
Ujian akhir sekolah semakin dekat, proses belajar mengajar tidak lagi membahas materi yang ada di buku, melainkan membahas soal-soal ujian yang diperkirakan akan masuk saat ujian nasional nanti. Jadwal pulang sekolah madrasah tsanawiyah tempat Aini dan teman-temannya mengemban ilmu juga sudah berubah dari beberapa bulan lalu, khususnya untuk murid kelas 9. Les tambahan yang diadakan sehabis pulang sekolah menjadi pemicu mereka harus pulang lebih lama dari biasa.
"Ni, nanti sepulang sekolah kita nongkrong bentar yuk di cafe depan," ajak Sara. Saat ini dia dan Aini sedang berada di toilet untuk mengganti baju setelah jam pelajaran olahraga.
"Mau ngapain? Hari ini kita kan harus mengikuti les tambahan," jelas Aini.
"Aku bosen harus les terus, sekali-kali kan nggak apa-apa kalau tidak masuk. Ayo lah Ni, kita sudah lama tidak nongkrong di cafe kan?" tutur Sara mempengaruhi.
"Kita atau Kau dan Amar maksud mu?" Aini tahu betul kalau Sara belakangan ini memang tidak pernah lagi pergi berkencan dengan Amar, hanya bertemu di sekolah saat jam istirahat saja. Jadwal les mereka yang begitu padat membuat semua murid kelas 9 harus melupakan sejenak acara hangout atau kencan dengan pacar mereka sementara waktu.
"Ah, sepertinya kau sangat tahu isi hatiku," ucap Sara tersipu malu.
"Kau jangan takut, aku tidak membiarkanmu jadi kambing congek sendirian kali ini. Tapi aku akan mengajak Bagas agar kau tidak bosan saat aku sibuk dengan Amar nantinya," jelas Sara.
"Pandai sekali kau ini!" cibir Aini.
"Kau baru tahu kalau aku begitu pandai?"
Aini memutar bola matanya malas. "Terserah!"
"Yeee.. berarti mau kan.. mau kan?" tanya Sara untuk lebih meyakinkan dirinya kalau Aini mau ikut dengannya nanti siang.
"Hmm.." sahut Aini. Mereka kemudian masuk ke kelas kembali karena pelajaran berikutnya akan segera dimulai.
* *
Saat bel pulang sekolah berbunyi, Sara segera mengajak Aini dan Bagas ke luar kelas untuk pergi bersama menuju cafe. Jika mereka tidak segera pergi, maka khawatir nantinya guru yang mengajar les akan segera datang dan acara nongkrong mereka pasti akan batal.
"Kalian tunggu di depan gerbang saja, aku mau ke kelas Amar dulu!" titah Sara pada Aini dan Bagas yang sudah berada di luar kelas.
Aini hanya mengangguk dan berlalu pergi. Bagas yang melihat itu segera mengikuti Aini dari belakang. Semenjak kejadian di pesta Trisya tempo hari, Aini tidak banyak bicara lagi dengan Bagas. Hal itu tentu membuat Bagas bingung, karena ia sudah meminta maaf berulang kali dan mendapat jawaban yang sama, yaitu Aini sudah memaafkannya. Tapi mengapa sampai saat ini Aini terus saja bersikap dingin, walau dia masih mau membalas jika Bagas berbicara dengannya.
__ADS_1
"Aini.. tunggu.." teriak Bagas sambil mengejar Aini. Gadis itu sengaja jalan begitu cepat untuk menghindari Bagas. Semenjak kejadian di pesta itu pula, Aini mendadak tenar di sekolahan. Ketika dia melewati tiap-tiap kelas 9, pasti murid-murid yang melihatnya akan berbisik kalau dia Aini yang disukai Bagas. Rasanya ia begitu malu menjadi bahan pergunjingan murid-murid seangkatannya.
"Kalian sudah jadian ya?" tegur seorang murid yang melihat Bagas mengejar Aini. Gadis itu berhenti sejenak. "Jadian? siapa maksudnya?" pikir Aini. Dia tidak sadar jika dari tadi Bagas mengejar dirinya.
Aini melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa di dekatnya. Pasti seseorang yang terdengar mengeluarkan kata-kata jadian tadi di tujukan padanya.
"Cepat sekali kamu berjalan, aku sampai kelelahan mengikutimu," ucap Bagas setelah benar-benar bisa mensejajarkan diri dengan Aini.
"Siapa yang suruh mengejarku?" sahut Aini, kemudian ia melanjutkan langkah kakinya menuju gerbang yang tinggal beberapa meter lagi dari hadapannya.
