Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Dia Lagi


__ADS_3

Suasana kelas tampak riuh, membuat Aini yang baru pulih dari sakitnya malah kembali merasa sedikit pusing. Pasalnya usai bel istirahat tadi, tidak ada guru yang masuk ke dalam kelas, mungkin tidak hadir atau mungkin mengadakan rapat, Aini tidak mau ambil pusing.


"Ni.. Kau masi sakit?" tanya Sara yang mendatangi bangku Aini dan terlihat sahabatnya itu sedang menyandarkan kepalanya di atas meja.


"Uda enggak, cuma pusing aja dengar mereka ribut-ribut gitu," jawab gadis itu.


"Gimana sih? katanya uda nggak sakit, tapi masi pusing juga. Ini ibarat makan jengkol, uda berkali-kali sikat gigi juga masih terasa baunya. Nah kau juga, bilang uda sembuh tapi masih ada pusing-pusingnya juga," kata Sara sambil tertawa.


"Bisa aja sih," sahut Aini juga ikut tertawa.


"Nah, gitu dong.. kan senang aku lihat sahabat ku ikut tertawa."


"Eh, kayaknya guru pada rapat deh, temani aku ke perpus yok, mau balikin buku kemaren yang aku pinjam," pinta Sara.


"Oke.. berangkat..." kata Aini dan sudah berjalan mendahului Sara.


"Tu kan, kebiasaan ni anak, uda aku yang ngajak dia, kok aku yang ditinggal."


"Hei.. kalian mau kemana?" tanya Alfi yang menghentikan langkah mereka berdua.


"Mau ke perpus," jawab Sara singkat.


"Oh, ya sudah, jangan lama-lama.. ntar ada guru yang masuk trus nanyain kalian, aku yang dimarahin," sambungnya lagi.


"Iya bawel!" ketus Sara.


******


"Kak.. uda makan siang belum?" ibu masuk ke kamar Aini yang sebelumnya sudah mengetuk pintu terlebih dahulu.


Beberapa menit yang lalu Aini sudah pulang dari sekolahnya, dan ia langsung menuju kamarnya untuk beristirahat karena kondisinya masih belum pulih betul.


"Belum bu.." sahut Aini.


"Kok belum sih? kan harus minum obat kak."


"Ibu ke dapur ya, biar ibu ambilkan makanan untuk kakak," kata ibu yang hendak pergi.


"Iya bu," jawabnya lirih.


"Ini, ibu bawakan makanan. Ayo cepat dimakan, habis itu minum obatnya," pintanya kemudian.


"Makasih bu." Aini memakan makanan yang sudah dibawakan ibu Ema.


"Ya sudah.. Ibu tinggal ya, habiskan makanannya, kemudian minum obatnya," ucap ibu yang melihat Aini hampir selesai menghabiskan makanannya.


"Iya bu.."


***


"Bang, ada yang nyariin tu," kata Fahmi yang masuk ke kamar Baim.


"Siapa?" tanyanya sambil memegang buku di tangannya.


"Yang kemaren, lihat aja sana," sahut Fahmi lagi.


"Siapa sih?" Baim beranjak dari kasur nya menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang datang ingin menemuinya.

__ADS_1


"Astaga.. Dia lagi," Baim menepuk dahinya pelan.


Baim sudah berdiri dibalik tembok pembatas ruang tamu dan ruang sholat itu.


"Sebenarnya malas banget kalau harus berbicara dengannya lagi, tapi kalau tidak ditemui pasti dia juga tidak akan pulang," gumamnya.


"Assalamu'alaikum bang.." sapa wanita itu.


Ya, wanita itu yang tak lain ialah Yuna, mantan pacar Baim yang kemaren sempat datang ke rumah umi.


"Wa'alaikumsalam, uda nggak usah basa-basi, mau apa anda ke sini?" tanya Baim to the point.


"Abang kok gitu ngomongnya, Una cuma mau silaturahmi aja kesini," jawabnya dengan nada semelas mungkin.


"Nggak bakal aku kemakan bujuk rayunya," batin Baim.


"Eh, ini lupa, Una bawain oleh-oleh," katanya lagi sambil memberikan bungkusan yang dibawanya.


"Yaudah, letakkan saja di atas meja itu," ketus Baim.


"Loh, ada tamu?" kata Umi yang kebetulan lewat.


"Buatin minum dong Im," sambung Umi lagi.


"Syukur deh, umi tahu aja kalau aku malas dekat-dekat dia lagi. Biarin aku lama-lama aja buatin minumnya," batin pria itu.


