
"Aini.. tunggu..." teriak Sara, dia berlari mengejar sahabatnya itu yang terlihat sudah menaiki beberapa anak tangga menuju kelas mereka.
Aini menoleh sekilas."Huhhh.. si bucin.." katanya sambil melangkahkan kembali kakinya.
Sara menepuk bahu Aini. "Woii.. uda di panggil juga, nggak berhenti. Pura-pura budek, ntar budek beneran baru tahu lhoo."
"Eh, tadi siapa yang nganterin?"
"Mau tau aja apa mau tau banget?" jawab Aini sekenanya.
"Idihh.. gitu ya.. main rahasia-rahasiaan sama sahabat sendiri.." cibir Sara. Kini mereka sudah duduk dibangku Aini karena mereka sudah masuk ke dalam kelas. Sara belum juga pindah ke bangkunya karena masi penasaran tentang siapa yang mengantar sahabatnya tadi. Ia tidak sempat melihat wajah lelaki yang mengantar sahabatnya itu, karena lelaki itu memakai helm berkaca gelap. Tapi kalau diperhatikan lelaki itu bukan ayah Aini, karena dari postur tubuh jelas beda, dan motor yang digunakan juga beda.
"Siapa sih tadi?" tanyanya kembali.
"Bukan siapa-siapa.." jawab Aini dengan malas.
"ihhh.. ya uda deh kalau nggak mau kasi tau!" Sara pergi dan duduk di bangkunya yang berada paling belakang.
"Ciee.. ngambek.." ledek Aini sambil menoleh ke arah belakang bangkunya karena Sara duduk di barisan paling belakang sebarisan dengan gadis itu.
Sara melengos, karena malas menatap Aini. "Biarin, aku pura-pura ngambek beneran," batinnya.
"Astaga, aku lupa.. aku kan harus menyerahkan tugas yang kemarin diminta bu Santi," gumamnya. Lalu ia beranjak dari bangkunya untuk keluar kelas dan menuruni anak tangga menuju kantor guru.
"Lhoo.. lhoo.. lhoo.. aku yang ngambek kok dia yang pergi?" tanya Sara ketika melihat Aini buru-buru pergi.
"Mau kemana dia?" batinnya.
Tak lama Aini sudah kembali ke bangkunya. Guru yang mengajar di kelas mereka pun sudah masuk dan memulai pelajaran di pagi itu.
**********
"Bu.. es mangga satu.." kata Sara yang sudah mendudukkan bokongnya di bangku kantin.
Aini nampak terengah-engah karena mengejar Sara yang pergi ke kantin tanpa menunggunya. "Kayaknya dia masi ngambek soal tadi," batinnya.
"Bu.. es jeruk satu.." ucapnya kepada penjaga kantin dan ikut duduk di sebelah Sara.
"Masi ngambek ni ceritanya?"
"Makasih bu.." Sara menyeruput es mangga pesanannya yang baru diantar ibu penjaga kantin.
"Jadi siapa tadi pagi?" tanyanya masi penasaran soal tadi pagi.
"Oh.. itu.. hmm.." Aini menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
__ADS_1
"Apaan sih, jawab gitu aja lama banget.." timpal Sara.
"I..itu bang Baim," jawabnya gelagapan.
Uhukk.. uhukk.. uhukk..
Sara terbatuk-batuk mendengar jawaban Aini.
"Gila sahabat ku yg satu ini, uda makin maju aja ku lihat.
"Oh, jadi itu bang Baim.. dari belakang sih nampak oke.. cuma tadi aku nggak lihat depannya gimana.."
"Sejak kapan kau mau dianter-anter cowok ke sekolah? Bukannya ayah melarang?" tanya Sara bertubi-tubi.
"Iya.. terpaksa," ucapnya sambil menyeruput es jeruk dihadapannya.
"Aku tadi mau anter tugas ke bu Santi dan di suruh sebelum mulai pelajaran pertama, makanya aku mau dianter dia."
"Oh, pantesan tadi kau buru-buru keluar sebelum bu guru datang." Sara mengingat kejadian pagi tadi yang melihat Aini meninggalkan kelas.
"Ku lihat motornya bagus, nampaknya motor baru ya si doi?" Kepo Sara lagi mode on.