Selama menunggu Sara dan Amar datang, Aini dan Bagas tidak berbicara sepatah kata pun. Bagas ingin memulainya, namun melihat Aini yang sibuk dengan benda pipih di tangannya itu membuat Bagas mengurungkan niat. Ia juga mengeluarkan handphone dari sakunya untuk sekedar melihat akun sosmed miliknya.
"Kalian sudah lama menunggu?" tanya Sara yang baru tiba di depan gerbang bersama Amar.
"Lumayan," sahut Bagas.
"Sudah ayo, jangan buang waktu lagi, agar kita masih bisa masuk les walau hanya sebentar sebelum les usai," ajak Aini pada mereka semua. Sebenarnya hati kecil Aini tidak menginginkan bolos walau saat les seperti ini. Tapi demi Sara, dia rela melakukannya. Dia tidak ingin Sara hanya berduaan dengan Amar, bukan karena Aini iri dengan kebersamaan mereka, namun Aini tidak ingin Sara melakukan hal yang tidak-tidak jika hanya berduaan dengan pacarnya itu.
Saat di cafe, Aini dan Sara duduk di meja yang berbeda, namun masih bersebelahan. Biar bagaimanapun, Sara dan Amar tidak ingin privasi hubungan mereka diketahui orang lain, termasuk Aini. Padahal Sara akan menceritakan apapun dengan Aini, namun saat dengan Amar tentunya Aini juga tahu diri untuk tidak mencampuri urusan mereka.
Aini yang duduk menghadap ke arah jalan hanya melihat-melihat kendaraan yang melintas. Sementara Bagas sedari tadi menatap Aini, namun bingung harus membicarakan apa. "Kenapa jadi canggung gini sih?" batin Bagas. Akhirnya dia punya ide untuk memecahkan keheningannya dengan Aini.
"Aini, itu di hidung kamu ada apa?" ucap Bagas untuk pertama kalinya setelah mereka lama duduk di cafe.
"Apa?" sahut Aini. Ia lalu menyentuh hidungnya dengan satu telapak tangannya.
"Aku tahu ini sudah siang, tapi aku tidak sebau itu sampai kamu harus menutup hidungmu segala," ledek Bagas. Ia sengaja mengganggu Aini agar gadis itu mau berbicara dengannya.
"Ihh, sengaja banget ngerjain aku ya?" tukas Aini dan sudah menampakkan sedikit lengkungan di bibirnya.
"Yes, aku berhasil," batin Bagas.
__ADS_1
"Habisnya kamu diam saja, aku berasa duduk dengan orang bisu kalau seperti ini," tutur Bagas.
Aini memainkan sedotan yang ada di gelasnya. Ia juga berpikir, untuk apa dia menjauhi Bagas, toh semuanya tidak akan merubah keadaan. Biar saja semua teman mengenalnya, bukannya itu bagus agar suatu saat bertemu di tempat lain, mereka bisa saling bertegur sapa, karena tidak selamanya Aini hanya pergi bersama Sara yang satu-satunya menjadi sahabat yang mengenal dirinya.
"Ya, bingung aja mau ngomongin apa," kilah Aini. Padahal di memang malas tadinya untuk berbicara dengan siswa di depannya itu.
"Eh, itu si Sara sudah berapa lama jadian sama Amar?" tanya Bagas yang hanya basa-basi agar ada bahan obrolan.
"Dari awal-awal kita kelas 8 gitu, ya kalau seingat aku mungkin sudah mau berjalan dua tahun la," sahut Aini yang sudah mau berbicara dengan Bagas.
"Lama juga ya," sahut Bagas. "Hmmm.. kamu sendiri, nggak niat cari teman dekat?" lanjut Bagas yang mulai ingin tahu, apa Aini sudah punya teman dekat laki-laki selain dirinya.
"Sudah ada, untuk apa mencari lagi," sahut Aini.
"Siapa?" tanya Bagas penasaran.
"Tuh, Sara," tunjuk Aini dengan menggerakkan dagunya ke arah sahabatnya yang sedang tertawa bersama Amar.
"Astaga.. aku kira siapa," ucap Bagas sambil memijat dahinya pelan. Mendengar jawaban Aini tadi rasanya jantungnya mau copot. Apa selama ini usahanya sia-sia ingin mendekati Aini karena ternyata Aini sudah mempunyai teman dekat. Untung saja teman dekat Aini itu bukan laki-laki, melainkan si Sara sahabatnya.
"Itu kan teman dekat perempuan, kalau teman dekat laki-laki ada tidak?" tanya Bagas yang memang begitu penasaran.
.
.
.
.
.
__ADS_1
_____________
Bantu beri vote ya readers😉😉