ke rumah nenek untuk mengurusi nenek yang sakit. Kedua adik Aini juga terlihat di luar rumah sedang bermain dengan teman mereka dan Ayah Aini masih belum pulang bekerja.
__ADS_1
"Diminum dulu, bang. Daripada ngelamun, ntar kesambet lho," sindir Aini sambil jari jemarinya trus berkutat pada laptop dipangkuannya.
Baim tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya ia salah tingkah karena ketahuan memandangi Aini. "I.. iya, dek," jawabnya, lalu ia meneguk sedikit teh hangat yang telah disuguhkan Aini.
"Bang, ini gimana sih? Kok hurufnya berubah jadi besar semua?" tanya Aini. Ia memang tidak begitu faham tentang aplikasi pengolah kata yang ada di laptop.
"Oh, ini saja yang di tekan. Maka semua akan kembali normal," ucap Baim sambil menekan tombol caps lock dari keyboard laptop nya.
Aini mengangguk faham. Ia melanjutkan kembali ketikan tugas yang baru sedikit ia kerjakan. Sangat lama ia mengetik kata demi kata di keyboard laptop itu, membuat Baim tak sabar dan ingin membantunya.
"Sini, dek, biar abang saja yang mengetiknya," ucap Baim menawarkan bantuan.
"Dari tadi kek, nggak peka banget," batin Aini. Ia ternyata memang berharap Baim yang mengetik tugasnya itu, tapi malah tadi pria itu memberikan laptop nya kepada Aini.
"Tidak apa, bang. Biar Aini saja yang mengerjakannya, inikan tugas Aini," ucap gadis kecil itu menolak bantuan Baim. Memang wanita terkadang sulit dimengerti, berharap akan satu hal, tapi saat hal itu menghampirinya, ia malah menolak. Sepertinya para pria harus lebih sabar menghadapi sifat wanita yang satu ini.
"Oh, ya sudah," jawab Baim polos.
"Tuh kan, dia nggak peka! Bukan terus bujuk biar bantuin aku, malah di bilang oh doang!" gerutu Aini.
Benar saja, ucapan Aini yang baru saja terlontar nyatanya tidak sesuai dengan yang ada dipikirannya. Namun sayang, para pria biasa selalu pakai logika dan sesuai fakta. Saat Aini menolak bantuan Baim, jelas saja Baim berpikir kalau Aini memang benar ingin mengerjakan tugasnya sendiri. Padahal Aini merasa gengsi saja kalau harus cepat-cepat menerima bantuan Baim, takut ketahuan kalau dia benar-benar berharap dibantu pria itu, jadi dia sengaja untuk menolak dulu dan berharap Baim yang seakan mendesaknya untuk memberikan bantuan.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam," ucap Baim dan Aini berbarengan.
Ibu Ema tampak memasuki rumah dengan membawa pakaian kotor di tangannya. Sepertinya itu baju nenek yang besok akan dicuci ibu.
"Eh, ada nak Baim. Sudah lama datangnya?" tanya Ibu pada pria yang duduk disebelah anak sulungnya itu.
"Belum begitu lama, bu," jawab Baim.
"Ya sudah, lanjutin urusan kalian. Ibu ke dapur dulu ya." Ibu segera pergi ke dapur karena ingin segera membuat teh, berhubung ayah Broto sebentar lagi akan pulang.
"Dek, beneran nggak mau dibantuin?" tanya Baim lagi.
"Akhirnya ... terucap kembali kata-kata yang sudah ku tunggu dari tadi," batin Aini.
"Boleh deh, bang." Gadis itu segera menyerahkan benda persegi panjang di tangannya, sebelum Baim berubah pikiran, atau lebih tepatnya sebelum gengsi Aini kembali mengambil alih pikirannya.
Baim tersenyum senang karena kini gadis itu mau menerima bantuannya. Dia tidak tahu saja kalau Aini memang mengharapkan itu dari tadi. Semua wanita itu unik, terkadang apa yang diucapkannya belum tentu sejalan dengan pikirannya. Mungkin ini salah satu alasan jika sampai saat ini misteri kata 'terserah' dari mulut wanita belum juga terpecahkan, karena kata itu mempunyai jutaan makna.
.
.
.
.
.
______________
__ADS_1
buat yg masih setia, maaf sudah lama tidak up.ππ
dukung aku terus ya, biar bisa tamatin cerita iniπ