Aini menaikkan kedua bahunya. "Katanya sih gitu.."
"Jangan-jangan kau orang pertama yang diboncengnya.. so sweet bangeeettt..." ucap Sara sambil senyum-senyum sendiri.
"Kalau biasa aja, kenapa wajahmu memerah seperti kepiting rebus begitu?" Sara terus-terusan menggoda Aini, membuat gadis itu malu dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Amar mana? tumben nggak ikut nongkrong bareng kita?"
"Tu di pojokan.. lagi ribut aku sama dia," balas Sara cuek.
"Lah, ada masalah apa? masi kecil sok punya masalah berat. Pake ribut-ribut segala lagi," ujar Aini mengomentari Sara.
"Belakangan ini dia sibuk futsal, kesel aku kalo ngechat di kacangin mulu!" ketus Sara.
"Ya ampuunn.. gitu doang ngambek.. cowok juga butuh olahraga kali, biar dia sehat. Emang kau mau dia penyakitan?" ucap Aini menenangkan sahabatnya itu.
"Iya.. aku tahu.. tapi ini benar-benar sibuk banget.. cuma balas chat aku sekali doang juga nggak sempat, di telpon juga nggak diangkat, gimana nggak ngeselin coba?" tanya Sara yang berharap didukung juga oleh Aini.
"Au ah, ribet..! Gini ni aku males pacar-pacaran. Nggak penting banget mikirin anak orang yang nggak mau balas chat kita." Aini bingung dengan sahabatnya itu, kemarin dia tertawa lepas dengan pacarnya, sekarang dia jauh-jauhan seperti musuh.
"Yaudah, bayarin gih minuman aku.." kata Sara membuyarkan lamunan Aini.
Aini diam sejenak mencerna kata-kata Sara. "Kok aku?"
__ADS_1
"Iya lah.. tadi kan ceritanya aku lagi ngambek, jadi aku minta traktirin biar bisa maafin kau." Sara berdiri hendak meninggalkan meja kantin.
"Ihh.. kan nggak ada perjanjiannya gitu.. Aku..."
belum selesai Aini melanjutkan kalimatnya, Sara sudah keluar dari kantin.
"Aish... untung tadi diantar bang Baim, jadi uang ongkos tadi pagi bisa buat traktirin Sara," gumamnya.
Usai membayar minumannya dengan Sara, gadis itu hendak berlari mengejar sahabatnya yang sudah semakin jauh.
"Aini.."
Gadis itu mengurungkan niatnya yang hendak berlari. Karena seseorang menghentikan langkahnya.
"Ya, ada apa?" tanyanya pada siswa yang memanggilnya tadi.
"Sara bilang apa aja sama mu?" tanya Amar.
Jadi yang manggil Aini tadi si Amar pacarnya Sara. Dari tadi ia memang duduk di pojok kantin, saat melihat Sara yang keluar kantin ia memanggilnya, namun gadis itu tidak menghiraukannya. Makanya ia coba berbicara dengan Aini yang merupakan sahabat Sara.
"Nggak banyak sih, cuma dia bilang belakangan ini kau sibuk dan susah dihubungi," jelas Aini kepada siswa itu.
"Oh.. aku bole minta tolong?" katanya sambil memelas.
"Ya, minta tolong apa ni?" Aini takut disuruh yang enggak-enggak sama Amar.
"Tolong berikan surat ini padanya dan bilang ke Sara biar mau maafin aku. Belakangan ini aku memang sibuk, karena minggu depan ada pertandingan futsal antar sekolah. Jadi aku tiap hari harus latihan, bukan nggak mau balas chat atau telpon dia. Tolong ya Ni.. bilangin ke dia.." pintanya.
"Yaudah, ntar ku sampaikan.. aku duluan ya.." Aini buru-buru pergi meninggalkan Amar sendiri di kantin karena memang semua murid sudah memasuki kelas masing-masing setelah mendengar bel berbunyi.
"Apalagi ini ya Allah.. setelah sering jadi kambing congek saat mereka pacaran, ini aku juga merangkap jadi merpati pos yang mengantar surat," batinnya. apeess beneerrr
.
.
.
.
.
tbc
____________
__ADS_1
vote dan like jan lupa
biar aku makin semangat