"Iya, sebentar ya mi, Baim ke dapur dulu mau buatin minum," jawabnya, kemudian pergi menuju dapur.


Di dapur Baim hanya duduk santai entah sampai kapan dia juga tidak tahu. Lalu ia berpikir untuk apa berlama-lama di dapur, jadi ia kembali ke kamarnya.


Di ruang tamu..


"Tidak ada apa-apa mi, hanya ingin bersilaturahmi aja. Oh iya mi, ini Una bawain oleh-oleh," katanya lagi sambil memberikan buah tangannya itu.


"Terimakasih nak Una, lain kali nggak perlu repot-repot," sahut Umi.


"Enggak repot kok mi.."


"Si Baim kenapa lama banget ya? Umi tinggal sebentar ya nak, mau lihat Baim," kata Umi yang meninggalkan Una sendiri.


"Aku tahu, pasti bang Baim sengaja menghindar dari aku," gumam wanita itu setelah ditinggal Umi.


Di kamar Baim..


"Baim... kamu nggak jadi buatkan minum untuk Una?" tanya Umi yang sudah masuk ke kamar Baim.


"Malas ah mi, Baim mau tidur, ngantuk ni," sahut Baim dengan malas.


"Kali ini Umi bantu kamu, ya sudah, kamu istirahat, biar Umi yang temani Una. Lain kali umi nggak mau lagi terlibat dalam masalah kalian ya!"


"Oke deh mi," jawab Baim kegirangan. Uminya memang paling tahu apa yang diinginkan Baim walau Baim bukan anak kandungnya.


"Nak Una, silahkan diminum.." kata Umi yang sudah kembali ke ruang tamu dan membawa segelas minuman.


"Iya mi, makasih.. Bang Baimnya kemana ya mi?" tanya Una penasaran.


"Si Baim sepertinya lagi istirahat di kamarnya, karena sebentar lagi dia mau pergi mengajar privat," jawab Umi dengan jujur.

__ADS_1


"Oh, bang Baim mau pergi ya.. berarti Una ganggu dong mi?" tanya wanita itu merasa bersalah.


"Hmm.. bukan seperti itu nak, kalau kamu mau, kamu bisa bantu umi di dapur sambil menunggu Baim pulang mengajar nantinya," bujuk Umi yang merasa tidak enak terhadap Una. Biar gimana pun tamu harus dihormati dan dilayani dengan baik.


"Beneran mi? Ya sudah, Una bisa bantu apa? ayo kita ke dapur," jawabnya dengan semangat.


"Aduh.. salah deh kayaknya ngasi peluang begini sama ni anak," batin umi.


Mereka berdua sudah menuju dapur. Tadi umi memberi tahu bahwa umi akan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue besok. Karena umi membuat kue tiap harinya dalam jumlah banyak dan dititipkan di warung-warung sekitar kampung. Jadi sore hari biasa umi menyiapkan semua bahan agar besok pagi ia tidak buru-buru mengerjakannya. Tapi karena Una datang, jadi siang ini Umi sudah mulai menyiapkan bahan-bahan itu agar Una ada kesibukan lain sambil menunggu Baim pulang.


Baim sudah tampak rapi dengan baju kemeja maroon dan celana hitamnya. "Mi, Baim pergi dulu ya.. Assalamu'alaikum.." ucap Baim yang berpamitan dengan Umi tanpa melirik ke arah Una sedikitpun.


"Wa'alaikumsalam.. hati-hati di jalan ya," sahut Umi.


Tring.. Ting..


Tak berapa lama dari kepergian Baim, ada bunyi dering handphone di meja dekat ruang sholat. Tenyata Baim lupa membawa handphonenya. Umi yang kala itu masi sibuk dengan semua bahan makanan menyuruh Una untuk melihat handphone Baim yang berbunyi. Dengan senang hati ia menuruti perintah umi.


"081376xxxx, nomor tak dikenal," batin Una.


"Eh, kok aku penasaran ya sama teman-teman bang Baim yang ada di sini, mungkin dengan melihat nomor kontak nya aku bisa tahu siapa saja teman barunya di sini, atau mungkin ada teman spesialnya yang membuatnya tidak mau lagi kembali bersamaku," pikir Una lagi.


Ani


Ari


Budi


Dedi


Fira


Gadis Kecil


Sederetan nama di daftar kontak bang Baim saat Una melihatnya. Ia berhenti saat mendapati nama yang menurutnya lain dari yang lain.


"Gadis Kecil?" gumamnya.


.


.


.


.


tbc


__________


vote


like


komen


klik ♥️

__ADS_1


untuk dapat notif kalo uda update eps baru


🙏😊


__ADS_2