Tuhan Ku Ingin Dia

Tuhan Ku Ingin Dia
Rapat


__ADS_3

"Ada lagi yang mau di tanya?" celetuk Aini karena kesal dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan Sara.


"Peace..." ucap Sara sambil mengacungkan dua jarinya menandakan berdamai dengan Aini.


"Uda yuk pulang... ntar aku ceritain pas di angkot," jawab Aini lagi.


Sepanjang perjalanan selama di angkot, Aini dan Sara berceloteh panjang lebar membahas siswa yang bernama Hairul itu. Aini bilang kalau Hairul malam itu menyatakan perasaannya kepada Aini. Walau dia tidak menanyakan perasaan Aini terhadapnya, mungkin dia menunggu momen yang tepat untuk menyatakan perasaannya langsung di hadapan Aini.


Tetapi dengan begitu malah Aini semakin jaga jarak dengannya, karena Aini tidak sama sekali menyukai Hairul. Jadi Aini pikir untuk apa terus dekat dengannya kalau nanti malah Hairul berpikir Aini memberi harapan kepadanya.


Sara juga bersyukur karena Aini tidak memiliki rasa terhadap Hairul yang terkenal dengan prilaku buruknya, yang ada Aini ntar ikut-ikutan jadi suka bolos kayak siswa itu.


*************


Sore itu Aini sedang berjalan santai menuju warung yang ada di sebelah masjid di kampungnya. Aini melihat seorang pria yang melintasi jalan di depan warung itu sambil menatap ke arahnya. Aini tak mengerti arti tatapan itu. Apakah pria itu mau mengatakan sesuatu, atau terpesona dengan kecantikan Aini. Ciahhh.. Aini GeEr yakk


Pria itu hanya terus berjalan sampai ke depan gerbang rumahnya, karena kebetulan rumahnya juga dekat dari warung yang di datangi Aini, hanya berjarak satu rumah saja. Dia terus berjalan sampai hilang dari pandangan Aini.


"Aneh.." gumam Aini.


Iya, pria itu bang Baim, entah kenapa belakangan ini bang Baim jarang bertegur sapa dengan Aini. Biasanya tiap kali bertemu pasti selalu mengucap salam. Tapi hari ini ia hanya lewat begitu saja. Aini merasa ada yang aneh dalam lubuk hatinya, seperti sedikit menahan sakit yang dia tidak tahu itu apa.


"Ini saja yang dibeli dek?" tanya si penjaga warung yang membuyarkan lamunan Aini.


"Eh, iya bu...," sahut Aini sedikit terkejut dan segera membayar belanjaan yang dibelinya.


Sesampainya di rumah, Aini langsung menyerahkan belanjaan yang tadi di suruh ibunya membeli ke warung. Aini lalu bergegas ke kamarnya untuk beristirahat sejenak sambil memikirkan kejadian tadi.


"Ada apa dengannya ya? Apa aku ada salah? Atau dandananku mencolok? Apa aku salah kostum?


Pertanyaan demi pertanyaan berputar terus di kepala Aini, sampai ia pusing sendiri memikirkannya.


**********

__ADS_1


"Baiklah..."


"Iya, kau saja.."


"Lebih baik begitu.."


"Jumlahnya cukup banyak..."


Perdebatan-perdebatan kecil terjadi kala mereka mengadakan rapat. Ya, malam ini ada rapat remaja masjid yang diadakan di rumah ketua. Lebih tepatnya rumah umi, selaku mama angkatnya bang Baim.


Semua anggota ingin menyuarakan aspirasinya, hanya satu yang tak ingin bersuara. Siapa lagi kalau bukan Aini. Dari tadi ia hanya duduk diam mendengarkan perdebatan yang anggota lain lakukan. Ia masi teringat sore tadi bang Baim mengacuhkannya begitu saja.


Bang Baim yang dari tadi hanya menjadi pendengar yang baik untuk memberi ruang kepada para anggota menyampaikan ide-ide mereka terkait lomba juga sedang memperhatikan Aini diam-diam.


"Semakin hari semakin cantik saja," batinnya.


doorrrr..


Suara kejutan seseorang dari sebelah bang Baim mengejutkannya.


"Apaan sih, bikin kaget aja.." sambungnya lagi.


"Abang sih, melamun aja. Dari tadi di tanyain malah diam saja, ntar kesambet lho bang melamun malam-malam," ledek pemuda itu.


"Eh, hmmm.. gimana? Apa tadi yang kalian tanyakan?" jawab bang Baim yang gelagapan karena ketahuan melamun.


"Uda deh, kami pulang aja. Abang nggak fokus ni..," celetuk anggota lainnya.


"Maaf, saya sedikit mengantuk," sambil berpura-pura menguap layaknya orang yang sudah ngantuk.


"Bentar, saya ambilkan minuman dan makanan ringan buat kalian," katanya lagi.


Bang Baim pergi ke dapur dengan dua orang anggota lain untuk membawakan minuman dan makanan ringan yang di sediakan umi.

__ADS_1


"Oke, perhatian semuanya.." suara bang Baim menghentikan obrolan-obrolan kecil para anggota yang sedang menikmati makanan ringan dihadapan mereka.


"Saya selaku ketua mengucapkan terima kasih karena kalian mau menghadiri rapat malam ini. Semua saran yang kalian ajukan tadi saya terima, dan nanti akan saya pertimbangkan kembali. Untuk rapat kali ini dapat saya simpulkan semua setuju kalau kita mengadakan lomba di pekarangan masjid dan membuat panggung kecil untuk para peserta lomba. Karena kalau di dalam masjid takut mengotori masjid dan kita tidak sempat membersihkannya ketika mendekati waktu zuhur. Oh, dan untuk pengutipan dana dari para donatur, apakah sudah berjalan?" tanya bang Baim kepada bendahara yang duduk disebelah Aini.


"Sudah bang.. saya sudah minta ke beberapa donatur terkait dana yang akan disumbangkan untuk kelancaran acara kita ini.. Namun masi belum terkumpul semuanya," jawab bendahara itu.


"Berapa dana yang sudah ada?" tanya bang Baim kembali.


"Sekitar 9 jutaan bang.." sahutnya.


"Aini, berapa dana yang kita butuhkan sesuai proposal yang sudah dibuat?" tanya bang Baim kepada Aini.


"15 juta.." jawabnya singkat


Bang Baim mengangguk-anggukan kepalanya. "Baiklah, saya rasa sampai di sini saja rapat kita malam ini, saya harap semua anggota yang tidak memiliki tugas yang diamanahkan bisa membantu pengutipan dana dengan bendahara ya. Jika dana sudah terkumpul semua, kita bisa langsung membayar uang sewa panggung yang mau kita gunakan dan membeli hadiah untuk para peserta lomba. Mungkin nanti akan saya kabari kembali untuk rapat berikutnya. Lebih dan kurangnya saya mohon maaf, Assalamu'alaikum wr wb..." akhir kata dari bang Baim.


Ternyata ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan bang Baim berbicara, dan hal itu tidak luput dari pandangan Aini.


.


.


.


.


.


.


tbc


_________

__ADS_1


jan lupa vote, like, dan hatinya


komen juga yg banyak yaa😊


__ADS_2